Ada Reza Nurhilman Dibalik Renyahnya Keripik Maicih

Sumber: Fimela.com

Mungkin anak-anak milenial masih ingat jika dulu sekitar tahun 2011 ada keripik Maicih yang cukup booming gara-gara viral lewat Twitter. Keripik singkong ini dikemas berbeda dan menggunakan cita rasa pedas dalam berbagai level, sehingga tak ayal bisa bikin nagih para penikmatnya.

Reza Nurhilman rupanya yang membawa kerenyahan keripik tersebut bagi para milenial di masa itu. Bermula dari kebiasaannya mengonsumsi keripik ini di daerah Cimahi, ia pun berpikir untuk menjual keripik ini tanpa nama, tanpa merek.

Cara jualannya pun saat itu sangat sederhana. Hanya menawarkan ke teman-teman terdekat. Karena enak, akhirnya mereka pun bertanya keripik apa. Spontan ia menjawab ‘Keripik Maicih’. Penamaan spontan ini tercetus karena ia mengenal yang membuat keripik ini adalah ibu-ibu yang berpenampilan seperti emak-emak. Nama Maicih juga terinspirasi dari ibunya yang sering menyebut dompet kecil yang sering didapat saat membeli di toko emas dengan dompet Maicih.

Setelah beberapa bulan berjualan, ia menggandeng istrinya untuk membuat merek dan mendesain kemasan Maicih. Logo pertama Maicih yang tercipta berupa siluet seorang ibu-ibu menghadap ke samping.

Ia sengaja tidak menjual keripik dengan menitipkan ke warung atau toko karena menurut pendapatnya, keripik Maicih nantinya akan sama saja dengan keripik-keripik lainnya, yang dianggap sebagai cemilan murah dan kurang berkelas, juga mereknya kurang bernilai. Jadilah ia memilih berjualan secara langsung (direct selling) yang akhirnya menyebar lewat mulut ke mulut.

Setelah enam bulan berjualan, permintaan Maicih pun meningkat tajam. Dari yang hanya puluhan bungkus, langsung melonjak tajam hingga 1.000 bungkus pada Oktober 2010. Beberapa bulan kemudian, permintaan pun naik dua kali lipat dengan harga jual saat itu Rp 11.000 hingga Rp 15.000 per bungkus.

Ketika produksi meningkat yang artinya membawa berkah, ternyata Reza harus diuji. Rupanya pemasok keripik Maicih yang biasa memproduksi keripiknya tidak sanggup memproduksi sebanyak permintaannya saat itu. Akhirnya mau tidak mau ia harus mengambil langkah untuk mencari produsen baru. Ia menemukan sebuah desa yang sanggup memproduksi keripik dalam jumlah besar.

Perlu waktu lama baginya untuk mencari produsen yang bisa menciptakan cita rasa yang sama seperti sebelumnya. Ia sendiri membutuhkan waktu sebulan hingga Maicih bisa memproduksi kembali secara normal.

Satu masalah berlalu, ada pula masalah lain yang datang. Bisnis Maicih yang awalnya didirikan bersama kedua saudaranya ini terjadi perbedaan visi misi di tengah perjalanannya. Akhirnya ia memutuskan untuk pecah kongsi yang kemudian, terjadi perbedaan logo 'emak' Maicih hadap depan dengan Maicih hadap samping di kalangan pelanggan.

Reza pun melaju terus bersama Maicih yang kini sudah dibawah payung PT Maicih Inti Sinergi dengan logo berwarna merah dan ibu-ibu menghadap samping. Ia fokus memperluas wilayah pemasaran dan mencari strategi pemasaran yang jitu agar Maicih tidak hanya dikenal di Bandung, tapi juga di seluruh Indonesia.

Di tahun 2011, Twitter dan Facebook sedang booming di Indonesia. Masih belum banyak orang yang memanfaatkan media sosial untuk berjualan. Tapi pria yang kerap disapa ALX ini justru sudah memanfaatkannya untuk menjadikan Maicih sebagai hot issue di Twitter. Melalui Twitter, ia kerap memberikan informasi para ‘Jenderal’—julukan untuk para agen atau reseller Maicih—yang mangkal di area tertentu menggunakan motor atau mobil pribadi.

Uniknya, para ‘Jenderal’ ini selalu berpindah-pindah, tidak selalu ada setiap hari di tempat yang sama sehingga menimbulkan rasa penasaran bagi para pelanggannya. Tidak heran di masa itu, antrean pelanggan Maicih bisa sampai mengular demi menyicip keripik pedas dengan berbagai level ini.

Kebiasaan masyarakat Indonesia yang senang mengonsumsi makanan pedas bisa menjadi salah satu alasan kenapa Maicih bisa diterima di masyarakat, terutama di kalangan anak muda. Dengan desain kemasan yang apik dan menggugah selera serta cita rasa yang bikin penasaran, Maicih pun booming di kalangan remaja saat itu hingga Reza sendiri sebagai ‘Presiden’ Maicih diundang sebagai narasumber di salah satu acara di stasiun televisi swasta.

Maicih sendiri mula-mula mengeluarkan produk keripik singkong dengan variasi level 3, level 5, dan level 10 untuk yang paling pedas. Lalu pelan-pelan, ia menambah variasi lain seperti Gurilem, Basreng (Bakso Goreng), Seblak Original, dan Seblak Keju Pedas.

Varian Produk Maicih (Sumber: Biografiku.com)

Ia sendiri kerap diundang oleh berbagai universitas untuk berbagi ilmu cara membesarkan Maicih. Kesuksesan Maicih lain di masa itu pada saat peluncuran produk, mengundang grup band SMASH yang sedang populer di tahun 2011.

Untuk menjaga agennya, Reza rutin mengadakan rapat evaluasi dan memberikan pelatihan pengembangan karakter agar ‘Jenderal’ Maicih tidak hanya memiliki kemampuan menjual, tetapi juga kepribadian yang tangguh.

Kini Maicih memang sudah tidak lagi se-booming seperti tahun 2011 di Twitter. Tapi ia tetap menggunakan media sosial sebagai kanal promosi produknya. Maicih saat ini mudah didapatkan di toko retail seperti Alfamart, Hypermart, Transmart, dan sebagainya. Salah satu faktor langgengnya Maicih hingga saat ini di dalam negeri adalah nilai historis dan inovasi sang founder yang tidak pernah berhenti, serta selalu berbenah diri untuk menjaga kualitas produk.

Sejak 2015, Reza sudah menjajal ekspor ke beberapa negara dengan menggandeng distributor lokal, khususnya kawasan Asia, seperti Malaysia, Australia, Singapura, Amerika Serikat, Thailand, Kanada, dan Tiongkok. Bahkan ia sudah membangun pabrik di Malaysia sejak 2018 untuk memenuhi permintaan pasar ekspor agar lebih mudah mendapatkan standar halal, karena standar halal di Malaysia yang biasa digunakan sebagai acuan internasional. Tidak heran jika menginjak sepuluh tahun berdiri, Maicih sudah mendulang omzet hingga puluhan milyar rupiah setiap bulannya.

Kemonceran pria asal Bandung ini dalam berbisnis bukan datang tiba-tiba. Sejak SMA ia sudah mencoba berjualan berbagai produk. Ikut MLM, berjualan barang elektronik, berjualan pupuk tapi ditipu rekan bisnis pernah dialaminya. Kegagalan-kegagalan inilah yang membentuk mentalitasnya sebagai pengusaha.

Lulus SMA di tahun 2005, ia memutuskan untuk tidak kuliah karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan. Ia ingin mandiri dan tidak membebani orang tua dengan biaya kuliah. Hingga 2009 ia mencoba berbagai bisnis, namun siapa sangka jika bisnis keripik singkong yang justru mendatangkan cuan besar.

Sukses dengan Maicih, ia mencoba lahan lain dengan mendirikan bisnis properti PT Sinergy Land Property yang menggarap beberapa perumahan di Bandung dan sekitarnya di tahun 2013.

Reza adalah salah satu contoh anak muda sukses yang tidak hanya bermimpi untuk kondisi finansial yang lebih baik, tapi bekerja keras mewujudkannya. Belajar tidak hanya di pendidikan formal, tapi juga bisa dari mana saja.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi