Prabowo Subianto

Prabowo Subianto
Sumber: Geotimes
Profesi Pengusaha, Capres Pemilu 2019
Tempat lahir Jakarta
Tgl Lahir 17-10-1951

Berbeda dengan Jokowi yang datang dari latar belakang sipil sebelum terjun ke dunia politik, Prabowo Subianto, pesaingnya di dua pemilu berturut-turut, datang dari latar belakang militer, meskipun saat ini juga menggeluti dunia usaha.

Dikenal sebagai Mantan Panglima Kostrad Kopassus, bagaimana kisah hidup Prabowo sebelum terjun ke dunia politik?

 

Prabowo Kecil

Lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951 lalu, Prabowo diberi nama Prabowo Subianto Djojohadikusumo. Bowo, panggilan masa kecilnya, merupakan anak seorang begawan ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikoesoemo, dan Dora Marie Sigar.

Nama Subianto yang disematkan padanya diambil dari nama pamannya, Kapten Subianto Djojohadikusumo, seorang perwira Tentara Keamanan Rakyat yang gugur di medan perang saat Pertempuran Lengkong pada Januari 1946 di Tangerang.

Keluarga Djojohadikusumo bukanlah keluarga sembarangan. Ia keturunan dari Raden Tumenggun Kertanegara, seorang panglima laskar Pangeran Diponegoro di wilayah Kedu; dan Adipati Mrapat, Bupati Banyumas pertama. Garis keturunan itu dapat ditarik lagi pada penguasa awal Kesultanan Mataram

Sang kakek, Margono Djojohadikusumo sendiri adalah pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) dan ketua Dewan Pertimbangan Agung yang pertama. Tidak heran jika sang ayah akhirnya meneruskan jejak sebagai pakar ekonomi sekaligus politisi Parta Sosialis Indonesia.

Ayahnya pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian di Kabinet Natsir dan Menteri Keuangan pada Kabinet Wilopo di era pemerintahan Presiden Soekarno. Selain itu, ayahnya juga menjadi dosen dan dekan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI).

Ibunya yang berdarah Minahasa juga berasal dari keluarga cukup terpandang di masa itu. Kakek dan nenek dari pihak ibunya berasal dari keluarga birokrat kolonial Minahasa. Ibunya sendiri yang sudah menetap di Belanda sejak usia 12 tahun, belajar ilmu keperawatan pasca bedah di Utrecht.

Meskipun kedua orang tuanya berbeda suku dan agama, ayahnya seorang muslim dan ibunya seorang kristen protestan, keluarga mereka penuh keragaman dan tetap akur. Setiap bulan Ramadan tiba, ibunya memasak sahur untuk suaminya, serta pohon natal selalu ada di rumah ketika hari Natal tiba.

Prabowo sendiri lahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara. Saudara-saudaranya, Biantiningsih Miderawati Djiwandono, Marjani Ekowati le Maistre, dan Hashim Sujono Djojohadikusumo.

Masa kecil Prabowo banyak dihabiskan berpindah-pindah di luar negeri sejak usianya lima tahun, setelah ayahnya terlibat menentang Soekarno dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat. Demi menghindari penangkapan oleh pemerintah Indonesia, keluarga Prabowo tidak pernah menetap lebih dari dua tahun.

Singapura menjadi negara pertama yang disinggahi prabowo. Ia bermukim di kawasan Bukit Timah, berdekatan dengan 10 keluarga pelarian PRRI yang lain. Lalu ia pindah ke Hongkong di tahun 1959.

Setahun kemudian, tahun 1960, dia pindah ke Kuala Lumpur, Malaysia. Disini sang ayah membuka pabrik perakitan alat elektronik untuk menyambung hidup. Ia sendiri bersekolah di Victoria Institution, sekolah Inggris paling bergengsi di Malaysia.

Saat remaja, Prabowo sekeluarga bermukim di Swiss. Ia bersekolah di American International School of Zurich. Murid-murid disana sebagian besar berasal dari Amerika. Dari Swiss, ia pindah lagi ke Inggris. Pendidikan bangku sekolahnya diselesaikan di The American School in London saat ia berusia 16 tahun.

Hidup berpindah-pindah di negeri orang sebagai minoritas membuat Prabowo kerap kali menerima bullying dari teman-teman sekolahnya karena ia tidak berkulit putih atau dari Indonesia yang dianggap negara yang belum semaju negara-negara di Eropa.

Meski sering dilecehkan, hal itu membuatnya banyak belajar dari Barat yang semangat untuk terus maju dan bertekad untuk membangun negara agar tidak kalah maju dari negara lain.

Saat akan memasuki perguruan tinggi, ia diterima sebagai mahasiswa di tiga universitas terkemuka di Amerika Serikat, salah satunya, Colorado University. Tapi ternyata, ia memilih mengikuti jejak pamannya untuk berkarier di dunia militer.

Keluarga Prabowo sendiri baru kembali ke Indonesia setelah Presiden Soeharto naik tahta. Sekembalinya ke Indonesia, ia masuk ke Akademi Militer di Magelang, Jawa Tengah.

 

Karier Militer

Setelah lulus dari Akademi Militer, ia memulai kariernya di TNI Angkatan Darat tahun 1974 sebagai Letnan Dua. Sejak 1976-1986, ia bertugas di Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), pasukan khusus Angkatan Darat saat itu.

Penugasan pertamanya adalah sebagai komandan pleton pada Grup I/Para Komando yang menjadi bagian pasukan Operasi Tim Nanggala di Timor Timur. Sebagai komandan pleton termuda, ia memimpin misi penangkapan Nicolau dos Reis Lobato, pemimpin Freitlin yang menjabat sebagai Perdana Menteri saat Operasi Seroja.

Lobato sendiri tewas tertembak di akhir tahun 1978 di Lembah Mindelo akhirnya, yang sekaligus menandai berakhirnya perlawanan terbuka Fretilin terhadap invasi militer Indonesia dan permulaan pendudukan militer di Timot Timur. Prabowo menjabat sebagai wakil komandan pada Detasemen Khusus 81 (Penanggulangan Teror) di Kopassandha tahun 1983.

Ia juga menikah dengan anak keempat Presiden Soeharto, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto pada Mei 1983. Dari pernikahan tersebut, pasangan ini dikaruniai satu orang putra, Didit Hediprasetyo yang lahir tahun 1985.

Dua tahun kemduain, dia menjadi wakil komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 (Yonif Para Raider 328/Dirgahayu), pasukan para raider di Kostrad. 1987, ia naik pangkat sebagai komandan batalyon setelah menamatkan pelatihan Special Forces Officer Course di Fort Benning.

Ia sendiri pernah melatih Pasukan Komando Jordania di bawah kepemimpinan Pangeran Abdullah di tahun 1990-an, serta melatih taktik perang untuk pasukan Hamas Palestina.

Tahun 1991, ia menjabat sebagai kepala staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17 (Brigid Para Raider 17/Kujang I), yang bermarkas di Cijantung. Saat itu ia terlibat dalam misi pemburuan dan penangkapan Xanana Gusmao, salah seorang pemimpin gerilyawan Fretilin.

Teman karib Soe Hok Gie ini kembali ke pasukan khusus yang dinamai Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pada tahun 1993 dan diangkat menjadi komandan Grup 3/Sandi Yudha.

Ia sendiri di bawah kepemimpinan Brigjen Agum Gumelar menjabat sebagai wakil komandan komando dan di bawah kepemimpipnan Brigjen Subagyo Hadi Siswoyo menjabat sebagai komandan komando.

Desember 1995, ia diangkat sebagai komandan jenderal Kopassus berpangkat mayor jenderal. Tugas pertamanya sebagai komandan jenderal adalah operasi pembebasan sandera Mapenduma, menyelamatkan 10 dari 12 orang peneliti yang tergabung dalam ekspedisi Lorentz 95 dan diculik oleh gerilyawan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Sebelumnya, Kopassus di bawah pimpinan Prabowo pernah berhasil menangani operasi pembebasan sandera saat pembajakan pesawat Garuda di Bangkok tahun 1981, atau yang dikenal dengan Peristiwa Woyla.

Sebagai komandan jenderal Kopassus, ia pernah memrakarsai pendakian ke Gunung Everest, Tibet, dengan anggota tim pendaki terdiri atas anggota Kopassus, Wanadri, FPTI, dan Mapala UI di tahun 1997.

Tahun 1998, ia diangkat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat di bawah pimpinan Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Wiranto. Saat kerusuhan Mei 1998, ia pernah meminta untuk diizinkan menggerakkan pasukan cadangan dari luar Jakarta untuk membantu meredam kerusuhan tapi ditolak.

Diduga ia menerbangkan ratusan orang yang telah dilatih oleh unit Kopassus di Timor Leste dari Dilli menuju Yogyakarta, lalu ke Jakarta menggunakan kereta api.

Beberapa sumber juga menyebutkan Mayjend Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima Komando Operasi Jakarta Raya, pernah meminta tolong padanya untuk mengirim pasukan untuk mengamankan ibu kota yang sedang kacau. Permintaan ini dipenuhi dengan pengiriman serdadu Kostrad untuk mengamankan beberapa tempat penting, seperti kediaman Wapres B.J. Habibie di Kuningan.

 

Akhir Karier Militer

Setelah Presiden Soeharto mundur dari kepresidenan pada 21 Mei 1998 dan digantikan oleh B.J. Habibie, Prabowo juga diberhentikan dari jabatannya sebagai panglima kostrad. Setelah diberhentikan, ia ditugaskan sebagai komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI di Bandung.

Pencopotan jabatannya di militer ini tidak mendapat pembelaan siapapun, termasuk dari mertua dan ayahnya. Tak hanya dicopot, apesnya pernikahannya juga kandas dengan Titiek Soeharto di waktu yang hampir bersamaan.

Juli 1998, Panglima ABRI membentuk Dewan Kehormatan Perwira yang dikepalai Jenderal Subagyo Hadi Siswoyo dan dianggotai enam orang letnan jenderal: Fachrul Razi, Djamari Chaniago, Arie J. Kumaat, Agum Gumelar, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Yusuf Kertanegara.

Dewan ini memeriksa Prabowo dalam tujuh butir tuduhan, diantaranya “sengaja melakukan kesalahan dalam analisa tugas”, “melaksanakan dan mengendalikan operasi dalam rangka stabilitas nasional yang bukan menjadi wewenangnya tetapi menjadi wewenang Pangab”, “tidak melibatkan staf organik dalam prosedur staf, pengendalian, dan pengawasan”, “sering ke luar negeri tanpa izin dari Kasad atau Pangab”.

Sebagai perwira tinggi militer, ia diadili berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer (KUHPM). Dalam putusannya, ia dinyatakan bersalah karena melakukan tindak pidana “ketidakpatuhan” (pasal 103 KUHPM), “memerintahkan perampasan kemerdekaan orang lain” (pasal 55 (1) ke-2 KUHPM dan pasal 333 KUHP); serta “penculikan” (pasal 55 (1) ke-2 dan pasal 328 KUHP).

Tuduhan yang ditujukan padanya inilah yang menjadi kontroversi dan santapan empuk ketika ia maju dalam pemilu. Seperti manuvernya saat Orde Baru untuk membungkam orang-orang yang diperkirakan oposis dengan Soeharto, konflik dengan L.B. Moerdani, dugaan pelanggaran HAM di Timor Timur, hingga penculikan aktivis reformasi 1997/1998.

Pemberhentiannya dari dinas militer ini juga sempat menimbulkan kontroversi saat dirinya menjadi wakil presiden bersama Megawati Soekarnoputri di pemilihan umum 2009.

 

Karier Setelah Militer

Setelah tidak lagi di dunia mililter, ia memilih menjadi pengusaha seperti adiknya, Hashim Djojohadikusumo. Ia mengawali dengan membeli Kiani Kertas, perusahaan pengelola pabrik kertas di Mangkajang, Kalimantan Timur, yang sebelumnya dimiliki Bob Hasan.

Selain mengelola Kiani Kertas yang namanya berganti menjadi Kertas Nusantara, ia juga menguasai 27 perusahaan di dalam dan luar negeri di bawah kelompok perusahaan Nusantara Group. Usaha-usaha yang dimilikinya bergerak di bidang perkebunan, pertambangan, kelapa sawit, dan batu bara.

Sebagai pengusaha ia memiliki aset triliunan rupiah dan diketahui memelihara 84 ekor kuda istimewa dan memiliki sejumlah mobil mewah seperti BMW 750Li dan Mercedes Benz E300.

Putra semata wayangnya, Didit Hediprasetyo, sendiri tumbuh besar di Boston, Amerika Serikat, dan pernah mengenyam pendidikan desain di Parsons School of Design, New York. Kini, putranya menetap di Paris sebagai perancang busana kondang.

Pensiunan militer yang dikenal kutu buku ini juga aktif di beberapa organisasi masyarakat seperti menjadi Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) periode 2004-2009, ketua umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) periode 2008-2013, serta ketua umum pengurus besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) selama tiga periode.

 

Karier Politik

Tak hanya ingin menjadi pengusaha, rupanya Prabowo juga tertarik untuk terjun ke dunia politik. Ia memulai karier politiknya dengan mencalonkan diri sebagai calon presiden dari Partai Golkar pada Konvensi Capres Golkar 2004. Namun ia akhirnya kandas karena kalah suara oleh Wiranto.

Februari 2008, ia mendirikan partai sendiri yang dinamainya Partai Gerakan Indonesia Raya atau Gerindra bersama Hashim Djojohadikoesoemo, Fadli Zon, dan Muchdi Purwoprandjono. Pada pemilu legislatif 2009, partainya berhasil menempatkan 26 orang wakilnya di DPR RI.

Setelah mendirikan Gerindra, Prabowo mengajukan diri sebagai calon presiden pada pemilu 2009. Namun akhirnya ia menjadi calon wakil presiden dan berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri dan sayangnya kalah dengan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.

Lalu di tahun 2014, ia kembali ke panggung pemilu dengan mencalonkan diri sebagai calon presiden di pemilihan umum 2014. Menggandeng Hatta Rajasa sebagai calon wakil presiden, ia berhadapan dengan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. Lagi-lagi keberuntungan belum berpihak pada Prabowo karena kalah suara.

Pria yang dikenal kerap memakai pakaian dengan banyak kantong berwarna khaki ini kembali maju di pemilihan umum presiden 2019 bersama Sandiaga Uno dan bertemu lagi dengan lawan lama di pemilu 2014, Jokowi yang berpasangan dengan KH. Ma’ruf Amin.

 

 

Sumber:

https://historia.id/politik/articles/kisah-bowo-anak-kebayoran-DbeA2

https://id.wikipedia.org/wiki/Prabowo_Subianto#Panglima_Kostrad

https://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum_Presiden_Indonesia_2004

https://historia.id/politik/articles/prabowo-di-mata-soe-hok-gie-vqj9K

https://news.detik.com/berita/d-4308943/6-kisah-cinta-prabowo-titiek-yang-tak-semua-orang-tahu

https://tirto.id/kisah-dora-sigar-ibunda-prabowo-subianto-dkQx

https://factcheck.afp.com/no-indonesian-presidential-candidate-prabowo-subianto-was-not-academic-prodigy-who-attended

http://www.riauonline.co.id/riau/read/2016/11/25/di-bawah-pimpinan-prabowo-kopassus-latih-pasukan-palestina-hamas

https://www.biografiku.com/biografi-prabowo-subianto/

https://www.cnnindonesia.com/pemilu2019/profil-prabowo-sandiaga



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi