Triawan Munaf

Triawan Munaf
Sumber: Media Indonesia
Profesi Kepala BEKRAF
Tempat lahir Bandung
Tgl Lahir 28-11-1958

Lahir dari Musisi

Pria kelahiran di Bandung, 28 November 1958 silam ini merupakan anak dari pasangan Bahar Munaf dan Etty Munaf. Semasa kecilnya, ia tumbuh seperti anak-anak pada umumnya. Ia suka membaca komik atau buku bergambar dengan meminjam buku melalui perpustakaan keliling di dekat tempat tinggalnya. Juga ia mulai menunjukkan bakat dan ketertarikannya di bidang seni.

Ketertarikannya di bidang seni dimulai dari ia yang belajar bermain piano saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kedua orang tuanya yang berasal dari Minangkabau ini membebaskannya untuk melakukan apa yang disukainya. Selain belajar memainkan piano, ia juga belajar menulis lagu. Judul lagu pertamanya saat itu Gagal Lagi, yang bercerita tentang kegagalannya mendapatkan sang pujaan hati.

Setapak demi setapak, ia mulai serius di bidang seni. Ini ditandai dengan bergabungnya ke grup musik asal Bandung Giant Step di tahun 1980-an sebagai keyboardist dan vokalis. Sebelum Triawan bergabung, grup musik yang didirikan oleh Benny Soebardja di tahun 1973 ini sudah dikenal sebagai band beraliran progressive rock. Kala itu, Triawan dan kawan-kawannya meluncurkan single andalannya yang berjudul ‘Gregetan’. Single itu kemudian diaransemen ulang oleh putrinya yang juga musisi besar tanah air, Sherina Munaf, di tahun 2009.

Giant Step akhirnya vakum untuk beberapa waktu yang cukup lama yang menjadikan karier Triawan di dunia musik juga mandek. Lepas menjadi anak band, ia pun mencoba mencari lahan lain untuk mengembangkan passion seninya dengan bergabung di perusahaan periklanan dan juga berbisnis.

Ia sempat menjajal peruntungan dengan menggandeng musisi Anang Hermansyah dan Indra Lesmana untuk mendiri portak musik yang bisa dinaungi oleh para musisi Indonesia, IM:Port alias Independent Music Portal di tahun 2006.

 

Seni Menjadi Jembatan Berpolitik

Selang beberapa tahun, ia melebarkan ketertarikannya di bidang seni ke dunia ekonomi kreatif dengan membentuk perusahaan periklanan bernama Euro RSCG Adwork. Perusahaan ini menjadi jembatannya di dunia politik dan membuat jalan kariernya semakin luas, juga berkibar.

Melalui Adwork, bapak tiga anak ini berhasil menciptakan karya ikonik yang masih tenar hingga saat ini, logo ‘Moncong Putih’ milik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan alias PDIP. Logo banteng merah bermoncong putih inilah yang menjadi logo ikonik yang selalu mengingatkan masyarakat kita akan partai yang diketuai oleh Megawati Soekarnoputri.

‘Moncong Putih’ inilah yang menjadi pembuka jalannya untuk terjun ke dunia politik. Ia diajak bergabung ke PDIP dan didapuk menjadi ketua tim kreatif kampanye Joko Widodo-Jusuf Kalla pada masa Pemilihan Presiden 2014 lalu. Ia juga yang menciptakan jargon ‘Salam 2 Jari’ pada kampanye tersebut.

Hubungan baik yang terjalin dengan Presiden Jokowi rupanya membuka jalan yang lebih besar baginya. Ia bergabung dengan tim kabinet kerja Jokowi dan dipercaya menjadi ketua BEKRAF. Ternyata ia dan rekan-rekannya lah yang memiliki peran besar dalam didirikannya badan tersebut untuk membangun dan memajukan sektor ekonomi kreatif Indonesia.

Awal mula terbentuknya BEKRAF ini sendiri dari beberapa orang yang punya obsesi untuk memajukan ekonomi kreatif yang terasa sangat ketinggalan di Indonesia. Rekan-rekan Triawan ini berkumpul dalam wadah informal yang bernama ‘Rembuk Kreatif’. Mereka kerap kali bertemu secara intensif.

Mereka berhasil mengidentifikasi dan menginventarisasi apa saja yang harus dilakukan untuk bisa memajukan sektor ekonomi kreatif di Indonesia, termasuk mengusulkan bentuk lembaga yang menangani ekonomi kreatif. Ide ini sudah ada di era pemerintahan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), namun belum sempat terealisasikan. Selama ini, departemen ekonomi kreatif masih menjadi satu di bawah naungan Kementrian Pariwisata. Padahal, ada banyak hal yang menjadi tugas pemerintah untuk mengeksplorasi ekonomi kreatif dan itu dirasa membuat beban kerja Kementrian Pariwisata terlalu berat, sehingga harus dipisah.

Mereka berharap dengan dipisahnya badan yang khusus mengurus ekonomi kreatif ini bisa membuka mata jajaran kementrian lain terkait, seperti Kementrian Keuangan, Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Luar Negeri untuk bisa sama-sama bergandeng tangan memajukan ekonomi kreatif Indonesia.

Rupanya ide mereka sama seperti kemauan Presiden Jokowi. Bak gayung bersambut, setelah Jokowi memenangkan Pilpres 2014 dan resmi menjadi presiden, rencana ini lebih dimatangkan untuk membentuk badan baru yang mengurus ekonomi kreatif. Awalnya ingin dibentuk kementerian baru, namun kementerian sudah ada 34 dan tidak bisa lebih.  Jadilah dibentuk lembaga non kementerian baru.

Tim Rembuk Kreatif pun mengajukan proposal ini kepada Presiden dan mengusulkan nama Triawan Munaf untuk menjadi kepalanya. Ia dulunya seorang praktisi komunikasi di bidang periklanan yang sering bersentuhan dengan segala lini kreatif. Jadilah ia menerima tawaran tersebut.

Melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Badan Ekonomi Kreatif, Jokowi akhirnya membentuk BEKRAF pada 20 Januari 2015 sekaligus melantik Triawan sebagai kepala Bekraf. BEKRAF ini akan membantu presiden dalam merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan sinkronisasi kebijakan di bidang ekonomi kreatif.

 

Memajukan Ekonomi Kreatif Indonesia

Sepanjang kariernya, ia belum pernah sama sekali terjun di dunia birokrat. Hal ini yang menjadi tantangan Triawan dalam membesarkan BEKRAF. Di tahun pertama dan kedua, ia harus membentuk sistem, birokrasi, dan struktur di BEKRAF dengan proses dan rekrutmen yang ketat.

Dari sisi anggaran, cukup berat baginya untuk mengikuti alur birokrasi, baik dari penyelenggaraan, perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporannya. Untuk laporan keuangan saja, sempat mendapat penilaian disclaimer dari BPK. Beruntungnya, ia dan timnya segera berbenah diri. Di tahun kedua dan ketiga, bisa melompat jadi yang terbaik mendapatkan penilaian wajar tanpa pengecualian.

Tak hanya itu saja. Ketika dirinya baru masih baru di BEKRAF, masih banyak yang belum memahami tentang ekonomi kreatif yang konsepnya cukup berbeda dari ekonomi pada umumnya. Dengan memberikan pemahaman kepada kementerian yang berkepentingan, akan lebih mudah untuk memajukan ekonomi kreatif tersebut.

Triawan sendiri banyak melakukan pendekatan ke berbagai pelaku ekonomi kreatif, terutama ke enam subsektor yang menjadi fokus BEKRAF, yakni kuliner, fesyen, craft, film, musik, dan game/aplikasi. Ia banyak mengadakan seminar, kompetisi, juga melakukan kunjungan ke negara-negara lain untuk studi banding ekonomi kreatif.

Beberapa proyek yang telah dilakukan oleh BEKRAF untuk dunia perfilman adalah dengan mencabut Daftar Negatif Investasi (DNI) pada 2016 untuk mempermudah masuknya investasi di dunia perfilman yang masih kecil perkembangannya. Targetnya adalah dengan terus menambah jumlah penonton bioskop film lokal. Menurut catatan BEKRAF, jumlah penonton film lokal pada 2015 mencapai 15 juta, lalu di tahun 2018 menjadi 60 juta penonton. Selain itu, BEKRAF mendorong beberapa film lokal yang telah lolos kruasi untuk melebar ke festival film internasional.

Di dunia gaming sendiri, masih banyak potensi yang bisa digali untuk memajukan game lokal ke kancah internasional. Ada beberapa kreator kreatif yang karyanya berhasil menjuarai kejuaraan game dunia. Inilah yang masih menjadi tugas bagi BEKRAF untuk bisa mengenalkan karya anak bangsa ke masyarakat, sekaligus menjadi penyumbang PDB negara.

BEKRAF sejak 2016 mengadakan program Coding Mom berupa pelatihan bahasa pemrograman yang khusus ditujukan bagi ibu rumah tangga. Program ini terus berjalan hingga tahun 2019 ini dan sudah merangkul pekerja migran Indonesia, penyandang disabilitas, dan kalangan pesantren. Diharapkan dengan adanya program ini, mereka bisa bersaing dan berkompetisi di dunia teknologi informasi yang dewasa ini semakin meningkat.

BEKRAF yang masih terhitung lembaga seumur jagung ini perlahan mulai menemukan ekosistem dan bentuk idealnya. Badan lembaga baru ini berubah menjadi lembaga bergengsi di mata para pelaku ekonomi kreatif.

Perlahan tapi pasti, ada perkembangan positif dari ekonomi kreatif indonesia. Tahun 2015 lalu, sumbangan ekonomi kreatif ke PDB (Pendapatan Domestik Bruto) sebesar Rp 700 triliun. Angka ini kemudian melonjak di tahun 2018 yang sudah mencapai Rp 1.105 triliun.

Pria pencinta kopi ini sendiri optimis dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selalu positif bisa berimbas ke pertumbuhan sektor ekonomi kreatif. Apalagi sekarang eranya industri 4.0 yang lebih banyak menekankan pada dunia kreatif.

Indonesia boleh saja saat ini masih tertinggal jauh. Tapi jika kita semua bisa bersama-sama memajukan industri kreatif, bukan tidak mungkin nantinya industri kreatif ini bisa menjadi penyumbang pendapatan negara yang cukup besar dan maju seperti negara-negara lain.

 

               

 

               



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi