Pidi Baiq

Pidi Baiq
Sumber: Gramedia.com
Profesi Penulis
Tempat lahir Bandung
Tgl Lahir 08-08-1972

Siapa Pidi Baiq?

Publik dibuat bertanya-tanya siapa sosok cerdas yang berhasil meramu kata-kata romantis Dilan untuk Milea di dalam seri novel Dilan. Dia adalah Pidi Baiq, yang sudah cukup berumur untuk menulis cerita roman picisan macam Dilan.

Pidi lahir di Bandung, 08 Agustus 1972 silam. Bukan lahir dari keluarga seniman, namun ia memiliki darah seni yang mengalir deras di tubuhnya. Ia menyukai seni dengan segala kebebasannya.

Sejak kecil, ayahnya berlangganan majalah Bobo. Tapi ia malah lebih memilih untuk menutup ilustrasi gambar di majalah dengan ilustrasi karyanya. Hal tersebut yang mengasah kemampuan menggambarnya. Tidak salah jika ia akhirnya menekuni dunia seni di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung.

Meski bisa menulis, dalam beberapa wawancara, ia mengaku jarang membaca buku atau novel. Ia pernah membaca dan jadi menyukai sastra karena ibu dan kakak perempuannya yang berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia rajin meminjam buku. Buku karangan Sutan Takdir Alisjahbana, Taufik Ismail, Iwan Simatupang, hingga WS Rendra pernah dibacanya.

Dari buku sastra tersebut, lantas ia mencoba untuk membuat puisi. Tapi hasilnya, teman-teman di sekolahnya yang membaca puisi tersebut tidak ada yang suka karena aneh dan sulit dipahami.

Tak berhenti di karya sastra. Ia juga suka membaca cerita pendek (cerpen) karangan Sarlito Wirawan Sarwono di majalah Gadis. Tulisan Goenawan Muhamad juga menjadi favoritnya karena ayahnya langganan majalah Tempo.

Suka menggambar dan membaca, tidak serta merta membuatnya bercita-cita menjadi seorang penulis, pelukis, ataupun seniman. Sejak kecil justru cita-citanya adalah menikah. Sebab Pidi bosan mendengar jawaban profesi sebagai cita-cita teman sebayanya.

Selama menuntut ilmu di ITB, sifat memberontak dan ingin kebebasan dari dalam diri Pidi semakin menggelora. Resah dengan rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto, ia lebih baik memilih negara sendiri, yang dinamainya Negara Kesatua Republik The Panasdalam. Tempatnya di ruang seni rupa seluas 80 meter persegi pada tahun 1995.

The Panasdalam sendiri merupakan akronim dari aTHeis, Paganisme, NaSrani, HinDu BuddA, isLAM, yang maksudnya negara bentukan Pidi Baiq ini menerima semua orang yang menganut berbagai keyakinan.

Penduduknya ada 18 orang dan ia menunjuk dirinya sendiri sebagai Imam Besar negara tersebut. Negara rekaan ini ikut tumbang setelah Orde Baru tumbang di tahun 1998 dan memilih bergabung dengan Indonesia setelah melakukan muktamar pertama.

Dengan kemampuan menggambarnya, di tahun 1997 ia merilis komik berjudul Bandung, Pahlawan Pembela Kebetulan: Kasus Tikus Tarka yang mengangkat latar belakang kota Bandung sebagai latar tempat cerita.

Ia pernah pula menjajal profesi sebagai ilustrator prangko. Bergabung dengan PT Pos Indonesia, ia telah menghasilkan kurang lebih 17 judul prangko sejak tahun 1998. Ilustrasi prangko pertamanya adalah prangko seri cerita rakyat yang merupakan gebrakan baru.

Umumnya, desain prangko berbeda-beda meskipun memiliki tema yang desain yang sama. Namun, Pidi membuat desain yang berkesinambungan, sehingga antara satu prangko dengan prangko yang lain ketika dijejerkan akan terlihat satu rangkaian gambar.

Setelahnya, ia memutuskan untuk bertualang ke Belanda untuk mempelajari filsafat dan seni di tahun 2000. Cerita ketika ia di negeri Kincir Angin dituangkannya ke dalam kisah Manuskrip Amsterdam salah satunya.

Kembali ke Indonesia, ia sempat tidak ada pekerjaan. Ia membuat beberapa lagu dengan beragam tema. Ada lagu bertema soal kehidupan waria yang dituangkannya pada lagu “Cita-citaku”, ada pula soal makhluk halus yang diberi judul “Rintihan Kuntilanak”. The Panasdalam berubah menjadi grup musik bernama The Panasdalam Bank.

Tahun 2005, The Panasdalam Bank sempat masuk televisi nasional yang menyebabkan perdebatan sengit. Pidi selaku Imam Besar pun turun tarang dan memutuskan bahwa The Panasdalam tidak akan masuk televisi lagi sejak saat itu.

Seiring berjalannya waktu, The Panasdalam pun berubah menjadi komunitas beberapa unit. Ada Front Pembela Islam Kristen Hindu Buddha, The Panasdalam Movie, Pengadilan Musik, dan sebagainya. Ia sendiri ada rencana ingin membuat stasiun radio.

The Panasdalam kini sudah tidak menempati ruang seni di kampus Ganesha. Sudah ada rumah sendiri yang menjadi usat kegiatan komunitas tersebut. Di sana ada kafe untuk tempat nongkrong anak muda Bandung, ada pula panggung di pojok untuk tempat bermusik atau berdiskusi.

Dari partai politik, Lesbian Club Bandung, Front Pembela Islam sampai Hizbut Tahrir Indonesia pernah berada di panggung tersebut untuk berdiskusi. Panggung rumah The Panasdalam jauh lebih ramai ketika musim kampanye.

 

Menulis Buku

Setelah pernah merilis komik, mantan Dekan di ITB ini mulai menulis di tahun 2003 ketika seorang teman membuatkan laman blog untuknya. Tanpa konsep, ia menuliskan apa saja yang ada di kepalanya untuk mengisi blog tersebut.

Serial Drunken mulai dirilis di tahun 2008-2009. Ada Drunken Monster, Drunken Molen, Drunken Mama, dan Drunken Marmut. Di buku Drunken Monster inilah ia menuliskan cerita bahwa banyak tetangganya yang tidak percaya jika ia pernah menjadi dosen dan dekan di ITB.

Serial Drunken Karya Pidi Baiq (Sumber: Revius)

Dari sini namanya mulai naik daun sebagai penulis. Bukunya cukup laris di pasaran hingga beberapa kali dicetak ulang. Temannya pun membuatkannya akun Twitter untuk berkomunikasi dengan para pembaca bukunya. Disini ia cukup aktif merespon pertanyaan dan memfollback (follow back) pengikutnya.

Setelah menulis kisah seri, peraih penghargaan Writer of the Year 2017 dari IKAPI Award ini kembali menulis buku lain yang berjudul Al-Asbun Manfaatulngawur (2010) dan Hanya Salju dan Pisau Batu (2010).

Lalu penerbit Mizan membukukan beberapa kutipan khas pria yang juga akrab disapa Ayah ini di Twitter berjudul At-Twitter: Google Menjawab Semuanya, Pidi Baiq Menjawab Semaunya (2012). Di tahun yang sama, buku lain yang rilis yaitu S.P.B.I: Dongeng Sebelum Bangun.

Sepulang melancong dari Rusia selama tiga bulan, Pidi ingin membuat cerita teen lit (literatur remaja) yang tidak picisan. Kebetulan pula penerbit Mizan memintanya membuat cerita remaja, namun ia meminta akan menulis lebih dulu di blog pribadinya.

Mulailah ia menulis Dilan—yang lagi-lagi mengalir tanpa konsep. Banyak pembaca blognya yang menyukai cerita Dilan. Ia akhirnya menghentikan cerita tersebut ketika sudah rampung 80% untuk dibukukan oleh penerbit. Meski ia berfirasat nantinya Dilan akan laris manis, tapi ia tidak pernah berencana untuk membuat cerita Dilan menjadi trilogi.

Sejak 2014, berturut-turut serial Dilan dirilis di pasaran, mulai dari Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 (2014), Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 (2015), dan Milea: Suara Dari Dilan (2016).

Trilogi Dilan Karya Pidi Baiq (Sumber: Tokopedia)

Tidak disangka, jika serial novel Dilan karyanya laris manis di pasaran. Mengangakt tema anak SMA di era ’90-an dan plot cerita yang ringan, membuat pembaca merasa sosok Dilan dan Milea terasa nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Setelah berulang kali naik cetak, muncullah usulan untuk mengangkat Dilan ke layar lebar, yang akhirnya disetujui oleh Ayah. Ia bahkan terjun langsung menyutradarai dan menulis naskah filmnya.

Film Dilan 1990 sukses besar di tahun 2018 silam dengan jumlah penonton yang menembus angka lebih dari 6 juta penonton. Selain itu, film ini juga membawa beberapa penghargaan seperti Indonesian Choice Awards 2018: Movie of the Year, Indonesian Movie Actors Awards 2018: Film Tervaforit, dan SCTV Awards 2018 di kategori Film Layar Lebar.

Poster Film Dilan 1990 yang Tayang pada Januari 2018 Silam (Sumber: IMDB)

Dilan 1990 pun berhasil melambungkan nama kedua pemeran utamanya, Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla. Tak ayal, jika akhirnya ada sekuel Dilan 1991 setelah melihat antusiasme penggemar. Dilan 1991 sendiri berhasil meraup 5 juta penonton, dan menjadi film terlaris ketiga sepanjang masa.

Selain ikut menulis naskah film Dilan, ia juga pernah menulis naskah film Baracas di tahun 2017.

 

Setelah Sekuel Dilan

Gegap gempita film sekuel Dilan mungkin sudah usai. Kini Ayah sedang disibukkan menggarap novel lain yang tidak berhubungan langsung dengan Dilan dan lanjutan serial Dilan yang ceritanya berfokus pada kekasih Dilan setelah Milea. 

Ada Helen dan Sukanta, Bundahara—yang mengangkat tema orang tua dengan setting waktu sebelum pertemuan Dilan dan Milea, dan Dilan yang Bersamaku, Suara Ancika Mehrunisa Rabu—kisah pacar Dilan yang kedua dan menjadi buku keempat dalam seri Dilan.

Buat Anda penggemar Dilan maupun karya-karya Pidi Baiq, kita tunggu saja kapan bukunya segera meluncur di toko buku terdekat, ya.

           

 

 

Sumber:

https://tibuku.com/biografi-pidi-baiq/

http://blog.mizanstore.com/kenal-lebih-dekat-dengan-pidi-baiq/

https://beritagar.id/artikel/figur/pidi-baiq-imam-besar-yang-absurd

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20160609145156-241-136957/pidi-baiq-lebih-nyaman-menjadi-ikan-di-empang

https://www.biografipedia.com/2019/04/biografi-pidi-baiq-penulis-novel-dilan.html

https://www.dream.co.id/showbiz/pidi-baiq-dilan-yang-selalu-dirindu-180423j.html

https://www.whiteboardjournal.com/ideas/fakta-di-balik-pidi-baiq-ayah-dari-dilan-dan-milea/

https://id.wikipedia.org/wiki/Pidi_Baiq

https://id.wikipedia.org/wiki/Dilan_1990

https://id.wikipedia.org/wiki/Dilan_1991

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20190212165059-241-368592/pidi-baiq-garap-novel-lepasan-dan-kelanjutan-cerita-dilan



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi