Karoshi, Fenomena Mati Akibat Terlalu Banyak Bekerja di Jepang

Sumber: doktersehat.com

Sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik. Begitu pula dengan bekerja terlalu banyak bisa menyebabkan kematian. Kematian akibat terlalu banyak bekerja bukan fenomena baru di Jepang. Negara Matahari Terbit ini memang terkenal dengan jam kerja panjang.

Karoshi namanya. Sebutan untuk peristiwa kematian akibat jam kerja yang berlebih. Pola kerja yang seperti berjalan terus menerus tanpa henti ini bisa mengakibatkan penyakit jantung atau stroke. Tidak jarang akibat tekanan kerja yang menyebabkan tingkat stress yang tinggi, para pekerja memilih bunuh diri untuk mengakhiri penderitaan.

Karoshi sendiri pertama kali muncul di tahun 1969, saat seorang pria berusia 29 tahun meninggal karena stroke dan serangan jantung setelah bekerja secara berlebihan. Setelah itu, ada beberapa kasus yang dilaporkan memiliki pola yang sama. Karoshi sempat dipercaya hanya terjadi pada kaum Adam.

Namun seiring berjalannya waktu, di tahun 1980-an, Karoshi juga menyerang kaum Hawa. Contoh kasus yang menyerang wanita adalah tewasnya Miwa Sado (31) di apartemennya di Tokyo dengan posisi sedang memegang ponselnya pada 25 Juli 2013. Sado sendiri adalah seorang jurnalis yang meninggal setelah bekerja dalam total waktu 159 jam dalam waktu sebulan. Penyebab kematiannya pun diklasifikasikan sebagai karoshi.

Adapula Matsuri Takahashi yang memilih bunuh diri dengan cara melompat dari asramanya setelah kelelahan bekerja selama 105 jam sebulan sebelumnya pada 25 Desember 2015. Beberapa minggu sebelum kematiannya, ia menulis status di media sosial yang mengatakan, “Saya hancur secara fisik dan mental” dan “Saya ingin mati”.

Meski fenomena ini bukanlah fenomena baru, tetap saja masih banyak perusahaan Jepang yang memilih untuk memperkerjakan karyawan muda untuk bekerja lembur. Para atasan berharap agar karyawan bisa datang lebih pagi dan pulang hingga larut malam.

Bukan tanpa alasan kenapa orang Jepang bekerja begitu keras yang bisa dibilang oleh warganet Indonesia seperti kerja lembur bagai kuda. Mereka takut bila tidak dapat bekerja secara maksimal bisa berdampak pada pemecatan.

Dengan bekerja lebih produktif dan giat, karyawan berharap akan mendapatkan bonus, kenaikan gaji, ataupun kenaikan posisi. Tapi kerja keras yang dilakukan seringkali membuat mereka melupakan kondisi tubuh dan kesehatan mereka. Meski lembur dan bekerja dengan baik di depan atasan, perusahaan terkadang tidak memberikan imbalan apa-apa kepada mereka.

Kenapa tidak mengundurkan diri dan mencari pekerjaan baru? Memang bukan hal yang sulit. Tapi masyarakat Jepang banyak yang beranggapan jika meninggalkan pekerjaan yang sudah memiliki posisi tertentu, mereka akan mengulang kembali jenjang karier dari bawah di tempat baru. Inilah yang membuat para karyawan lelah terperangkap dalam pekerjaan mereka.

Menurut data dari Departemen Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang, di tahun 2015 jumlah kematian akibat karoshi dalam 1 tahun mencapai 1.456 kasus. Kasus kematian karoshi mayoritas dialami pekerja yang bekerja di bidang teknik, transportasi, perawatan kesehatan, dan pelayanan sosial yang sudah sejak lama kekurangan tenaga kerja.

Keluarga korban dapat menuntut kompensasi atau ganti rugi kepada perusahaan apabila ada salah seorang anggota keluarga mereka yang meninggal karena karoshi. Meski begitu tidak semua karyawan yang meninggal dengan tanda-tanda yang diyakini karoshi dapat diklasifikasikan sebagai karoshi. Pemerintah akan menyelidiki kasus tersebut sebelum bisa memutuskan apakah korban meninggal akibat kelelahan bekerja atau tidak.

Terkait dengan hal ini sebenarnya pemerintah Jepang sudah berupaya untuk menghentikan fenomena karoshi melalui berbagai kebijakan agar para pekerja tidak bekerja berlebihan. Contohnya dengan mengeluarkan kebijakan ‘Premium Fridays’ agar perusahaan membiarkan karyawan keluar lebih awal, yaitu jam 3 sore di hari Jumat setiap akhir bulan. Karyawan juga berhak atas 20 hari cuti dalam setahun yang faktanya tidak diambil oleh 35% karyawan di Jepang.

Untuk memaksa karyawan segera pulang, salah satu kantor pemerintah lokal di Toshima mematikan lampu kantor pada pukul tujuh malam. Strategi ini cukup efektif mesti tidak siginifikan menurunkan angka kematian akibat karoshi.

×
logo-kenangan Download aplikasi