Kematian Akibat Bunuh Diri Lebih Banyak Dialami Laki-laki, Kok Bisa?

Sumber: unsplash.com

Pagi ini, sepintas saya membaca berita tentang seorang aktor Bollywood, Sushant Singh Rajput, yang ditemukan meninggal dunia di rumahnya karena diduga bunuh diri. Lalu saya menelusuri berita tentang beliau, meskipun saya sendiri cukup asing dengan sosoknya. Selain tersohor di Bollywood dengan beberapa karya film dan opera sabunnya, ia sendiri konon dikabarkan sedang mempersiapkan pernikahannya. Tapi tidak diduga, ia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Bunuh diri sendiri bukanlah hal yang asing sebagai penyebab kematian di dunia ini. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga tahun 2019 tercatat 800.000 orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya. Sebagian besar adalah laki-laki.

Di negara kaya, angka bunuh diri laki-laki lebih tinggi tiga kali lipat dibandingkan perempuan. Sedangkan di negara berpenghasilan rendah dan menengah, angka keduanya seimbang. Data WHO juga menunjukkan hampir 40% negara memiliki lebih dari 15 kematian akibat bunuh diri dalam 100.000 populasi pria; hanya 1,5 persen saja yang menunjukkan tingkat yang lebih tinggi untuk perempuan.

Bunuh ini sendiri sebenarnya adalah masalah yang sangat sensitif dan benar-benar kompleks dengan banyak penyebab. Kita sendiri tidak pernah bisa sepenuhnya tahu apa alasan di baliknya meski katanya bisa dicegah.

Seiring dengan kesadaran masyarakat akan kesehatan mental yang mulai tumbuh, pemahaman publik terkait kesehatan mental dan faktor-faktor yang memengaruhi bunuh diri pun menjadi lebih besar.

Tapi tetap saja, kesenjangan gender ini masih menjadi pertanyaan besar, terutama jika mempertimbangkan bahwa perempuan cenderung lebih sering didiagnosis depresi daripada laki-laki.

Perempuan juga lebih sering melakukan percobaan bunuh diri daripada laki-laki. Tapi, metode bunuh diri laki-laki seringkali membuatnya lebih mungkin untuk selesai sebelum siapapun bisa mengintervensi untuk menggagalkan upaya percobaan bunuh diri tersebut.

Selama beberapa generasi, masyarakat mendorong laki-laki untuk menjadi sosok yang “kuat” dan menyembunyikan perasaan bahwa mereka sedang kesulitan. Kalimat “Anak laki-laki tidak boleh menangis” inilah yang sering dilontarkan kepada anak laki-laki karena mengekspresikan emosi dianggap menjadi lemah.

Di samping itu, masalah tersebut juga ada pada cara orang tua berkomunikasi dengan anak dan bagaimana orang tua mendorong anak untuk berkomunikasi tentang diri mereka sendiri. Mara Grunau mengungkapkan bahwa para ibu berbicara lebih banyak kepada anak perempuan daripada anak laki-laki dan sering berbagi, serta mengungkapkan perasaan.

Laki-laki lebih jarang mencari bantuan untuk kesehatan mental, sehingga lebih jarang mengetahui jika mereka sedang mengalami stres atau kondisi kesehatan mental apapun yang membuat mereka lebih berisiko bunuh diri.

Jika seseorang itu bahkan tidak sadar bahwa mereka dalam kesulitan, mereka tidak akan menyadari apa yang bisa dilakukan untuk membantu mereka. Lebih berbahaya lagi jika mereka mungkin berusaha mengobati sendiri, seperti menggunakan narkoba dan alkohol yang justru menjadi faktor pendorong bunuh diri.

Faktor risiko lainnya di samping narkoba dan alkohol, bisa berhubungan dengan keluarga atau pekerjaan. Misalnya, ketika terjadi penurunan ekonomi seperti saat di tengah situasi pandemi COVID-19 yang menyebabkan naiknya angka pengangguran, cenderung ada peningkatan kasus bunuh diri. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran berlebihan tentang keuangan atau usaha mencari pekerjaan bisa memperburuk masalah kesehatan mental.

Ditambah lagi tekanan sosial dan krisis identitas karena tanpa sadar kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan tolak ukur sukses adalah sukses dan mapan secara ekonomi. Padahal, seharusnya yang tepat adalah membandingkan diri sendiri di masa sekarang dan masa lalu, serta sukses tidak hanya diukur dari segi ekonomi saja.

Rasa terisolasi juga bisa menjadi faktor lain kenapa orang mati karena bunuh diri. Perasaan ini dapat muncul di setiap jalan kehidupan setiap manusia. Misalnya, seorang profesional yang dari luar tampak sukses dan memprioritaskan peningkatan karier demi kesuksesan ekonomi dengan mengabaikan banyak hal, termasuk hubungan sosial, bisa saja mendapati dirinya “berada di puncak piramida sendirian”.

Faktor eksternal memang bisa memicu perilaku bunuh diri pada seseorang yang sudah berisiko, tapi tidak akan pernah menjadi penyebab tunggal. Akan selalu ada penyebab-penyebab lain yang menyertainya.

Memang tidak ada solusi instan untuk menurunkan laju angka kasus bunuh diri di seluruh dunia. Tapi sejumlah program, kebijakan, dan organisasi nirlaba yang terus menerus mengampanyekan kesehatan mental terus berusaha membuat terobosan.

Di media sosial contohnya, banyak akun yang mulai fokus memberikan edukasi seputar kesehatan mental oleh psikolog atau psikiater. Di samping itu, teknologi terbaru seperti konsultasi daring dengan psikolog atau psikiater melalui aplikasi yang memudahkan mereka mendapatkan bantuan tanpa takut dihakimi.

Masih ada jalan panjang untuk benar-benar menghilangkan bunuh diri. Tapi setidaknya jika kita terus berusaha mulai dari lingkungan terkecil, seperti di kalangan keluarga atau orang-orang terdekat, kita bisa membantu mereka untuk membicarakannya dan menyadari bahwa masih ada secercah harapan untuk hari esok.

 

 

 

Sumber:

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190910023019-255-428942/who-tiap-detik-ada-satu-orang-tewas-bunuh-diri-di-dunia

https://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-47862671

https://www.kompas.com/hype/read/2020/06/15/085541266/5-fakta-kematian-sushant-singh-rajput-yang-diduga-bunuh-diri?page=all

https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/mitos-dan-fakta-seputar-bunuh-diri/

×
logo-kenangan Download aplikasi