Ada Silvia Halim Dibalik Konstruksi MRT Jakarta

Sumber: Hipwee

Bidang teknik, entah itu ruang lingkup sekolah atau pekerjaannya, selalu identik dengan maskulin karena laki-laki masih lebih banyak yang mendominasi bidang ini. Menemukan perempuan yang sukses berkarier di bidang ini juga bagaikan mencari jarum di dalam tumpukan jerami saking sulitnya. Tapi Silvia Halim, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, mampu menunjukkan bahwa kredibilitasnya sebagai perempuan tidak boleh diragukan.

Lulus dari SMA Don Bosco II Pulo Mas, Jakarta, dara kelahiran 1982 lalu ini langsung bertolak ke Singapura untuk mengambil studi teknik sipil di Nanyang Technological University. Selepas menyelesaikan studinya, ia bahkan enggan untuk kembali ke Jakarta karena kemacetan ibu kota yang benar-benar bikin stres. Ia memilih untuk berkarier di Land Transport Authority (LTA) Singapura.

12 tahun berkecimpung di sektor konstruksi membuatnya cukup kaya pengalaman. Tapi sepanjang waktu itu, cukup sering ia dipertanyakan atas kemampuannya untuk mengerjakan suatu proyek. Terlebih lagi ia seorang perempuan.

Sebelum bergabung dengan MRT Jakarta, ia juga sedang mengerjakan sejumlah proyek yang sama di sana. Ia banyak terlibat dalam project management infrastruktur di Kota Singa tersebut, termasuk dalam pembuatan infrastruktur bawah tanah maupun tumpang tindih. Fokusnya pada land transport system, di mana proyek terbesar yang dikerjakannya adalah road tunnel dan bukan underpass.

Tiga road tunnel di interchange, di junction paling rumit di Singapura. Di bawah road tunnel tersebut ada MRT yang beroperasi, sehingga praktis, tantangan teknik pengerjaannya tinggi. Terlebih kondisi tata kota yang sudah lebih kompleks, membuat perancangan infrastruktur harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Dari sejumlah proyek infrastruktur itu, Silvia menangani sejak dari perencanaan proyek, desain, konstruksinya sepertia apa, hingga di pada operasi. Saat mengerjakan MRT untuk Jakarta ia tidak menemukan hambatan teknis yang terlalu banyak karena infrastruktur Jakarta tidak sebanyak Singapura.

Ia sendiri tertarik untuk pulang kampung saat bertemu Mantan Gubernur DKI Jakarta Ahok yang di tahun 2015 sedang berkunjung ke Jakarta, yang salah satu misinya adalah mengajak tenaga profesional Indonesia di Singapura untuk kembali pulang membangun Indonesia.

Ide Ahok untuk membangun MRT di Jakarta rupanya menarik perhatiannya. Pikirnya saat itu, daripada mengeluh dan mengkritik buruknya sistem moda transportasi Jakarta, kenapa ia tidak menjadi agen perubahan dan ikut membangun sekalian jika ada kesempatan.

Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk melamar ke PT MRT Jakarta tanpa tahu posisi apa yang nantinya bakal dijabatnya. Ia pun melewati serangkaian wawancara hingga akhirnya diberi amanah untuk mengisi jabatan sebagai direktur konstruksi PT MRT Jakarta. Sejak September 2016 ia pulang ke ibu kota untuk membangun proyek MRT.

Kebiasaan birokrasi yang cukup rumit di Indonesia rupanya menjadi salah satu kekhawatiran tersendiri bagi Silvia selama menyelesaikan konstruksi MRT Jakarta. Ia sendiri sampai harus menyiapkan empat konsep jika terhambat dengan sejumlah aturan yang bervariasi di Indonesia.

Di luar konstruksi MRT yang disiapkan, ia dan timnya juga menyiapkan infrastruktur penunjang untuk memudahkan masyarakat sebagai pengguna transportasi. Salah satunya adalah fasilitas pedestrian yang dirancang lebih baik agar pengguna lebih nyaman. Tidak hanya struktur stasiun, tapi juga meliputi jalanan dan fasilitas pedestrian di atas stasiun menuju stasiun MRT.

Diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 24 Maret 2019, proyek MRT fase I dengan jalur Utara-Selatan koridor Lebak Bulus-Bundaran HI akhirnya terselesaikan dan bisa dinikmati oleh masyarakat umum. Perjuangan Silvia belum selesai. Masih ada proyek MRT fase II dan III yang tengah dikebut pengerjaannya yang membuatnya harus tetap siaga dalam mengontrol penuh proyek ini.

Bekerja di bidang yang dikenal cukup maskulin, tidak membuatnya terbersit di pikirannya bahwa pekerjaan ini hanya khusus untuk kaum Adam. Baginya, bidang teknik itu umum dan bisa dilakukan oleh perempuan dan laki-laki. Hanya, ada beberapa kebiajakan perusahaan yang membuatnya harus mengakui bahwa kesenioran menjadi pertimbangan perusahaan.

Hal itu dialaminya sewaktu bekerja di Singapura. Meskipun ia dan rekan kerjanya memiliki performa kerjanya yang sama-sama memuaskan, namun karena ia dipandang lebih senior jadi mendapatkan promosi jabatan lebih dulu.

Ia juga menyadari ada beberapa perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam kepemimpinan, pengambilan keputusan, serta menyelesaikan masalah. Ia menemukan setiap keputusan yang diambil oleh laki-laki dan perempuan berbeda dari kualitas output-nya.

Salah satunya yang kentara perbedaannya adalah gaya komunikasi. Gaya komunikasi dengan laki-laki cenderung menerapkan perintah atasan sesuai urutan. Sedangkan gaya komunikasi dengan wanita cenderung lebih mendengarkan pendapat dan menerima masukan.

Silvia sendiri lebih memilih gaya kepemimpinan yang kolaboratif dimana dalam mengambil keputusan ia tidak berpikir sendiri, tapi menerima banyak masukan dari anggota timnya. Dari banyaknya masukan, ia mencari win-win solution yang dapat menyenangkan semua pihak. Juga hasilnya, anggota tim dapat menjalankan keputusan sepenuh hati karena termasuk dalam bagian pengambilan keputusan.

Sebagai pemimpin ia tidak ingin kaku terhadap timnya. Membangun komunikasi yang terbuka dan tidak membatasi jarak komunikasi membuat komunikasi jadi lebih fleksibel dan tidak terikat hierarki organisasi.

Berkumpul di luar jam kerja dilakukannya sebagai salah satu cara mengenal satu sama lain di luar pekerjaan. Juga, ia selalu mendorong timnya untuk bisa menjadi the next leader agar masing-masing individu dapat berkembang lebih baik.

Menjadi pemimpin yang masih muda justru tidak menghentikannya untuk terus belajar. Bagi Silvia, belajar tidak harus melalui forum formal seperti sekolah atau kurses. Dalam keseharian pekerjaannya melaksanakan tugas, terlibat dalam review masalah, berkoordinasi dengan pihak luar juga menjadi bagian dari proses belajar.

Mantan CEO General Electric, Jack Welch, pernah berkata, ”Sebelum jadi pemimpin, kesuksesan adalah tentang mendewasakan dan mengembangkan diri. Ketika Anda sudah jadi pemimpin, kesuksesan adalah tentang mendewasakan dan mengembangkan orang lain."

               



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi