Liliyana Natsir

Liliyana Natsir
Sumber: Sindonews
Profesi Atlet Bulu Tangkis
Tempat lahir Manado
Tgl Lahir 09-09-1985

Minggu (27/1/2019) silam menjadi hari yang paling bikin baper (baca: bawa perasaan) bagi pemain bulu tangkis, pencinta bulu tangkis, dan juga Indonesia. Liliyana Natsir, salah satu pemain ganda bulu tangkis terbaik milik negeri ini, memutuskan untuk gantung raket setelah bergelut di dunia tepok bulu selama hampir seperempat abad.

Banyak yang menyayangkan keputusan pensiunnya dari dunia bulu tangkis Indonesia. Tak sedikit juga yang merasa kehilangan akan sosoknya di lapangan, baik dari pelatih, rekan, ataupun lawannya. Bukti Liliyana disegani di dalam dan di luar arena lapangan.

Tentu masyarakat Indonesia akan merindukan teriakan “Owi-Butet” yang selalu bergemuruh di Istora Senayan dan mampu menggetarkan pemain lawan. Tapi tentunya setiap pertemuan akan ada perpisahan.

 

Kisah Liliyana Kecil

Liliyana Natsir bukanlah terlahir dari keluarga atlet bulu tangkis. Tapi mereka memiliki ketertarikan pada dunia olahraga, terutama bulu tangkis. Sejak duduk di sekolah dasar (SD), ia sudah mulai jatuh cinta pada olahraga yang terlihat dari nilai rapornya selalu bernilai 9.

Perempuan kelahiran Manado, 9 September 1985 ini mulai mengenal bulu tangkis ketika mulai mencoba-coba bermain di halaman rumahnya di Manado saat masih berusia 9 tahun.

Melihat minat sang putri di olahraga tepok bulu, Benno Natsir, ayah Liliyana, lantas memasukkannya ke PB Pisok Manado, klub bulu tangkis lokal. Di sana teknik bermainnya mulai terasah dan ia mulai mengukir prestasi untuk klub.

Tidak sedikit prestasi yang diraihnya kala itu. Medali emas kejuaraan lokal pernah disumbangkan untuk PB Pisok.

Setamat SD, muncul keputusannya untuk merantau ke Jakarta untuk mempertajam kemampuan bulu tangkisnya dengan bergabung ke PB Tangkas. Bukan sebuah keputusan yang mudah.

Saat itu, Liliyana masih berusia 12 tahun yang memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah di Manado. Sebagian keluarga besarnya menyesalkan keputusannya tersebut karena khawatir nasibnya apabila memutuskan untuk menjadi atlet.

Tapi keraguan orang-orang di sekitarnya tidak mengubah keputusannya. Baginya, hidup adalah pilihan dan kita harus menerima risiko. Apabila memilih salah satu, maka harus fokus, harus benar-benar serius, apapun itu hasilnya.

Dengan dukungan keluarganya, ia pun bertolak ke Ibu Kota untuk mendalami bulu tangkis. Setiba di Jakarta, sang mama menemaninya selama tiga bulan pertama. Ibunya memutuskan untuk kos dekat PB Tangkas agar bisa selalu menemani Liliyana di masa awal masuk asrama PB Tangkas.

Setelah tiga bulan ditemani sang ibu di Jakarta, ibunya kembali ke Manado untuk mengurus bisnis keluarga di bidang onderdil dan bengkel. Bungsu dari dua bersaudara yang terbiasa dengan ibunya ini pun menangis karena tidak ingin ditinggal. Tapi tekadnya menjadi atlet juga kuat.

Tidak mudah bagi Liliyana untuk tinggal di asrama di usia yang masih sangat belia. Tapi masa-masa berat itulah yang mampu menempa mentalnya menjadi lebih kuat. Seiring dengan perjalanan waktu, masalah rindu orang tua menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi dirinya sendiri untuk berprestasi.

Nama lainnya yang melekat di media massa Indonesia adalah Butet. Nama itu dicetuskan oleh Muhrini, senior Liliyana berdarah Batak di PB Tangkas. Butet ini berarti anak perempuan paling kecil dan biasanya dipakai untuk si bungsu yang paling disayang.

Akhirnya nama itu terus melekat pada dirinya, bahkan menjadi yel-yel yang selalu diteriakkan suporter kala ia bertanding di Istora Senayan.

 

Atlet Bulu Tangkis Nasional

Masuk PB Tangkas sejak 1997, Butet, panggilan akrab Liliyana di PB Tangkas dari sesama teman suku Batak, dipercaya untuk masuk ke pemusatan latihan nasional (Pelatnas) Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) di tahun 2002.

Saat Butet baru masuk ke Pelatnas, Indonesia sedang paceklik pemain tunggal putri karena belum ada yang mampu menyamai prestasi Ivana Lie yang berjaya di tahun ’80-an, ataupun Susi Susanti yang berjaya di tahun ’90-an.

Sosok Butet langsung melejit dengan segudang prestasinya di lapangan bulu tangkis dan menjadi srikandi bulu tangkis Indonesia satu dasawarsa terakhir di nomor ganda, baik ganda putri maupun ganda campuran.

Pasangan pertama Butet adalah Nathalia Christine Poluakan untuk ganda putri yang berlaga pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2004. Mereka berhasil menjuarai nomor ganda putri di laga tersebut.

Butet kembali menjadi juara pada Kejuaraan Junior Asia 2002 di Kuala Lumpur berpasangan dengan Markis Kido. Mereka menjadi juara setelah mengalahkan pasangan asal negeri bambu, Cao Chen/Rong Lu.

Butet pernah berpasangan dengan Devi Sukma Wijaya untuk Kejuaraan Dunia Junior 2002 di Pretoria, Afrika Selatan. Lalu, bersama Eny Erlangga, Butet berhasil memboyong pulang medali perak SEA Games 2003 setelah kalah dari pasangan Indonesia lain, Jo Novita/Lita Nurlita.

Singapore Open 2004 menjadi kompetisi yang membuka jalan Butet untuk lebih dikenal di level internasional. Belum genap berusia 20 tahun, ia telah menyandang status juara dunia (World Championship).

Seolah tidak puas, SEA Games 2005 juga ditaklukkannya setelah menjadi kampiun Singapore Open 2004. Dua gelar tersebut dipertahankan di tahun 2007. Tapi medali emas SEA Games diperoleh dari nomor ganda putri bersama Vita Marissa.

Pelatih Butet sekaligus mantan atlet bulu tangkis, Richard Mainaky, menyadari bakat terpendam Butet di nomor pertandingan ganda. Sejak itu, Butet difokuskan untuk menjadi garda depan di laga-laga nomor ganda.

Nova Widianto yang menjadi pasangan Butet di nomor ganda sejak tahun 2004. Kariernya semakin cemerlang berkat pencapaian gelar juara yang diraih di berbagai kejuaraan.

Duet Nova/Butet berhasil mengoleksi lima gelar juara IBF World Grand Prix, lima gelar superseries, dua medali emas SEA Games, satu medali emas Kejuaraan Asia, dua kali juara dunia, satu medali emas World Cup, serta medali perak Olimpiade Beijing 2008.

Di sektor ganda putri, Butet berpasangan dengan Vita Marissa yang berhasil memperoleh prestasi di China Masters 2007 dan Indonesia Open 2008, selain SEA Games 2007.

Devin Lahardi Fitriawan pernah berpasangan dengan Butet untuk menjuarai Malaysia Masters 2010. Japan Open 2012 menghasilkan medali perak saat Butet berpasangan dengan Muhammad Rijal.

 

Puncak Karier Bersama Tontowi Ahmad

Menentukan pasangan yang cocok dan tepat untuk bertanding di lapangan sama susahnya seperti menentukan pasangan hidup. Berulang kali mencari pasangan yang cocok hingga 2010, akhirnya Richard Mainaky mencoba formula untuk memasangkan Butet-Tontowi Ahmad

Jika dulunya pasangan-pasangan Butet selalu sepantaran, kali ini ia dipasangkan dengan Tontowi Ahmad yang dua tahun lebih muda. Ia lebih banyak membimbing Owi.

Richard Mainaky yang memasangkan Butet/Owi yakin bahwa permainan Butet di depan mampu menunjang permainan Owi di belakang. Ia menganggap bahwa Butet/Owi bisa saling mengisi di lapangan.

Duet Butet/Owi tidak perlu menunggu lama untuk meraih gelar. Macau Open 2010 berhasil dimenangkan di pertandingan perdana mereka sebagai pasangan ganda. Chemistry semakin kuat saat mereka berhasil meraih medali emas SEA Games 2011.

Selain SEA Games 2011, masih di tahun yang sama mereka berdua berhasil menjuarai Singapore Open dan India Open.

Gelar juara India Open berhasil dipertahankan pasangan ini di tahun 2012. Bahkan juara All England 2012 juga berhasil disikat untuk pertama kalinya oleh pasangan ini setelah 33 tahun Indonesia puasa gelar All England untuk ganda campuran. Mereka berhasil mempertahankan gelar ini tiga tahun berturut-turut hingga tahun 2014.

Di tahun 2013, medali emas dari pertandingan China Open, Singapore Open, India Open juga berhasil diborong pulang ke tanah air. Lalu di tahun 2014, Singapore Open dan France Open ditaklukkan oleh pasangan ini. Total, Owi/Butet telah memenangi lima kali superseries.

Di Kejuaraan Dunia BWF 2011, mereka berhasil membawa pulang medali perunggu. Lalu di Guangzhou pada 2013, mereka menaklukkan pasangan tuan rumah untuk mendapatkan medali emas. Di tahun 2015, ia meraih perunggu di Istora Senayan setelah dikalahkan pasangan Zhang Nan/Zhao Yunlei asal Tiongkok.

Mereka sempat mencicipi kemenangan di Asian Championship 2015 dan puncak prestasinya adalah memenangkan Olimpiade Rio Brazil 2016.

Walau sudah berulang kali naik di podium juara, ia masih belum pernah meraih gelar di lima turnamen bergengsi dunia. Salah satunya Asian Games yang paling disayangkannya. Tapi baginya, emas dari Olimpiade Rio 2016 merupakan anugerah tak terkira dan salah satu mimpinya telah tercapai.

Ia belum pernah mencicipi gelar juara Piala Uber. Prestasi tertingginya di Piala Uber hanyalah setelah menembus babak final di tahun 2008 tapi harus kalah 0-3 dari tim Tiongkok.

Denmark Open, Japan Open, dan BWF Superseries Finals/World Tour Finals belum pernah ditaklukkan oleh smash Liliyana sepanjang kariernya.

Lilyana gagal beruntun di empat partai final sejak Denmark Open 2012. Sementara di Japan Open, ia hanya dua kali menjadi runner up di musim 2008 dan 2012.

BWF Superseries Finals sendiri adalah turnamen yang mempertemukan para pemain pemilik poin tertinggi selama satu musim. Ia pernah mencicipi partai puncak di tahun 2008 bersama Nova Widianto, tapi kalah

 

Tutup Karier Liliyana

Lilyana sudah memberikan tanda-tanda akan pensiun sejak turnamen Indonesia Open 2018 di Istora Senayan. Saat itu, ia menjadi kampun di Indonesia Open 2018 bersama Tontowi Ahmad. Lalu di Asian Games 2018 ia hanya berhasil membawa pulang medali perunggu.

Pertandingan terakhirnya untuk menutup karier atletnya adalah Indonesia Masters 2019 yang diadakan pada Minggu, 27 Januari 2019 lalu. Meskipun ia kalah dari pasangan Tiongkok, Zheng Siwei/Huang Yaqiong, ia tetap merasa puas dengan hasil laga terakhirnya.

Bisa mencapai partai puncak di usia yang tidak lagi muda, bagi Liliyana itu merupakan sebuah prestasi melawan pasangan ganda peringkat 1 dunia asal Tiongkok. Menurut BWF, peringkat Tontowi/Liliyana saat ini berada di posisi nomor empat dunia.

Menutup karier untuk gantung raket di awal tahun tahun ini menjadi tidak penuh penyesalan setelah menggapai berbagai prestasi gemilang untuk mengharumkan bangsa dan negara.

Liliyana selalu dikenal sebagai atlet yang ramah, disiplin, dan kerap menyemangati junior-juniornya ketika mereka kalah bertanding. Menjadi atlet yang disegani kawan dan lawan di dunia bulu tangkis memang membutuhkan sebuah proses panjang.

Bakatnya yang dipoles dengan latihan yang penuh disiplin, serta konsisten berhasil mengantarkannya sebagai atlet berprestasi kebanggan bangsa ini. Pilihannya untuk meninggalkan bangku sekolah demi fokus berkarier di bulu tangkis telah terbayar dengan prestasi-prestasinya.

Tontowi sendiri bisa dibilang adalah pasangan duet terlama Liliyana selama berkarier, selain Nova Widianto, yang setelah pensiun menjadi pelatihnya, dan Vita Marissa. Pendukung bulu tangkis Indonesia tentu akan merindukan sorakan “Owi Butet” di Istora Senayan setiap mereka berlaga.

Setelah pensiun, ia ingin melepas penat dan rehat sejenak dari dunia yang sudah membesarkan namanya. Puluhan tahun berkutat dengan raket, kok, dan lapangan setiap hari membuatnya ingin berlibur dan menjauh sejenak.

Dalam beberapa wawancara dengan awak media, ia belum tahu akan kembali ke bulu tangkis sebagai pelatih atau tidak walau tidak menutup peluang untuk itu.

Menjadi atlet yang sukses puluhan tahun berarti mengantongi bonus yang tidak sedikit. Bisa dibilang saat ini ia telah mengantongi bonus hampir Rp 10 miliar dari kejuaraan yang rutin diikutinya setiap tahun.

Dari bonus inilah ia telah berhasil membeli mobil, rumah, dan berbisnis spa massage, pijak refleksi, dan properti sejak tiga tahun lalu. Setelah pensiun ini, ia berencana untuk lebih fokus pada bisnisnya serta membuka bisnis baru di bidang money changer.

Pemerintah sendiri menjanjikan jabatan ASN (Aparatur Sipil Negara) bagi atlet yang pensiun agar masa depannya lebih terjamin setelah tidak berkarier di dunia olahraga. Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga RI, dilansir dari detik.com, mengaku terkesan dengan hasil tes ujian kompetensi dan administrasi PNS nya yang sangat baik.

Presiden Jokowi sendiri menginginkan agar ke depannya Lillyana tetap mampu berkontribusi di tepok bulu dengan menularkan semangat juangnya ke atlet-atlet junior untuk regenerasi atlet, agar tidak paceklik prestasi.

Diluar koleksi medalinya di bidang bulu tangkis, Lilyana pernah mendapatkan sejumlah penghargaan atas sosoknya yang dikenal sebagai atlet yang rendah hati dan konsisten berprestasi.

Penghargaan itu antara lain Indonesia Sports Awards 2018 for Favorite Mixed Pair, iNews Maker Awards 2017, Golden Award SIPO PWI 2017, Golden Shuttle Awards 2016, Indonesia Kids Choice Awards 2014, Anugerah Seputar Indonesia 2014, dan People of the Year 2014 dari Koran Sindo.

Terima kasih Ci Butet, atas prestasimu yang sudah mengharumkan nama Indonesia di dunia bulu tangkis! Semoga akan ada atlet-atlet masa depan yang mampu mengangkat nama Indonesia di kancah internasional melalui dunia tepok bulu

 

 

Sumber:

https://bola.kompas.com/jeo/perhentian-akhir-liliyana-natsir-terima-kasih-butet

https://nasional.kompas.com/read/2019/01/29/11064641/liliyana-natsir-pensiun-ini-pesan-dari-presiden-jokowi

https://www.pbdjarum.org/profil/pemain/l/e731641b2102b18669/liliyana-natsir#gref

https://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2012/01/120109_tokohlilyananatsir

https://www.brilio.net/olahraga/curhat-liliyana-natsir-berpisah-dengan-tontowi-ini-bikin-nangis-180911l.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Liliyana_Natsir

https://www.bola.com/olimpiade-rio/read/2578670/inilah-deretan-prestasi-terbaik-tontowi-ahmad-dan-lilyana-natsir/page-1

https://id.wikipedia.org/wiki/BWF_Super_Series_2017#Performa_berdasarkan_negara

https://www.indosport.com/raket/20190127/putuskan-pensiun-liliyana-natsir-kantongi-uang-lebih-dari-rp10-miliar/jumlah-uang-yang-didapatkan-liliyana-natsir

https://sport.detik.com/raket/d-4405166/imam-nahrawi-terkesan-nilai-tes-pns-liliyana-natsir



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi