Michael Bambang Hartono & Robert Budi Hartono

Michael Bambang Hartono & Robert Budi Hartono
Sumber: Tribunnews.com
Profesi Pemilik Djarum dan BCA
Tempat lahir Kudus
Tgl Lahir 02-10-1939

Sebagai Tionghoa perantauan, hidup mati mereka adalah berdagang. Begitu pula Oei Wie Gwan ketika tiba di Kudus, Jawa Tengah. Ia pernah mendirikan pabrik mercon cap “Leo” hingga diekspor ke luar negeri. Tapi nahasnya pabrik terbakar.

Tidak ingin menyerah, ia kemudian bangkit lagi untuk berdagang. Tidak jauh dari barang yang dibakar, ia memilih untuk membeli pabrik kretek bernama Djarum Gramophon di tahun 1951. Kala itu pabrik Djarum hanya memiliki sepuluh orang pegawai, kadang kala ia ikut melinting rokok selepas siang bersama pegawai lainnya.

Lagi-lagi musibah datang menghantam bisnisnya. Pabriknya kembali terbakar dan ia tidak lama kemudian meninggal di tahun 1963. Dua anaknya, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, yang saat itu sedang kuliah ekonomi di Universitas Diponegoro, Semarang, terpanggil untuk kembali pulang dan melanjutkan tonggak bisnis sang ayah. Mereka berdua bahu-membahu meneruskan bisnis rokok dan perlahan tapi pasti, Djarum mulai berkembang pesat.

Produk Djarum sendiri adalah rokok kretek lintingan tangan dan rokok lintingan mesin yang sangat populer dan diproduksi dalam skala besar. Rokok kretek lintingan tangan tetap dikerjakan secara manual oleh buruh terampil.

Sedangkan rokok klintingan mesin mulai diperkenalkan ke pasaran pada awal tahun 1970 diproduksi otomatis menggunakan mesin berteknologi tinggi. Di tahun yang sama, Djarum mendirikan Research and Development Center untuk pengembangan rokok dan juga persiapan ekspor.

Tahun 1972, rokok Djarum memasuki pasar ekspor ke beberapa negara, seperti Korea Selatan, Jepang, Belanda, Amerika Serikat, Australia, Rusia, dan Republik Rakyat Tiongkok. Djarum Super diperkenalkan tahun 1981 dan diikuti Djarum Special diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun 1983.

Contoh Produk Rokok Keluaran Djarum (Sumber: onlinebisnisnews.blogspot.com)

Hingga saat ini, beberapa merk Djarum untuk pasar internasional, seperti Djarum Cherry, LA Menthol Lights, Djarum Menthol, LA Lights, Djarum Vanilla, Djarum Black Supersmooth, dan Djarum Black Menthol Supersmooth telah menguasai tujuh puluh persen pasar rokok kretek internasional.

 

Polytron, Rajanya Elektronik Lokal

Sukses di industri tembakau, Michael dan Robert mulai melirik industri lain untuk memperluas imperium bisnisnya. Tahun 1978, mereka mulai mencoba bermain di industri elektronik dengan memproduksi barang elektronik yang dikenal dengan merek Polytron.

Produk pertama yang diproduksi Polytron adalah TV hitam putih, yang dilanjutkan TV berwarna setahun kemudian. Polytron cukup diterima masyarakat karena kualitas produknya yang mumpuni dan harga yang masih bersaing dengan produk elektronik lainnya. Bahkan merek ini sendiri masih ada yang mengira bahwa ini berasal dari Jepang, bukan dari dalam negeri.

Di tahun 1990, Polytron berhasil menguasai pangsa pasar perangkat elektronik audio sebanyak lima puluh persen dan membuatnya menjadi merek nomor satu di tanah air. 1992, Polytron mulai merambah ranah ekspor dengan mengeskpor TV berwarna ke beberapa negara Eropa.

Memasuki tahun 2000-an, produk Polytron semakin meluas. Tidak hanya bermain di TV dan perangkat audio, tapi mulai memproduksi DVD Player, water dispenser, water jet pump, lemari es, LCD/LED TV, AC (Air Conditioner) atau pendingin udara, serta mesin cuci.

Tahun 2013, Polytron pertama kalinya meluncurkan smartphone Prime 5 sebagai produk flagship dari Polytron Smartphone, kemudian dilanjutkan dengan perilisan Zap 5 yang sudah dilengkapi teknologi 4G LTE, serta yang terakhir adalah Prime 7 Pro di tahun 2018.

Polytron sendiri sebagai merek produk elektronik lokal mampu membuktikan eksistensinya bisa bersaing dengan merek-merek lain asal Tiongkok, Jepang, maupun Eropa. Beberapa penghargaan seperti Top Brang Award, Indonesia Global Brands 2017, Best Brand Platinum 2018 by SWA Magazine pernah diraih oleh perusahaan yang dibawah naungan PT Hartono Istana Teknologi ini.

 

Bisnis Properti dan Perbankan

Sebagian besar taipan di Indonesia telah membuktikan bahwa bisnis properti selalu menjadi ladang yang menggiurkan dan menghasilkan banyak keuntungan. Rupanya Hartono bersaudara juga tidak ingin ketinggalan untuk mencicipi manisnya kue bisnis properti di tanah air.

Di sektor properti, mereka eksis melalui beberapa perusahaan, antara lain Puri Cugni, Graha Padma Internusa, Cipta Karya Bumi Indah, Bukit Muria Jaya Estate, Fajar Surya Perkasa, dan Nagaraja Lestari.

Puri Cugni mengelola Hotel Malya Bandung dan Sekar Alliance Hotel Management yang kini sudah berganti Padma Hotels dan mengelola empat hotel di Legian, Ubud, Bandung, dan Karawang.

Sementara itu, Fajar Surya Perkasa fokus membangun Mal Daan Mogot. Sedangkan Nagaraja Lestari membangun pusat belanja dan grosir Pulogadung Trade Center.

Lewat Inti Karya Bumi Indah, mereka membangun Whole Trade Center (WTC) Mangga Dua. Selain itu, megaproyek Grand Indonesia yang bertempat di bekas lokasi Hotel Indonesia juga dibangun melalui perusahaan ini.

Djarum mendapat konsesi pengelolaan kawasan di jantung ibu kota dengan model built operation transfer (BOT) berdurasi tiga puluh tahun. Renovasi dari Hotel Indonesia itu saat ini ada gedung perkantoran 57 lantai, apartemen, pusat perbelanjaan, dan hotel.

Djarum Group sendiri awalnya memiliki Bank Haga dan Bank Hagakita di sektor perbankan semasa pemerintahan Orde Baru. Ia semakin agresif saat masuk dalam konsorsium Faralon Investment Limited yang membeli BCA di tahun 2002.

Awalnya porsi kepemilikan saham Djarum sebesar 10% di BCA. Di tahun 2007, ia meningkatkan lagi porsi sahamnya menjadi 47,15% dan 51% pada Desember 2010. Sebelum menambah porsi saham yang terakhir di BCA, Djarum melego sahamnya di Bank Haga dan Bank Hagakita.

BCA sendiri awalnya dimiliki oleh Liem Sioe Liong atau yang dikenal Sudono Salim, pendiri Salim Group yang meliputi Indofood, Indomobil, Indosiar, Indocement, Indomaret, dan Indomarco.

Liem Sioe Liong sendiri merupakan kawan Oei Wie Gwan, ayah dari Bambang dan Rudi Hartono. Mereka dulunya pernah sama-sama mencari makan di Kudus, namun Liem lebih dulu hijrah ke Jakarta. Di saat bisnis Liem semakin gemilang di era Soeharto, Michael dan Robert pun semakin melebarkan sayapnya di dunia bisnis.

 

Bisnis Digital

Ketika internet dan bisnis di dunia digital mulai bermekaran di tanah air, insting bisnis mereka pun muncul. Lewat Global Digital Prima (GDP), di tahun 2011 mereka menggandeng Kaskus, forum komunitas maya Indonesia, untuk menjadi mitra yang akan menerima pendanaan dan mentoring bisnis.

Selain membeli Kaskus, GDP meluncurkan Blibli.com, online marketplace terkemuka yang menyediakan platform perdagangan elektronik, pakaian, hingga kebutuhan sehari-hari. Tak hanya Blibli.com, ada juga bisnis online lain seperti Kumparan, DailySocial, Merah Putih Inc, litasberita.com, dan krazymarket.com

Di sektor media online, Kumparan dikenal sebagai salah satu media online yang cukup bersaing ketat di tengah banyaknya media-media online yang bermunculan. Wishnutama, mantan petinggi Trans TV dan NET TV, sendiri juga termasuk dalam jajaran komisaris Kumparan.

GDP sendiri saat ini dikelola oleh Martin Hartono, putra Robert Budi Hartono. Dan Blibli.com diketahui telah menjadi menjadi sponsor utama Indonesia Open 2018 dan 2019 lalu. GDP sendiri diketahui pernah mengucurkan dana investasi ke startup unicorn Gojek bersamaan dengan investasi yang dilakukan oleh Astra. Investasi ini diperkirakan mencapai triliunan rupiah.

 

Djarum Foundation

Djarum Foundation bisa dibilang sebagai bentuk CSR (corporate social responsibility) Djarum Group yang dimulai dari kegiatan Bakti Sosial di Kudus tahun 1951. Beragam kegaiatan sosial di berbagai bidang seperti olahraga, pendidikan, lingkungan, dan budaya telah dilakukan sebagai bentuk kepeduliannya terhadap Indonesia.

Namun akhirnya, Djarum Foundation berdiri sendiri menjadi sebuah organisasi nirlaba yang diresmikan pada 1986. Saat ini, Victor Hartono, putra Budi Hartono, menjabat sebagai Presiden Direktur Djarum Foundation.

Hartono bersaudara dikenal memiliki ketertarikan pada dunia olahraga. Budi Hartono yang menyukai bulutangkis, akhirnya mendorong lahirnya Perkumpulan Bulutangakis Djarum atau biasa disingkat PB Djarum.

Sementara itu, sang kakak, Michael Bambang Hartono menyukai olahraga bridge yang mengantarkannya sebagai peraih perunggu pada Asian Games 2018 dan beberapa kejuaran bridge dunia.

Michael Hartono menerima penghargaan dari World Bridge Foundation tahun 2017 atas upayanya untuk memasukkan bridge ke dalam salah satu daftar cabang olahraga yang dilombakan di Asian Games.

PB Djarum sendiri awalnya hanya kegiatan penyaluran hobi karyawan pabrik rokok Djarum di Kudus di sore hari menggunakan brak (tempat melinting rokok) di Bitingan Lama. Maka pada tahun 1969, brak di Jalan Bitingan Lama (sekarang Jalan Lukmonohadi) No. 35 – Kudus digunakan sebagai tempat berlatih bulu tangkis di bawah nama Komunitas Kudus.

Gor Jati dan Asrama Atlet PB Djarum di Kudus (Sumber: Kumparan)

Namun di tahun 1970, yang ikut berlatih di sana bukan hanya karyawan Djarum, melainkan juga pemain dari luar. Dari sana lahir idel awal pembinaan Djarum dalam dunia bulu tangkis dalam menyumbang pemain nasional dimulai.

Prestasi Liem Swie King menjadi Juara Tunggal Putra Junior di Piala Munadi menjadi prestasi pertama nasional PB Djarum di tahun 1972. Akhirnya, PB Djarum Kudus pun diresmikan dua tahun kemudian dan diketuai oleh Setyo Margono.

1974, PB Djarum Semarang diresmikan diikuti dengan prestasi Liem Swie King di partai puncak All England, yang sayangnya digagalkan oleh Rudy Hartono. PB Djarum mulai mendapat perhatian kala Liem Swie King menjadi pemain PB Djarum pertama yang meraih gelar Juara Tunggal Putra All England 1978.

Prestasi ini tidak hanya berhenti di Liem Swie King. Kartono/Heryanto menjadi pasangan ganda putra yang berhasil menjuarai ganda putra All England 1984. Ada pula pemain nasional terkenal lainnya seperti Christian Hadinata, Alan Budikusuma yang meraih emas di Olimpiade 1992, Haryanto Arbi, Sigit Budiarto, Chandra Wijaya, Liliyana Natsir, Kevin Sanjaya Sukamuljo, Jonathan Christie, dan Anthony Sinisuka Ginting.

Pendidikan untuk atlet-atlet bulu tangkis sangat diperhatikan oleh Djarum, dimana ia membina anak-anak sejak dini untuk menjadi bibit unggul atlet bulu tangkis. Mereka bekerja sama dengan beberapa sekolah di sekitar PB Djarum agar anak-anak atlet binaan mereka tetap bisa berlatih dan belajar di sekolah dengan waktu yang lebih fleksibel.

Selain itu, setiap tahunnya PB Djarum juga rutin mengadakan Penjaringan Bakat Audisi PB Djarum untuk meregenerasi atlet-atlet bulu tangkis nasional, dan mencari bakat unggul anak-anak untuk digembleng menjadi atlet nasional berprestasi hingga kancah internasional.

Anak-anak yang lolos dalam pencarian bakat PB Djarum akan mendapat beasiswa bulu tangkis PB Djarum berupa asrama, pelatihan bulu tangkis dengan fasilitas dan instruktur yang memadai, perlengkapan bulu tangkis, makanan bergizi, perpustakaan, komputer, hingga akses internet.

Konsistensi PB Djarum dalam membina bakat muda atlet bulu tangkis terbukti mampu menyumbang atlet-atlet nasional berkualitas yang berhasil menjadi juara dunia, seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo yang saat ini tercatat sebagai pemain ganda putra nomor satu dunia bersama partnernya, Marcus Gideon.

Di bidang lingkungan, Djarum Foundation mengadakan program bertajuk Djarum Trees For Life sebagai upacaya untuk menciptakan lingkungan yang bersih, nyaman, dan sehat guna untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan yang pernah dilakukan adalah pisat pembibitan tanaman, menanam pohon trembesi di ruas jalan tol Cipali, sepanjang pantai utara Pulau Jawa dari Merak hingga Banyuwangi, dan Lingkar Pulau Madura, serta konservasi Lereng Mulia.

Di bidang pendidikan, di kalangan mahasiswa perguruan tinggi negeri terkenal Beasiswa Djarum Plus beruapa dana beasiswa selama satu tahun dan pelatihan soft skills seperti leadership development, character building, international exposure, dsb.

Beberapa kegiatan sosial lain yang pernah diadakan Djarum Foundation antara lain donor darah, operasi katarak gratis, khitanan massal, penangan bencana alam, hingga peningkatan kualitas panti asuhan.

           

Sejak 2010, Forbes mencatat kekayaan Bambang dan Budi Hartono ini sebagai orang terkaya nomor satu di Indonesia dengan kekayaan mencapai $ 35 miliar. Kematian ayah mereka di usia mereka yang terhitung masih muda, nyatanya mampu membuat dua bersaudara ini bekerja keras dan berhasil mencapai kesuksesan hingga saat ini.

Saling bahu membahu bekerja keras, membuat mereka tidak hanya eksis di industri rokok, tapi juga di berbagai lini bisnis lain mengikuti perkembangan zaman. Mereka sendiri juga tidak ragu untuk mencoba hal-hal baru, yang justru mampu melanggengkan kesuksesan bisnis mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi