Euthanasia: Bunuh Diri Dibawah Pengawasan Dokter

Sumber: unsplash.com

Film Me Before You (2016) cukup menyita perhatian para pencinta film dimana film yang diangkat dari novel karya Jojo Moyes yang berjudul sama ini mengangkat tema mengenai euthanasia. Apa itu euthanasia? Mungkin istilah ini terdengar asing bagi Anda.

Euthanasia, diambil dari bahasa Yunani-eu berarti baik dan thanatos berarti kematian-berarti praktik pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit, atau menimbulkan rasa sakit yang sangat minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan mematikan.

Euthanasia sendiri biasanya dilakukan oleh seseorang yang sangat sakit dan menderita, yang diliputi oleh rasa sakit tak tertahankan dan tidak bisa disembuhkan.

Seperti alur cerita film Me Before You tersebut yang menggambarkan sang tokoh utama, Will, yang sudah tidak sanggup lagi menahan sakit akibat penyakit yang dideritanya dan kondisi fisik yang semakin menurun, hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri penderitaan hidupnya dengan melakukan euthanasia.

Ada beberapa jenis euthanasia yang ditinjau dari cara pelaksanaannya, diantaranya:

  • Euthanasia Agresif/Aktif: tenaga profesional kesehatan bertindak langsung dan aktif, sengaja menyebabkan kematian pasien, misalnya dengan memberikan obat penenang dalam dosis besar, baik secara oral atau melalui suntikan. Salah satu obat yang mematikan adalah tablet sianida.

 

  • Euthanasia Non Agresif: kondisi dimana seorang pasien menolak secara tegas dan dengan sadar untuk menerima perawatan medis, meskipun mengetahui bahwa penolakannya akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Pada dasarnya, euthanasia non agresif adalah praktik euthanasia pasif atas permintaan pasien yang bersangkutan.

 

  • Euthanasia Pasif: euthanasia ini tidak menggunakan alat-alat atau langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan seorang pasien. Biasanya dilakukan dengan memberhentikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien secara sengaja. Contohnya, tidak memberikan bantuan oksigen bagi pasien yang kesulitan pernapasan, meniadakan tindakan operasi yang seharusnya dilakukan untuk memperpanjang hidup pasien.

 

Jenis euthanasia yang ditinjau dari sudut pandang pemberian izin, antara lain:

  • Euthanasia volunteer: terjadi atas permintaan pasien, dimana pasien sepenuhnya menyadari kondisi penyakitnya, mengerti kemungkinan masa depan penyakitnya, menyadari manfaat dan risiko terkait pilihan pengobatan penyakitnya, dan dapat mengkomunikasikan keinginan mereka dengan jelas, serta meminta bantuan profesional medis untuk mengakhiri nyawanya.

 

  • Euthanasia non-volunteer: terjadi ketika pasien berada dalam kondisi tidak sadar atau tidak mampu untuk membuat pilihan otonomik antara hidup dan mati—misalnya bayi baru lahir atau seseorang dengan intelegensia rendah, pasien tidak cukup umur di mata hukum, pasien dalam koma panjang, atau mengalami kerusakan otak parah. Keputusan dibuat oleh orang lain yang berkompeten atas nama pasien.

 

  • Euthanasia Involunteer: terjadi saat pihak lain mengakhiri nyawa pasien melawan pernyataan keinginan asli mereka. Euthanasia involunteer hampir selalu dianggap sebagai pembunuhan. Contohnya meski pasien ingin terus bertahan hidup dengan kondisi menderita, pihak keluarga meminta dokter untuk mengakhiri hidupnya.

 

Selain praktik euthanasia, adapula istilah Physician-Assisted Suicide (PAS) yang terlihat mirip namun berbeda dengan euthanasia. Praktik PAS ini adalah tindakan seseorang yang menginginkan kematian secara sadar melalui bantuan dokter. Biasanya dilakukan dengan memberikan obat-obatan yang secara spesifik dapat menghasilkan kematian.

Contoh kasus PAS adalah ilmuwan-profesor asal Australia, David Goodall, yang memilih untuk mengakhiri hidupnya di usia 104 tahun dengan disuntik mati di Basel, Swiss, pada 10 Mei 2018 lalu. Ia disuntik mati dalam keadaan sehat dan tidak memiliki penyakit mematikan apapun.

Praktik euthanasia ini sendiri masih menimbulkan pro dan kontra di beberapa kalangan. Sebagian orang yang mendukung euthanasia menganggap bahwa masyarakat beradab harus memungkinkan orang untuk mati dalam martabat dan tanpa rasa sakit. Juga, tubuh adalah hak prerogatif pemiliknya sendiri.

Sebagian lain yang menentang euthanasia ini karena tidak sesuai dengan ajaran iman dan agama. Mereka berpendapat bahwa kehidupan diberikan oleh Tuhan, dan hanya Tuhan yang memutuskan kapan untuk mengakhirinya.

Muncul juga kekhawatiran jika euthanasia dilegalkan, nantinya akan disalahgunakan dan orang-orang yang sebenarnya tidak benar-benar ingin mati justru diakhiri nyawanya.

Beberapa negara yang melegalkan euthanasia adalah Belanda—yang pertama kali di dunia melegalkan euthanasia di tahun 2001, negara bagian Oregon, Amerika Serikat, Belgia, dan Swiss.

Indonesia sendiri masih menggolongkan euthanasia sebagai pelanggaran hukum pidana dengan dasar hukum yang tertuang dalam Pasal 344 KUHP:

“Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.”

Dari pasal tersebut sangat jelas diungkapkan bahwa pembunuhan atas permintaan korban sekalipun tetap diancam pidana bagi pelakunya. Dengan demikian, dalam konteks hukum positif di Indonesia, euthanasia dianggap sebagai perbuatan yang dilarang dan Indonesia hanya mengakui hak untuk hidup.

×
logo-kenangan Download aplikasi