Najelaa Shihab

Najelaa Shihab
Sumber: Republika
Profesi Pendiri Sekolah Cikal, Pakar Pendidikan
Tempat lahir Solo
Tgl Lahir 11-09-1976

Nama belakang Najelaa Shihab mungkin tidak dikenal sebagian masyarakat. Tapi nama belakangnya cukup tersohor karena kerap dihubungkan dengan cendikiawan muslim Quraish Shihab dan jurnalis dan pembawa acara ‘Mata Najwa’ Najwa Shihab. Ya, ia merupakan anak pertama dari Quraish Shihab dan tentu saja, saudara perempuan Najwa Shihab.

Sejak masih berusia sembilan tahun, Najelaa telah bermimpi mendirikan sekolah dan bekerja di dunia pendidikan. Setiap kali ditanya mengenai cita-citanya, ia akan selalu dengan mantap menjawab ingin menjadi seorang guru.

Masa sekolahnya dihabiskan dengan berpindah-pindah tempat. Ia pernah mengikuti pra sekolah di Kairo, Mesir, sewaktu ayahnya sedang melanjutkan studi S3 di sana. Lalu menghabiskan masa sekolah dasar di sekolah negeri dan madrasah di tiga sekolah. SMP dan SMA ia bersekolah di sekolah negeri Jakarta.

Tidak hanya fokus di akademis, Ela—sapaan akrab Najelaa, mulai terlibat dan aktif di berbagai kegiatan non akademis di sekolah, seperti menjadi wakil ketua OSIS, kelompok ilmiah remaja, mengikuti ekstrakurikuler, dan lain-lain.

Usai lulus SMA, ia melanjutkan studi di Universitas Indonesia. Di sana ia mengambil jurusan psikologi dengan fokus studi pada bidang Psikologi Anak dan Pendidikan. Setelah menggenggam gelar, ia sempat mengabdi sebagai pengajar selama dua tahun.

Statusnya sebagai dosen di kampus yang terkenal warna kuningnya ini dilepas setelah melahirkan anak pertamanya di usia 21. Ia memang menikah muda, usianya baru 19 ketika dipersunting oleh Ahmad Fikri Assegaf.

 

Cikal Bakal Sekolah Cikal

Kelahiran anak pertamanya membuatnya mulai memikirkan soal pendidikan anak. Saat itu ia menyadari ada sesuatu yang bisa dikembangkan di bidang pendidikan anak. Ia pun teringat akan mimpinya mendirikan sekolah.

Ia pun memberanikan diri dengan mendirikan Sekolah Cikal (Cinta Keluarga) pada Agustus 1999, saat ia masih belum genap berusia 23 tahun dan sedang sibuk menyelesaikan studi pascasarjana.

Mula-mula, Cikal masih fokus pada pendidikan pra-sekolah dan didirikan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, dengan modal delapan tenaga pendidik. Desember 1999 menjadi salah satu pencapaian kecilnya dimana Cikal telah memiliki 50 murid.

Sedari awal mendirikan Cikal, ia yakin betul bahwa sekolahnya akan membesar. Semakin hari tanda-tanda perkembangannya semakin terlihat. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya di tahun 2009, Cikal akhirnya membuka cabang kedua.

Seluruh cabang Cikal hingga saat ini dikelola sendiri dan tidak menggunakan sistem waralaba (franchise). Hal ini dilakukan untuk benar-benar mematangkan berbagai standar pengajaran dan kurikulum sekolah. Posisi Najelaa sebagai Head of School (Kepala Sekolah) pun melekat di seluruh cabang Cikal.

Setelah dua puluh tahun berdiri, kini Cikal telah memiliki sembilan cabang yang tersebar di Surabaya, Bandung, Cilandak, Bintaro, dan Serpong, ratusan guru, dan ribuan siswa. Bisa saja nantinya Cikal akan membuka cabang sekolah pertamanya di luar Jawa.

Layanannya tidak lagi sebatas untuk pendidikan pra-sekolah, tapi sudah mencapai jenjang sekolah menengah atas, dengan akreditasi internasional dari The International Baccalaureate Organization untuk menyelenggarakan kurikulum IB bertaraf internasional hingga tingkat Middle Years Programme (setara SMP).

Dalam kurikulumnya yang dikenal dengan 5 Stars Competencies, Cikal menitik beratkan pada pengembangan kepribadian dan bakat setiap anak. Keunikan setiap anak juga menjadi perhatian yang menjadikan masing-masing anak memiliki rencana pendidikannya tersendiri.

Biaya sekolah di sekolah Rafathar—anak pesohor Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ini memang tidak murah, mengingat segala fasilitas dan kurikulum yang dikembangkan untuk keberlangsungan proses belajar. Ongkos pendidikannya bisa mencapai puluhan juta rupiah, tergantung pada jenjang dan variabel lain.

Biaya yang tidak murah tidak serta merta menjadikan ilmu dan metode pengajaran yang diterapkan di Cikal menjadi eksklusif. Semangatnya untuk berbagi melatar belakangi pembangunan Komunitas Guru Belajar di bawah Kampus Guru Cikal tiga tahun silam, yang kini telah tersebar di 145 kabupaten dan kota di Indonesia. Aktivitas utamanya adalah memberikan pelatihan kepada guru-guru dari sekolah lain.

Melalui Cikal, Najelaa punya pengalaman melihat dan terlibat dalam proses mendidik anak sejak usia enam bulan hingga sekolah menengah atas, juga berkesempatan untuk mendorong pengembangan kapasitas pendidik.

Baginya pendidikan tidak hanya tanggung jawab sekolah dan guru. Pendidikan adalah proses berkelanjutan yang melibatkan berbagai pihak. Seperti yang sering diungkapkannya dan menjadi nama organisasi pendidikan bentukannya: Semua Murid, Semua Guru.

 

Memberdaya Para Guru      

Lebih dari dua dasawarsa berkecimpung di dunia pendidikan, membuat Najelaa berkesempatan menyelami aneka masalah pendidikan di Indonesia akibat ketimpangan kualitas dan akses di berbagai daerah yang tidak merata, meski APBN untuk sektor pendidikan selalu meningkat setiap tahunnya.

Menurut Najelaa, untuk memajukan pendidikan Indonesia harus ada inisiatif dari publik dan sektor swasta. Tidak bisa hanya melulu mengandalkan pemerintah karena kemampuannya juga terbatas.

Itulah yang akhirnya menginiasis Inibudi.org yang telah dimulai sejak 2012. Inibudi.org membuat dan menyediakan materi digital berupa video belajar untuk berbagai bidang studi, profesi, dan jenjang pendidikan. Video-video dibuat oleh guru-guru yang disebut sebagai relawan “Guru Berbudi” di bawah pengawasan tim Inibudi.org.

Video ini sendiri bisa diunduh gratis, bisa ditonton lewat YouTube, bahkan disediakan flash disk untuk dikirim ke berbagai daerah. Distribusi video belajar ini mampu membuat guru-guru di luar Jawa lebih berdaya karena bisa ikut jadi relawan “Guru Berbudi”.

Di tahun yang sama, ia menggagas Keluarga Kita, layanan online yang menyediakan materi pendidikan keluarga, serta pembekalan bagi Relawan Keluarga Kita “Rangkul” yang mengorganisasi Sesi Berbagi Cerita dan Sesi Nonton Bareng tentang pengasuhan di lingkungan masing-masing di 83 kota dan kabupaten di Indonesia.

Pembentukan Keluarga Kita ini berdasarkan keyakinan Najelaa bahwa peranan keluaga dalam pendidikan awal anak harus mendapatkan perhatian khusus, agar orang tua terus belajar mencintai lebih baik lagi dan dapat mempersiapkan anak untuk terjun ke masyarakat luas.

 

Pendidikan Juga Urusan Keluarga

Hampir dalam setiap inisiatif gerakannya, Najelaa memberdayakan teknologi untuk memudahkan penyebaran konten dan inisiasi gerakannya. Seperti Keluarga Kita yang rutin berbagi cerita dan konten pengasuhan anak lewat layanan online mulai dari BBM, Facebook, hingga Instagram.

Ada juga kanal YouTube miliknya ‘Semua Murid, Semua Guru’ yang berisi vlog (video blog) yang tentu saja tidak jauh dari dunia pendidikan. Salah satu materinya adalah Hidup Bersama Alquran yang membahas topik keluarga dan anak dalam perspektif Islam bersama sang ayah, Quraish Shihab.

Selain aktif melalui berbagai gerakan, ia juga mendirikan dan menjadi Dewan pembina Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), sebuah institusi independen yang melakukan penelitian, advokasi, dan publikasi terkait kebijakan pendidikan bersama rekan sejawat di dunia pendidikan yang berdiri di tahun 2015.

Gebrakan lain yang dilakukan oleh perempuan kelahiran Solo ini dengan membentuk Sinedu.id—sebuah kolaborasi dengan insan perfilman dan pegiat pendidikan untuk meningkatkan literasi dan apresiasi film sebagai sumber pembelajaran dalam konteks sekolah.

Selain menyediakan film, ada juga modul yang bisa digunakan guru dan orang tua untuk menyampaikan materi pembelajaran lewat film dan aktivitas menyenangkan. Beberapa film yang tersedia adalah Keluaga Cemara, Cantik dan Berani, Seikat Jiwa, dan lain-lain.

Bersamaan dengan Sinedu.id, ia membentuk Youthmanual.com sebagai platform online yang menyediakan database dan penilaian minat untuk semua pelajar untuk mengeksplorasi tujuan masa depan, minat dan pilihan kuliah serta karier.

Kegiatan lain yang digagasnya adalah Pesta Pendidikan, yang mempertemukan ratusan organisasi dan komunitas dari berbagai pemangku kepentingan pendidikan Indonesia, mulai dari pemerintah, organisasi masyarakat, komunitas, hingga pihak swasta untuk akselerasi perubahan pendidikan.

Di tahun pertama pendiriannya, Pesta Pendidikan hanya tersentral di Jakarta. Tapi di tahun 2017, mulai menyebar ke beberapa kota, seperti Jakarta, Makassar, Ambon, Bandung, dan Yogyakarta.

Selain sangat aktif dan getol sebagai pegiat pendidikan, ia pernah mendirikan penerbit buku bertopik agama Islam Lentera Hati di tahun 1999 dan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) pada 2007 sebagai perkumpulan ibu yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan informasi tentang menyusui, serta meningkatkan persentase ibu menyusui di Indonesia.

Terjun di pendidikan membuatnya sadar bahwa ia seperti maraton jangka panjang. Harus sabar karena hasilnya yang tidak serta merta instan, seperti merawat cinta.

           

           

           



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi