Liem Sioe Liong (Soedono Salim)

Liem Sioe Liong (Soedono Salim)
Sumber: id.wikipedia.org
Profesi Pengusaha, Pendiri Salim Group
Tempat lahir Fuqing, Tiongkok
Tgl Lahir 16-07-1916
Tgl Meninggal 12-06-2012

Liem Sioe Liong lahir dari keluarga petani di Fuqing, Provinsi Fujian, Tiongkok pada 16 Juli 1916. Lahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, bisa dibilang hidupnya pas-pasan.

Kakak tertuanya, Liem Sioe Hie, sejak tahun 1922 sudah lebih dulu pindah ke Indonesia yang saat itu masih dijajah Belanda dan bekerja di perusahaan pamannya di Kota Kudus.

Di tengah hiruk pikuknya ekspansi Jepang ke Pasifik dan dongeng mengenai harta karun kerajaan-kerajaan Eropa di Asia Tenggara, Liem Sioe Liong yang masih berusia 23 tahun ini mengikuti jejak abang tertuanya bersama saudaranya, Liem Ke Lok, dan saudara iparnya, Zheng Xusheng.

Ia menumpang kapal dagang Belanda yang membawanya menyebrangi Laut Tiongkok selama sebulan untuk tiba di Indonesia. Kapal tanpa mesin itu berhenti di Surabaya.

Sambil menunggu sang kakak menjemput, ia pun harus rela menjadi gelandangan beberapa hari. Sejak saat itu ia menjadi penduduk Indonesia yang masih bernama Hindia Belanda.

Tinggal di Kudus, ia bekerja di pabrik pembuatan tahu dan kerupuk. Meskipun saat itu ia hanya pekerja biasa, tapi insting dagangnya cukup tajam untuk melihat peluang bisnis.

Di Kota Kudus, pria yang akrab disapa Om Liem ini melihat bahwa ada banyak sekali industri rokok yang sedang bertumbuh pesat. Tapi sayangnya pasokan tembakau dan cengkeh masih minim.

Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, ia memutuskan untuk terjun ke bisnis pemasok cengkeh dan tembakau. Karena butuh modal yang lumayan, ia meminjam modal dari sang mertua.

Sebelumnya, ketika berusia 24 tahun ia menikahi Lie Kim Nio atau Lilani, yang juga seorang Tionghoa dan anak dari saudagar terpandang di Kudus hingga ke berbagai daerah lain di Jawa Timur.

Bisnisnya cukup sukses dan perlahan mulai membesar. Dalam waktu singkat, ia dikenal sebagai bandar cengkeh asal Kudus yang memiliki koneksi hingga ke pulau-pulau lain seperti Sulawesi, Maluku, dan Sumatera.

Selain bisnis cengkeh, ia mencoba bisnis lain dengan menjadi pemasok barang-barang medis untuk tentara revolusioner Indonesia di Medan dan beberapa tempat di Jawa. Pasokannya biasanya yang paling dulu sampai sehingga sering mendapat pesanan karena belum ada sistem tender di masa itu.

Karena sering memasok logistik, ia mengenal seorang perwira logistik bernama Sulardi, kakak dari pengusaha Sudwikatmono. Dari Sulardi lah ia kemudian mengenal Soeharto yang saat itu masih menjabat sebagai perwira.

Bisa dibilang Liem setia kawan dengan Soeharto. Tidak hanya kawan di masa senang, tapi sejak sebelum Soeharto belum kaya dan punya kekuasaan. Setelah memegang Surat Perintah 11 Maret 1966 dan menjadi presiden menggantikan Soekarno, Liem ikut kecipratan proyek yang bisa membesarkan bisnis-bisnisnya di kemudian hari.

 

Jalan Menuju Konglomerasi

Selesai Perang Pasifik, ia mulai hijrah ke Jakarta namun masih sering berkunjung ke Jawa Tengah. Ia sendiri harus berjuang lebih keras di zaman Orde Lama karena Program Banteng yang dirancang sebagai tindakan afirmatif untuk pengusaha lokal, cukup menyulitkan dirinya yang berlatar Tionghoa.

Susah payah ia membangun bisnis tekstil dengan mengimpor kain dari Shanghai. Untuk memperlancar usahanya, ia mendirikan bank. Mula-mula ia mendirikan Bank Windu Kencana di tahun 1954, tapi tidak sukses.

Dua tahun kemudian, ia mencoba lagi mendirikan NV Bank Asia setelah pabrik tekstilnya meraup cuan. Lalu di tahun berikutnya, tepatnya 21 Februari 1957, ia mendirikan bank yang belakangan menjadi Bank Central Asia (BCA).

Usahanya kian berkembang di tahun 1950-an dan mulai merambah hasil hutan, bangunan, perhotelan, perdagangan asuransi, hingga perbankan. Sebagai pengusaha yang punya bank, ia banyak berelasi dengan kolega yang paham soal bank. Tak hanya dari keturunan Tionghoa, tapi juga dengan peranakan Arab seperti Abdullah Ali.

BCA sendiri waktu itu sahamnya dimiliki oleh Siti Hardiyanti (Tutut) dan Sigit Jarjojudanto masing-masing 15 persen, seorang jenderal pensiunan 10 persen, dan sisanya 60 persen dimiliki Liem bersaudara. Mochtar Riady, pendiri Lippo Group, sejak 1975 ditunjuk untuk memimpin BCA.

BCA melakukan merger dengan dua bank lain di tahun 1977. Salah satunya adalah Gemari, bank yang dimiliki Yayasan Kesejahteraan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Di bawah kepemimpinan Riady, BCA menjadi bank swasta terbesar nomor dua di Indonesia.

Disamping bisnis perbankan, Om Liem yang dekat dengan Soeharto mendapat kepercayan untuk impor beras 35 ribu ton pada 1967 lewat Badan Urusan Logistik (Bulog). Setelah untung di beras, Soeharto memberinya ide bisnis di bidang pangan karena saat Indonesia sedang krisis beras.

Liem pun menyadari bahwa sudah seharusnya masyarakat kita melirik gandum sebagai bahan pangan yang tidak kalah baik dengan beras. Maka ia memutuskan untuk mendirikan pabrik tepung terigu Bogasari di tahun 1969. Saat itu Bulog bertindak sebagai importir gandum dan distributor tepung terigu.

Bogasari membuat Om Liem semakin tajir. Setelah tepung, ia melebarkan sayap-sayap bisnisnya dengan memakai nama Indo di depan produk yang dibuatnya. Bisnis-bisnis ini kelak yang masuk dalam bagian Salim Group, yang kini diwarisi Anthony Salim, anak ketiga Liem.

 

Rajanya Mie Instan

Market share mie instan di tanah air dipegang oleh Indomie yang bersaing dengan Mie Sedaap milik Wings Group. Tapi merek Indomie sendiri bukan dibangun dari nol oleh suami Lilana Salim ini.

Om Liem sendiri baru masuk ke industri mie instan pada tahun 1977 setelah Supermie yang dirintis Lima Satu Sanky dan Indomie milik Sunmaru beredar di pasaran. Mie instan miliknya diberi nama Sarimi yang berarti inti sari mie.

Ketika Sarimi merambah pasar pada akhir 1970-an, industri mie instan lokal baru dirintis dan Indonesia sedang krisis beras. Stok beras di dalam negeri pun dicukupi dengan cara impor. Begitu pula tepung yang juga sama-sama diimpor.

Para pengusaha pangan yang bermain di tepung gandum mulai mengencarkan kampanye iklan di televisi dan bioskop dengan menonjolkan kelebihan mie dan roti ke masyarakat.

Tapi membaiknya stok beras berkat pestisida dan pupuk membuat produksi mie di dalam negeri jadi terlalu banyak. Langkah Liem untuk produksi mie instan dalam jumlah besar pun semakin mustahil padahal ia sudah mengucurkan dana untuk membangun sarana produksi dari Jepang yang tidak mungkin dibatalkan begitu saja.

Liem mendekati Djajadi yang merupakan pemilik Indomie agar mau bermitra dan memakai sarana produksi milik Liem. Awalnya ia enggan. Tapi belakangan tidak punya pilihan lagi setelah Liem berani menginvestasi US$10 juta untuk memasarkan Sarimi dengan harga dibawah Indomie. Usaha patungan pun diadakan dibawah bendera PT Indofood Interna pada 1984.

Dalam kurun waktu kurang dari dua dekade, merek-merek mie instan terkenal akhirnya dikuasai Liem. Supermie, Indomie, dan Sarimi akhirnya berkumpul menjadi satu dibawah naungan PT Indofood Sukses Makmur, Tbk. atau dikenal juga sebagai ‘Indofood’.

Indomie sendiri memulai produknya dari Mie Kuah Rasa Kaldu Ayam dan memulai mendapat popularitas ketika meluncurkan Mie Kuah Rasa Kari Ayam. Indomie semakin melejit ketika mengeluarkan varian Mie Goreng tahun 1983.

Di luar lini mie instan, Om Liem mengambil alih Indomobil dari Atang Latief. Ia juga mengambil alih pabrik susu dan es krim Indomilk dari Nahar Zahiruddin Tanjung. Ini semakin menunjukkan bahwa Om Liem adalah pengusaha yang tidak membangun produk legendaris dari bawah.

Ketika tiga merek besar mie instan bersatu dibawah naungan Indofood, ia semakin agresif berekspansi ke luar negeri dengan mengekspor dan membangun pabrik di negara lain seperti Arab Saudi, Nigeria, hingga Maroko. Tidak heran jika Indomie dijuluki sebagai produsen mie instan terbesar di dunia mengalahkan Nissin asal Negeri Sakura.

Sebagai makanan murah meriah dan lezat, Indomie seringkali dijadikan sebagai ikon Indonesia. Pada tahun 2016, Indomie masuk ke dalam deretan 10 produk yang paling banyak dibeli di planet ini. LA Times baru-baru ini menobatkan Indomie Goreng Ayam Panggang sebagai ramen instan terenak nomor satu di dunia.

Indofood tidak hanya memproduksi mie instan, tapi juga makanan ringan, biskuit, kecap, saus sambal, saus tomat, bumbu instan, makanan bayi, minyak goreng, hingga minuman ringan seperti air mineral Club dan Ichi Ocha.

 

Masa Tua

Di masa awal pemerintahan Soeharto, orang-orang Tionghoa harus memakai nama-nama Indonesia. Untuk Om Liem, Soeharto memilikan nama Soedono yang berarti baik dan ahli dalam mengelola banyak uang. Nama belakang Salim dipakai sebagai nama keluarga bersama saudaranya yang merantau ke tanah air.

Soedono Salim sendiri cukup ditakuti oleh pesaingnya karena terkenal sangat dekat dengan Soeharto. Lewat Soedono, uang dari pengusaha-pengusaha Tionghoa lain disalurkan ke Soeharto demi kemenangan Golongan Karya (Golkar). Karena itulah Soeharto bisa melanggengkan kekuasaannya hingga 32 tahun di Indonesia.

Bisnisnya tidak hanya di seputaran tepung terigu Bogasari dan Indofood, tapi juga merambah bidang lain seperti Indomobil, Indolife (perusahaan asuransi), Indocement, Indomaret (swalayan waralaba), Indogrosir, dan Elshinta Media di bawah Salim Group.

Namun ketika Krisis Moneter 1998 menghantam perekonomian dalam negeri, Om Liem sendiri terlilit utang hingga puluhan triliun rupiah. Rumahnya di Jalan Gunung Sahari juga menjadi sasaran penjarah kerusuhan 1997 dan terbakar. Istrinya tertembak di perut meski tidak terbunuh.

Ia sendiri menjual sebagian besar kepemilikan BCA ke Hartono bersaudara, pemilik Djarum, yang merupakan anak dari teman baiknya semasa di Kudus, untuk melunasi utang-utangnya.

Setelah rezim Soeharto runtuh, Liem memilih menghabiskan masa tuanya di Singapura. Kerajaan bisnisnya diserahkan kepada Anthony Salim dan menantunya, Franciscus Welirang. Jika sedang sehat, sesekali ia berkunjung ke Tiongkok atau ke Jakarta untuk menengok Soeharto. Tidak heran jika banyak yang menyebut bahwa Liem tipe seorang yang setia kawan.

Ketika Soeharto meninggal di tahun 2008, Liem tidak diberi tahu oleh keluarganya. Ia yang lebih tua daripada Soeharto ini baru menghadap Sang Pencipta pada 10 Juni 2012 di usia 97 tahun karena sakit dan sudah berusia lanjut dan dimakamkan di Singapura.

Keputusannya untuk hijrah mencari kehidupan yang lebih baik di Indonesia ternyata berbuah manis. Selain itu tidak ada yang instan di dunia ini karena semuanya pasti butuh proses. Kesuksesan pun datang karena kerja keras ditambah keberuntungan. Mie instan Om Liem saja harus melewati proses dimasak dulu, apalagi kesuksesanmu, kan?

 

 

 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi