Titiek Puspa

Titiek Puspa
Sumber: Bangka Pos
Profesi Penyanyi, Pemain Film
Tempat lahir Tanjung, Kalimantan Selatan
Tgl Lahir 01-11-1937

Bukan lahir di Temanggung namun Titiek Puspa cukup melekat di sana. Ia justru lahir di Tanjung, Kalimantan Selatan, pada 1 November 1937 silam dari pasangan Tugeno Puspowidjojo dan Siti Mariam. Nama lahirnya sendiri adalah Sudarwati. Lalu berganti menjadi Kadarwati, dan terakhir menjadi Sumarti.

Namanya terus berganti-ganti karena ia sering sakit-sakitan. Sesuai kebiasaan orang di era dulu, jika ada seorang anak yang penyakitan, maka namanya harus diganti karena kemungkinan namanya tidak membawa berkah.

Titiek sendiri lahir sebagai anak keempat dari 12 bersaudara. Hidup di masa penjajahan Belanda dan Jepang membuatnya sempat merasakan kesulitan hidup akibat penjajahan. Hidup miskin dan sakit-sakitan seolah menambah lengkap penderitaan masa kecil Titiek.

Ayahnya bekerja sebagai mantri kesehatan di rumah sakit Belanda. Kerjanya berpindah-pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Di zaman penjajahan Belanda, keluarganya hidup berkecukupan, meski tidak kaya tapi bisa makan tiga kali sehari, sementara masih banyak masyarakat yang kelaparan.

Belum genap tiga bulan usianya, ayahnya harus hijrah ke Semarang karena mendapat pekerjaan di Centraal Burgelijke Ziekenhuiz atau yang sekarang disebut RSU Dr. Karyadi.

Ia tinggal di rumah petak yang hanya memiliki satu kamar di pemukiman padat dengan rumah semi permanen, yang dibangun dengan kombinasi tembok dan anyaman bambu.

Namun, kondisi Titiek kecil yang sakit-sakitan membuat tubuhnya tampak kurus dan pucat. Beberapa kali ia diopname di rumah sakit yang bisa menghabiskan waktu sebulan lamanya. Di rumah pun, ia tetap menjadi pasien yang rutin minum susu dari rumah sakit hingga badanya bisulan.

Ketika Jepang mulai menjajah menggantikan Belanda, ibunya terpaksa memutar otak mengelola keuangan karena kondisi yang tidak lagi sama dengan sebelumnya. Ibunya berjualan kue sederhana seperti lemet, ongol-ongol, getuk, dan sentiling. Kakak keduanya, Sumarno berjualan kue buatan ibunya di depan rumah sakit tempat ayahnya bekerja.

Di zaman itu juga tidak aneh jika melihat orang-orang bersliweran dengan baju dari karung goni atau karet mentah. Hampir setiap hari ada kematian, juga merebaknya wabah kutu kulit.

Selain itu, banyak orang hilang, terutama gadis-gadis berusia belasan tahun yang diculik tentara Jepang untuk dijadikan sebagai pemuas nafsu seks para tentara Jepang di beberapa wilayah jajahan Jepang.

Ditengah situasi yang serba sulit dan kekurangan, Titiek sendiri pernah melahap kulit pisang dan kepala ikan asing karena kelaparan akut dan tidak punya uang untuk membeli makanan.

Meski demikian, kedua orang tuanya selalu mengajarkan anak-anak mereka untuk senantiasa bersyukur setiap malam sebelum tidur untuk menyudahi hari. Di tengah kesulitan akan selalu ada hal yang harus disyukuri setiap detik dalam hidup.

Menginjak tahun 1945, ia dan keluarganya kembali berpindah ke wilayah lain untuk mengungsi karena situasi perang yang tidak aman. Sebelum menetap di Temanggung, ia sempat tinggal di Ambarawa sebelum Indonesia merdeka. Ia merupakan salah satu rombongan eksodus Ambawara yang mencari tempat hidup yang tenang ditengah kecamuk perang.

Tinggal di Temanggung, ia melanjutkan sekolahnya yang sempat terhenti karena kondisi perang. Beberapa tahun kemudian ia sempat bersekolah di Magelang dan Semarang. Di sekolah, ia sering dijauhi karena penyakitan. Jadilah ia tumbuh sebagai anak yang sakit-sakitan dan depresi. Ia sering menyendiri dan menyanyi di pekarangan rumah.

Seiring berjalannya waktu, kesehatannya mulai membaik sejalan dengan kedekatannya dengan Yang Maha Kuasa. Salah satu momen yang selalu dilakoninya untuk berkomunikasi dengan Tuhan adalah menyanyi di atas pohon jambu.

 

Titik Keartisan Titiek Puspa

Dari menyanyi tersebut, ia kembangkan sembari mengumpulkan uang guna memabntu kebutuhan keuangan keluarganya. Titiek mulai menjajal dari satu panggung ke panggung lainnya.

Ia mulai menggunakan nama "Titiek Puspa" yang diambil dari nama panggilannya di rumah dan 'Puspo' yang merupakan nama bapaknya.

Ia juga sempat mengisi acara di radio RRI (Radio Republik Indonesia) Semarang sampai mengikuti kontes menyanyi Bintang Radio di tahun 1954, saat usianya menginjak 17 tahun.

Ayahnya sempat tidak mendukung karier Titiek sebagai penyanyi. Untunglah ada sang abang, Sumarno, yang berstatus sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) saat itu yang memahami bakat seni sang adik. Abangnya ini yang kemudian memintakan izin bagi adiknya.

Di kontes tersebut, ia menang dan berhak mewakili Semarang untuk maju ke kontes nasionalnya di Jakarta. Momen tersebut bisa dibilang cukup memalukan, namun sekaligus menjadi titk balik awal kariernya sebagai penyanyi di kancah nasional.

Sebagai gadis muda yang saat itu ngefan berat dengan Bing Slamet, ia sering mendengarkan lagu-lagu Bing Slamet lewat radio roti milik tetangganya hingga menangis haru. Keikutsertaannya di Bintang Radio Jakarta yang membuka peluangnya untuk bertemu dengan idolanya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Impiannya kesampaian. Sehari menjelang kompetisi yang diadakan di lapangan Monas yang saat itu masih berwujud Lapangan Ikada, ia melihat Bing Slamet dari kejauhan. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, ia mengambil langkah seribu untuk mengejar Bing Slamet demi sebuah tanda tangan.

Tanda tangan Bing Slamet berhasil didapatkannya. Ia sempat terbengong-bengong dan senang bukan main. Kertas bertanda tangan Bing Slamet digenggam erat hingga tidur di malam menjelang kontes.

Keesokan harinya menjelang tampil, ia memamerkan tanda tangan idolanya tersebut ke peserta lain, sampai ia tidak mendengar telah dipanggil berkali-kali oleh pihak panitia. Ketika sadar waktunya ia tiba untuk bernyanyi, ia justru melakukan kesalahan fatal.

Ia berdiri di depan mikrofon di atas panggung tapi tetap kebingungan ketika masuk intro lagu. Ia merasa blank—kosong tidak bisa memikirkan hal lain.

Akhirnya ia hanya bisa nyengir kuda mengatakan ‘maaf saya lupa’ dan tentu saja kalah. Panitia Semarang pun sampai mengatainya ‘guoblok’ saking geramnya.

Tapi memang rezeki yang sudah ditakdirkan tidak lari ke mana. Meski tereliminasi pertama, ia dipilih menjadi pengisi di panggung final Bintang Radio. Sempat tidak percaya, ia tetap menerima tawaran tersebut dan tampil membawakan Candra Buana karya Ismail Marzuki.

Penampilannya menghasilkan tepuk tangan meriah dari penonton. Dari situ ia merasakan ada kekuatan besar yang mendorongnya untuk bertekad menjadi penyanyi. Menjadi penyanyi adalah panggilan hidupnya.

Lagu Candra Buana versinya kerap diputar di RRI sejak kejadian tersebut. Kerja samanya dengan Sjaiful berlanjut karena OSD (Orkes Studio Djakarta) mengikatnya sebagai penyanyi tetap.

Kembali pulang ke Semarang tidak lantas menghentikan karier tarik suara Titiek. Ia mulai diajak rekaman oleh Lokananta yang rajin bertandang ke berbagai stasiun RRI.

Suaranya juga menarik perhatian Nien Lesmana, ibunda musisi jazz Indra Lesmana, untuk rekaman di label milik Nien, Irama Record.

Secara permanen, ia baru menetap di Jakarta pada tahun 1959. Saat itu kariernya mulai menanjak dan menarik minat publik. Sejumlah pencipta lagu ternama sudah percaya dengan kecakapan Titiek dalam menafsir lagu ciptaan mereka dengan suaranya. “Di Sudut Bibirmu” ciptaan Mochtar Embut; “Daun yang Gugur” dan “Esok Malam Kau Kujelang” gubahan Surni Wakirman; dan “Puspa Dewi” bikinan Iskandar membuat namanya kian melejit.

Presiden Soekarno yang masih memerintah waktu itu rupanya juga kepincut dengan suara emas Titiek Puspa. Tidak hanya dipanggil ke istana, ia diminta oleh Bung Karno untuk bernyanyi. Meski grogi, ia sanggup memberikan penampilan yang memukau Bung Karno dan menjadikannya sebagai penyanyi Istana Negara pertama.

Tidak hanya bernyanyi. Ia pun mulai ditawari untuk bermain di layar lebar. Misbach yuas Biran, mendiang suami aktris senior Nani Wijaya, yang mengobritkan Titiek ke dunia film melalui Di Balik Tjahaja Gemerlapan (1966).

Segala tawaran pekerjaan di dunia hiburan diambilnya untuk menambah penghasilan menghidupi keluarganya di Semarang. Namun ia lebih senang menyanyi daripada bermain film karena lebih banyak menghasilkan uang.

Selain dikenal lewat layar lebar dan suaranya, ia menginisiasi operet Papiko atau Persatuan Artis Penyanyi Ibukota di tahun 1972. Operet ini tayang menjelang momen Idulfitri, Natal, Hari Ibu, dan Hari Anak yang mengambil teman kehidupan sehari-hari.

Pemain lainnya yang memeriahkan operet tersebut ada Widyaningsih, Titiek Sandhora, Muchsin Alatas, Elly Kasim, Lilis Suryani, dan banyak lagi.

Lagu-lagu yang biasa dinyanyikannya cukup banyak diciptakan oleh Mus Mualim yang kemudian menjadi suaminya. Di album Si Hitam dan Pita (1963), barulah ia menciptakan sendiri seluruh lagunya yang berisi 12 lagu dan naik daun kala itu. Ada pula album Doa Ibu yang 11 lagu diciptakannya sendiri dan 1 lagu ciptaan mendiang suaminya.

Dari dua album ini, lagu-lagu seperti Si Hitam, Tinggalkan, Aku dan Asmara, semakin melambungkan namanya sebagai penyanyi di tanah air. Album Doa Ibu juga bisa dikatakan sebagai album yang legendaris karena berisi lagu-lagu populer seperti Minah Gadis Dusun dan Pantang Mundur.

Uniknya, meski ia sering menciptakan lagu sendiri, ia tidak pernah belajar khusus mengenai not balok seperti musisi pada umumnya. Ia biasa menciptakan lagu dibantu oleh suaminya yang juga seorang pianis dengan bernyanyi yang kemudian nantinya nadanya dicocokkan dengan dentingan nada piano.

Ketika Bing Slamet meninggal pada 1974, ia tengah terbang ke Singkep, Kalimantan Timur, untuk menyanyi. Ia menangis karena kepergian guru dan idolanya. Seketika itu pula rangkaian nada dan kata berjejalan di benaknya.

 Memakai pena Mus Mualim, ia menulis lagu untuk Bing di disposal bag pesawat. Tidak lama, lagu Bing ini meroket dan sering diperdengarkan di radio karena liriknya yang menyentuh dan cukup menyayat hati bagi siapa saja yang mendengar.

Titiek sendiri tidak hanya sekedar mengidolakan Bing Slamet. Ia juga mempelajari cara Bing membawakan lagu lewat radio dan menonton pertunjukan Bing. Cara autodidaknya inilah yang menjadi bekalnya untuk terjun dan bertahan di dunia hiburan.

Lagu-lagu lain yang menjadi hits adalah Kupu-Kupu Malam (1977) yang didaur ulang oleh Ariel NOAH, Apanya Dong (1982), Dansa Yo Dansa, Menabung, dan lainnya.

Total, ia telah memiliki 13 album solo, 3 album bersama, dan 3 album kumpulan dengan ratusan lagu. Ia telah membintangi 21 film dan puluhan judul teater hingga usianya sudah lebih dari delapan dekade.

 

Titiek Setelah Puluhan Dekade

Kematian Mus Mualim di tahun 1991 mempu membuat produktivitasnya menurun drastis. Ia sempat ingin menyerah dari dunia tarik suara. Hingga akhirnya ia berhasil menciptakan lagu Kisah Hidup sebagai titik bangkitnya dari dukacita yang mendalam atas kepergian suami ketiganya tersebut.

Ditinggal pergi oleh suaminya membuatnya lebih memilih untuk sendiri dan sibuk berkarya. Sosok yang berhasil menjadi penyintas kanker serviks pada 2012 lalu ini selalu memegang prinsip untuk mandiri dan menyandarkan hidup pada Tuhan.

Hal ini terbukti sejak muda ia menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi adik-adiknya. Sejak ayahnya meninggal di tahun 1973, ia terus bekerja keras dan akhirnya berhasil mendirikan bisnis catering keluarga, Puspa Catering sejak ’80-an. Bisnis ini dikelola bahu membahu dengan saudara-saudaranya hingga sekarang.

Bagi Eyang lincah ini, umur bukanlah penghambat untuk terus berkarya. Selama masih ada napas, ia akan terus berkarya. Pun begitu juga dengan caranya menghadapi kehidupan. Tetap melangkah tegak dan ringan, serta tersenyum. Juga tidak perlu pusing akan pandangan orang lain tentang dirinya.

               



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi