Angkie Yudistia: Mengubah Disabilitas Menjadi Thisable

Sumber: Tempo.co

Setiap hari kita menghadapi hidup yang penuh tantangan. Tapi bagi teman-teman disabilitas, keterbatasan fisik sudah menjadi tantangan tersendiri untuk bisa menyambung hidup secara mandiri lewat pekerjaan. Kesulitan itu bertambah ketika dipicu oleh pandangan masyarakat yang masih menganggap remeh penyandang disabilitas.

Hal ini yang bertahun-tahun dirasakan oleh CEO dan co-founder Thisable Enterprise Angkie Yudistia. Kesulitan yang dialaminya dan kekhawatirannya mendorongnya untuk berjuang menaikkan derajat para penyandang disabilitas lewat perusahaan yang dibangunnya.

Angkie sendiri tidak terlahir sebagai tunarungu. Hidupnya mulai berubah ketika ia sempat terkena malaria dan demam tinggi di usia 10 tahun, kemudian dianjurkan untuk mengonsumsi antibiotik. Entah karena malaria atau salah konsumsi antibiotik, tiba-tiba ia jadi tidak bisa mendengar ketika dipanggil. Kemampuan pendengarannya menguap karena tidak bisa mendengar suara dengan jelas.

Divonis dokter tunarungu, membuatnya harus menggunakan alat bantu dengar untuk memudahkan kegiatannya sehari-hari. Masa remajanya menjadi tidak mudah karena ia sering menjadi pusat perhatian pada kekurangan fisiknya. Ia sering menyembunyikan alat bantu dengar yang dikenakannya di balik rambut. Butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk ia bisa menerima dirinya sendiri.

Penerimaan dan dukungan penuh keluarganya lah yang membuatnya berusaha untuk semangat dan tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan. Kedua orang tuanya, Hadi Sanjoto dan Indiarty Kaharman, tidak pernah memperlakukannya berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain sehingga mampu memupuk kepercayaan dirinya.

Perlahan-lahan ia mulai menorehkan prestasi. Salah satunya dengan menjadi finalis None Jakarta Barat 2008. Selain itu, lulusan London School of Public Relation ini berhasil lulus dengan IPK cumlaude. Ia juga sempat mengikuti internship di Australia lewat program kampus.

Usai lulus kuliah, perempuan kelahiran 1987 silam ini mulai melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan. Namun ia lebih sering ditolak daripada diterima karena keterbatasannya tersebut. Ia bahkan pernah dimarahi karena tidak bisa menjawab telepon. Meski demikian ia menolak untuk langsung menyerah dan banyak mendapatkan pengalaman dan pelajaran.

Dari berbagai penolakan itu, ia pernah bekerja di beberapa perusahaan besar seperti IBM dan migas sebagai PR (Public Relation). Ketika industri migas sedang lesu dan banyak PHK karyawan, ia pun tidak luput dari rasa cemas dan kebingungan. Ditengah keadaan itu itba-tiba dosennya bilang, “Angkie, kalau kamu merasa kesulitan mencari kesempata, mengapa tidak membuat kesempatan saja?”

Sering menjadi sasaran empuk untuk dibully, membuatnya sadar bahwa untuk melawan orang-orang tersebut akan lebih efektif jika ia membuktikan lewat tindakan nyata. Inilah yang semakin membulatkan tekadnya untuk bisa bangkit berjuang demi kesetaraan teman-teman penyandang disabilitas yang senasib dengannya. Ia ingin membuktikan bahwa orang disabilitas juga bisa berkarya dan mandiri asalkan diberi kesempatan.

Di usianya yang masih 23 tahun, atas saran dosennya tersebut, ia kepikiran untuk mendirikan Thisable, meski masih buram. Ia sendiri masih meraba-raba untuk mulai dari mana karena pengalaman yang masih minim.

Tapi dengan semangat mau mencoba, ia banyak belajar, ikut coaching, belajar tentang struktur perusahaan, organisasi, pemasaran, cara menangani klien, dan lainnya. Ia sendiri banyak berdiskusi dengan pakar bisnis, SDM, keuangan, sosial hingga marketing agar Thisable tidak mengubah sistem industri mana pun tapi mencoba untuk menginklusikannya.

Jatuh bangun dirasakannya di awal-awal tahun membangun Thisable. Tapi pengalaman yang menempanya untuk bisa menjadi sesukses sekarang. Lima tahun pertama, ia banyak gagal daripada untung. Buang-buang uang dan orang pun sulit percaya.

Orang-orang terdekatnya pun banyak yang menyarankannya untuk mencari pekerjaan yang pasti dan berhenti saja. Tapi teman-teman disabilitas banyak yang meminta bantuan berupa semangat dan saran di media sosialnya. Itulah yang sekali lagi, meneguhkan hatinya untuk terus berjuang.

Setelah lima tahun berjalan, Thisable bekerja sama dengan Go-Life dari Gojek. Bukan hal yang mudah. Tapi jika tidak dicoba, tidak akan pernah tahu hasilnya akan seperti apa. Setelah kerjasama ini dicoba, cerita mitra Thisable dan Go-Life menjadi viral. Konsumen bahagia dengan apa yang dilakukannya untuk memberikan kesempatan pada para disabilitas.

Thisable sendiri yang tadinya hanya yayasan, berubah menjadi wadah profesional di bawah naungan PT Berkarya Menembus Batas. Perusahaan yang berdiri sejak 2011 ini bertujuan agar disabilitas usia produktif dapat berdaya dan mandiri secara ekonomi. Bukan hal yang mudah tapi juga bukan tidak mungkin.

Sekarang Thisable memiliki ribuan database teman-teman disabilitas produktif siap kerja. Tidak hanya menjadi head hunter disabilitas, tapi ada sistem outsourcing penyandang disabilitas seperti tunarungu, tunanetra, tunadaksa untuk bisa bekerja berdasarkan kapabilitas masing-masing secara vocational atau profesional di beberapa perusahaan swasta.

Para difabel yang sudah tergabung diberi pelatihan oleh tim Thisable. Nantinya akan ada penilaian untuk disabilitas tipe vocational dan profesional. Setelah menjalani pelatihan dan penilaian, nantinya mereka akan mendapat pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.

Untuk disabilitas tipe vocational, mereka dapat bekerja dengan perusahaan jasa online seperti di Go-Life yang menempatkan tenaga kerja tunanetra di Go-Massage, tunarungu di Go-Auto, Go-Clean, dan Go-Glam. Untuk disabilitas tipe profesional, mereka ditempatkan di beberapa perusahaan seperti Ivosights, CIMB Niaga, Rabo Bank, dan PGN MAS.

Selain aktif menyuarakan tentang kesataraan disabilitas, Angkie juga telah menulis tiga buku diantaranya; Perempuan Tunarungu Menembus Batas (2011), Setinggi Langit (2013), dan Become Rich as Sociopreneur (2019).

Ia sendiri pernah menerima beberapa penghargaan terkait aktivitasnya bersama Thisable seperti: Tokoh Literasi Komunikasi Sosial, Teman Komunikasi dan Informatika (2018) dan Asia’s Top Outstanding Women Marketeer of The Year (2019) dari Asia Marketing Federation.

Memiliki keterbatasan bukan berarti harus membatasi diri. Pasti ada jalan jika ingin begerak untuk sebuah perubahan. Seperti Angkie yang ingin mengubah persepsi



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi