Buat Hidupmu Lebih Bahagia dengan Memikirkan Kematian 5 Kali Sehari

Sumber: Helena Lopes (unsplash.com)

Apa ilmu tersulit yang dipelajari di muka bumi ini selama kita menjadi manusia? Menjadi kaya? Menjadi pandai? Menjadi cerdik? Atau menjadi yang terpandai dalam suatu bidang tertentu?

Rupanya, bersyukur adalah ilmu tersulit yang dipelajari selama kita menjadi manusia. Sejak lahir hingga meninggal, tidak semua manusia mampu bersyukur atas kehidupan yang diperolehnya.

Padahal jika kita terus menanamkan rasa syukur ke dalam diri sendiri, tentu kita mampu menghadapi berbagai ujian dan situasi tidak terduga yang datang dalam hidup kita. Bersyukur juga mengajarkan kita untuk bisa tetap bahagia dalam situasi apapun.

Bhutan adalah sebuah negara kecil di Asia Selatan yang terkenal sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia. Kehidupan masyarakatnya tergolong sederhana dan pembangunan infrastruktur juga tidak semasif negara-negara maju. Lalu darimana datangnya kebahagiaan tersebut?

Ada resep kehidupan yang sudah dipraktikkan masyarakat Bhutan sejak bertahun-tahun lamanya. Yaitu dengan mengingat kematian lima kali dalam sehari sebagai bentuk rasa syukur terhadap mereka setiap hari.

Seorang jurnalis BBC, Eric Weiner, sudah membuktikan langsung bahwa ia memang mendapatkan saran ini dari Karma Ura, direktur Pusat Kajian Bhutan, ketika ia berkunjung ke Thiump, ibu kota Bhutan. Saat itu ia menceritakan masalahnya kepada Karma karena merasa hidupnya kurang berjalan baik. Kemudian ia diminta untuk sebaiknya memikirkan kematian sebanyak lima kali dalam sehari.

Memang saran itu terdengar nyeleneh, menyeramkan, dan seolah-olah kita diminta pasrah akan jalan hidup yang sudah ada selama ini. Namun justru dengan memikirkan kematian sebanyak lima kali dalam sehari, kita akan merasa bahwa kita harus hidup dengan sebaik-baiknya dan memanfaatkan waktu serta kesempatan yang ada sebaik mungkin. Memikirkan kematian juga mampu menumbuhkan rasa syukur pada diri seseorang karena masih diberi kesempatan untuk hidup dan bernapas.

Kematian sendiri sebenarnya adalah bagian dari kehidupan. Tapi sayangnya kematian yang terkesan menyeramkan dan meninggalkan apa yang ada di dunia membuat orang enggan jika harus memikirkan tentang kematiannya. Dalam ajaran Buddha sendiri, mengikhlaskan kematian itu berarti seperti merelakan baju kita yang sudah lama.

Nathan DeWall dan Roy Baumesiter, psikolog asal Kentucky University, dalam studinya di tahun 2007 membagi beberapa puluh mahasiswa mereka ke dalam dua kelompok.

Satu kelompok diminta memikirkan bagaimana sakitnya ketika pergi ke dokter gigi, sementara kelompok lainnya diinstruksikan untuk berkontemplasi mengenai kematian mereka.

Kedua kelompok kemudian diminta untuk melengkapi kata-kata, seperti “jo_”. Dari hasil penelitian tersebut, kelompok kedua ternyata lebih mungkin untuk membuat kata yang positif, misalkan “jo_” menjadi “joy” (bahagia).

Kesimpulannya adalah bahwa kematian memang merupakan fakta yang mengancam psikologis, tapi ketika orang mulai merenungkannya, kelihatannya sistem otomatis dalam tubuh mulai mencari pikiran yang membahagiakan.

Sebagian orang mungkin berpikir bahwa memikirkan kematian dapat menyebabkan depresi. Tapi nyatanya, kematian juga bisa dianggap sebagai pengingat bahwa kematian itu juga bagian dari kehidupan kita.

Memikirkan kematian membuat kita kembali memikirkan ingin diingat sebagai seseorang yang seperti jika nanti kita sudah meninggal dan ingin melakukan terbaik selagi kita mampu dan masih diberi kesempatan.

Di Bhutan sendiri meskipun kematian dianggap sebagai bagian dari kehidupan, tetap ada ruang dan tempat untuk berduka. Setelah seseorang meninggal, ada periode 49 hari berkabung yang menyertakan ritual yang telah diatur dengan sangat terperinci dan hati-hati. Karena kesedihan itu juga bagian dari kehidupan.

 

               

×
logo-kenangan Download aplikasi