Widjojo Nitisastro

Widjojo Nitisastro
Sumber: Legal Era Indonesia
Profesi Ahli Ekonomi
Tempat lahir Malang
Tgl Lahir 23-09-1927
Tgl Meninggal 09-03-2012

Nama Widjojo Nitisastro mungkin agak asing bagi kalangan milenial, tapi tidak bagi generasi X yang hidup dan tumbuh di era Soeharto.  Ia lahir di Malang, 23 September 1927 ketika Belanda masih menjajah Indonesia. Keluarganya adalah pensiunan pemilik sekolah dasar. Ayahnya seorang aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra) yang menggerakkan Rukun Tani.

Saat pecah Revolusi Kemerdekaan di Surabaya, ia baru duduk di kelas 1 SMT (Setingkat SMA). Pada tahun 1945, Widjojo muda bergabung dengan pasukan pelajar yang kemudian dikenal sebagai TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Bertempur dengan gagah berani, ia sendiri nyaris gugur di daerah Ngaglik dan Gunung Sari Surabaya.

Setelah kondisi sudah kondusif, Widjojo sempat menjadi guru SMP selama tiga tahun. Lalu kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dan mendalami bidang demografi. Ketika masih menjadi mahasiswa di FE UI, bersama seorang ahli dari Kanada, Prof. Dr. Nathan Keyfiz, ia menulis sebuah buku berjudul Soal Penduduk dan Pembangunan Indonesia.

Dalam kata pengantar buku tersebut, Mohammad Hatta menyanjungnya, “Seorang putra Indonesia dengan pengetahuannya mengenai masalah tanah airnya, telah dapat bekerja sama dengan ahli statistik bangsa Kanada. Mengolah buah pemikirannya yang cukup padat dan menuangkannya dalam buku yang berbobot.” Buku ini menjadi salah satu buku terpopuler di kalangan mahasiswa ekonomi di tahun 1950-an. Berkat kegigihannya selama kuliah, ia lulus dengan predikat Cum Laude.

Sebagai salah satu mahasiswa berotak encer dan paling moncer di kampusnya, ia mendapatkan kesempatan untuk berkuliah di University of California, Berkeley (UCB) atas beasiswa dari Ford Foundation.

Ketika kuliah di negeri Paman Sam, ia memprakarsai pertemuan setiap Sabtu di antara mahasiswa ekonomi Indonesia. Ada Emil Salim, Ali Wardhana, Sumarlin, dan Harun Zain seperti yang diungkap oleh Emil Salim kepada Tempo, 14 Desember 2009. Mereka berdiskusi sesuai kapasitas mereka. Harun Zain berbicara tentang tenaga kerja, Sumarlin tentang fiskal, dan Emil Salim masalah perencanaan. Inilah kemudian yang membuat Widjojo dan kawan-kawannya dijuluki Mafia Berkeley di kemudian hari.

 

Menjadi Teknokrat

Lulus dari UCB di tahun 1961, ia kembali ke tanah air untuk mengajar di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD). Selain di SESKOAD, ia juga mengajar di alamaternya hingga tahun 1993 dan Lemhanas sejak 1964.

Saat itu Indonesia menjalankan politik demokrasi terpimpin di bawah pemeritnahan Presiden Soekarno. Indonesia cenderung mengarah pada sosialisme/komunisme yang percaya bahwa pemerintah mengetahui segalanya tentang perekonomian dan karenanya, pemerintah harus memiliki kontrol penuh atas perekonomian.

Pemerintah Soekarno tidak memercayai analisis-analisis ekonomi ala Barat, terutama Amerika, bahkan dengan bangga ia mengakui bahwa ia benar-benar tidak paham (illiterate) tentang analisis ekonomi.

Puncak kekacauan perekonomian Indonesia terjadi di tahun 1965 dimana tingkat inflasi sangat tinggi. Harga rata-rata di tahun 1965 adalah tujuh kali harga rata-rata pada tahun 1964. Widjojo berpendapat kepada pemerintah untuk mengubah paradigma ekonomi Indonesia.

Saat inagurasinya sebagai profesor ekonomi Universitas Indonesia pada 10 Agustsu 1963, ia membacakan pidato berjudul “Analisis Ekonomi dan Perencanaan Pembangunan.”. Di sana ia menyampaikan saran agar memasukkan analisis ekonomi dalam pembuatan kebijakan pemerintah, juga mengadakan kombinasi mekanisme pasar dan intervensi pemerintah, alih-alih membiarkan pasar terlalu bebas atau sebaliknya, membuat pemerintah terlalu berkausa.

Tapi secara politis pada saat itu, posisi Widjojo dan teman-temannya yang lulusan AS sangat sulit. Keadaan semakin diperparah dengan meningkatnya tensi antara Indonesia dengan AS, Inggris, Malaysia, dan Singapura. Pendapat Widjojo sendiri akhirnya tidak didengar oleh pemerintah.

 

Sang Mafia Berkeley, Katanya

Setelah Gerakan 30 September 1965, Jenderal Soeharto sudah ikut andil dalam pemerintah. Melalui Supersemar 1966, Soeharto resmi mengambil alih kekuasaan Idnonesia dari Presiden Soekarno, meskipun baru dilantik pada tahun 1968.

Sejak saat itu, Soeharto sudah mulai membangun dasar-dasar pemerintahan yang akan disebut sebagai rezim Orde Baru. Akhir Agustus 1966, Soeharto mengadakan seminar di SESKOAD untuk mendiskusikan masalah ekonomi dan politik yang kurang stabil setelah pemberontakan. Ekonom-ekonom FE UI yang diketuai oleh Widjojo juga mengikuti seminar tersebut.

Dalam seminar tersebut, para ekonom mempresentasikan ide mereka dan merekomendasikan kebijakan ekonomi kepada Soeharto. Soeharto yang kagum pada ide mereka, dengan cepat meminta mereka untuk bekerja sebagai Tim Ahli di bidang Ekonomi dan Keuangan. Pengangkatan ini yang menjadi awal karier Widjojo di dunia politik.

Pada 3 Oktober 1966, atas saran dari para ekonom ini, Soeharto mengumumkan program untuk menstabilisasi dan merehabilitasi ekonomi Indonesia. Di akhir masa kepemimpinan Soekarno, inflasi melambung tidak terkendali dan telah mencapai empat digit disertai tumpukan utang yang besar. Tugas Widjojo, dkk. memperbaikinya dengan melakukan deregulasi, menurunkan inflasi, dan menyeimbangkan anggaran.

Efek program tersebut berlangsung cepat bak roller coaster dengan turunnya tingkat inflasi dari 650% di tahun 1966, menjadi hanya 13% di tahun 1969. Rencana itu juga menekankan rehabilitasi infrastruktur dan pengembangan di bidang pertanian.

Ketika Soeharto naik takhta, Widjojo dan lainnya memiliki pengaruh kuat dalam kebijakan ekonomi dan membawa perekonomian Indonesia ke tingkat pertumbuhan sangat tinggi. Rata-rata pertumbuhannya 6,5% per tahun antara tahun 1965-1997 ketika Asia dilanda krisis moneter.

Namun tidak semua orang suka akan kehadiran Widjojo. Seorang aktivis-penulis ‘kiri’ Amerika, David Ransom, dalam sebuah majalah Ramparts edisi April 1970 menyebut para ekonom Indonesia lulusan UCB sebagai Berkeley Mafia atau Mafia Berkeley.

Dalam artikelnya, Ransom menghubungkan Mafia Berkeley dengan proyek AS (terutama CIA) untuk menggulingkan Soekarno, melenyapkan pengaruh komunis di Indonesia, mendudukkan Soeharto di kekuasaan untuk menjalankan kebijakan politik dan ekonomi yang berkiblat ke Barat, hingga mengaitkan Widjojo, dkk. dengan pembantaian masal eks PKI pada akhit tahun ’60-an.

Di dalam negeri, ia menghadapi perlawanan dari para Jenderal seperti Ali Murtopo, Ibu Sutowo, dan Ali Sadikin yang mengharapkan pendekatan ekonomi yang lebih nasionalis. Beberapa pihak lain, seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menganggap Mafia Berkeley ini sebagai pengkhianat bangsa karena langkah privatisasi yang dilakukan dinilai sebagai bentuk penjualan aset-aset bangsa.

Indonesia sempat mendapat berkah dari kenaikan harga minyak di tahun 1970-an, yang mana mampu meraup banyak keuntungan atas penjualan minyak karena kaya akan cadangan minyak. Saat itu, Soeharto sedikit merapat ke kelompok ekonomi nasionalis dan kekuatan Mafia Berkeley dikurangi.

Kenaikan harga minyak rupanya tidak berlangsung begitu lama. Tahun 1980-an harga minyak kembali turun, di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai ikut terhambat.

Sekali lagi, Widjojo melakukan liberalisasi dan deregulasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kali ini mereka berlawanan dengan Sudharmono dan Ginandjar Kartasasmita yang menginginkan nasionalisme ekonomi, serta BJ Habibie yang ingin pengembangan ekonomi berbasis teknologi. Hingga muncul istilah Widjojonomics vs Habibienomics.

 

Karier di Pentas Politik

Di usia yang masih relatif muda, Widjojo telah dipercaya sebagai ketua tim penasihat ekonomi presiden di tahun 1966. Ia menjabat sebagai Ketua Badan Perancang Pembangunan Nasional (Bappenas) di tahun 1968. Setelah Soeharto resmi menjadi presiden, ia diangkat menjadi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (1971-1973), lalu menjadi Menteri Ekuin merangkap Ketua Bappenas (1973-1983).

Widjojo adalah orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan Elise Walter Haas Award dari University of California, Berkeley karena jasa-jasanya dianggap menonjol. Penghargaan ini biasa diberikan kepada alumnus mahasiswa asing yang jasanya menonjol.

Saat memimpin Bappens, ia membuat perencanaan ekonomi ‘Rencana Pembangunan Lima Tahun’ atau biasa dikenal oleh masyarakat sebagai Repelita. Selain merumuskan Repelita, ia bersama tokoh-tokoh lainnya juga mencetuskan SD Inpres (Instruksi Presiden) dengan pendirian SD besar-besaran agar akses pendidikan dasar masyarakat merata hingga ke pelosok negeri.

Di tahun 1980-1990’an selama Repelita berlangsung, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata melaju delapan persen per tahun. Bank Dunia sendiri menyebut Indonesia sebagai One of the Asian Miracles atas kesuksesan Widjojonomics dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Besarnya peranan dia dalam membuat kebijakan ekonomi di rezim Orde Baru samapi melahirkan konsep ‘Widjojonomics’, yaitu pandangan bahwa dalam menghadapi kekuatan ekonomi negara maju, negara berkembang hanya bisa memproduksi barang yang unggul secara komparatif, misalnya tekstil atau produk lain yang kurang memiliki kandungan teknologi maju.

Pandangan ekonomi Widjojo ini bertentangan dengan pandangan ekonomi Habibie yang disebut Habibienomics. Didukung oleh Ikatan Cedekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan CIDES, Habibie berpandangan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi negara yang hanya bisa memproduksi barang yang memiliki komparatif, tapi harus memiliki keunggulan kompetitif yang bisa dicari melalui pengejaran teknologi tinggi.

Intinya, Widjojonomics mengandalakan sumber daya alam, sementar itu Habibienomics mengandalkan sumber daya manusia dan pengejaran teknologi canggih. Inilah yang akhirnya melahirkan mazhab ekonomi Widjojonomics vs Habibienomics di masa itu.

Pengaruhnya mulai melemah di era kepemimpinan Habibie karena pemikiran ekonominya yang bertentangan dengannya. Ia kembali ke pemerintahan sebagai Penasihat Ekonomi setelah pertanggungjawaban Habibie ditolak MPR.

Ketika Gus Dur menjabat sebagai Presiden, Widjojo diminta untuk memimpin Tim Ekonomi Indonesia pada pertemuan Paris Club pertengahan April 2000. Misi tim ini adalah membicarakan penjadwalan kembali pembayaran utang RI, untuk periode April 2000-Maret 2002 senilai US$ 5,9 miliar.

Bertepatan dengan ulang tahunnya ke-84, 23 September 2011, ia meluncurkan buku berisi kumpulan tulisan dan pidato yang diterbitkan dalam bahasa Inggris berjudul The Indonesian Development Experience: Collection of Writing and Speeches by Widjojo Nitisastro. Ia menghembuskan napas terakhirnya pada dini hari Jumat, 9 Maret 2012 dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.          

           



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi