Tirto Adhi Soerjo

Tirto Adhi Soerjo
Sumber: kebudayaan.kemendikbud.go.id
Profesi Jurnalis
Tempat lahir Blora
Tgl Lahir 01-01-1880
Tgl Meninggal 07-12-1918

Kemajuan pers Indonesia saat ini tidak terlepas dari peran penggerak pers di era penjajahan Belanda. Pionir persuratkabaran dan kewartawanan Indonesia sendiri digawangi oleh Raden Mas Djokomini Tirto Adhi Soerjo, atau lebih dikenal dengan Tirto Adhi Soerjo. Namanya sering pula disingkat menjadi T.A.S.

Pria kelahiran Blora tahun 1880 ini merupakan lahir dari keluarga berdarah biru atau keturunan ningrat. Ayahnya, Raden Ngabehi Muhammad Chan Tirtodipuro seorang petugas pajak, dan kakeknya Raden Ma Tumenggung Tirtonoto, Bupati Bojonegoro.

Karena terlahir dari keluarga ningrat, ia bisa mengenyam pendidikan di sekolah Belanda HBS, kemudian ia memilih masuk sekolah kedokteran STOVIA di Batavia ketimbang sekolah di bidang pemerintahan seperti priyayi era kolonial pada umumnya. 

 

Tertarik Dunia Jurnalistik

Namun pendidikannya di STOVIA sejak 1893-1900 tidak dituntaskan hingga tamat karena kesibukannya berkarir di dunia jurnalistik.

Ketertarikannya di dunia jurnalistik karena kepeduliannya terhadap penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan pemerintah Belanda kepada bangsa ini.

Aksi-aksi pembelaan lewat media yang dilakukannya merupakan wujud jurnalisme advokasi, dimana ia menjadi orang Indonesia pertama yang melakukannya, sejak ia bekerja untuk Pembrita Betawi pada kurun waktu 1901 hingga 1903.

Mundur dari Pembrita Betawi, ia menerbitkan surat kabar sendiri yang diberi nama Soenda Berita pada tanggal 17 Agustus 1903 di Cianjur atas bantuan modal dari Bupati Cianjur, RAA Prawiradiredja.

Soenda Berita sendiri adalah surat kabar pertama yang dibiayai, dikelola, disunting, dan diterbitkan oleh kaum pribumi.  Namun surat kabar ini hanya bertahan dua tahun lamanya hingga 1905.

Setelah memimpin Soenda Berita, suami dari Putri Fatimah, putri Raja Bacan, ini kemudian mendirikan surat kabar mingguan Medan Prijaji di tahun 1907.

 

Kesuksesan Medan Prijaji

Medan Prijaji kala itu lebih dikenal oleh publik sebagai surat kabar nasional pertama yang menggunakan bahasa Melayu rendahan alias bahasa Melayu pasar, bukan menggunakan bahasa yang terlalu tinggi dan sesuai dengan kaidah-kaidah baku pada saat itu.

Tirto sendiri sebagai seorang yang berasal dari kalangan ningrat dan kaum intelektual, memilih bahasa Melayu pasar untuk koran-korannya karena ia paham secara sadar menggunakan bahasa Melayu sebagai alat politis untuk mengampanyekan sesuatu yang politis.

Bahasa ini diyakininya paling ampuh untuk mengartikulasikan gagasan “bangsa yang terdiri atas orang-orang yang terprentah” seperti yang disadur dalam tulisan Zen RS “Nama Saya: Tirtoadhisoerjo!” yang tersebar di ranah maya.

Dengan memakai bahasa Melayu pasar, Medan Prijaji lebih dipahami dan merakyat untuk semua kalangan, terutama “bangsa-bangsa terprentah” yang bagi Tirto bermakna konsepsi suatu proyek, sesuatu yang mesti diolah, dikerjakan, dan diberi-bentuk, yang akhirnya menjadi sasaran perjuangannya.

Penamaan Medan Prijaji sendiri disematkan lantaran pendirian surat kabar yang ramah terhadap wong cilik ini digawangi oleh beberapa tokoh dari kalangan ningrat seperti RAA. Prawiradiredja (Bupati Cianjur), Sultan Oesman Sjah (penguasa Kesultanan Bacan, Maluku), juga saudagar kaya raya HM Arsad.

Surat Kabar Medan Prijaji

Sumber: okezone.com

Kekuatan utama koran ini adalah pada ruang pengaduan pembaca yang memberikan ruang pembelaan warga lewat tulisan, bahkan jika diperlukan disediakan pula bantuan hukum untuk korban penindasan, tidak hanya oleh pemerintah kolonial tapi juga golongan penindas lainnya.

Hal ini sesuai dengan delapan azas yang diusungnya, yaitu “menjadi penyuluh keadialan, memberikan bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan halnya, mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi dan mengorganisasikan diri, membangunkan dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan.”

Melalui Medan Prijaji, beberapa kali Tirto mengkritik dan menelisik perkara yang terjadi pada kaum pribumi dan pejabat kolonial.

Seperti seorang pembaca dari Deli, Sumatera Timur, mengadukan nasib kuli perkebunan di daerahnya yang ditindas beban kerja yang luar biasa, gaji disunat, dan beban pajak yang begitu berat.

Tanpa tedeng aling-aling, Tirto segera melancarkan kritik tajam kepada pejabat dan pengusaha pekerbunan di Deli dengan menyebut orang-orang tersebut sebagai manusia serakah.

Ia juga mengkritisi ulah pihak pabrik yang sewenang-wenang yang didukung lurah setempat. Tanah rakyat disewa paksa yang membuat warga bekerja sebagai buruh dan diperlakukan serta mendapat upah tidak pantas.

Pernah pula ia menelisik perkara yang melibatkan A. Simon, lurah di Purworejo berpangkat pengawas yang diduga bersekongkol dengan seorang wedana bernama Tjokrosentono untuk memuluskan calon lurah pilihan mereka.

Calon lurah Desa Bapangan, Distrik Cangkep, Purworejo, yang diusung dua pejabat itu tidak disuka warga. Sementara calon lurah pilihan rakyat, Mas Soerodimedjo, malah ditangkap dan dihukum krakal alias kerja paksa, dengan tuduhan berusaha mengacaukan proses pemilihan kepala desa.

Pengaduan Mas Soerodimedjo yang ditindaklanjuti Tirto dengan menulis artikel kritik terhadap A. Simon ternyata berbuntut panjang. Tirto harus terseret dalam kasus ini atas tuduhan pencemaran nama baik yang meliputi penistaan (smaad), pencelaan (hoon), dan umpatan (laster).

Perkara ini sempat dibekukan di era Gubernur Jenderal Hindia Belanda, JB van Heutsz, yang menjalin relasi baik dengan Tirto. Namun ketika pergantian pucuk kepemimpinan pemerintah kolonial ke AWF Idenburg, kasus ini dihidupkan kembali.

Oleh pengadilan kolonial, ia didakwa bersalah dan dijatuhi hukuman pengasingan ke Teluk Betung, Lampung, selama dua bulan. Selama di pengasingan, aksinya tak lantas padam.

Ia menyusun artikel bertajuk “Oleh-Oleh dari Tempat Pembuangan” yang menyoroti berbagai tindak penyelewengan, dari level kepala kampung, aparat pemerintah dan kepolisian, hingga residen Lampung.

Di tahun 1908, ia mendirikan surat kabar lain bernama Poetri Hindia. Tahun 1909, masih bersama Haji Mohammad Arsjad dan Pangeran Oesman, Tirto mendirikan usaha penerbitan, N.V. Javaansche Boekhandelen Drukkerij “Medan Prijaji”.

Surat kabar Poetri Hindia dengan target pembaca wanita

Sumber: bijakcendekiasoekarno.blogspot.com

Di waktu yang sama ia juga mendirikan Soeloeh Pengadilan. Pengasingan di Lampung tidak membuatnya lantas jera untuk menghasilkan kritikan-kritikan tajam melalui tulisan-tulisannya yang dimuat di Medan Prijaji.

Selain mengguratkan nama paten di dunia jurnalistik, Tirto juga memiliki andil besar dalam riwayat pergerakan nasional yang semakin marak sejak dasawarsa abad ke-20.

 

Mendirikan Organisasi

Tahun 1905, bersamaan dengan Wahidin Soediro Hoesodo, tokoh sekolah dokter STOVIA di Batavia, ia menggagas perhimpunan yang melahirkan Sarekat Prijaji (SP) pada tahun 1906. 

Medan Prijaji menjadi corong propaganda Sarikat Prijaji lantaran Tirto mengumumkan adanya perhimpunan yang mewadahi priyayi dan bangsawan pribumi untuk memajukan anak negeri melalui pengajaran.

Sayangnya belum setahun berdiri, Sarikat Prijaji sudah tersendat-sendat karena persoalan dana. Ia sendiri yang pernah menjadi siswa STOVIA akhirnya bergabung bersama Boedi Oetomo cabang Bandung.

Namun kebersamaannya dengan Boedi Oetomo juga tidak bertahan lama, lantaran ia menilai Boedi Oetomo hanya akan mengangkat kaum priyayi Jawa.

Meski demikian, ia mengklaim bahwa Sarikat Prijaji lebih maju dalam wawasan nasionalismenya daripada Boedi Oetomo, yang mana tidak memperhitungkan perbedaan bangsa-bangsa di dalamnya.

Tirto pun mendeklarasikan organisasi baru bernama Sarekat Dagang Islamiah (SDI) di Bogor pada 5 April 1909 setelah hengkang dari Boedi Oetomo.

Ia berpikiran, bila ingin memajukan kaum “terprentah” hendaknya jangan bergantung kepada golongan ningrat atau orang-orang pemerintahan, melainkan bergerak bersama orang-orang bebas, yakni pedagang.

Ia pun berkolaborasi dengan Haji Samanhoedi, pemimpin perkumpulan Rekso Roemekso di Solo yang mewadahi para pedagang batik, pegawai rendah Kasunanan, hingga orang-orang petugas keamanan.

Rekso Roemekso yang diujung tanduk karena terancam dibubarkan pemerintah kolonial, akhirnya dibantu oleh Tirto menjadi SDI cabang solo yang memiliki badan hukum. Bahkan Tirto turut merumuskan dan menandatangani anggaran dasar SDI cabang Solo pada November 1911.

Keaktifannya di bidang jurnalistik masih ditandai dengan kepengurusannya menjadi kolomnis di 14 surat kabar antara lain, Pembrita Betawi, Soenda Berita, Medan Prijaji, Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia, Sarotomo, Soeara B.O.W., Soara Spoor dan Tram, Soearaurna.

Di akhir tahun 1912, Medan Prijaji dibredel oleh Belanda karena tulisan Tirto yang mengkritik Bupati Rembang, Rades Mas Djojoadhiningrat, yang menyebabkan ia diasingkan ke Pulau Bacan, Halmahera.

Pengasingan di Maluku kali ini memakan waktu hingga enam bulan lamanya. Selepas masa pengasingan, jejak pena Tirto seolah dimusnahkan oleh pemerintah Belanda karena pemerintah Belanda yang terus menerus memata-matainya secara intensif.

SDI cabang Bogor yang diprakarsainya pun ikut terbengkalai. Di sisi lain, SDI cabang Solo yang dikomandoi oleh Haji Samanhoedi jauh lebih berkembang pesat dan lebih dikenal daripada SDI milik Tirto.

Haji Samanhoedi pun merangkul Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin SDI cabang Surabaya, untuk membesarkan SDI bersama-sama. Inilah yang di kemudian hari menjadi cikal bakal organisasi Sarekat Islam yang menjadi organisasi massa terbesar di Indonesia.

Tirto sendiri akibat gerak geriknya selalu diawasi dan dibatasi oleh penguasa kolonial, kesehatan fisik dan mentalnya pun menurun drastis. Bahkan ia nyaris kehilangan ingatan dan akal sehat yang disebabkan penderitaan fisik dan batik yang menyerang dari segala sisi.

Ia akhirnya harus menyerah pada ajal dalam kesepiannya pada 7 Desember 1918 di usia 38 tahun. 55 tahun kemudian, pemerintah menetapkannya sebagai Bapak Pers Nasional. Akhirnya ia memperoleh gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana pada 10 November 2006.

           

Sumber:

https://tirto.id/sang-pemula-di-segala-lini-massa-b1NC

https://www.liputan6.com/citizen6/read/3269052/tirto-adhi-soerjo-sang-perintis-pers-indonesia

https://id.wikipedia.org/wiki/Tirto_Adhi_Soerjo

https://serbasejarah.wordpress.com/2013/02/11/raden-mas-djokomono-tirto-adhi-soerjo-t-a-s-jurnalis-organisatoris-propagandis/

http://pipmi.tripod.com/artikel_raden_mas_tirtoadisuryo.htm

https://news.detik.com/infografis/3858598/djokomono-tirto-adisuryo-bapak-pers-nasional

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/mengenal-bapak-pers-nasional-raden-mas-tirto-adisuryo/

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160821231424-20-152845/hilang-jejak-tirto-sepulang-dari-pembuangan-di-ambon

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160821211544-20-152832/tirto-adhi-soerjo-bapak-pers-yang-dilupakan

http://sejarahri.com/tirto-adhi-soerjo-bapak-pers-yang-mati-kesepian/

 


Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
0 komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi