Merry Riana

Merry Riana
Sumber: instagram.com/merryriana
Profesi Motivator
Tempat lahir Jakarta
Tgl Lahir 29-05-1980

Masa Kecil

Lahir di Jakarta, 29 Mei 1980 dari pasangan Tionghoa Ir. Suanto Sosrosaputro dan Lynda Sanian, Merry Riana lahir sebagai anak sulung dan perempuan satu-satunya dalam keluarga kecilnya.

Kedua orang tuanya menamainya ‘Riana’ dengan harapan hidupnya akan penuh suka cita kelak. Nama ‘Merry’ disematkan sebagai nama baptis oleh sang pastor di gereja tempatnya dibaptis. Jadilah perpaduan namanya berarti double happiness.

Keluarganya bukanlah keluarga yang memiliki uang berlimpah ruah. Ayahnya yang merupakan lulusan Teknik Elektro, memiliki usaha toko peralatan elektronik di Jakarta. Ibunya, seorang ibu rumah tangga yang penuh kasih dan sangat mengayomi keluarga.

Masa kecilnya dihabiskan dengan tinggal di kawasan hunian yang banyak dihuni oleh kaum pribumi. Itu dilakukan kedua orang tuanya agar ia terbiasa dan bisa bergaul dengan anak-anak dari berbagai kalangan.

Keluarganya penganut Katolik taat yang sangat menanamkan pentingnya agama dan berpegang teguh pada Tuhan dalam berbagai aspek kehidupan. Hal tersebut sangat dirasakannya ketika tinggal berjauhan dengan orang tuanya.

Pendidikannya dilalui di lembaga pendidikan katolik dari SD Don Bosco Pulomas, SMP Santa Ursula, dan SMA Santa Ursula. Cita-citanya pun ingin melanjutkan kuliah Teknik Elektro di Universitas Trisakti Jakarta agar nantinya bisa membantu bisnis ayahnya.

Namun cita-cita sederhananya harus kandas ketika kerusuhan Mei 1998 melanda ibu kota. Jakarta mendadak mencekam dan menakutkan, terutama bagi orang-orang beretnis Tionghoa, tak terkecuali Merry sekeluarga.

Ibu kota tidak lagi aman bagi mereka yang beretnis Tionghoa karena banyaknya peristiwa traumatis seperti pemerkosaan, pencurian rumah, penjarahan toko-toko, hingga pembunuhan. Hal tersebut menyebabkan eksodus etnis Tionghoa ke luar negeri, seperti Amerika, Australia, Singapura, dsb.

Orang tua Merry juga memikirkan nasib putri sulung mereka hingga memutuskan untuk mengirimnya ke Singapura agar kuliahnya tidak perlu tertunda dan aman dari kerusuhan di Jakarta.

Keputusan tersebut terhitung nekat karena bisnis ayahnya sedang mengalami kemunduran akibat krisis moneter yang berarti keuangan keluarga sedang tidak baik-baik saja.

Tapi keputusan kedua orang tuanya sudah bulat. Berbekal informasi bahwa mahasiswa bisa meminjam dana pendidikan di bank milik pemerintah Singapura, Development of Bank Singapore (DBS), serta tidak perlu khawatir skor TOEFL untuk berkuliah di Nanyang Technology University (NTU), Merry pun dikirim kesana.

 

Kehidupan di Singapura

Juli 1998, Merry menginjakkan kaki di Singapura bersama beberapa temannya yang juga dikirim orang tua mereka untuk bersekolah disana.

Ada perasaan sedih tatkala ia melihat seluruh temannya diantar oleh orang tua mereka ke asrama universitas, sementara ia harus pergi sendiri karena keterbatasan biaya orang tuanya untuk mengantarnya kesana.

Sesampainya di Singapura, ia tinggal di asrama universitas sekamar dengan teman semasa sekolahnya. Ia juga berhasil mendapatkan dana pinjaman sebesar SGD 40.000 atau sekitar Rp 300 juta pada kurs saat itu untuk empat tahun kuliah dari bank pemerintah Singapura.

Setiap enam bulan sekali diberikan uang untuk biaya sewa asrama dan uang saku sebesar 1.500 dollar. Dari uang tersebut, berdasarkan hasil perhitungannya, ia hanya memperoleh uang saku sebanyak 10 dollar per minggunya. Ia harus bisa bertahan hidup selama tujuh hari dengan uang 10 dollar tersebut.

Jika berpikir dengan logika, jumlah uang tersebut sangatlah kurang untuk bertahan hidup di negeri Singa. Tapi tekad Merry untuk bisa lulus kuliah dan sebisa mungkin tidak menyusahkan orang tuanya di Jakarta sudah bulat. Bagaimana pun caranya ia harus bisa bertahan hidup dengan uang yang sangat kurang tersebut.

Agar cukup, ia mengakali dengan mengonsumsi mie instan sebagai sarapan di pagi hari, dua lembar roti tawar untuk makan siang, dan berusaha untuk tidak makan malam. Ia juga tidak masalah minum air yang bisa langsung diambil dari keran di kampus atau membawa botol sendiri dari asrama agar lebih hemat.

Asupan gizinya sebenarnya jauh dari kata layak karena setiap hari ia harus berjalan kaki dari asrama ke kampus serta mengikuti jadwal perkuliahan teknik elektro yang padat dari pagi hingga sore.

Selain aktif mengikuti kegiatan perkuliahan, ia juga aktif mengikuti beberapa kegiatan mahasiswa di luar perkuliahan yang biasa diadakan mulai sore hari. Di berbagai kegiatan inilah biasanya disediakan konsumsi makanan gratis untuk para peserta yang menjadi peluangnya untuk bisa makan malam enak dan mengenyangkan. Jika berhasil mendapat makan malam, ia bisa mengerjakan tugas dan belajar hingga larut malam di asrama.

Tak hanya adaptasi pada jadwal perkuliahan, ia juga harus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris demi mengikuti perkuliahan dan juga nilai tesnya harus baik agar tidak dikeluarkan oleh pihak kampus.

Tahun pertama kuliahnya dilaluinya dengan penuh keprihatinan. Ditengah kekurangan uang, ia berusaha untuk tetap bisa makan dan juga rajin belajar agar nilai-nilainya bisa tetap baik.

Beruntung, kedua orang tuanya membekalinya beberapa barang kebutuhan sehari-hari seperti mie instan, sabun, shampo, gula, kopi, teh agar ia tidak perlu banyak menghabiskan uang untuk berbelanja ketika baru tiba di Singapura.

Memasuki tahun kedua, ia mulai mencoba untuk bekerja sampingan demi menambah uang saku sehari-hari. Ia bekerja sebagai pembagi brosur, penjaga toko bunga, hingga pelayan banquet hotel. Penghasilan sampingannya bisa menambah uang sakunya hingga ia bisa menabung dari menyisihkan penghasilannya tersebut.

 

Jatuh Bangun Merry Riana

Selama berkuliah, Merry kerap kali membaca buku-buku motivasi Anthony Robbins, motivator asal Amerika Serikat, yang semakin memacu semangatnya untuk berwirausaha setelah lulus kuliah.

Kata-kata motivasi Anthony Robbins inilah yang juga menjadi salah satu penyemangatnya disamping ayat-ayat Alkitab, untuk bisa bertahan hidup ditengah berbagai kesulitan yang dihadapinya sebagai mahasiswa di Singapura.

Bersama Alva, teman kuliah yang kini menjadi suaminya, mereka saling menyemangati satu sama lain untuk bisa menjadi seorang yang sukses. Dari Alva pula lah Merry menjadi akrab dengan kata-kata motivasi Anthony Robbins.

Setelah memiliki tabungan sendiri dari hasil kerja sampingannya, Merry sempat mencoba investasi dengan skema MLM dengan modal 200 dolar. Namun ternyata ia ditipu dan uangnya raib begitu saja.

Setelah magang di perusahaan selama satu semester dan sambil mengerjakan skripsi, Merry berencana untuk berbisnis penjilidan skripis. Namun apa daya bisnis tersebut gagal sebelum dimulai karena ada pihak percetakan yang terlebih dulu menawarkan jasa tersebut kepada para mahasiswa NTU dengan harga yang sangat murah.

Gagal tidak lantas membuat Merry kapok untuk mencoba wirausaha lainnya. Kali ini ia mencoba bisnis MLM obat herbal dari Indonesia yang belum masuk ke pasar Singapura. Ia, Alva, dan seorang temannya berniat untuk menjadi distributor pertama obat tersebut.

Meski sudah menyiapkan downline dan konsep bisnisnya, tapi ternyata bisnis tersebut tidak bisa dijalankan karena perusahaan obat herbal tersebut belum berniat untuk ekspansi ke Singapura, karena pasar Indonesia banyak yang belum digarap secara baik.

Selain itu, waktu yang tidak tepat menjadi salah satu penyebab gagalnya bisnis ini. Kali ini Merry dan rekan-rekannya merugi 750 dolar untuk persiapan bisnis tersebut.

Lain waktu, ia mencoba menjadi trading saham bersama Alva dengan modal 10.000 dolar. Awalnya ia berhasil menangguk keuntungan dari jual beli saham. Tapi lama-lama, ia justru semakin rugi karena salah analisis dalam jual beli saham tersebut. Bisnis saham tersebut menjadi bisnis penutup Merry selama petualangannya di bangku perkuliahan.

Dari kegagalan-kegagalannya untuk berbisnis, ia banyak mengambil pelajaran bahwa meski ia belum memperoleh kesuksesan besar dari berbagai bisnis yang dicobanya, setidaknya ia mendapatkan berbagai pelajaran berharga seperti mencari relasi bisnis, melakukan analisis saham, hingga bagaimana menghadapi kegagalan secara dewasa.

Kegagalan tidak seharusnya membuat kita menyalahkan diri sendiri. Kegagalan seharusnya membuat kita berpikir logis untuk menganalisis penyebabnya. Sehingga ketika sukses nantinya, kita mampu menyerap energi sukses itu untuk mengapresiasi diri sendiri bahwa kita memang mampu, berdaya, dan hebat.

 

Menjadi Sales Asuransi      

Juni 2002, Merry berhasil lulus dari jurusan teknik elektro NTU dengan penghargaan Second Upper Honours, setingkat dibawah cumlaude atau first class di NTU. Baginya pencapaian tersebut membanggakan di tengah keadaan yang tidak mudah baginya untuk mempertahakan hidup.

Selepas lulus, keinginan Merry untuk menjadi seorang pengusaha masih sangat kuat. Namun ia sering dicemooh karena sebelumnya pernah beberapa kali gagal mencoba berbisnis.

Karena belum memiliki modal yang cukup untuk berbisnis, relasi masih terbatas, dan kemampuan bahasa yang belum benar-benar lancar, Merry mendapat ide untuk menjadi sales atau pemasar di Singapura.

Ia memilih untuk menjadi sales asuransi atau biasa disebut financial consultant di Singapura yang nantinya bisa memasarkan produk-produk keuangan, seperti asuransi, deposito, kartu kredit, dan produk bank lainnya.

Alasan ia memilih untuk menjadi financial consultant adalah karena pada waktu itu warga Singapura sudah sangat sadar akan pentingnya produk asuransi, juga peduli pada produk perbankan.

Melamar menjadi sales asuransi nyatanya tidak semudah yang dibayangkan karena kebanyakan perusahaan asuransi hanya menerima warga negara Singapura atau yang telah terdaftar sebagai penduduk resmi.

Berbagai perusahaan didatangi hingga akhirnya perusahaan asuransi Prudential-lah yang mau menerimanya. Ia pun harus melalui tiga ujian lisensi pemasaran produk finansial sebelum menjadi sales. Usai lulus ujian lisensi, ia resmi menjadi sales asuransi.

Menjadi sales asuransi bukan pekerjaan mudah. Ditolak olah ratusan orang melalui telepon ataupun ketika bertemu langsung sudah menjadi makanan sehari-hari Merry ketika bekerja. Tapi ia tidak ingin menyerah begitu saja. Ia berusaha selalu mencari cara agar nasabahnya meningkat.

Dari mulai menelepon dari kantor, berdiri di tempat keramaian seperti halte bus, halte MRT, mendatangi apartemen warga, hingga mengunjungi daerah-daerah yang masih jarang dijangkau oleh sales asuransi telah dilakoninya.

Ia juga tak segan memasang target melakukan presentasi 20 kali untuk mendapatkan satu nasabah yang mampu dikerjakannya hingga larut malam. Hingga akhir tahun 2003, penjualan yang dicapainya meningkat pesat, mencapai 75.000 dolar dari target 100.000 dolar.

Suatu ketika, seorang wanita paruh baya setelah ditawari Merry produk perbankan, tertarik untuk membuka deposito dengannya sebesar 100.000 dolar. Ia senang bukan kepalang karena itu berarti melebihi target yang ingin dicapainya.

Ia pun bekerja semakin keras mengikuti strategi sebelumnya yang sudah dilakoninya selama tiga bulan menjadi sales. Di tahun 2003, akhirnya ia berhasil membayar utang pendidikannya sebesar 40.000 dolar.

Pencapaian-pencapaian kerjanya melesat jauh. Dia semakin giat bekerja dan mencari nasabah-nasabah potensial. Ia pun mendapat anugerah dan menjadi buah bibir publik Singapura karena masih sangat muda, tapi berhasil mencapai pendapatan yang luar biasa besar di bidang sales asuransi.

Di tahun 2004, ia berhasil menjabat sebagai President Star Club karena berhasil meraih nilai investasi lebih dari 150.000 dolar per tahun. Ia juga diangkat menjadi manajer dan bisa merekrut anak buah sendiri. Lazimnya di dunia sales, seseorang bisa menjadi manajer setelah lima tahun berkecimpung di dunia tersebut.

 

Meraih Sejuta Dolar

Menjadi manajer, Merry diperbolehkan untuk mengelola biro konsultan keuangan. Ia menggunakan nama Merry Riana Organization untuk organisasinya tersebut. Untuk merekrut anak buah, ia menggunakan konsep rekrutmen yang unik dan tidak segan untuk langsung merekrut anak buah lebih banyak daripada kebanyakan manajer pada umumnya.

Setelah berhasil merekrut anak buah, ia menerapkan cara yang sama seperti apa yang dulu dilakukannya ketika menjadi sales asuransi bersama suaminya. Tapi nyatanya hal tersebut tidak langsung berhasil karena target yang ingin dicapai setiap orang berbeda. Merry kembali memutar otak mencari cara agar anak buahnya tetap bertahan dan termotivasi mencari nasabah baru.

Hingga akhirnya di tahun 2006, penghasilannya mencapai 1 juta dolar dan dinobatkan sebagai profesional termuda dengan penghasilan besar di Singapura, mengalahkan penghasilan rata-rata pemuda seusianya saat itu.

Beberapa koran besar di Singapura pun memuat artikel tentang dirinya.  Tak lama ia menulis buku A Gift from a Friend (2006) berupa pengalaman hidupnya di Singapura yang menarik perhatian publik disana.

Ia pun semakin aktif menjadi motivator yang diundang ke berbagai seminar di dalam dan luar Singapura. Motivasinya untuk meraih kebebasan finansial ia tularkan kepada anak-anak muda melalui seminar-seminarnya yang membara dan membakar semangat.

Setelah sepuluh tahun tinggal di Singapura sejak 1998, Merry memutuskan kembali ke Indonesia untuk meneruskan bisnisnya di bidang motivasi. Media yang digunakannya pun meluas. Ia memiliki acara tv sendiri di Metro TV, I’m Possible, mengisi talkshow di berbagai radio, hingga merambah YouTube dan media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram.

Alberthiene Endah menerbitkan buku biografi untuknya yang berjudul Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar dan menjadi salah satu buku terlaris di Indonesia pada saat itu. Bukunya pun diangkat ke layar lebar di tahun 2014 dan diperankan oleh artis peran Chelsea Islan dan Dion Wiyoko.

Beberapa penghargaan bergengsi yang pernah disabetnya, antara lain Nanyang Outstanding Young Alumni Award (2006), Spirit of Enterprise Award (2008), Top 5 Most Gorgeus Female (2009), My Paper Executive Look Reader’s Choice Award (2010), serta Indonesian Choice Awards kategori Creative and Innovative Person of the Year (2016).

Sebuah kutipan dari Denzel Washington, aktor asal Amerika, dapat menyimpulkan sosok Merry Riana. The chances you take, the people you meet, the people you love, the faith that you have. That’s what’s going to define you. (Terjemahan: peluang yang kamu ambil, orang yang kamu temui, orang yang kamu cintai, keyakinan yang kamu miliki. Itulah yang akan mendefinisikan Anda.)

 

 

Sumber:

Endah, Albhertiene. 2011. Merry Riana Mimpi Sejuta Dolar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

https://www.biografiku.com/biografi-merry-riana-motivator-wanita/

https://www.finansialku.com/kisah-sukses-merry-riana-mimpi-sejuta-dolar/

https://id.wikipedia.org/wiki/Merry_Riana#Penghargaan

 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi