Rudy Hartono Kurniawan

Rudy Hartono Kurniawan
Sumber gambar: Surya Tribunnews.com
Profesi Mantan Atlet Bulu Tangkis, Pengusaha
Tempat lahir Surabaya
Tgl Lahir 18-08-1949

Bulu tangkis memang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Indonesia. Ia adalah salah satu olahraga unggulan merah putih yang sering mencetak prestasi dan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Kita pun boleh berbangga sebab pemain veteran legendaris bulu tangkis dunia ada yang berasal Indonesia.

Dia adalah Rudy Hartono Kurniawan. Bagi pecinta olahraga bulu tangkis, nama ini sudahlah tidak asing lagi meski tidak hidup satu generasi dengannya.

Dunia bulu tangkis tidak lupa bahwa ia masih memegang rekor dunia, yakni juara 8 kali All England dengan 7 kali juara berturut-turut serta peraih juara termuda di All England hingga saat ini.

 

Masa Kecil

Rudy Hartono Kurniawan lahir dengan nama Nio Hap Liang pada 18 Agustus 1949. Ia adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara. Dua kakak Rudy, Freddy Harsono dan Diana Veronica pada saat itu adalah pemain bulu tangkis tingkat daerah.

Adik-adiknya, Utami Dewi, Eliza Laksmi Dewi, Ferry Harianto, Tjosi Hartato, dan Hauwtje Hariadi juga menekuni dunia bulu tangkis. Utami Dewi bahkan menjadi pemain timnas bulu tangkis yang berhasil memenangi Uber Cup di tahun 1975.

Keluarga besar ini tinggal di Jalan Kaliasin 49, yang sekarang berganti nama menjadi Jalan Basuki Rachmat. Tempat tinggal ini sekaligus menjadi tempat usaha jahit-menjahit. Bisnis keluarga ini yang lainnya adalah pemrosesan susu di kawasan Wonokromo.

Seperti anak-anak lain, Rudy semasa kecilnya tertarik mengikuti berbagai macam olahraga di sekolah, khususnya olahraga atletik. Semasa SD, ia pernah mengikuti latihan renang dan memperoleh berbagai sertifikat. Hanya saja ia tidak pernah ikut kejuaraan.

Ia juga sempat belajar bersepatu roda diam-diam. Sepak bola dan voli juga sempat menarik minatnya. Tapi dari semua jenis olahraga itu tidak pernah membuatnya tertarik sedalam ia tertarik pada bulu tangkis.

Mulanya Rudy tidak memiliki cita-cita untuk menekuni bulu tangkis. Ia mulai tertarik pada bulu tangkis ketika ia berusia delapan tahun. Tepatnya ketika Indonesia meraih gelar juara Piala Thomas untuk pertama kalinya di tahun 1958.

Ia pun terinspirasi untuk bermain bulu tangkis dan mendapat dukungan penuh dari sang ayah. Zulkarnain turun tangan langsung untuk melatih anak ketiganya tersebut. Saat usia sembilan tahun, ia telah bangun pukul 05.00 WIB untuk berlatih.

Latihan pagi itu dimulai dengan lari. Ayahnya naik sepeda, sedangkan ia berlari. Mulanya jarak lari hanya 1 km namun ditingkatkan hingga 10 km. ia menempuk jarak 10 km dalam waktu 1 jam. Selama 10 tahun ia digembleng oleh sang ayah dengan cara seperti ini.

Tak hanya lari. Ayahnya juga rutin melatihnya untuk latihan fisik ataupun main tali di sepanjang Jl. Kaliasin (kini Jl. Raya Basuki Rachmat) sebagai variasi latihan.

Dikutip dari bukunya yang berjudul Rajawali dengan Jurus Padi (1986), selain rutin berlari, ia berlatih bulu tangkis di jalan raya aspal kasar dengan batu-batuan yang menonjol di sana sini di depan kantor PLN Surabaya, yang sebelumnya dikenal dengan Jalan Gemblongan.

Umur sembilan tahun, ia sering mengangkat tiang berat untuk memasang net, kemudian memakainya bermain tepok bulu.

Ia berlatih di hari Minggu dari pagi hingga pukul 10  pagi. Setelah merasa cukup, Rudy memutuskan untuk mengikuti kompetisi-kompetisi kecil yang ada di sekitar Surabaya, yang pada masa itu biasanya hanya diterangi oleh sinar lampu petromax.

Ayahnya, Zulkarnaen Kurniawan, dulunya adalah seorang atlet dan mendirikan Persatuan Bulutangkis Oke pada tahun 1951. Di tahun 1964, organisasi ini dibubarkan dan ia pindah ke Surya Naga Group. Disini sang ayah diminta melatih pemain-pemain muda.

Dalam melatih, ayahnya menerapkan empat standar: kecepatan, olah nafas, konsistensi, dan agretivitas. Karena standar itulah, ia sering melatih para pemain supaya mahir di bidang olahraga atletik khususnya lari jarak pendek dan jauh, melompat, dan sebagainya.

Rudy mulai merasakan latihan bulu tangkis profesional ketika ia berlatih di asosiasi milik ayahnya. Kala itu, asosiasi tempat ayah Rudy berlatih hanya memiliki ruangan latihan di gedung gerbong kereta api di PJKA Karang Menjangan.

Meski cukup jauh karena ia harus bersepeda, ia tetap bersemangat meski tidak ada kata “tidur siang” baginya setiap hari.

Dengan kondisi seperti itu, Rudy semakin semangat berlatih bahkan dia merasa tempat tersebut jauh lebih baik daripada tempat latihan sebelumnya.

Hal ini dikarenakan ruang gedung telah memakai lampu listrik, sehingga ia bisa berlatih dengan maksimal hingga malam hari. Lapangan yang disediakan juga lebih baik dari sebelumnya dan ada kantin yang berada di samping gedung latihan.

Meskipun ia memusatkan perhatian pada bulu tangkis, ayahnya juga disiplin untuk urusan nilai rapor di sekolah. Ia akan dihukum jika ada nilai merah di rapornya. Bagi ayahnya, menjadi seorang atlet, prestasi di sekolah juga tidak boleh ditinggalkan.

Di usia belia, Rudy telah rajin mengikuti turnamen junior di Surabaya. Ia memiliki kenangan yang membekas kala ia gagal di sebuah pertandingan yunior di Surabaya. Usianya saat itu masih 12 tahun.

Ia kalah di babak kedua lawa pemain yang akhirnya keluar sebagai juara pertandingan tersebut. Dalam wawancaranya bersama Intisari (1991), ia menuturkan jika ia pulang seperti membawa beban tidak karuan hingga tanpa disadarinya air matanya mengalir. Ia merasa jika kalah, rasanya sakit bukan main.

Tahun berikutnya, ia tak mau kalah lagi. Di kejuaraan tersebut ia berhasil tampil sebagai juara, mengalahkan Yusri, pemain yang menurut banyak orang sama berbakatnya seperti dirinya. Yusri sendiri akhirnya melabuhkan cita-citanya sebagai dokter, tidak pernah menjadi pemain nasional.

Setelah berhasil memenangkan kejuaraan tersebut, ia seperti memiliki keharusan untuk mempertahankan apa yang dicapainya.

 

Awal Karier Pemain Nasional

Setelah beberapa lama bergabung dengan grup ayahnya, Rudy memutuskan untuk hijrah ke grup bulu tangkis yang lebih besar, yaitu Grup Rajawali, grup yang telah melahirkan banyak pemain bulu tangkis dunia.

Awal dia bergabung dengan Grup Rajawali, ia merasa sudah menemukan grup terbaik untuk mengembangkan bakat bulu tangkisnya.

Tetapi setelah berdiskusi dengan ayahnya, ia mengakui jika ingin kariernya meningkat, maka ia harus pindah ke tempat latihan yang lebih baik.

Maka dari itu ia memutuskan untuk pindah pada Pusat Pelatihan Thomas Cup di akhir tahun 1965. Setelah masuk pelatnas pun, ia belum mendapat porsi latihan yang sama seperti pemain senior masa itu seperti Mulyadi, Darmadi, Bambang Tjahjadi, Inawati, Retno Kustiah, Megawati.

Baca: Gantung Sepatu, Ratu Wushu Asia Sumbang Emas Terakhir Untuk Indonesia

Biografi - Bambang Pamungkas

Berbekal 600 Ribu, Berhasil Menjadi Juara Dunia Karate Tradisional

Jika para pemain senior mendapat keleluasaan memakai lapangan untuk latihan tanding, ia harus menunggu giliran terakhir. Bahkan ia hanya kebagian latihan servis, tidak berlatih main.  Namun ia tidak putus asa dan terus menunjukkan performa terbaiknya ketika latihan.

Penampilannya pun semakin membaik. Di tahun 1966 setelah setahun di Pelatnas, porsi latihannya hampir sama dengan pemain senior.

 

Permulaan Menjadi Maestro

Namanya mulai tersorot ketika ia turut ambil bagian dalam final Thomas Cup untuk Indonesia di tahun 1967 saat masih berusia 17 tahun. Meski Indonesia akhirnya kalah dengan Malaysia, pertandingan itu cukup menjadi pengalaman berharganya untuk menghadapi turnamen internasional berikutnya.

Ia kalah melawan Mulyadi di kejuaraan nasional yang diadakan menjelang akhir tahun 1967. Hal ini terjadi karena ia sempat latihan setengah-setengah. Orang tuanya marah dan menyuruhnya pulang ke Surabaya.

Kegagalan ini membuatnya berlatih ekstra keras di Surabaya, bahkan bisa dikatakan latihan terkeras sepanjang hidupnya sebagai pemain olahraga tepok bulu ini. Enam bulan ia berlatih ngotot. Ia meminta bantuan temannya untuk berlatih dikeroyok dua orang.

Ia mengungkapkan jika ia mengatur sendiri latihannya sebanyak tiga kali sehari. Latihan pertama dilakukan pada pukul 06.30 – 07.00 dikeroyok dua orang, pukul 10.00 latihan fisik, dan sore harinya bermain lagi.

Selama seminggu dengan klub minimal ia berlatih 8 kali, 3 kali stroke , dan 5 kali latihan game. Latihan keras inilah yang menempa kekuatannya hingga berhasil menjuarai ajang bergengsi All England.

Di tahun 1968, untuk pertama kalinya Rudy mampu memenangkan All England dengan mengalahkan Tan Aik Huang dari Malaysia dengan hasil akhir 15-12 dan 15-9.

Ia pun memecahkan rekor sebagai juara All England termuda hingga saat ini karena masih berusia 18 tahun 7 bulan. Tan Aik Huang sendiri sebelumnya adalah juara All England di tahun 1966.

Sidang MPRS Maret 1968 pun sempat dihentikan sejenak dan para peserta sidang berdiri dan memberi tepuk tangan untuk kemenangannya di All England. Ia berhasil mengembalikan kemenangan yang sebelumnya pernah diperoleh oleh Tan Joe Hok pada tahun 1959.

 

Karier Bulu Tangkis

Gerakan Rudy di arena lapangan terkenal cepat dan kuat. Ia begitu sangat menguasai permainan dan tahu kapan harus bermain reli atau cepat. Sekali melancarkan serangan, lawannya nyaris tidak bisa berkutik.

Tak salah jika Herbert Scheele, wasit final pertandingan bulu tangkis tunggal putra All England 1968, menjulukinya “Wonder Boy”.

Menjadi juara di All England, salah satu kejuaraan olahraga tepok bulu tertua dan paling bergengsi di dunia, ternyata menjadi PR baru bagi Rudy muda yang kala itu masih berusia 18 tahun.

Ia yang belum bisa berbahasa Inggris, ternyata harus dihadapkan pada “ujian” untuk berbicara di depan Federasi Bulu Tangkis Internasional, di hadapan para pejabat Inggris, dan tentu saja di hadapan publik bulu tangkis yang umumnya bule-bule yang berbicara dalam bahasa Inggris.

Dalam sebuah wawancara pada majalah Intisari (1991), dia mengaku jika pidato sambutan itu dibuatkan oleh Ferry Sonneville, atlet veteran bulu tangkis Indonesia yang fasih berbahasa Inggris.

Baginya, rasanya begitu kaku karena diharuskan berdiri dan kemudian duduk di top table, dengan di sisi kiri dan kanannya orang bule yang berbicara bahasa Inggris. Setelah menjuarai All England 1968, ia pulang dengan beban baru: harus bisa bahasa Inggris.

Kejutan budaya tidak berhenti sampai disitu. Sebagai seorang juara, ia menjadi sering mendapat undangan jamuan makan yang membuatnya ngeri menghadapi berbagai bentuk macam sendok dan harus makan sesuai table manner. Tidak sebebas di rumahnya di Surabaya.

Publik Indonesia, wartawan Indonesia, dan dirinya sendiri akhirnya juga memberinya tuntutan tersendiri untuk bisa memenangi setiap turnamen yang diikutinya.

Menjadi seorang atlet bukan berarti mengabaikan urusan pendidikan formal. Setamat STMA di tahun 1969, atas permintaan ibunya, ia pernah mendaftar dan diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, meski ia tidak melanjutkan studi disana demi fokus pada karier atletnya. Ia memilih untuk belajar di Universitas Trisakti jurusan Ekonomi.

Setelah berhasil memenangkan All England 1968, ambisi Rudy untuk mempertahankan gelar juara semakin meningkat.  Baginya, semangat hidup itu paling penting apapun masalahnya.

Didikan ayahnya untuk menjadi juara membuatnya memegang teguh prinsip no pain, no gain. Berkomitmen untuk menjadi juara, ia harus melakukan dengan senang hati.

Ia juga selalu menjaga konsistensi permainan hingga berhasil meraih gelar juara All England 7 tahun berturut-turut (1968-1974).

Di tahun 1975 ketika ia mau mempertahankan gelar juaranya yang ke-8, ternyata ia dikalahkan pebulu tangkis Denmark, Svend Prl. Kegagalan ini tak membuatnya lemah, justru semangat untuk mencoba.

Di tahun 1976, pemain film Matinja Seorang Bidadari (1971) ini kembali merengkuh juara All England setelah mengalahkan Liem Swie King di partai final. Atas prestasinya tersebut, namanya tercatat di Guiness Book of Record di tahun 1982 sebagai jawara All England sebanyak 8 kali yang belum terpecahkan hingga saat ini.

Rudy melepas masa lajangnya dengan menikahi Jane Anwar pada bulan Agustus 1976. Dari pernikahannya ini, ia dikaruniai dua orang anak.

Selain namanya banyak berkibar pada ajang All England, ia juga berhasil memenangkan empat Thomas Cup pada tahun 1970, 1973, 1976, dan 1979.

Salah satu potret gaya permainan Rudy saat Danish Open 1980 (Sumber: BWF VIrtual Museum)

Ia pun pernah memenangi World Championship 1980 untuk nomor tunggal putra yang diadakan di Jakarta.

Beberapa kejuaraan terbuka seperti US Open, Canadian Open, dan Denmark Open juga pernah dijuarainya sepanjang karier atletnya hingga penghujung 1982.

Meski telah memenangi berbagai kejuaraan bergengsi dunia, dalam permainan tentunya akan ada yang kalah atau menang. Rudy sebagai salah satu maestro olahraga tepok bulu merah putih pernah merasakan pahitnya kekalahan itu.

Di turnamen All England 1975, ia gagal meraih gelar juara kedelapan berturut-turut setelah dikalahkan oleh Svend Pri, pemain bulu tangkis asal Denmark, yang juga musuh bebuyutan Rudy di arena lapangan selama berkarier sebagai atlet.

Selain itu, ia juga pernah dikalahkan oleh Sven Pri di Piala Thomas 1973 yang diadakan di Jakarta pada rubber game dengan skor 15-12, 5-15, 17-15. Namun karena itu pertandingan beregu, akhirnya Indonesia mampu membawa pulang gelar juara Piala Thomas.

Di ujung karier atletnya, ia harus menelan kekalahan kala menghadapi pemain Tiongkok, Luan Jin pada final Piala Thomas 1982 di Wembley, London. Usianya pada saat itu sudah 33 tahun dan “setengah pensiun” akhirnya harus menyerah kalah rubber game dengan skor 9-15, 15-1, 9-15.

 

Kehidupan Setelah Pensiun

Rudy Hartono Kurniawan memutuskan untuk gantung raket di tahun 1982 usai kalah dalam Piala Thomas 1982 yang diadakan di Wembley, London.

Selepas pensiun sebagai atlet bulu tangkis, ia membuka usaha distribusi tunggal oli merk Top 1. Usahanya cukup sukses hingga oli Top 1 dikenal sebagai oli pilihan masyarakat Indonesia.

Ia pernah menderita serangan jantung di tahun 1988 dan mengharuskannya untuk operasi jantung. Karena itulah ia tidak lagi mampu bermain bulu tangkis seperti di masa mudanya kala menjadi atlet, dan latihan fisiknya hanya berjalan-jalan di sekitar rumah.

United Nations Development Programme (UNDP) pernah menunjuk Rudy sebagai duta bangsa untuk Indonesia. UNDP sendiri adalah salah satu organisasi PBB yang berperang melawan kemiskinan dan berjuang meningkatkan standar hidup, serta mendukung para perempuan.

Kecintaannya pada dunia olahraga tepok bulu membuatnya tidak bisa benar-benar menjauh dari urusan bulu tangkis. Ia pernah menjabat sebagai dewan pengembangan PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia) hingga 2006. Saat kini, ia menjabat sebagai dewan penasihat PBSI.

Perannya di Badminton World Federation (BWF) juga cukup penting. Ia menjadi anggota dewan BWF di tahun 1985-1986, lalu dilanjutkan pada tahun 1994-2009. BWF juga menganugerahinya Herbert Scheele Award di tahun 1986 dan namanya masuk ke dalam Badminton Hall of Fame di tahun 1997.

Rudy Hartono saat penyerahan penghargaan Herbert Scheele Award di tahun 1986 dari Betty Scheele (Sumber: BWF Virtual Museum)

Di tahun 1990-an, Rudy ikut terjun dalam melatih pemain-pemain bulu tangkis muda di Pelatnas Senayan seperti Alan Budikusuma, Ardy B. Wiranata, Hemawan Susanto, dan kawan-kawan. Baginya, melatih atlet-atlet muda adalah salah satu bentuk upayanya untuk membayar utang pada bulu tangkis Indonesia.

Pemerintah Indonesia juga pernah menganugerahinya Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama atas jasanya mengharumkan nama bangsa di bidang olahraga. Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta, pernah memberinya rumah dan mobil atas prestasinya tersebut.

Tahun 2006 silam, majalah Time pernah menobatkan Dewan Penasihat PBSI ini sebagai salah satu Asian Heroes kategori Athletes & Explorers.

Selain itu, Madame Tussauds Singapura memajang patung lilin dirinya dengan pose sedang menyerang di belakang net. Ia dianggap sebagai atlet bulu tangkis terbaik di masanya sehingga layak untuk dibuatkan patung lilin.

Ketua umum PB Jaya Raya ini baru-baru ini meluncurkan raket murah berkolaborasi dengan Yonex, perusahaan peralatan olahraga asal Jepang, seri Yonex-Nano Ray 68 Lt dan Arcsaber 69 LT untuk kampanye perusahaan memberikan raket berkualitas dan terjangkau bagi masyarakat.

 

 

Sumber:

http://www.tribunnews.com/sport/2014/03/23/didikan-masa-kecil-yang-bikin-rudy-hartono-jadi-maestro-bulu-tangkis-dunia

https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20150321102949-170-40732/selamat-siang-rudy-hartono

http://bulutangkis-otodidak.blogspot.com/2012/04/kisah-lain-dari-rudy-hartono-sang.html

https://www.lensabulutangkis.web.id/biografi-rudy-hartono-legenda-bulu-tangkis-dunia/

https://en.wikipedia.org/wiki/Rudy_Hartono

http://bwfmuseum.isida.pro/library/profiles/news-317-9/

https://www.liputan6.com/bola/read/3065154/rudy-hartono-masuk-daftar-72-ikon-prestasi-indonesia

http://intisari.grid.id/read/0331161/rudy-hartono-maestro-bulu-tangkis-buka-kartu-1?page=all

http://intisari.grid.id/read/0390868/inilah-hal-hal-yang-belum-kita-ketahui-tentang-rudy-hartono-si-raja-all-england-yang-gampang-grogi?page=2

http://wartakota.tribunnews.com/2018/08/29/legenda-bulu-tangkis-rudy-hartono-dan-yonex-meluncurkan-raket

https://isyf.or.id/2016/11/30/rudyhartono/

http://m.badmintonindonesia.org/app/organization/structure.aspx?

https://www.boombastis.com/legenda-bulutangkis-indonesia/51061

https://sport.tempo.co/read/1121572/rudy-hartono-bikin-raket-murah-kerja-sama-dengan-yonex/full&view=ok



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi