Minarni Soedarjanto

Minarni Soedarjanto
Sumber: Cewekbanget.id
Profesi Atlet Bulu Tangkis
Tempat lahir Pasuruan
Tgl Lahir 10-05-1944
Tgl Meninggal 14-05-2003

Hari ini Google Doodle menampilkan gambar kartun seorang perempuan sedang melakukan smash bulu tangkis untuk merayakan ulang tahun atlet bulu tangkis lawas kawakan Indonesia, Minarni Soedarjanto.

Mungkin bagi millenial sosok ini tidak setenar Liliyana Natsir atau Susy Susanti. Tapi jangan salah, prestasi-prestasinya di dunia tepok bulu tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan ia dijuluki sebagai “Ratu Bulu Tangkis” dan “The Real Badminton Queen” di beberapa negara Asia di masanya jauh sebelum Susi Susanti.

Lalu, seperti apa sosok Minarni Soedarjanto ini yang berhasil mengharumkan nama bangsa di eranya?

 

Karier Bulu Tangkis Minarni

Minarni Soedarjanto lahir di Pasuruan, 10 Mei 1944. Dari keterangan Ensiklopedia Indonesia, ia mulai bermain bulu tangkis sejak usia 13 tahun sebagai pemain tunggal. Prestasinya terus moncer sejak ia bermain membela Pasuruan hingga Provinsi Jawa Timur.

Gelar nasional perdananya diraih pada tahun 1959 di Kejuaraan Nasional di Malang saat masih berusia 15 tahun. Di tahun yang sama, ia terpilih masuk timnas Indonesia untuk kualifikasi Piala Uber-kompetisi bulu tangkis paling bergengsi untuk beregu putri dunia.

Tapi sayangnya Indonesia yang saat itu masuk dalam Zona Australanasian, langsung kandas di awal setelah kalah 2-5 dari Australia di Melbourne sehingga tidak bisa tampil di puncak acara di Philadelphia, Amerika Serikat. Kegagalan Indonesia terus berulang secara beruntun pada keikutsertaan berikutnya, yaitu 1963, 1966, dan 1969.

Kegagalan bersama tim Uber tidak lantas menghalangi Minarni mengukir prestasi tepok bulu di ajang lainnya. Prestasi internasionalnya mulai terlihat moncer di ajang Asian Games 1962 Jakarta.

Saat Asian Games 1962, Minarni menyapu bersih medali emas untuk kategori tunggal putri, ganda putri bersama Retno Kustijah, dan beregu putri bersama Goei Kiok Nio, Happy Herowati, Corry Kawilarang, dan Retno Kustijah. Bisa dibilang Minarni/Retno Koestijah sebagai pasangan ganda putri yang cukup rajin menyumbang medali bagi merah putih.

Di ajang Badminton Asia Championship yang perdana dimulai pada tahun 1962, Minarni juga berhasil mempersembahkan medali emas perdana di sektor tunggal putri dan medali perunggu di sektor ganda putri bersama Retno Koestijah untuk merah putih.

Di Asian Games 1966 Bangkok, ia membawa pulang medali emas di sektor ganda putri dan medali perunggu di sektor tunggal putri, ganda campuran, dan beregu putri. Juga di Asian Games 1970 Bangkok ia harus puas hanya meraih medali perunggu untuk tunggal putri, ganda campuran, dan beregu putri.

Seangkatan dengan atlet Rudy Hartono, PBSI (Persatuan Bulu tangkis Seluruh Indonesia) juga ikut mengirimnya untuk berlaga di All England 1968. Disini ia berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih medali perak tunggal putri dan ganda putri yang meraih juara.

Minarni menjadi pemain bulu tangkis putri Indonesia pertama yang bisa menembus babak final All England, yang menjadi kejuaraan bulu tangkis tertua dan paling prestisius di dunia.

Dia juga perkasa di ajang Malaysia Open yang pernah tiga kali juara di sektor tunggal putri (1960, 1966, 1967) dan dua kali juara ganda putri bersama Retno Koestijah (1966 dan 1967).

Ia juga pernah merasakan kemenangan di US Open 1969 di sektor tunggal putri dan ganda putri. Di Canada Open 1969 ia meraih juara di ganda putri dan ganda campuran bersama Darmadi.

Di turnamen dalam negeri, ia pernah menjadi juara dua kali di sektor ganda putri pada PON 1961 duet dengan Nyoo Koen Nio dan PON 1969 berpasangan dengan Utami Dewi.

Dengan berbagai prestasi moncernya di skala internasional, Minarni sudah bergelar “Ratu Bulu Tangkis” jauh sebelum Susi Susanti lahir. Saat ia ikut kunjungan persahabatan ke Jepang pada Februari 1966, surat kabar Nikkan Sport menyebutnya sebagai “Badminton Queen”. Media cetak tersebut menulis khusus tentang Minarni yang juga mereka sebut “Kawai Anoko Minarni” atau “Nona Manis Minarni”.

Di tengah puncak popularitasnya sebagai atlet bulu tangkis, Minarni justru memutuskan untuk gantung raket karena menikah dengan R. Soedarjanto, adik dari Retno Koestijah pada 11 Februari 1971.

Banyak yang menyayangkan keputusannya ini di tengah tim bulu tangkis Indonesia sendiri belum semoncer dirinya prestasinya. Selain itu, ia pensiun saat masih di tengah puncak karier yang seharusnya masih bisa berlaga membela merah putih di lapangan bulu tangkis.

Tapi rupanya di tengah masa pensiunnya, Minarni masih penasaran dengan Piala Uber lantaran belum pernah mencicipi menjadi juara di ajang tersebut. Empat kali tim Indonesia ikut di ajang tersebut, tim beregu putri harus puas hanya membawa pulang medali perak di Piala Uber Tokyo 1969.

Pikiran untuk comeback terus menggelayut di benaknya setelah menikah dan pensiun. Separuh hidupnya telah dihabiskan untuk bermain badminton membuatnya susah untuk meninggalkan begitu saja.

Selain ingin kembali ke lapangan, si nona manis ini sempat terpikir untuk menjadi pelatih bulu tangkis. Rupanya dewi fortuna berpihak kepadanya. Ia justru mendapatkan kedua kesempatan tersebut sekaligus, menjadi asisten pelatih dan pemain, kala dipercaya PBSI pada tahun 1974. Waktu itu, PBSI tengah mencanangkan program pemberdayaan untuk masa depan pebulu tangkis.

 

Piala Uber 1975

Rasa penasarannya untuk menaklukkan Piala Uber akhirnya tersalurkan di ajang Piala Uber 1975 yang digelar di Istora Senayan, Jakarta. Ibu tiga anak ini didapuk menjadi kapten tim berpasangan dengan pemain senior lainnya, Regina Masli. Sementara itu, rekan duetnya di lapangan, Retno Koestijah telah mundur dari lapangan.

Tim putri Indonesia pada Piala Uber 1975 diperkuat oleh kombinasi pemain senior dan junior seperti Imelda Gunawan (23), Theresia Widyastuty (21), Taty Sumirah (22), Utami Dewi (23), Minarni Soedarjanto (31), dan Regina Masli (35). Kombinasi tim beregu putri tersebut berjalan mulus hingga di babak final.

Di partai puncak, Indonesia bersua dengan juara bertahan Jepang yang menjadi salah satu bintang bulu tangkis putri era ‘70an. Selain masyarakat Indonesia, jarang yang menjagokan Indonesia. Hal itu terbukti dimana Jepang menang di tiga partai awal dalam final tersebut.

Minarni/Regina bermain dua kali dalam final tersebut. Pertama, mereka turun di partai keempat melawan Etsuko Takenaka/Machiko Aizawa. Minarni/Regina menang tiga set: 15-4, 6-15, dan 15-9. Kemenangan itu berhasil menyamakan skor menjadi 2-2.

Indonesia mampu membalik keadaan dengan unggul 3-2 berkat kemenangan Imelda/Theresia di partai kelima. Minarni/Regina turun lagi menjadi penentu Indonesia berhasil menjadi juara atau tidak di partai penentu, partai keenam.

Dilansir dari Media Indonesia edisi 7 Juni 1975, Minarni/Regina akhirnya membuat kejutan di mana Piala Uber resmi digenggam tuan rumah setelah menang dua set, 15-8 dan 15-11 atas pasangan Jepang Ikeda/Yuki.

Dari kemenangan tersebut, Indonesia mampu mengungguli Jepang 4-2. Di partai pamungkas, Imelda/Theresia kembali menang atas Takenaka/Aizawa dan melengkapi skor Indonesia menjadi 5-2.

Minarni dan tim memenangkan Piala Uber 1975 setelah mengalahkan timnas Jepang di Istora Senayan (Sumber: MerahPutih)

Piala Uber 1975 tidak hanya meninggalkan kesan mendalam bagi rakyat Indonesia yang berhasil membawa trofi kemenangan untuk pertama kalinya, tetapi juga menjadi penutup karier yang manis bagi “Ratu dari Segala Ratu Bulu Tangkis”.

 

Masa Pensiun

Minarni benar-benar gantung raket dan tidak kembali ke lapangan usai Piala Uber 1975. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa hidupnya tidak bisa jauh-jauh dari raket dan kok. Di tahun 1980, ia masuk ke PBSI DKI Jakarta.

Sambil berbisnis perkayuan, ia juga menjalankan sebuah event organizer (EO) bernama Gematama Kreasindo bersama putrinya Shanti. EO ini bergerak di bidang olahraga dengan mengadakan turnamen bulu tangkis junior yang tidak berhubungan dengan PBSI.

Sejak tahun 2001, EO miliknya rutin menggelar Milo Indonesia Open Junior (MIOJ) untuk mencari generasi muda penerus bulu tangkis dan mendongkrak budaya bulu tangkis dalam kehidupan masyarakat.

Di awal pelaksanaan MIOJ yang seharusnya diikuti puluhan negara, terganggu oleh gejolak politik antara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) denga parlemen. Alhasil hanya tiga negara yang hadir dalam turnamen tersebut: Malaysia, Jepang, dan Brunei Darussalam.

Kecintaan dan dedikasi Minarni pada bulu tangkis tidak pernah luntur hingga ia harus menyerah dengan penyakit pneumonia (radang paru-paru) dan liver yang dideritanya. Ia  menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pusat Pertamina pada Rabu pagi, 14 Mei 2003. Jasad perempuan berusia 59 tahun itu dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan pada hari yang sama.

Selamat ulang tahun nona manis Minarni Soedarjanto. Terima kasih telah membuka pintu prestasi bulu tangkis Indonesia di kancah dunia.

 

 

 

Sumber:

https://historia.id/olahraga/articles/nona-manis-jagoan-bulutangkis-PMLqw

https://www.genpi.co/berita/10792/google-doodle-minarni-soedarjanto-prestasinya-bikin-nganga

https://id.wikipedia.org/wiki/Minarni_Soedaryanto

https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20180804213257-170-319582/bulutangkis-indonesia-berjaya-di-asian-games-1962

https://www.cafeteria.id/2019/05/google-doole-hari-ini-minarni.html

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20190510125129-33-71697/sosok-minarni-soedarjanto-atlet-badminton-di-google-doodle

https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20190510071037-170-393593/google-doodle-tampilkan-legenda-bulutangkis-indonesia

https://www.devdiscourse.com/article/sports-games/509381-google-honours-minarni-soedarjanto---queen-of-all-badminton-queens---with-a-doodle



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi