Audrey Maximilian Herli: Ingin Bantu Jaga Kesehatan Mental Masyarakat Lewat Riliv

Sumber: Youngster.id

Konsultasi ke psikolog bagi sebagian orang masih menjadi momok yang menakutkan karena takut dicap sebagai ‘orang gila’. Padahal, seiring dengan majunya kebebasan berpendapat di media sosial, justru menghadirkan masalah baru seperti cyberbullying yang tidak pandang usia.

Selain itu, tingkat stres yang cukup tinggi yang terjadi di masyarakat karena persoalan pribadi jadi memicu Audrey Maximilian Herli, CEO dan co-founder Riliv, untuk meluncurkan aplikasi jasa konseling psikologi terpercaya dan terjamin kerahasiaannya.

Maxi, sapaan akrabnya, sendiri bukanlah seorang sarjana psikologi atau psikolog profesional. Tapi di tahun terakhir kuliahnya, ia melihat teman-temannya banyak yang membuat status galau dan sedih di linimasa media sosial. Status itu sendiri seperti curhat colongan. Tapi bukannya melegakan perasaan, justru dari status itu kadang timbul masalah baru seperti cyberbullying.

Tak hanya itu saja. Ia pernah dikirimi pesan singkat oleh seorang temannya yang sedang melakukan percobaan bunuh diri beserta bukti foto menyakiti diri sendiri dengan memotong nadi salah satu bagian tubuhnya. Dari situ ia semakin sadar bahwa tidak semua orang yang mengalami masalah kejiwaan telah tertolong dengan baik.

Menurut data dari WHO sendiri, setiap 40 detik ada seorang yang melakukan percobaan bunuh diri akibat depresi di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, menurut data Kementrian Kesehatan sekitar 11,6 persen populasi mengalami gangguan mental emosional atau gangguan kesehatan jiwa berupa gangguan kecemasan dan depresi.

Mengunjungi psikolog atau psikiater sendiri masih dianggap aneh bagi sebagian orang sehingga, tidak jarang mereka yang merasa memiliki masalah pada kesehatan jiwa merasa malu duluan jika nanti ketahuan oleh keluarga atau teman.

Melihat peluang itu, Maxi mulai terpanggil untuk membantu dengan membuat aplikasi konsultasi psikologi yang memungkinkan orang bisa curhat secara terbuka tanpa takut dihakimi oleh sekitarnya. Apalagi menurut WHO di tahun 2020 depresi mayor menduduki urutan kedua dalam beban global terbesar setelah penyakit jantung dan pembuluh darah.

Bersama kedua rekannya, Audy Christopher Herli dan Fachrian Anugerah, alumnus Sistem Informasi Unair ini membangun dan merancang aplikasi. Meskipun tidak ada satu pun dari mereka yang berlatang belakang pendidikan psikologi atau kejiwaan, mereka tetap bertekad untuk bisa membantu masalah kesehatan mental di Tanah Air.

Berdasarkan riset kecil-kecilannya, diketahui kesehatan mental di Asia Tenggara masih belum mendapat tempat prioritas di kalangan masyarakat. Sehingga tercipta stigma dan definisi yang kurang tepat terkait mental health tersebut.

Padahal kesehatan mental juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kesehatan mental adalah pondasi yang menentukan kualitas sistem kehidupan seseorang, baik untuk pribadi dirinya sendiri dan sosial. Termasuk cara seseorang memandang kehidupan, permasalahan hidup, dan penyelesaiannya.

Akan ada selalu hambatan ketika kita mulai sesuatu. Itu pula yang pernah dirasakan Maxi dan kawan-kawan. Awalnya tidak ada psikolog profesional yang mau bergabung di Riliv. Hanya lima orang mahasiswa psikologi yang mau sebagai regular reliever.

Setelah mengikuti kompetisi yang diadakan oleh Pemkot Surabaya dan mendapatkan mentorship ke Google Jepang, Riliv resmi rilis pada 9 Agustus 2015. Perlahan tapi pasti lewat promosi melalui media sosial mulai mendapatkan atensi dari masyarakat, walaupun mengedukasi pasar untuk menggunakan produk di versi awal juga tidak mudah.

Tapi mereka tidak putus asa. Setelah mendapatkan sejumlah penghargaan bergengsi seperti Google Android One 2015, kepercayaan masyarakat terhadap Riliv meningkat. Psikolog profesional pun mulai bertambah seiring dengan potensi bisnis berbasis teknologi yang menjanjikan ke depannya.

Tidak ingin setengah-setengah, Riliv menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Jawa Timur agar kualitas psikolog yang dihadirkan lebih kredibel. Syarat untuk menjadi reliever sendiri semakin ketat, yaitu harus terdaftar resmi sebagai mahasiswa Psikologi dan minimal lulus mata kuliah konseling atau minimal semester lima. Sedangkan untuk psikolog profesional, ia memverifikasi data lewat ijazah resmi dan surat izin resmi.

Edukasi layanan terus dilakukan lewat konten-konten blog atau media sosial seperti Twitter, Instagram, atau Facebook tentang kesehatan mental. Aplikasinya sendiri ada di Google Playstore dan telah membantu lebih dari 150 ribu pengguna.

Dari enam kategori yang disediakan, yaitu curhat soal cinta, karier, pendidikan, keluarga, sosial, hingga gangguan psikologi, masalah yang paling banyak dikeluhkan adalah percintaan, keluarga, dan karier. Pengguna yang ingin curhat bisa menggunakan nama samaran agar lebih nyaman bercerita dan memilih psikolog yang menjadi tempat curhatnya.

Layanan yang disediakan berupa konseling via teks atau telepon dengan beberapa paket, seperti paket perkenalan, paket lega, paket nyaman, dan paket bahagia untuk layanan teks dengan harga yang terjangkau.

Selain sebagai tempat curhat online terpercaya, Riliv menyediakan fitur meditasi sebagai salah satu terapi yang bisa digunakan oleh para pengguna. Lewat fitur ‘Hening Sejenak’ pengguna diajak untuk mendengar rekaman rileksasi dari konselor tentang mengendalikan kecemasan, stres, menghadapi penyesalan, adiksi mensyukuri kebahagiaan, meningkatkan kepercayaan diri, mengatasi kesedihan, hingga meningkatkan motivasi.

Sebagai aplikasi konsultasi psikologi pertama di Tanah Air, Riliv sudah beberapa kali mendapat penghargaan dari organisasi nasional maupun internasional, seperti Singapore International Foundation, Global Entrepreneurs Network, Pemkot Surabaya, dan yang terbaru adalah Aplikasi Unik Terbaik 2019 untuk wilayah Indonesia dari Google Play.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi