5 Langkah Memaafkan untuk Mental Lebih Sehat dan Hidup Lebih Damai

Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya, bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati.”   –Tere Liye (Rindu, 2014)

Mengucapkan kalimat “Aku Maafin” mungkin terdengar mudah ketika seseorang meminta maaf kepada Anda. Tapi yang terjadi, kebanyakan orang jarang sekali menghayati dua kata tersebut.

Sehingga walaupun sudah bilang “Aku Maafin” masih tersimpan perasaan benci, marah, atau dendam. Masa lalu masih terpelihara dan terus hidup hingga masa kini.

Maaf sendiri bermakna ketika kita mengingat sesuatu yang menyakitkan, namun Anda sudah tidak lagi merasakan sakit. Bukan melupakan kejadian masa lalu, tapi mengikhlaskan dan melepaskan hal tersebut.

Terapi memaafkan adalah sebuah latihan serta cara untuk ikhlas terhadap masalah dan luka emosional yang telah diterapkan sejak tahun 1980, sebagai bagian dari setiap psikoterapi tradisional.

Hasil yang didapat setelah terapi ini bisa mengurangi kecemasan, depresi, bahkan meningkatkan harapan hidup di masa depan. Sehingga tentu saja, mental lebih sehat untuk menyongsong masa depan.

Bagaimana cara memaafkan yang ampuh?

  1. Komitmen dan yakin mau melepaskan beban di hati

Berkomitmen pada diri sendiri untuk melepas masalah yang membebani selama ini. Selain itu, berhenti untuk memikirkan dan menceritakan masalah tersebut ke orang lain.

  1. Mengungkapkan perasaan

Melampiaskan perasaan sah-sah saja asal dilakukan pada batas kesadaran yang tinggi. Bercerita dengan sahabat, menulis diary, berdoa, atau menulit surat tanpa tujuan pengirim bisa membantu Anda memahami diri dan luka yang sedang dirasakan

  1. Fokus pada masa depan

Anda harus ingat bahwa kebahagiaan diri sendiri adalah tanggung jawab Anda sendiri. Tidak ada yang bisa mengembalikan waktu masa lalu, yang bisa dilakukan adalah menjadikan hari ini dan hari esok menjadi hari terbaik di hidup Anda.

  1. Berhenti menyalahkan orang lain

Mengakui kejadian masa lalu, Anda sudah hampir mencapai tahap mengikhlaskan. Ketika kita menyalahkan orang lain, itu berarti menandakan bahwa rasa sakit Anda adalah identitias diri Anda sekarang.

  1. Maafkan orang lain dan diri sendiri

Memaafkan bukan tanda bahwa diri Anda lemah. Sebaliknya, ini adalah isyarat nyata bahwa Anda mengakui jika seseorang menyakiti diri Anda, tapi Anda ingin memiliki kemajuan dalam hidup tanpa memikirkan hal itu lagi. Memaafkan juga bertujuan untuk berempati dengan orang lain, serta mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang mereka.

Memaafkan memang tidak mudah karena itu juga menyangkut masalah keikhlasan hati diri sendiri. Tapi bukan tidak mungkin kita bisa memaafkan orang lain demi kesehatan jiwa dan mental yang lebih lama.

×
logo-kenangan Download aplikasi