Martha Tilaar

Martha Tilaar
Sumber: IDNTimes
Profesi Founder Martha Tilaar Group
Tempat lahir Kebumen
Tgl Lahir 04-09-1937

Martha Si Anak Tomboy

Ia lahir sebagai bungsu dari tiga bersaudara dengan nama asli Martha Handana di Kebumen, 4 September 1937. Ketika masih ada di dalam kandungan, ibunya seringkali bermasalah pada kesehatannya. Martha sendiri dilahirkan dalam keadaan fisik yang tidak begitu sehat dan sering sakit-sakitan sejak bayi.

Beruntungnya, seiring berjalannya waktu, Martha kecil tumbuh menjadi gadis yang sehat dan tomboy. Ia tidak bisa diam. Tingkah laku dan cara berpakaiannya seperti anak lelaki.

Ibunya kerap menegurnya dan mengatakan, “Nanti kamu tidak laku, lho!” hingga mengirimnya belajar kepada ahli kecantikan tradisional di Yogyakarta, Titi Poerwosoenoe, yang mengajarinya cara bersolek. Dari sini mulai muncul ketertarikannya pada dunia kecantikan.

Kenakalannya sebagai anak-anak salah satunya adalah mencuri uang ibunya untuk membeli jajan yang enak. Ketika aksinya ketahuan, ibunya pun menasehatinya untuk bekerja keras jika ingin punya uang banyak.

Menyadari ia tidak secerdas saudara-saudaranya yang lain, ia banyak belajar keterampilan dari sang ibu seperti berjualan kecil-kecilan, menghitung uang, memilih dan memastikan mana telur segar dan mana telur yang busuk, hingga kerajinan tangan. Hal itu dipraktikkannya dengan berjualan kacang yang dibeli di toko dan sudah dibungkus kecil-kecil ke teman-teman sekolahnya hingga perhiasan dari tanaman Sogok Telik dan Jali-jali Putih yang dirangkai jadi kalung dan gelang.

Menginjak dewasa, ia berhasil menamatkan pendidikannya hingga tingkat sarjana. Cita-citanya yang ingin menjadi guru sejak kecil mengantarkannya berkuliah di jurusan Sejarah IKIP Negeri Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta (UNJ)) dan lulus di tahun 1963. Ia sempat mengajar di SD Santa Theresia selama dua tahun dan di almamater kuliahnya selama tiga tahun.

Setelah menikah dengan Henry Alex Rudolf Tilaar, ternyata ia harus mengikuti sang suami yang mendapat beasiswa untuk kuliah di Amerika Serikat (AS). Sesampainya di sana, ia yang tidak bisa diam memilih untuk membantu suaminya yang sedang kuliah dengan mencari tambahan penghasilan.

Ia memilih menjadi babysitter. Ia menawarkan diri kepada seorang ibu yang menggendong anak dan mencari babysitter, kemudian ia mengiklankan dirinya dengan menggambar rumah Manado dan pohon kelapa, serta gambar mickey mouse karena Disneyland baru saja dibuka. Tiba-tiba datang 13 orang kepadanya yang akhirnya diterima semua.

Pendapatannya sebagai babysitter di negeri orang cukup besar pada masa itu di tahun 1960-an. Ia bisa meraup pendapatan minimal US$ 1.500 apabila sedang musim liburan, tapi rata-rata pendapatannya di hari biasa bisa mencapai US$ 2.000 – US$ 2.500 sementara beasiswa kuliah suaminya US$ 210.

Selain bekerja sebagai babysitter, Martha memanfaatkan kesempatan ini untuk sekolah kecantikan di Academy of Beauty Culture selama dua tahun. Ada kisah unik yang akhirnya menjadi tekadnya untuk memajukan kecantikan Indonesia.

Menjelang ujian akhir, gurunya mengatakan bahwa ia harus menulis tentang tata rias negaranya. Ia kaget karena menganggap itu kampungan dan tidak berharga karena tata rias di Indonesia ada di seputaran wayang wong, doger, dan ketoprak.

Ditengah kebingungannya, seorang temannya asal Jepang meminjamkan buku The Geisha’s Book yang berisi seluk beluk tentang Geisha Jepang yang menjadi salah satu identitas budaya kecantikan Jepang.

Setelah membuat tugas akhir tentang kecantikan Jepang, justru gurunya berkata, "Kamu harus malu dengan dirimu" karena ia tidak tahu apa-apa tentang negaranya sendiri. Sejak itu ia bertekad jika ia lulus, ia akan kembali dan melestarikan budaya dalam bidang kecantikan.

Usai lulus dari sekolah kecantikan, ia bekerja di salon di Amerika Serikat (AS). Di sana ia belajar banyak hal dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang sudah dipelajarinya selama di sekolah. Ia banyak membandingkan perbedaan kulit orang Amerika dengan Asia, serta perawatannya. Inilah yang menjadi bekalnya untuk membuka salon di Indonesia.

 

Bisnis Salon

Setelah kurang lebih lima tahun menetap di negeri Paman Sam, Martha dan suaminya kembali pulang ke tanah air karena kuliahnya sudah selesai. Sekembalinya ke tanah air, ia menyadari bahwa ia harus menepati janjinya untuk melestarikan budaya kecantikan Indonesia.

Tidak mudah karena literatur tentang kecantikan Indonesia hampir tidak ada yang tertulis, seperti tata rias dari wayang wong, doger, dan ketoprak. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi belajar dengan menemui eyangnya yang merupakan ahli jamu. Oleh eyangnya, ia diantar ke dukun-dukun beranak.

Di kampung-kampung, tidak sedikit yang mencemooh bahwa ia gila karena pulang dari AS malah ke kampung-kampung ke dukun-dukun. Ia disangka akan menyantet orang karena banyak mengunjungi dukun beranak. Tapi ia berusaha mengabaikan semua prasangka itu.

Ia berkunjung dari satu dukun ke dukun lainnya untuk belajar dan menulis bagaimana cara merawat bayi, ramuan jamu apa untuk perawatan sang ibu melahirkan, ramuan minyak tradisional, hingga fungsi minyak telon pada bayi supaya tidak kedinginan.

Ia juga diajari ramuan dan terapi untuk mengurangi stretch mark yang biasa muncul akibat perubahan elastisitas kulit secara drastis karena kehamilan, kegemukan, atau badan yang menjadi kurus setelah diet drastis.

Setelah belajar berbagai ramuan tradisional, pada 3 Januari 1970 ia memulai usaha salon di garasi ayahnya seukuran 4x6 meter di Kawasan Menteng dengan satu karyawati.

Membuka salon dengan ramuan tradisional tidak serta merta membuat dirinya sukses, yang ada ia malah dikira orang-orang sekitar berpromosi mau disantet sehingga banyak orang yang melarang untuk ke salon Martha karena nanti akan disantet.

Ayahnya pun memberi pesan untuk memulai dari dirimu sendiri. Bermimpi besar boleh, dari mulailah dari hal yang kecil terlebih dahulu. Hal itu yang menyemangatkannya untuk mengembangkan salonnya. Martha pun mulai memutar otak untuk mencari strategi baru agar bisa mendapatkan konsumen.

Kebetulan rumah ayahnya dekat dengan daerah kedutaan. Ia mencari tukang koran dan meminta tolong untuk menitipkan brosur salonnya kepada tukang koran tersebut. Trik ini berhasil. Pertama kali istri duta besar Amerika datang berkunjung ke salonnya dan menjadi langganan.

Promosinya pun dari mulut ke mulut. Apalagi saat itu sangat jarang sekali orang Indonesia yang fasih berbahasa Inggris sehingga praktis, salonnya menjadi jujukan istri-istri duta besar negara lain. ia dikenal ramah dan fasih berbahasa Inggris membuat pelanggannya betah dan menjadi langganan untuk bertandang ke salonnya. Ibu-ibu pejabat dalam negeri seperti Fatmawati dan istri Adam Malik pun mulai datang.

Karena pengunjung salon yang semakin banyak, tentu ia membutuhkan area kerja yang semakin luas. Alhasil, ia pun memindahkan salonnya ke rumah ayahnya setelah enam bulan berjalan, sehingga mereka tinggal di garasi rumah yang disulap menjadi ruang tempat tinggal untuk mengakomodasi kebutuhan pelanggan. Dua tahun berselang, ia mendirikan salon kedua di bilangan Cipete sekaligus memperkenalkan perawatan kecantikan tradisional berbasis tanaman herbal.

Disamping itu, ia juga semakin membutuhkan dana yang besar. Tapi Martha sendiri kesulitan untuk pinjam bank karena pada masa itu, perempuan dianggap seperti kaum kelas dua yang tidak boleh menjadi bekerja atau menjadi pengusaha seperti kaum pria.

Ujian untuk bisnisnya pun membuat Martha harus mencari cara. Kebetulan di masa itu, orang Jawa senang sekali jika terlihat cantik seperti putri keraton. Akhirnya ia mengajak seseorang yang seperti putri keraton yang cantik untuk joint venture. Ia menawarkan untuk mengembangkan proyek kecantikan alami budaya Indonesia. Meski wanita ini sempat menolak, tapi akhirnya kerja sama ini disetujui.

Latar belakangnya yang seorang guru membuatnya kurang begitu paham soal dunia bisnis. Proyeknya memang berjalan lancar karena produknya laris sekali, dimana semua orang ingin jadi secantik putri keraton. Tapi setelah setahun kerja sama antara tahun 1976-1977, partner bisnisnya memutuskan untuk berdiri sendiri.

Rupanya, semua usaha kosmetik selama joint venture ini diatas namakan oleh partnernya sendiri. Martha pun gigit jari tidak punya apa-apa lagi. Inilah pentingnya legalitas ketika mulai kerja sama bisnis agar tidak ada pihak yang dirugikan satu sama lain.

Meski tertimpa musibah, tapi rupanya Tuhan menyiapkan kado indah untuk Martha. Setelah 16 tahun divonis mandul oleh dokter, ternyata ia dikaruniai seorang anak yang lahir di tahun 1977. Putri pertamanya itu dinamainya Wulan Maharani Tilaar, yang kini menjadi penerus Marta Tilaar Group.

 

Cikal Bakal Martha Tilaar Group

Sempat gagal, tapi Martha semangat kembali. Tidak masalah jika harus dari nol. Bekerja sama dengan temannya, Theresia Harisini Setiady yang merupakan pendiri perusahaan farmasi Kalbe Farma, dan mendiang Pranata Bernard, Martha pun mendirikan PT Martina Berto untuk mengomersialkan produk kecantikan herbal ini pada tahun 1977.

Bersama Kalbe Farma, PT Martina Berto banyak melakukan riset ilmiah dan pengaturan manajemen bisnis sehingga berkembang sangat pesat. Tahun 1981, PT Martina Berto mampu membangun pabrik pertama di kawasan industri Pulogadung yang disebut-sebut sebagai pabrik kosmetik pertama di Indonesia. Produk keluaran PT Martina Berto ini dikenal masyarakat dengan nama ‘Sariayu Martha Tilaar’.

Pada 1983, ia mendirikan pabrik kedua di Pulogadung juga dan PT Sari Ayu Indonesia yang khusus untuk menangani distribusi produk-produk Sariayu Martha Tilaar. Seiring waktu berjalan, PT Martina Berto mulai melahirkan merek-merek kosmetik baru seperti Cempaka, Jamu Martina, Pesona, Biokos, Caring Colours, dan Belia untuk segmen pasar yang berbeda.

Produk Sariayu Buatan Martha Tilaar Group (Sumber: GNFI)

Tahun ’90-an, ia mulai mengakuisisi sejumlah perusahaan kecantikan seperti PT Cedefindo dan PT Cempaka Belkosindo. Lalu di tahun 1996, PT Martina Berto menjadi pabrik kosmetik Indonesia pertama yang mendapatkan sertifikat kelayakan mutu ISO:9001.

Setelah Krisis Moneter 1998 yang menghantam perekonomian Indonesia, Martha membeli seluruh saham Kalbe Farma karena Kalbe Farma akan dipusatkan ke bidang farmasi saja. Sejak saat itu, PT Martina Berto sepenuhnya di bawah manajemen Martha Tilaar Group.

Sepanjang tahun 2000-an, PT Martina Berto terus menambahkan merek-merek baru untuk segmen pasar berbeda, seperti Professional Artist Cosmetics (PAC), Dewi Sri Span, Jamu Garden, dsb. Selain itu, Martha juga merambah bisnis lain seperti sekolah kecantikan Puspita Martha International School dan jasa spa dan salon waralaba Martha Tilaar. Tahun 2011, Martina Berto resmi melantai di bursa efek dan menjadi perusahaan terbuka.

Selain terus membesarkan Sariayu dan kawan-kawan, ia juga memiliki usaha kerajinan di Sentolo, Yogyakarta yang diberi nama Prama Pratiwi Martha Gallery. Ada juga Kampoeng Djamoe Organik yang dibangun di kawasan Cikarang, Bekasi. Kontribusinya untuk Kota Kebumen adalah dengan membangun Roemah Martha Tilaar, yakni rumah masa kecilnya yang telah direnovasi dan ditata ala museum.

 

Dibalik keberhasilan bisnisnya, penerima penghargaan SDG (Sustainable Development Goals) Pioneers 2018 dari United National Global Impact ini punya resep yang selalu dipegangnya dan diajarkan kepada anak-anaknya ketika meneruskan bisnisnya; DJITU dari singkatan Disiplin, Jujur, Inovatif, Tekun, dan Ulet. Terbukti, bisnisnya sudah hampir memasuki usia lima dekade masih bisa bertahan di tengah gempuran persaingan merek kosmetik lokal dan asing di tanah air. 

Sesuai dengan pesannya, "Perempuan jika didorong dan diberi kesempatan untuk terus berkarya, tentu akan bisa maju dan sukses seperti halnya laki-laki." Jadi, jika kalian berkesempatan untuk bisa berkarya, maka jangan sia-siakan kesempatan tersebut. Karena kesempatan tidak datang dua kali dan tidak semua orang diberi kesempatan tersebut. Semoga menginspirasi!



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi