Ayu Gani di Antara Modelling dan Bisnis Fashion

Sumber: instagram.com/ganegani

Nama Ayu Gani dengan cepat mendapat perhatian publik Indonesia setelah berhasil mengamankan posisi sebagai pemenang Asia’s Next Top Model cycle 3 (AsNTM 3) yang diadakan di tahun 2015 lalu di Singapura. Untuk pertama kalinya perwakilan Indonesia dalam ajang tersebut berhasil keluar menjadi juara. Menjadi seorang model sendiri bukan cita-cita masa kecil perempuan yang akrab disapa Gani ini.

Masa kecil Gani justru berkebalikan dengan kondisinya saat ini, dimana ia justru lebih sering dibully oleh teman-temannya. Ia sering dipanggil ‘kecoak’ karena kecoak banyak ditemukan di tempat sampah. Bahkan ia sering dilempari botol plastik oleh teman-temannya.

Mengalami bullying di masa anak-anak jelas membawa efek pada diri Gani. Ia tumbuh menjadi pribadi yang gampang minder dan tidak percaya diri. Kepribadiannya yang cenderung introver semakin membuatnya tertutup dan tidak punya banyak teman. Barulah ketika mulai beranjak dewasa, lingkungan perteman yang lebih sehat membuatnya pelan-pelan mulai merasa diterima oleh teman-temannya.

Meski pernah jadi korban bullying, ia tidak ingin patah semangat begitu saja. Usai lulus SMA, ia mengambil kuliah jurusan Sastra Inggris di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Ketika duduk di bangku kuliah inilah ia mulai mengenal dunia modelling. Kariernya dimulai dari kontes Wajah Femina pada 2011.

Siapa sangka jika yang awalnya sekedar tertarik, Gani berhasil keluar sebagai kontestan terfavorit di ajang tersebut. Dari kontes tersebut, peluang kariernya perlahan mulai terbuka. Ia mulai disibukkan dengan kegiatan pemotretan untuk model sampul majalah ternama dan menjadi model untuk ajang fashion show di berbagai kota.

Tak jarang ia harus bolak balik Jakarta-Yogyakarta demi pekerjaannya. Hingga akhirnya ia resmi hijrah ke Jakarta tahun 2013 sekaligus pindah kuliah ke Lasalle demi memenuhi hasratnya untuk belajar mode.

Seiring berjalannya waktu, Gani semakin rajin tampil di berbagai media sebagai model. Pelan tapi pasti jam terbangnya mulai banyak. Rupanya hal ini membuat sang ibu mendorongnya untuk mengikuti ajang Asia’s Next Top Model. “Awalnya keinginan mama. Biasalah, ibu-ibu sukanya nonton AsNTM kalau sambil menyetrika. Terus, mama bilang wajah aku ini cocok banget untuk ikut AsNTM,” kata Gani dikutip dari Tempo.

Asia’s Next Top Model sendiri adalah waralaba dari program America’s Next Top Model besutan Tyra Banks yang telah mengudara sejak 2003. Dikemas menjadi sebuah program televisi variety show, acara ini menampilkan sejumlah perempuan Asia dari berbagai negara Asia seperti Thailand, Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Korea Selatan yang tengah meniti karier di dunia model.

Ibunya sendiri menyarankan ketika AsNTM telah berjalan selama dua musim. Dua kali Indonesia mengirimkan perwakilan kontestan rupanya belum berhasil menembus babak final. Tahun 2015, Gani pun mencoba untuk mendaftar seleksi Asia’s Next Top Model cycle 3. Ternyata ia berhasil diterima bersama dua peserta lain dari Indonesia, yaitu Rani Ramadhany dan Tahlia Raji.

Berhasil menembus seleksi Asia’s Next Top Model, ternyata Gani sendiri tidak memasang target harus memenangi kontes tersebut. Ia sempat tidak percaya diri karena merasa saingan yang dihadapinya cukup berat. Ia sendiri merasa tertekan di awal-awal pertama syuting karena harus beradaptasi dengan rumah yang penuh kamera dan pakai clip on kemana pun, seperti merasa diikuti dan diawasi.

Statusnya sebagai perwakilan Indonesia juga membuatnya tidak diunggulkan. Bahkan ia pernah direndahkan peserta lain, “Kata mereka, Indonesia nggak mungkin menang karena jurinya dari Filipina,” ujar Gani dikutip dari Tempo.

Di samping itu ia sempat dibully di media sosial dimana orang-orang menggunakan akun Instagram palsu dan menghina Indonesia di kolom komentar post Instagram pribadinya.

Walau begitu, cercaan yang diterimanya justru menjaid pelecut semangatnya untuk bisa memenangkan kompetisi. Ia ingin membuktikan bahwa meski dirinya tergolong pendek untuk ukuran seorang model, ia juga bisa menjadi model profesional.

Tekadnya menjadi juara semakin kuat ketika dua rekannya asal Indonesia telah tereliminasi dan menyisakan Gani sebagai satu-satunya perwakilan Indonesia yang masih bertahan. Perjuangannya pun berbuah manis. Ia berhasil membawa pulang gelar juara Asia’s Next Top Model cycle 3.

Hadiah yang didapat oleh juara Asia’s Next Top Model salah satunya adalah kontrak dengan Storm Model Management, agensi model yang menaungi supermodel seperti Kate Moss dan Cara Delevigne. Setelah mengikuti Asia’s Next Top Model, ia terbang ke London untuk mengikuti beberapa casting model di sana.

Menjadi model di luar negeri ternyata tidak semudah menjadi model di negeri sendiri. Selama di London, Gani menghabiskan waktu dengan mengikuti casting dari satu ke tempat lain. Dalam sehari, ia bisa mengikuti casting di lima sampai delapan tempat. Mentalnya kembali diuji. Setelah mengikuti ratusan casting, ia tidak kunjung mendapatkan tawaran pemotretan. Inilah titik dimana ia sempat ingin menyerah.

“Kalau boleh jujur, dua minggu pertama saat menganggur itu saya menangis. Ingin pulang. Saya teringat di Jakarta selalu ada pekerjaan sementara di London, dua minggu pertama saya menganggur padahal biaya hidup di Inggris sangat mahal,” cerita Gani dikutip dari Bintang.        

Alasan penolakan itu seringkali karena ia adalah orang Asia yang bisa jadi dianggap tinggi badannya masih kalah jika dibandingkan model asal Eropa. Belum lagi karakter dan garis muka model Eropa yang lebih tegas dan unik untuk kebutuhan pemotretan yang tidak jarang malah cukup nyeleneh konsepnya.

Perjuangannya di London membuahkan hasil ketika ia dihubungi oleh agensinya untuk pemotretan untuk sebuah brand kosmetik. Setelah itu, perlahan-lahan tawaran pekerjaan pun mulai datang pada Gani.

Di tengah kesibukannya sebagai model, ia sudah beberapa merintis bisnis. Sebelum syuting AsNTM ia pernah merintis bisnis overnight oats dengan brand Dietory pada tahun 2014. Tapi bisnisnya hanya bertahan tiga bulan karena kesibukan syuting dan kontraknya dengan Storm Model Management yang mengharuskannya untuk tinggal di London selama beberapa bulan.

Kemudian ia kembali mencoba bisnis kacamata dengan produk Gaze Eyewear pada 2016 bersama kedua rekannya. Bisnisnya cukup menjanjikan karena sudah menembus pasar Asia hingga akhirnya dibeli oleh perusahaan asal Malaysia di tahun 2017. Jiwa wirausahanya tidak ingin berhenti.

Ia kembali mendirikan bisnis fashion. Kali ini di ranah marketplace yang dinamainya GANEGANI & Co. yang menjual beberapa merek produk fesyen dengan harga yang tidak bikin kantong jebol. Bisnisnya yang sudah berjalan hampir dua tahun ini cukup menyita waktunya hingga menjadikan modelling sebagai pekerjaan sampingan. Meski begitu, tidak pernah ada niat Gani untuk mundur dari dunia yang sudah membesarkan namanya sekarang.

Tangga menuju kesuksesan memang tidak pernah mudah apapun itu profesi atau bidang apa yang ditekuni. Pun dimana pun kita berada, haruslah menjadi diri sendiri yang otentik. Karena diri kita itu berbeda dan tidak akan bisa digantikan oleh orang lain.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi