Dibalik Makna Tahlilan dan Berkat

Sumber: Warta Kota

Bagi Anda yang lahir dan besar di Jawa, tentu sudah tidak asing lagi dengan ritual Tahlilan yang biasanya diadakan untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Selain bagian dari kegiatan keagamaan, Tahlilan juga termasuk dalam budaya kehidupan orang Jawa. Tahlilan juga memiliki sebutan lain, yaitu Kajatan. Di samping berdoa bersama, akan ada hidangan yang disajikan oleh pemilik acara yang dikenal dengan nama berkat atau berkatan.

Tahlilan itu berasal ketika dulu para Wali Songo menyebarkan agama Islam di Jawa, masyarakat saat itu yang umumnya beragama Hindu atau Buddha memiliki kebiasaan berdoa bersama-sama untuk mendoakan arwah orang yang sudah meninggal agar tenang dan dapat masuk surga. Para Wali pun berupaya mengakulturasi kebiasaan ini dengan doa-doa Islam yang bisa diterima masyarakat.

Bagi orang Jawa sendiri, doa tidak hanya cukup dalam bentuk kata-kata. Mereka mewujudkan dalam ragam makanan sebagai bentuk kesungguhan mereka dalam berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam praktiknya, mereka tidak hanya melakukan hal ini pada acara Tahlilan, tapi juga acara-acara ritual slametan lainnya, seperti sunatan, tedak sinten, aqiqah anak, dan lainnya.

Tahlilan sendiri biasanya diadakan sejak malam setelah jenazah dimakamkan berturut-turut hingga malam ke tujuh. Kemudian, diadakan lagi di 40 hari kematiannya, 100 hari, satu tahun, dua tahun, tiga tahun, atau 1000 hari. Umumnya acara rutin Tahlil setiap malam Jumat hidangannya bebas, tergantung si empunya acara.

Hidangan atau yang disebut berkat ini berisi beberapa jenis makanan. Seperti sego suci ulam sari atau sego gurih, kacang panjang, pisang, ketak kolak, apem, dan jenang sengkolo. Makanan-makanan ini sendiri dipilih karena memiliki makna pengingat dalam kehidupan manusia.

Kacang panjang diibaratkan sebagai sebuah tongkat yang dapat menjadi pegangan hidup di dunia. Ketika menjalani kehidupan di dunia, kaum muslimin harus berpegang pada ajaran agama yang bersumber pada Alquran dan Hadits, sehingga manusia dapat selama di dunia dan akhirat.

Ada pula cenggereng yang mirip dengan srondeng, yang dimaknai agar mata kita tidak kelilipan. Maksudnya adalah agar kita memanfaatkan mata untuk melihat hal-hal yang baik demi keselamatan kita nanti di akhirat.

Penyajian sego suci ulam sari atau sego gurih dengan ayam lodho dalam bentuk dibekakak bermakna sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam, sahabat, dan keluarganya.

Ketan kolak sendiri bermakna kekuatan dan memohon ampunan dari segala kesalahan dalam berbicara secara lahir dan batin. Ada juga pisang raja atau gedhang stangkep yang bermakna untuk memuliakan Siti Fatimah binti Muhammad, yang merupakan putri Nabi Muhammad. Diharapkan beliau dapat menjadi teladan bagi para muslimah di muka bumi ini.

Jenang sengkolo maknanya sebagai wujud harapan di masa depan dapat menolak malapetaka yang akan menimpa kita. Malapetaka yang terlanjur datang diharapkan pula dapat dihilangkan.

Kue bulat bernama apem ini cukup umum di berbagai acara ritual orang Jawa. Selain di acara Tahlilan, ia juga biasa ada di acara Megengan menjelang bulan Ramadan. Apem ini sendiri bermakna untuk memintakan maaf bagi para arwah yang sudah mendahului dan niat disedekahkan untuk para arwah tersebut.

Hidangan Tahlilan ini dinamakan berkat yang bermakna berkah atau barokah, yang artinya bertambahnya kebaikan. Seperti kita sedang melakukan sedekah, memberi untuk menambah kebaikan. Hal ini disebabkan Tahlilan diselenggarakan dengan mengundang tetangga sekitar dan sanak saudara.

Selesai Tahlilan, tetangga yang datang ataupun berhalangan hadir akan merasa senang dan berterima kasih karena mendapatkan berkat tersebut. Berkat ini bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga penerima. Kadang kala berkat dapat menjadi hidangan bagi tamu yang hadir.

Namun di zaman sekarang, hidangan berkat tidak lagi melulu sesuai tradisi Jawa karena kesibukan dan selera. Hidangan yang disajikan lebih disesuaikan dengan selera penerima pada umumnya, seperti nasi dengan ayam goreng beserta kue basah lainnya.

Pada hakikatnya, tahlilan tidak hanya ingin mendoakan arwah yang telah mendahului, tapi juga berbagi berkat kepada yang masih hidup di sekitar kita.

×
logo-kenangan Download aplikasi