Kartini Muljadi

Kartini Muljadi
Sumber: IDN Times
Profesi Advokat dan Pengusaha
Tempat lahir Kebumen, Jawa Tengah
Tgl Lahir 17-05-1930

Kisah Awal

Kartini Muljadi memiliki nama lain Fanny Kho. Ia sudah lahir di era Indonesia masih bernama Hindia Belanda dibawah penjajahan Belanda, yakni di Kebumen, 17 Mei 1930 dari pasangan Budi Tjahjono dan Marianne Han.

Darah Belanda diwarisi dari sang ibu yang merupakan seorang guru di sekolah setempat. Sementara ayahnya, sehari-harinya bekerja sebagai Kepala Pembukuan di Algemene Nederlandsch Indische Electriciteit Maatschappij yang kini bernama Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Ibu kandungnya meninggal dunia di saat usianya masih dua tahun. Sejak saat itu, ia diasuh oleh seorang ibu angkat. Dari ibu angkatnya inilah ia mulai mengenal aktivitas perdagangan, karena ibu angkatnya sehari-hari bekerja sebagai pedagang.

Bahkan ibu angkatnya tersebut memiliki kebiasaan untuk membangunkannya dan saudara laki-lakinya setiap pukul empat pagi, karena itu waktu di mana para pedagang datang dengan produk-produk segar dari pedesaan.

“Beli produk terbaik dalam satu musim, itulah harga termurah yang bisa kamu dapat. Tetapi, kamu harus bisa menjaganya agar tetap segar atau memproduksi produk-produk lain dari bahan tersebut,” pesan lain ibu angkatnya soal tips berdagang dalam sebuah wawancara bersama Institute for Societal Leadership Singapore Management University.

Sementara itu, ayahnya yang merupakan seorang akuntan mengajarkannya mengatur uang, mengeluarkan uang dengan baik, dan menabung. Ia sendiri belajar pencatatan keuangan dari sang ayah.

Bagi ayahnya, pendidikan itu amatlah penting. Oleh karena itu, ia dan saudara laki-lakinya dimasukkan ke sekolah khusus keturunan Belanda yang ada di Kebumen. Mereka disana menjadi satu-satunya murid pribumi. Di sana pula ia merasakan ketidakadilan antara murid Belanda dan bukan. Hal tersebut membuatnya bertekad untuk menjadi seorang pengacara.

 

Karier di Bidang Hukum

Diketahui, Kartini sempat berkuliah di dua universitas, di Surabaya dan Yogyakarta, lalu pindah ke Universitas Indonesia (UI) di Jakarta. Ia mengambil kuliah jurusan Ilmu Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan UI.

Tinggal terpisah dari orang tuanya, membuatnya ingin mencari penghasilan sendiri sembari berkuliah. Ia bekerja di Yayasan Candra Naya yang beranggotakan para advokat yang memberikan jasa hukum gratis kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di yayasan ini, mahasiswa seperti Kartini pada saat itu ikut dilibatkan dalam menangani perkara yang dihadapi klien-kliennya. Selain memperoleh pendapatan, ia juga dapat mengaplikasikan langsung ilmu hukum yang didapatnya di bangku kuliah. Disamping itu, karakter filantropisnya mulai bertumbuh dan terbentuk.

Resmi mengantongi gelar Sarjana Hukum pada tahun 1958, ia memulai kariernya sebagai hakim muda di Pengadilan Istimewa Jakarta. Saat itu, kesempatan menjadi hakin sangat terbuka, sebab para hakim yang sebelumnya dari Belanda mengundurkan diri dan digantikan oleh para hakim Indonesia.

Ketika bertugas menjadi hakim, dia kerap menangani perkara pidana, perdatan, maupun kepailitan. Tak heran, jika ia dikenal sebagai hakim yang jujur dan adil. Ia menyadari bahwa gajinya ketika berprofesi menjadi hakim tidak mencukupi, tapi ia memegang teguh prinsip untuk tidak korupsi.

Sembari menjadi hakim di Pengadilan Istimewa, ia juga sempat melanjutkan studi Kenotariatan di UI yang selesai pada tahun 1967. Di samping itu, ia juga menikah dengan Djojo Muljadi atau Liem Tjing Hien, yang merupakan seorang notaris.

Karier hakim Kartini sayangnya tidak begitu lama. Di tahun 1973, setelah kematian suaminya, ia mengundurkan diri dari jabatan hakim karena gajinya yang tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Disamping itu, ia sendiri harus menjadi pencari nafkah utama untuk keempat orang anaknya.

Lulus ujian negara untuk notariat, dia diangkat sebagai notaris yang berkedudukan di Jakarta dan bekerja sebagai notaris hingga tahun 1990. Disamping menjabat sebagai notaris, ia juga mengajar kuliah perdata dan hukum acara perdata di berbagai fakultas hukum di Jakarta.

Konsistensi dan komitmen yang selalu dijaga sepanjang kariernya, membuat namanya sebagai notaris pun melejit di tahun ’70-‘80an, yang menjadi banyak rujukan perusahaan besar di masa itu.

Di tahun 1990, ia memutuskan untuk pensiun dini sebagai notaris, lalu mendirikan kantor pengacara dan konsultan hukum sendiri, bernama Kartini Muljadi & Rekan. Penamaannya cukup unik, karena menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris seperti firma hukum lainnya. Alasan di balik itu adalah karena ia merasa bangga menjadi orang Indonesia dan sudah seharusnya menggunakan bangga berbahasa Indonesia.

Nama dan kredibilitasnya yang sudah mahsyur sebelumnya di kalangan orang-orang hukum, membuat kantor konsultan miliknya tumbuh pesat, meski tidak seterkenal pengacara lain yang kerap tampil di media massa.

Konsultan hukumnya tidak hanya melayani perusahaan besar, tetapi juga melayani perusahaan multinasional. Saat krisis Ekonomi melanda Indonesia tahun 1997/1998, ia salah satu ahli hukum yang aktif memberikan bantuan hukum untuk membangkitkan sektor perbankan yang terpuruk.

Ia menjadi anggota tim yang bertugas memberikan nasihat hukum kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan pendapat hukum, serta rekomendasi kepada instansi pemerintah terkait. Tak hanya itu. Ia sendiri memprakarsai Master Settlement dan Master Refinancing Afreement antara BPPN dan para pemegang saham bank-bank bermasalah.

Kontribusinya untuk hukum Indonesia juga banyak. Kartini pernah terlibat dalam penyusunan undang-undang seperti UU Perseroan Terbatas, UU Kepailitan, dan beberapa UU lainnya di bidang hukum perdata dan hukum perusahaan.

Tidak heran jika Presiden Megawati Soekarnoputri pernah menganugerahkan penghargaan Capital Life Achievement 2004 karena kontribusinya melalui kantor konsultan hukum miliknya

 

Karier Pengusaha

Selain dikenal sebagai advokat, Kartini juga dikenal sebagai pengusaha. Menjadi pengusaha inilah yang berhasil menambah pundi-pundi kekayaannya, hingga dinobatkan menjadi wanita terkaya di Indonesia.

Nenek dari Dita Soedarjo ini di tahun 1982 mengakuisisi PT Tempo Scan Pacific yang bergerak di bidang perdagangan produk farmasi. Keterlibatannya di dunia bisnis sendiri dimulai saat ia pernah bekerja di sebuah salon milik seorang warga Belanda. Ketika si pemilik hendak kembali ke Belanda, ia berinisiatif untuk mengambil alih produknya dan membeli merek dagangnya.

Hal tersebut juga sama seperti saat ia akan mengakuisisi PT Tempo Scan Pacific yang dulunya dimiliki oleh seorang warga Belanda. Ia membeli perusahaan tersebut, yang kemudian kepemimpinannya dilanjutkan oleh Handojo S. Muljadi, anak bungsunya.

Kerajaan bisnis Tempo Scan Group sangat berkembang pesat. Berbagai produk obat-obatan bebas dan kosmetik diproduksi dan dikenal luas oleh masyarakat, seperti Bodrex, Oskadon, Hemaviton, Neo Rheumacyl, Marina, My Baby, dan lain-lain.

Produk Farmasi Bebas yang Diproduksi PT Tempo Scan Pacific, Tbk. (Sumber: Tempo Scan Pacific)

Hingga saat ini, keluarga Kartini Muljadi masih menjadi pemegang mayoritas saham PT Tempo Scan Pacific, meski sudah melantai di bursa efek sejak tahun 1994.

Produk Konsumer yang Diproduksi PT Tempo Scan Pacific, Tbk. (Sumber: Tempo Scan Pacific)

Selain, menjadi pengusaha, ia sendiri aktif terlibat di beberapa kegiatan sosial dengan mengelola beberapa panti asuhan dan Yayasan Kesehatan Sumber Waras, yang menaungi Rumah Sakit Sumber Waras dan menyelenggarakan Pendidikan Keperawatan Tingkat Akademi yang menghasilkan perawat-perawat yang siap bekerja di luar negeri.

Kesuksesan Kartini Muljadi di bidang hukum dan bisnis tidak mengherankan jika keempat anaknya juga mengikuti jejak yang hampir sama dengannya. Anaknya pertamanya sekaligus ayah dari Richard Muljadi, Sutjipto H. Muljadi, memiliki perusahaan jasa perminyakan yaitu PT Mulia Graha Abadi.

Anak keduanya sekaligus ibu dari Dita Soedarjo, Dian Mulyani Muljadi, sosialita sekaligus pendiri perusahaan media online Fimela. Anak ketiga adalah Gunawan S. Muljadi yang meneruskan firma hukum milik Kartini Muljadi. Sedangkan anak bungsunya, Handojo S. Muljadi, yang memimpin roda perusahaan PT Tempo Scan Pacific, Tbk.

Kartini Muljadi membuktikan untuk para wanita di luar sana, bahwa menjadi wanita sukses itu bukanlah sesuatu hal yang mustahil, asal kita memiliki tekad kuat, komitmen, dan selalu konsisten untuk bekerja keras.

Karena menjadi wanita kuat, akan membuat anak perempuan Anda memiliki teladan yang baik, dan anak laki-laki Anda akan tahu apa yang dicari di dalam diri seorang wanita ketika ia dewasa kelak.

 

 

 

Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini_Muljadi

https://kinibisa.com/inspirasi/detail/pengacara/kartini-muljadi-konsistensi-dan-ketekunan-dalam-menggapai-impian

http://entrepreneurcamp.id/kartini-muljadi/

https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt53b1106488873/kartini-muljadi--brmenegakkan-hukum-melalui-tiga-profesi/

https://nasional.kompas.com/read/2010/12/03/13413630/kartini.muljadi.perempuan.terkaya.ri

http://rssumberwaras.co.id/struktur-organisasi/

https://www.temposcangroup.com/

 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi