Mira Lesmana

Mira Lesmana
Sumber: Bobo - Grid.id
Profesi Produser Film, Founder Miles Films
Tempat lahir Jakarta
Tgl Lahir 08-08-1964

Masa Kecil

Mira Lesmana seringkali disandingkan dengan Pianis Jazz Indra Lesmana. Tidak salah memang karena keduanya adalah kakak adik. Putri pertama mendiang Jack Lesmana dan mendiang Nies Lesmana ini lahir di Jakarta, 8 Agustus 1964. Lahir dari keluarga musikus dimana ayahnya dikenal sebagai Godfather Jazz Indonesia dan ibunya adalah penyanyi kondang, rupanya tidak menarik minat Mira untuk mengikuti jejak mereka.

Sejak kecil ia sudah ikut les privat piano tapi tidak menunjukkan perkembangan signifikan. Bertahun-tahun belajar ia merasa tidak pintar dan mulai berpikir bahwa bakatnya bukanlah di sana. Meski demikian, ia memiliki ketertarikan sebagai penulis lagu.

Hobi membaca dan mendengarkan dongeng dari guru SD-nya. Kebiasaan ini yang membuatnya tertarik pada sastra dan tulisan. Cita-citanya semasa kecil adalah menjadi seorang ilmuwan atau detektif. Nilai-nilainya di sekolah membuatnya sering menjadi juara kelas semasa sekolah. Film besutan George Lucas, Star Wars Episode IV: A New Hope (1977), mengubah arah cita-citanya. Ia terinspirasi untuk menjadi pembuat film setelah menonton film ini.

Di usia 16 tahun, Indra memintanya untuk membantu proses penulisan lirik lagu. Kolaborasi dengan melodi piano yang diciptakan Indra ternyata membuahkan hasil. Lagu pertama yang ditulis Mira ini berhasil mengantarkan Indra mendapatkan beasiswa di New South Wales Conservatorium of Music di Australia.

Tahun 1979, Mira sekeluarga pindah ke Australia untuk menemani Indra yang sekolah di sana. Ketertarikan Mira pada film semakin bertambah ketika tinggal di Sydney, Australia.

Sepulang sekolah, ia hampil selalu menonton film, entah itu di bioskop atau di rumah bersama orang tuanya. Kadang saking asyiknya nonton film, ia jadi pulang telat dan minta dijemput oleh ayahnya di stasiun. Ia sendiri termasuk penonton yang tidak pilih-pilih. Drama, komedi, action, atau genre lain akan ditontonnya sepanjang jalan ceritanya bagus.

Meskipun belajar bahasa Inggris di Indonesia sebelumnya, Mira tetap saja merasa kesulitan dengan aksen Australia di waktu-waktu awal kedatangannya. Hobi nonton filmnya secara tidak langsung berguna untuk membantunya belajar bahasa Inggris, selain dari buku cerita. Melihat tamu-tamu ayahnya yang sering bertandang ke rumah, semakin memotivasinya untuk lancar berbahasa Inggris agar bisa mengobrol dengan mereka.

Dari sekedar menonton film untuk hiburan, lama-lama rasa ingin tahunya berkembang. Ibu dua anak ini jadi tertarik untuk mengetahui proses dan tokoh dibalik pembuatan sebuah film.

“Saya bilang ke orang tua bahwa kalau saya selesai sekolah, saya mau jadi pembuat film. Mereka mengizinkan lalu menyuruh saya sekolah film,” ujarnya dikutip dari Tokoh Indonesia.

Lulus SMA dari Australia International Independent School, ia memutuskan untuk lanjut studi ke sekolah film di Australia. Tapi niat tersebut urung dilaksanakan karena bertepatan dengan lulusnya Indra dari beasiswa pendidikan musiknya yang berarti harus kembali ke Indonesia.

Ia memutuskan untuk kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mengambil jurusan Penyutradaraan di tahun 1983. Dua tahun membekali diri dengan ilmu sutradara film, ia memutuskan untuk langsung praktik dengan terjun ke dunia periklanan. Empat tahun jadi asisten produser, ia kemudian naik pangkat jadi produser.

Pengalaman pertamanya di produksi film adalah ketika membuat iklan layanan masyarakat bersama Sutradara Garin Nugroho. Berbagai iklan kreatif untuk berbagai brand telah dibuatnya sepanjang kariernya di dunia iklan.

Perjalanan cintanya juga cukup mulus. 14 Februari 1990, ia resmi dipinang aktor muda populer masa itu, Mathias Muchus. Setelah menikah, ia mencoba untuk menulis lagu seperti yang pernah dilakukannya semasa remaja. Ia menulis beberapa lagu untuk adiknya dan satu lagu untuk album penyanyi Chrisye, Sendiri Lagi (1993).

Berkutat selama delapan tahun di dunia periklanan tidak membuat mimpinya untuk menjadi orang dibali layar film benar-benar luntur. Ia memutuskan untuk banting setir ke dunia perfilman dengan mendirikan Miles Films pada Maret 1995 bersama Riri Riza.

 

Mira dan Film-filmnya

Di awal berdirinya, Miles Films fokus memproduksi film-film televisi dan dokumenter. Mira dan Riri membuat wadah pelatihan bagi para seniman muda berbakat yang ingin sukses membuat video musik dan iklan TV.

Reputasi Miles Films meroket berkat kesuksesan Mira menyutradarai seri dokumenter berjudul Anak Seribu Pulau yang terdiri dari 13 episode. Dokumenter ini disiarkan di lima stasiun televisi swasta dan mendapat sambutan baik dari berbagai kalangan masyarakat dan kritikus film.

Usai dengan Anak Seribu Pulau, dia mulai tertarik untuk memproduksi film panjang. Kuldesak (1999) dipilih menjadi judul filmnya dan diproduksi selama tiga tahun. Debut film panjang perdana Miles Films ini tidak dikerjakan sendiri oleh Mira. Ia menggandeng Riri Riza, Rizal Mantovani, dan Nan T. Achnas untuk menyutradarai film ini.

Film yang dirilis di tengah masa kelesuan film Indonesia akibat reformasi ini menjadi salah satu film yang berhasil mengangkat gairah dunia perfilman. Dikerjakan oleh para sineas handal, menjadikan film ini berhasil meraih beberapa penghargaan, salah satunya dari Forum Film Bandung dan Festival Film Cine Club. Selain itu, Kuldesak masuk dalam nominasi Best Asian Feature Film dalam Silver Screen Award di Singapore International Film Festival 1999.

Setelah Kuldesak, Mira mencoba genre baru. Drama musikal anak-anak menjadi pilihannya untuk publik. Petualangan Sherina (2000) yang dibintangi Sherina Munaf dan Derby Romero ini menuai kesuksesan fenomenal hingga meraup 16 juta penonton. Generasi Milenial mana yang tidak kenal dengan film ini?

Kesuksesan ini tidak sedikit mengundang cibiran yang skeptis menilai prestasi ini hanya kesuksesan semalam. Tapi Petualangan Sherina berhasil membuka mata para sineas bahwa kemampuan industri perfilman lokal menunjukkan tren positif dan masih punya tempat di hati masyarakat.

Setelah hampir dua dekade berlalu, film ini masih menjadi salah satu film musikal anak-anak terbaik di masanya. Tidak sedikit penonton yang meminta adanya sekuel film tersebut ketika beberapa hari lalu Derby mengunggah foto kebersamaan mereka di akun Instagram pribadinya.

Sebagai sineas, Mira berusaha ingin menyentuh berbagai kalangan dan usia oleh karya-karyanya. Setelah bermain di genre anak-anak, Mira mencoba menjajal genre romansa remaja. Lalu lahirlah Ada Apa dengan Cinta? (2002) yang disutradarai Rudy Soedjarwo ini. Film yang digandrungi pada masanya itu berhasil melambungkan nama Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra sebagai aktor.

Tidak hanya menjadi buah bibir. Ada Apa dengan Cinta? juga mengukir prestasi. Di Festival Film Indonesia (FFI) 2004, film ini membawa pulang Piala Citra untuk Tata Musik Terbaik, Aktris Terbaik, dan Sutradara Terbaik.

Di tahun-tahun berikutnya, Mira memproduseri Eliana, Eliana (2002), Rumah Ketujuh (2003), Gie (2005) yang mengangkat kisah aktivis Soe Hoek Gie dari buku Catatan Seorang Demonstran, Untuk Rena (2006), Garasi (2006), dan 3 Hari untuk Selamanya (2007).

2008 menjadi masa keemasan lagi bagi Mira dimana Laskar Pelangi yang diadaptasi dari novel Andrea Hirata berjudul sama itu benar-benar laris manis di pasaran. Film ini menarik 4.719.453 penonton dan menjadi film Indonesia dengan jumlah penonton tertinggi selama delapan tahun, yang kemudian digeser oleh Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 dengan 6.868.616 penonton.

Beberapa Judul Film yang Digarap oleh Miles Films (Sumber: Whiteboard Journal)

Petualangannya sebagai produser terus berlanjut. Sang Pemimpi (2009), Atambua 39 Derajat Celcius (2012), Sokola Rimba (2013), hingga Pendekar Tongkat Emas (2014). Film terakhir yang disebutkan ini menjadi perbincangan hangat di masa itu karena mengusung genre berbeda dari film Indonesia lainnya waktu itu.

Film yang diperankan Christine Hakim dan Tara Basro ini ditayangkan di beberapa festival film mancanegara seperti Singapore International Film Festival 2016, 19th Bucheon International Fantastic Film Festival 2015, dan Fukuoka International Film Festival 2015.

Setelah 14 tahun berlalu, Mira kembali melanjutkan kisah cinta Rangga dan Cinta dalam Ada Apa dengan Cinta? 2 (2016). Kembali diperankan oleh Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra, film ini berhasil membawa generasi milenial nostalgia dan jauh lebih sukses daripada film pertamanya karena berhasil menjadi film Indonesia terlaris kedua tahun 2016 dengan raihan penonton sejumlah 3.665.509 penonton.

Setelah itu ada juga film-film lain seperti Athirah (2016), Kulari ke Pantai (2018), Milly & Mamet (2018), dan yang terbaru adalah Bebas (2019) yang merupakan adaptasi dari film Korea Selatan berjudul Sunny.

 

Miles Films dalam Industri Perfilman

Mendirikan rumah produksi di saat industri film Tanah Air sedang mati suri merupakan tantangan tersendiri bagi para sineas film. Mira sendiri selaku produser Miles Films lebih memilih untuk menekankan kualitas film dan menjunjung tinggi proses kerja. Maka dari itu, jika melihat film-film yang sudah diluncurkan Miles Films, terlihat polanya jika Mira hanya meluncurkan film setahun sekali.

Meskipun tidak seproduktif perusahaan film lainnya, Mira dan Riri berprinsip bahwa film tidak hanya laku dan menghibur saja. Jika tidak membawa kualitas yang mumpuni, tentunya lambat laun akan ditinggal oleh penonton.

Produksi film dengan mass audience appeal sendiri tentu harus memikirkan profitnya sebagai tujuan bisnis disamping sebuah karya seni. Ia sendiri telah menetapkan sejak awal mendirikan Miles Films bahwa setiap karya yang diproduksi bukan disetir oleh pasar, tapi justru memunculkan permintaan pasar. Inilah yang memotivasinya untuk selalu menyajikan sesuatu yang baru.

Memilih bekerja di balik layar sebagai perencana film, data dan pengalaman yang kuat menjadi bekalnya untuk bisa bertahan di industri ini. Selain memiliki insting kuat, seorang produser juga harus sadar bahwa keberhasilan sebuah film ada pada skenario, aktor, kru, penunjang promosi, dan promosinya itu sendiri.

Menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di dunia perfilman di Tanah Air, membuat Mira yakin bahwa film yang berkualitas tentunya akan menjadi bahan pembicaraan positif dan mampu menarik massa. Masih ada jalan panjang bagi negeri ini untuk memajukan industri perfilman menjadi kelas dunia seperti yang sedang dilakukan oleh Korea Selatan saat ini.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi