Butet Manurung, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di Sekolah Rimba

Sumber: merahputih.com

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, katanya. Tapi masih banyak cerita guru yang jauh dari kata sejahtera dan akses pendidikan yang belum merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pendidikan yang seharusnya menjadi hak semua orang, masih menjadi privilese bagi sebagian orang, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil yang jauh dari fasilitas memadai seperti di kota besar.

Inilah yang menjadi panggilan jiwa Saur Marlina Manurung atau yang dikenal sebagai Butet Manurung ketika menjelajah hutan dan alam Indonesia.

Mimpinya sebagai seorang petualang dan bekerja di hutan membuat dirinya memutuskan untuk belajar Antropologi dan Sastra Indonesia di Universitas Padjajaran, Bandung.

Disela-sela kuliah, ia masih sempat mengajar les organ dan matematika. Uang dari pekerjaan sampingannya ini dikumpulkan untuk ongkos naik gunung. Butet sendiri aktif dalam kegiatan pencinta alam dan sering berpetualang ke gunung, arung jeram, hingga hutan-hutan di Indonesia.

Semesta mendukung impian Butet untuk bisa bekerja yang sesuai dengan hobinya. Setelah lulus, ia bekerja sebagai seorang pemandu wisata di sebuah taman nasional.

Hanya melakoni pekerjaan tersebut selama dua minggu, ibu dua anak ini tanpa sengaja melihat iklan lowongan kerja di koran yang sedang mencari fasilitator pendidikan alternatif untuk suku asli Orang Rimba, Jambi dair Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warung Informasi Konservasi (Warsi).

Jiwanya terpanggil untuk melamar pekerjaan itu karena ia berpikir bekerja dengan orang di suku pedalaman selain berpetualang di hutan, juga ada perjuangannya. Ia bisa menemukan jati dirinya juga disana.

Sebelumnya, perempuan kelahiran 1972 silam ini telah berujar pada orang tuanya bahwa ia tidak ingin bekerja di balik meja karena ia tidak tertarik untuk bekerja kantoran.

Ia ingin bekerja yang sesuai hobinya dan itu bukan pekerjaan yang bisa dilakoni di balik meja dengan pakaian kantoran atau sepatu hak tinggi.

Ia bergabung dengan Warsi tahun 1999. Saat itu Warsi sudah punya program pendidikan alternatif untuk Orang Rimba yang diritis Yusak Adrian Panca Pangeran Hutapea. Yusak memulai gerakannya untuk masuk dan mendekati Makekal Hulu dan Hilir sejak pertengahan 1998.

Yusak sendiri menghadapi penolakan dari suku pedalaman karena pendidikan dianggap bukan budaya Suku Orang Rimba dan akan membawa petaka. Dengan berbagai usaha, Yusak berhasil mendekati dan mengajar Orang Rimba. Namun akhirnya ia meninggal karena malaria.

Setelah melamar posisi itu, Butet dikirim ke hutan tempat Suku Anak Rimba berada karena program ini sudah menganggur selama delapan bulan. Ia sempat kecewa karena hutan yang didatangi tidak sesuai apa yang dibayangkannya; penuh pohon lebat dan ada hewan liar. Justru yang didatanginya banyak pohon tumbang dan lalat.

Mengajar anak-anak suku pedalaman tidak semudah yang dibayangkan seperti mengajar di sekolah pada umumnya. Butuh waktu berbulan-bulan untuk mendekati anak-anak Suku Rimba agar bisa diterima oleh mereka. Ia sendiri memulai dengan mengajarkan baca tulis.

Dari yang tadinya muridnya hanya tiga orang di Bernai, Markekal Hilir, pelan-pelan terus menerus bertambah hingga menjadi tren tersendiri di kalangan anak muda Orang Rimba.

Kemampuan baca, tulis, hitung dianggap keahlian hebat yang setara dengan kemampuan berburu. Kepala suku pun memilih bersikap abstain, tidak menolak dan mendukung sekolah. Tapi anak-anak yang ingin belajar diizinkan bergabung bersama Butet.

Selama mengajar, Butet memadukan konsep bermain sambil belajar agar anak-anak Rimba tidak merasa seperti sedang bersekolah sesuai adat budaya dan cara hidup Orang Rimba.

Bermodalkan buku, papan, kapur, dan pensil, ia mengenalkan abjad, angka, dan mengajarkan cara berkomunikasi ke orang asing agar bisa mandiri. Disamping itu, anak-anak Orang Rimba juga diajarkan pengetahuan dunia luar, life skill, dan pengenalan tentang organisasi.

Harapannya, jika orang-orang Suku Rimba bisa membaca dan menulis, mereka bisa mengeluarkan kitab hukum ketika bertemu dengan orang yang ingin mengambil lahan mereka.

Begitu pula ketika ke pasar saat jual beli barang hasil tani, mereka bisa menghitung jumlah uang yang harus dibayarkan. Selain itu, jika mereka bersinggungan dengan dunia luar, mereka bisa menjadi mediator agar tidak mudah dieksploitasi lagi.

Selama ini karena minimnya pendidikan, orang suku pedalaman mudah ditipu dan dieksploitasi oleh orang terang (istilah untuk orang pemerintahan atau orang dari luar suku) yang banyak membabat habis hasil hutan di wilayah tempat tinggal mereka. Mereka sering diminta untuk memberi cap di atas surat perjanjian yang sebenarnya merugikan alam hutan tempat tinggal mereka.

Sekolah rimba sendiri mulai berkembang ke wilayah lain di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas. Para kadernya adalah murid-murid yang sudah meampu membaca, menulis, dan berhitung untuk membantu membuka akses ke wilayah lain yang belum mengenal pendidikan.

Tahun 2002, Warsi mendapat tenaga guru rimba baru, Oceu Apristawijaya, seorang pelukis yang mengenalkan materi pengajaran dipadu dengan materi menggambar.

Setelah empat tahun menjadi guru rimba, Butet mengundurkan diri dari Warsi dan mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang khusus di bidang pendidikan untuk suku terasing besama rekan-rekannya.

Bersama kelima rekannya, istri Kevin James Milne ini mendirikan Sokola Rimba pada tahun 2003 dengan slogan “Pendidikan untuk masyarakat adat.” Sekolah rimba yang pertama dimulai untuk suku Anak Dalam di pedalaman hutan tropis Jambi.

Sukses di Jambi, Sokola Rimba lainnya didirikan di berbagai pelosok Indonesia, seperti Flores, Aceh, Yogyakarta, Halmahera, Pulau Besar, Sumba, Makassar, Bulukumba, Klaten, dan Gunung Egon.

Kini Orang Rimba yang pernah mereka ajar bisa memahami perspektif orang lain. Sekarang jika ditanya kenapa mereka tidak pakai baju, Orang Rimba bisa menjawab, “Karena ini pakaian yang kami sudah pakai dari dulu, kalau pakai cawat kita bisa manjat pohon.” Juga kalau Orang Rimba dibilang kafir oleh orang desa, mereka bisa menjawab, “Agama itu apa? Kami juga percaya adanya kekuatan lain selain manusia, hanya nama agamanya saja yang beda, tidak ada di enam agama yang disebutkan pemerintah.

Atas dedikasi dan kerja kerasnya mendidik lebih dari 10.000 anak bersama Sokola Rimba, Butet membuahkan beberapa penghargaan seperti Man and Biosphere Award dari LIPI dan UNESCO Indonesia (2001), Woman of Letters’ as one of TIME Magazine’s Heroes of Asia (2004), Young Global Leader oleh World Economic Forum, Social Entrepreneur of the Year oleh Ernst and Young, dan Ramon Magsaysay Award (2014).

Selain itu, ia menulis buku berjudul Sokola Rimba (2013) yang bercerita mengenai pengalamannya mengajar Orang Rimba di pedalaman Jambi dan buku ini diangkat ke layar lebar oleh Riri Riza di tahun yang sama dengan judul yang sama.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi