Kenapa Iklan Dukacita Identik dengan Orang Tionghoa?

Sumber: ppktabitha.co.id

Koran memang sudah tidak lagi begitu digandrungi seperti sebelumnya sejak maraknya kehadiran portal berita online. Namun koran selalu memiliki tempat tersendiri bagi pembacanya. Ada hal unik yang hanya ditemukan di koran, tapi tidak portal berita online. Apa itu?

Ya, iklan dukacita atau berita duka. Iklan dukacita berformat segi empat atau setengah halaman, bahkan hingga satu halaman penuh koran, hingga saat ini hanya ditemukan di koran dan tidak ditemukan portal berita online.

Iklan dukacita ini sendiri selalu identik dengan orang Tionghoa karena memang orang Tionghoa yang mendominasi iklan dukacita tersebut. Diketahui, kebiasaan ini sudah terbentuk sejak zaman Kolonial Belanda. Seperti Sin Po, koran Tionghoa yang terbit sejak 1910 di Jakarta ini rutin menerbitkan iklan berita keluarga seperti iklan dukacita dan sukacita, seperti peresmian bisnis, ulang tahun.

Lalu ada pula koran Pewarta Soerabaia, koran Tionghoa-Melayu asal Surabaya yang terbit di tahun 1902. Koran ini juga rutin memuat iklan berita keluarga terlengkap di Hinda Belanda kala itu.

Setelah Indonesia merdeka, kebiasaan ini tetap berlanjut dengan menerbitkan iklan dukacita di koran-koran nasional seperti Jawa Pos, Kompas, Harian Analisa (untuk kawasan Medan dan sekitarnya), Pikiran Rakyat (untuk kawasan Bandung dan sekiatnya), dan Tribungroup.

Kesadaran orang-orang Tionghoa untuk beriklan di media disinyalir karena mayoritas profesi yang digeluti adalah pedagang sejak zaman penjajahan. Sehingga mereka memahami betul fungsi iklan di media adalah untuk menyebarluaskan berita kepada khalayak. Sementara bagi pribumi yang kebanyakan berprofesi sebagai petani, peternak, guru, tentara, atau polisi, beriklan di koran, terutama iklan dukacita, dianggap tidak lazim.

Alasan orang Tionghoa selalu menjaga tradisi beriklan dukacita di media massa adalah untuk menyebarkan informasi berita kematian kepada sanak saudara atau relasi yang sudah lama tidak terhubung. Karena mereka sejak lama adalah diaspora, bisa dipastikan banyak sanak saudara yang tinggal terpencar-pencar.

Diharapkan dengan mengetahui berita kematian dari koran, mereka dapat berkunjung untuk memberikan penghormatan terakhir atau menyelesaikan permasalahan dengan mendiang, seperti utang. Karena dalam kebiasaan masyarakat Tionghoa sendiri, memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang lebih tua merupakan sebuah keharusan.

Selain itu, biasanya jenazah orang Tionghoa akan disemayamkan minimal selama 3-7 hari, tergantung pada perhitungan tanggal baik untuk penguburan atau kremasi. Rentang waktu persemayaman yang cukup lama ini bisa dimanfaatkan untuk sanak famili, relasi, atau rekan bisnis memberikan penghormatan terakhir.

Untuk menerbitkan iklan dukacita ini sendiri, biasanya anggota keluarga mendiang akan melakukan musyawarah untuk menentukan tanggal baik untuk menguburkan atau mengremasi mendiang. Setelah itu, nantinya akan didata nama-nama famili yang akan dicantumkan ke dalam iklan dukacita tersebut.

Saat ini sendiri, biasanya pihak jasa pemakaman menyediakan jasa untuk membantu memasang iklan dukacita di koran yang diinginkan oleh keluarga. Karena harga pemasangan iklan yang tidak murah, maka tidak semua orang Tionghoa harus memasang iklan dukacita keluarganya di koran.

Tapi tidak perlu khawatir. Sekarang semua orang bisa memasang iklan dukacita di Kenangan.com, platform berita duka online gratis dan terpercaya. Iklan dukacita yang sudah terbit bisa diakses selamanya dan dishare ke akun media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, atau chat messenger, seperti WhatsApp, LINE, WeChat.

Tak hanya itu saja. Anda juga bisa memberikan ungkapan bunga dan lilin, atau meninggalkan komentar untuk ungkapan belasungkawa. Kini, menyebarkan berita kematian semakin mudah, murah, dan cepat di Kenangan.com.

×
logo-kenangan Download aplikasi