Usmar Ismail

Usmar Ismail
Profesi Sutradara, Pendiri Perfini
Tempat lahir Bukit Tinggi
Tgl Lahir 20-03-1921
Tgl Meninggal 02-01-1971

Tepat  pada 20 Maret 2018 silam Google mempersembahkan Google Doodle Usmar Ismail, Bapak Perfilman Indonesia, pada laman utama pencarian google dalam memperingati ulang tahun Usmar Ismail yang ke 97.  

 

Masa Muda

Dalam Google Doodle tersebut ia didampingi tiga manekin wanita, menunjukkan representasi film Tiga Dara yang disutradarainya.  Usmar Ismail sendiri dilahirkan di Bukit Tinggi pada 20 Maret 1921. 

Ayahnya, Datuk Tumenggung Ismail, merupakan seorang guru sekolah kedokteran di Padang dan ibunya bernama Siti Fatimah.  Kakak laki-lakinya, Dr. Abu Hanifah, merupakan seorang sastrawan kondang dengan nama pena El Hakim.

Perjalanan pendidikannya bermula di HIS (SD) di Batusangkar, lalu berlanjut di MULO (SMP) di Simpang Haru, Padang, kemudian di AMS (SMA) di Yogyakarta hingga 1941. 

Ketika duduk di bangku SMP, bakat sastranya telah terlihat menonjol. Saat itu ia bersama teman-temannya ingin tampil dalam perayaan acara hari ulang tahun Putri Mahkota, Ratu Wilhelmina, di Pelabuhan Muara, Padang.

Usmar belia ingin menyajikan suatu pertunjukan yang unik, gagah, dan mengesankan. Ia hadir di perayaan tersebut dengan menyewa perahu dan pakaian bajak laut bersama teman-temannya. 

Nahas, acara tersebut gagal karena mereka baru tiba ketika matahari terbenam dan mereka nyaris pingsan disebabkan kelelahan mengayuh perahu menuju Pelabuhan Muara. 

Rosihan Anwar, salah seorang teman Usmar Ismail, mencatat bahwa ia memiliki bakat untuk menjadi sutradara karena memiliki imajinasi yang tinggi untuk menyajikan sebuah tontonan yang menarik dan mengesankan, meski pertunjukan tersebut gagal ditampilkan.

Sepindahnya ia ke Yogyakarta, ia semakin aktif terlibat dalam dunia sastra.  Ketertarikannya akan seni pertunjukan drama semakin dalam. Ia pun aktif terlibat dalam drama sekolah. 

 

Karier Dalam Panggung Drama

Saat bekerja di Keimin Bunka Sidosho (Kantor Besar Pusat Kebudayaan Jepang), ia bersama Armijn Pane dan budayawan lainnya bekerja sama mementaskan drama.

Kelompok sandiwara Maya didirikan oleh Usmar Ismail bersama abangnya, El Hakim, Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, dan H.B. Jassin pada tahun 1943.  Sandiwara ini menggunakan teknik teater Barat, yang kemudian dianggap sebagai tonggak lahirnya teater modern di Indonesia.

Sandiwara yang pernah dipentaskan oleh Maya antara lain berjudul “Taufan di Atas Asia (El Hakim)”, “Mutiara dari Nusa Laut (Usmar Ismail)”, “Mekar Melati (Usmar Ismail)”, dan “Liburan Seniman (Usmar Ismail)”.

Pada masa revolusi, ia menjadi tentara berpangkat Mayor, yang berdomisili di pusat pemerintahan RI, Yogyakarta. Disana ia memimpin harian Patriot dan majalah Arena, sebagai arena bagi seniman muda, sembari mengetuai Badan Musyawarah Kebudayaan Indonesia, Serikat Artis Sandiwara, dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). 

Pada tahun 1948, ia melakukan tugas jurnalistik meliput perundingan Belanda-RI di Jakarta. Ia ditangkap Belanda karena ternyata ia adalah seorang Mayor tentara.

Ketika ditahan beberapa waktu oleh Belanda, ia membantu Andjar Asmara membuat dua film yang berjudul Harta Karun dan Tjitra. Namun ia tidak puas dengan hasilnya karena lingkungan pembuatan film yang tidak mendukung.

 

Film Bersama Perfini

Selepas RI merdeka dan tidak lagi diduduki oleh Belanda, Usmar melepaskan jabatan mayornya dan terjun secara serius di dunia perfilman. Bersama teman-temannya ex. Maya dan ex. Yogyakarta, ia mendirikan Perfini (Persatuan Film Nasional Indonesia) pada Maret 1950, yang bertujuan untuk pembaruan pembuatan film Indonesia. 

Darah dan Doa merupakan film pertama yang dibuat oleh Perfini.  30 Maret adalah hari pertama syuting Darah dan Doa, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional oleh Dewan Film Nasional sejak tahun 1962.

Poster film Darah dan Doa (1950) karya Usmar Ismail

Film Darah dan Doa (1950) dan Enam Djam di Yogya (1951), buah karya Usmar Ismail mendapat tanggapan positif dari kritisi kesenian sebagai tokoh pembaharu seni film Indonesia.

Setahun setelahnya, di tahun 1952 ia meraih beasiswa dari Yayaasn Rockefeller untuk melanjutkan studi film di University of California, Los Angeles, Amerika Serikat.  Film ketiganya, Kafedo (1953) mendapat pengaruh film Amerika, namun ia menyingkir sejenak setelah melahirkan film Krisis (1953).

Lewat Djam Malam (1954), film sketsanya yang berhasil meraih sukses komersial yang mengangkat tema tentang sosial usai revolusi. Film ini pula yang berhasil menghasilkan akting para pemainnya yang kreatif. 

Dalam memproduksi filmnya, ia selalu mengutamakan seorang pemain yang mampu memerankan karakter secara mendalam, supaya bisa menjadi film yang apik dan layak untuk dinikmati.

Film Tamu Agung (1955) berhasil dinobatkan sebagai film komedi terbaik dari FFA, meski tidak sukses pemasarannya di Indonesia.  Pada masa itu, penonton film Indonesia belum bisa menangkap sindiran-sindiran politik yang disajikan pada film tersebut.

Sementara penonton elit tidak mau melihat. Namun, prinsip yang diusung Usmar dalam setiap pembuatan filmnya yang lebih mengutamakan mutu membawa Perfini pada kebangkrutan.

 

Tonggak Karier dan Kesuksesan Usmar Ismail

Untuk menolong keuangan Perfini yang diambang kebangkrutan, ia menelurkan film hiburan komersial seperti Tiga Dara (1956), Delapan Pendjuru Angin (1957), dan Asmara Dara (1958). 

Tiga Dara sukses besar sebagai film komersial yang pernah diproduksi oleh Usmar, meski ia diserang habis-habisan oleh golongan komunis sebagai pengkhianat dan agen Amerika.

Tidak disangkanya, jika film ini juga berhasil ditayangkan pada Festival Film Venesia pada tahun 1959 yang merupakan cita-cita terpendam Usmar sejak lama. Film ini sukses meraih penghargaan tata musik terbaik dari Festival Film Indonesia 1960, meski karya tersebut melenceng dari visi misinya.

Selain itu, Tiga Dara juga berhasil melambungkan nama pemain utamanya yakni Chitra Dewi, Mieke Wijaya, dan Indriati Iskak.

Poster film Tiga Dara (1956) yang disutradarai oleh Usmar Ismail

Film Pedjoeang (1960) berhasil memperoleh penghargaan dari Festival Film Internasional Moscow pada tahun 1961 untuk peran utama yang dimainkan oleh Bambang Hermanto.

Bersamaan itu, ia menjadi ketua PPFI bergantian dengan Djamaluddin Malik dan BMPN (Badan Musyawarah Perfilman Nasional). Usmar dikenal sebagai sinematogafer religius yang tidak berpihak pada golongan komunis, sehingga ia semakin dekat dengan NU (Nahdahtul Ulama). 

Pada tahun 1962, ia membidani LESBUMI (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) bersama Asrul Sani dalam tubuh NU. Berkat NU pula, ia berhasil mendudukin jabatan sebagai anggota DPR RI pada tahun 1966-1969.

 

Akhir Hidup

Setelah turun jabatan dari anggota DPR, ia kembali berkecimpung di dunia film. Pada tahun 1970, Perfini bekerja sama dengan International Film Company dari Italia untuk membuat film Adventures in Bali

Namun ternyata, film ini bermasalah setelah film selesai diproduksi. Janji produser Italia untuk mencantumkan namanya sebagai sutradara dalam versi film yang diedarkan di Eropa ternyata hanya janji semu saja. 

Namanya tidak dicantumkan dalam film tersebut. Penyelesaian honorarium artis dan karyawan, serta biaya penginapan saat proses produksi dibebankan seluruhnya kepada Perfini.  Usmar tetap membawa pulang kopi film tersebut dari Italia, tetapi ketika ditayangkan dengan judul Bali (1971) gagal menggaet penonton.

Usmar sendiri diketahui sebagai pendiri klub malam pertama di Indonesia, Miraca Sky Club, dibawah perusahaan PT. Ria Sari Show Restaurant & Management didirikan pada tahun 1967 di kawasan Sarinah. 

Sayangnya, bisnis tersebut harus gugur karena dilikuidasi oleh toko serba ada Sarinah. Hal tersebut terjadi sepulangnya ia dari Italia dimana ia harus melego peralatan studio untuk menggaji karyawan Perfini sekaligus merumahkan 160 karyawannya di Miraca Sky Club.

Pada penghujung tahun 1970, Usmar masih menyelesaikan film terakhirnya Ananda. Setelah menyelesaikan film tersebut, ia mengalami pendarahan otak mendadak hingga ia dikabarkan tutup usia pada 2 Januari 1971 dan dimakamkan di TPU Karet, Jakarta.

Penghargaan yang pernah diterimanya adalah Widjajakusuma (1962) dari Presiden Soekarno, sebagai perhargaan tertinggi di bidang kebudayaan. Ia pernah diangkat sebagai “Warga Teladan” oleh Gubernur DKI Jakarta.  Namanya diabadikan sebagai nama Pusat Perfilman RI Usmar Ismail di kawasan Kuningan.

 

Sumber:

http://www.tribunnews.com/seleb/2018/03/20/kisah-hidup-usmar-ismail-bapak-pionir-perfilman-indonesia-yang-karyanya-diakui-dunia?page=3

http://usmar.perfilman.pnri.go.id/biography/

http://historia.id/persona/kisah-tragis-akhir-hidup-bapak-film-nasional

https://en.wikipedia.org/wiki/Usmar_Ismail

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180320164344-220-284492/usmar-ismail-pelopor-film-sampai-kelab-malam-indonesia

https://tirto.id/kematian-usmar-ismail-dipicu-kekecewaan-ditipu-produser-italia-cGsN

http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/content/usmar-ismail

https://tekno.kompas.com/read/2018/03/20/07160657/mengenal-usmar-ismail-yang-jadi-google-doodle-hari-ini

 

 


Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
0 komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi