Bagaimana Menyiasati Mahalnya Biaya Kematian?

Sumber: unsplash.com

Tinggal di kota besar tidak dipungkiri membutuhkan biaya yang tidak sedikit agar bisa sejahtera. Biaya yang dikeluarkan pun tidak hanya untuk menyambung hidup sehari-hari, tetapi juga harus dikeluarkan ketika hidup sudah berakhir.

Setiap yang bernyawa memang pasti akan menemui ajal kematiannya. Sudah hal yang lumrah pula, jika meninggal di zaman sekarang masih mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengurus kematian.

Jika memilih dikubur, maka akan ada biaya jasa gali liang lahat, beli tanah kuburan, sewa tenda, sewa ambulan jenazah, biaya pemulasaran atau pengurusan jenazah, biaya peti mati, konsumsi, hingga biaya perawatan makam.

Bagaimana jika memilih dikremasi? Mungkin biaya yang muncul adalah biaya kremasi di krematorium, sewa ambulan jenazah, biaya pemulasaran atau pengurusan jenazah, biaya peti mati, konsumsi, biaya sewa rumah duka jika menggunakan fasilitas rumah duka, hingga biaya sewa kolumbarium jika memilih abu jenazah untuk tidak dilarung.

Belum lagi jika ada keluarga dari suku tertentu yang mengadakan upacara adat kematian dengan biaya yang tidak sedikit, seperti upacara Rambu Solo di Toraja atau Ngaben di Bali.

Biaya-biaya yang timbul saat mengurus kematian ini memang tidak murah. Apalagi jika ingin dimakamkan di luar kota yang membutuhkan biaya sewa ambulan atau kargo pesawat hingga belasan atau puluhan juta rupiah.

Tidak jarang, bagi sebagian besar orang yang merasa keberatan dengan mahalnya sewa ambulan, memilih untuk mengangkut jenazah menggunakan mobil pribadi atau angkot, atau juga truk yang biayanya jauh lebih terjangkau untuk mengangkut jenazah hingga ke luar kota.

Kremasi sendiri beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan dari kalangan penganut agama Kristen dan Katolik, yang disebabkan salah satunya untuk menghemat biaya kematian. Selain itu, beberapa orang menganggap dikremasi tidak lagi menyusahkan keluarga yang hidup dengan membayar uang perawatan makam.

Lantas, bagaimana menyiasati biaya kematian agar kelak tidak menyusahkan keluarga yang ditinggalkan?

Pertama, tentu saja dengan mengalokasikan dana khusus untuk kematian. Ada sebagian orang yang memilih untuk menyimpan dana tersebut di deposito atau mendaftarkan diri pada yayasan kematian dan membayar sejumlah iuran setiap bulannya.

Mendaftarkan diri di yayasan kematian juga salah satu cara agar pihak keluarga tidak perlu dipusingkan lagi untuk mengurus jenazah hingga proses pemakaman atau kremasi.

Membayar iuran di yayasan juga sebagai bentuk subsidi silang untuk para anggota apabila ada anggota yang nantinya meninggal, maka dapat membantu dengan iuran tersebut.

Biaya kematian sendiri sebetulnya bervariasi dan tidak ada patokan tertentu, karena kebiasaan setiap orang dalam mengurus jenazah bisa berbeda-beda, tergantung adat atau agama yang dianut, kebiasaan yang biasa dilakukan oleh pihak keluarga, serta kondisi ekonomi keluarga tersebut.

Kedua, mencicil beli tanah makam. Tidak jarang ada beberapa orang yang ingin memiliki pemakaman keluarga agar kelak, ia beserta anak cucunya dapat dimakamkan berdampingan di tempat yang saling berdekatan. Untuk itu, diperlukan modal dengan membeli lahan makam sejak jauh-jauh hari agar memudahkan keluarga untuk menguburkan.

Membeli tanah makam jauh-jauh hari tentu lebih murah daripada membeli dadakan ketika ada keluarga yang baru saja meninggal. Hal ini berlaku baik membeli lahan kosong di pedesaan atau di komplek pemakaman mewah seperti San Diego Hills, Al-Azhar Memorial Park, Taman Kenangan Lestari, dan sebagainya.

Selain itu, jika Anda tinggal di perumahan baru, tidak ada salahnya untuk ikut menyumbang pengadaan lahan makam bersama warga sekitar. Pengalaman orang tua saya yang dulu membeli rumah di perumahan baru, orang tua saya bersama warga sekitar menyumbang sejumlah uang untuk membeli lahan kosong yang nantinya akan dijadikan pemakaman warga.

Cara lain adalah dengan memakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) milik pemerintah setempat apabila di sekitar tempat tinggal Anda tidak ada lahan kosong yang bisa dijadikan tempat pemakaman umum bersama.

Memakamkan di TPU hanya akan diminta biaya retribusi tahunan untuk perawatan makam. Namun biasanya akan ada tukang gali kubur yang meminta biaya gali lahan di luar retribusi tersebut.

Jika memilih untuk dikremasi, dana yang telah dialokasikan bisa disisihkan yang nantinya digunakan untuk membayar biaya kremasi di krematorium.

Ketiga, jika Anda merupakan pencari nafkah utama dengan tanggungan istri dan anak-anak di bawah usia 25 tahun, ada baiknya untuk mendaftarkan asuransi jiwa karena uang pertanggungan yang cair ketika pencari nafkah utama meninggal, bisa digunakan nantinya untuk mengurus kematian.

Keempat, jika Anda memiliki permintaan khusus untuk kematian Anda, jangan segan-segan untuk menuliskan wasiat dan memberitahukan kepada anggota keluarga terdekat agar mereka nantinya bisa mewujudkan keinginan Anda.

Mungkin memang terdengar repot jika masih hidup sudah memikirkan urusan kematian yang tidak pernah tahu kapan datangnya. Tapi dengan persiapan dan perhitungan yang cukup, tentunya akan sangat membantu anggota keluarga Anda yang kelak sedang dirundung duka untuk mempersiapkan menuju tempat peristirahatan terakhir Anda.

×
logo-kenangan Download aplikasi