Ini Dia Tips & Trik Menulis Eulogi untuk Mengenang Orang Tercinta

Sumber: unsplash.com

Dimana ada sebuah kehidupan, disitu pasti ada sebuah kematian yang juga sudah menjadi bagian dalam hidup. Pemakaman dan upacara penghormatan terakhir kepada seseorang yang meninggal menjadi penanda kepergian seseorang. Namun dalam keadaan berduka, kita tentu akan lebih banyak kesulitan untuk berkata-kata, terlebih untuk menyampaikan eulogi.

Apa itu eulogi? Mengutip dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), eulogi adalah ucapan atau pidato yang memuji atau menghormati seseorang, terutama yang sudah meninggal dunia. Eulogi berbeda dengan memorial, obituari atua berita dukacita, juga elegi.

Lalu bagaimana jika Anda dipercaya untuk menyampaikan eulogi tapi Anda cukup bingung apa saja yang harus disampaikan? Ini dia tips dan triknya yang bisa Anda coba dan terapkan untuk membuat pidato kematian mengenang orang tercinta.

  • Eulogi adalah pidato untuk menghormati seseorang yang sudah meninggal. Jadi pastikan isinya fokus mengenai bagaimana mendiang semasa hidupnya dan ceritakan hal yang paling berarti untuk dikenang
  • Percaya diri dan tetap positif
  • Eulogi bukanlah pidato yang memakan waktu lama. Anda membutuhkan sekitar 6-7 menit untuk menyampaikannya dengan panjang tulisan kurang lebih 1000 kata.
  • Temukan inspirasi dari hal-hal yang bisa membangkitkan kenangan lama, kisah, dan perasaan terhadap orang tercinta dari album foto lama, menonton rekaman video, atau melihat scrapbook. Anda juga bisa bertanya kepada teman dan keluarga terdekat untuk mengetahui kisah dan kenangan manis mereka.
  • Tentukan nuansa pidato Anda, apakah ingin terasa sedih, serius, penuh pemikrian, atau humoris.
  • Tuliskan semua apa yang ingin Anda ucapkan dalam pidato tersebut agar tidak kehilangan poin-poin penting
  • Buatlah pidato secara personal karena ini bukan pidato formal, tapi apresiasi
  • Pidato bisa dimulai dengan memperkenalkan diri apa hubungan Anda dengan mendiang lalu dilanjutkan dengan kisah mendiang semasa hidup.
  • Tidak ada salahnya menyelipkan humor dalam pidato, tapi tentu saja lihat situasinya. Jika yang meninggal adalah anak-anak, biasanya suasana berkabung cenderung jauh lebih emosional daripada orang yang lebih tua karena waktu hidup anak-anak yang lebih pendek daripada orang tua.
  • Pidato bisa ditutup dengan mengalamatkan langsung kepada mendiang, seperti “Raina, terima kasih telah mengajarkanku menjadi ibu yang baik.”

 

Contoh eulogi yang ditulis seorang wanita utuk neneknya:

Dari ingatan saya yang paling awal, dia selalu ada di sisi saya, mengajak saya berjalan-jalan melewati padang golf kecil di dekat rumah, sibuk menyiapkan makan siang saya yang cukup aneh yang harus makan indomie goreng dan sosis goreng, juga harus ada ciki yang biasanya tidak pernah dikasih oleh ibu saya.

Saya sangat dekat dengan nenek saya hingga menjelang umur saya 23 tahun, saya menjadi semakin cemas bagaimana jika dia mungkin sudah tidak hidup lagi untuk bisa menghadiri pernikahan saya, kecuali jika saya bergegas. Akhirnya, ia masih sempat menghadiri pernikahan saya, juga menyaksikan perceraian saya, pernikahan kedua saya, dan mengetahui juga mencintai kedua anak saya. Dia sudah menyukai suami saya sejak awal dan suatu hari sebelum kami bertunangan, dia mengatakan dengan berani kepadanya, “Nah, lebih baik kamu meletakkan cincin di atasnya.” mengutip perkataan Beyonce tanpa tahu referensi darimana :’)

Apa yang paling saya ingat tentang nenek saya hingga akhir hayatnya adalah selalu bersyukur dan rendah hati. Ia sering menasihati saya untuk hidup bagi diri saya dan tidak mengkhawatirkannya. Fokus bekerja, fokus pada keluarga, dan datang berkunjug jika memang saya ada waktu. Dia selalu menyukai waktu-waktu ketika kami bersama tapi tidak pernah meminta lebih.

Saya pernah sekali bertanya padanya haruskah saya mempunyai anak ketiga, lalu jawabannya, “Kenapa, sayang? Kamu sudah memiliki keluarga yang sempurna.” Hal terpenting bagi nenek saya adalah keluarga dan iman; ia tidak peduli dengan harta benda. Faktanya, dia sering memberikan barang-barangnya kepada orang lain dengan alasan “ada seseorang yang jauh lebih membutuhkan.” Sifatnya yang tidak egois dan selalu mendahulukan orang lain inilah yang ingin saya tiru dalam mengasuh anak-anak saya. Waktu dengan keluarganya adalah hadiah terbaik dan bahkan dengan itu, dia sama sekali tidak serakah.

Saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada keluarga kami yang sudah merawat, mencintai, dan menikmati menghabiskan waktu dengan nenek saya di hari tuanya. Mengetahui beliau memiliki Eddie untuk mengantarnya ke gereja dan makan siang setiap hari minggu diselingi acara yang menyenangkan, dia benar-benar selalu menantikannya. Dave dan Aileen selalu tiba dengan sekotak lilin aromatheraphy favoritnya dimana beliau selalu semringah ketika mereka masuk pintu rumah. Dan untuk ibu saya, yang sudah merawat nenek selama 10 tahun terakhir hidupnya dengan penuh kasih sayang dan tugas yang tidak tertandingi. Saya berterima kasih kepadanya tidak hanya karena beliau memberikan kembali kepada ibunya, tapi juga memberi contoh teladan dalam merawat dan menghormati orang tua.

Ketika teman-teman saya mulai punya bayi dan saya mulai memahami pekerjaan tanpa lelah untuk membuat sesorang tetap hidup, dengan kecenderungan melelahkan yang terus menerus dari makhluk yang tidak dapat melakukan apa pun dan menuntut segalanya, saya jadi menyadari bahwa ibu saya telah melakukan semua hal ini untuk saya sejak saya belum mengingat segalanya. Saya disuapi, saya dimandikan, saya dipakaikan pakaian, saya diajari berbicara dan hal lain berulang-ulang, setiap waktu. Dia memberi saya segalanya, sebelum dia memberi saya apa-apa.

 

Sumber: Rebecca Solnit, dari buku The Faraway Nearby

 

×
logo-kenangan Download aplikasi