Joko Anwar

Joko Anwar
Sumber gambar: Tribun Manado
Profesi Sutradara, Penulis Naskah, Aktor
Tempat lahir Medan
Tgl Lahir 03-01-1976

Pengabdi Setan adalah salah satu film remake di tahun 2017 yang sukses di pasaran.

Tidak hanya sukses di dalam negeri, ia sendiri juga berhasil menduduki daftar film Box office di beberapa negara seperti Meksiko, Hong Kong, Singapura, Thailand, dan Malaysia. Tapi, tahukah kamu, siapa penggagas dibalik remake film Pengabdi Setan ini?

 

Kehidupan Masa Kecil

Yap, dialah Joko Anwar. Pria kelahiran Medan, 3 Januari 1976 silam ini dibesarkan di dalam sebuah keluarga yang hidup di kawasan perkampungan miskin di Medan, Sumatera Utara.

Sejak kecil ia telah tertarik dengan film. Di usia lima tahun, ia sudah jalan-jalan ke bioskop. Film-film yang sering ditontonnya kala itu adalah film kungfu dan horor.

Karena bukan berasal dari keluarga kaya, ia lebih sering menonton film melalui lubang angin-angin bioskop yang menampilkan sorotan cahaya adegan demi adegan film.

Ketika ia masih duduk di bangku SD, ia sudah tahu bahwa film itu dibuat oleh seseorang. Sehingga ia sudah memiliki keinginan untuk membuat film.

Saat duduk di bangku SMP kelas satu, ia mulai mencoba menulis dan menyutradarai pertunjukan drama untuk sekolah. Ia mengadaptasi karya Shakespeare yang berjudul “The Merchant of Venice”.

Di bangku SMA, dia mulai mencoba-coba membuat film. Sutradara Janji Joni itu meminjam kamera seorang kawannya untuk merekam domba. Mengutip wawancaranya dengan CNN, saat itu ia membuat film tentang keseharian domba dengan durasi tujuh menit yang masih diedit secara manual.

Setelah tamat dari SMA, ia berkesempatan untuk menempuh pendidikan selama setahun di negeri Paman Sam di Wheeling Park High School, West Virginia.

Ketika akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, hasratnya untuk belajar film masih menggebu. Tapi apa daya kondisi keuangan orang tuanya tidak memungkinkannya untuk belajar film yang membutuhkan biaya tidak sedikit.

Akhirnya, ia pun memutuskan untuk masuk ke universitas negeri dengan harapan bisa mendapatkan biaya kuliah yang lebih rendah. Joko kemudian kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) mengambil jurusan Teknik Penerbangan di tahun 1994.

Selama berkuliah di ITB, ia mencoba menyalurkan minatnya di dunia sinematografi dengan bergabung klub universitas yang berhubungan dengan film, seperti teater ataupun sinematografi.

Sayangnya setelah audisi, ternyata ia tidak diterima.

Di tahun 1999, ia berhasil lulus kuliah. Tapi ia tidak ingin berkarier sebagai insinyur seperti kebanyakan lulusan sarjana teknik pada umumnya.

Dia bekerja menjadi wartawan The Jakarta Post, lalu kemudian menjadi seorang kritikus film untuk mengisi artikel The Jakarta Post.

Meskipun belum bisa mewujudkan mimpi menjadi seorang sutradara, Joko tidak pernah berhenti bermimpi.

Ia selalu mengupayakan beragam cara agar tetap dekat dengan impiannya. Pekerjaan menjadi kritikus film dilakoninya karena ia memang tetap ingin dekat dengan dunia film.

           

Karier Sinematografi

Suatu ketika, Joko mewawancarai Nia Dinata untuk sebuah artikel The Jakarta Post.

Produser dan sutradara film ternama itu sangat terkesan dengannya sehingga mengajaknya untuk menulis proyek filmnya yang dikenal dengan judul Arisan! (2003).

Film Arisan! Meraih sukses luar biasa, baik secara komersial maupun pujian dari para kritikus film, serta memenangkan beberapa penghargaan bergengsi di dalam dan luar negeri, termasuk memboyong pulang penghargaan “Film Terbaik” di Festival Film Indonesia 2004 dan “Best Movie” di MTV Indonesia Movie Awards 2004.

Setelah sukses menulis film pertamanya, Joko kemudian menyutradarai film pertamanya bergenre komedi romantis berjudul Janji Joni (Joni’s Promise) (2005), yang ditulisnya saat masih di bangku kuliah di tahun 1998.

Tidak memiliki pengalaman sekolah film membuat Joko akhirnya di syuting hari pertama Janji Joni hanya mengandalkan insting akan teknik film.

Untungnya ia pernah menjadi asisten sutradara sehingga sedikit-sedikit ia cukup paham.

Modalnya setiap membuat film adalah story telling, bercerita melalui format layar lebar yang membuatnya selalu termotivasi untuk menghasilkan sebuah film yang mampu bercerita kepada penonton.

Tak disangka Janji Joni yang dibintangi oleh Nicholas Saputra dan Mariana Renata tersebut berhasil menjadi film box office terbesar di tahun 2005.

Poster Film Janji Joni (2005) yang dibintangi oleh Nicholas Saputra dan Mariana Renatan (Sumber: id.wikipedia.org)

Film ini memenangkan “Best Movie” di MTV Indonesia Movie Awards 2005. SET Foundation yang dikepalai oleh Garin Nugroho memberikannya penghargaan khusus untuk “cara bercerita yang inovatif”.

Selain mentereng di jajaran film dalam negeri, Janji Joni juga masuk dalam seleksi beberapa festival film internasional bergengsi, diantaranya adalah Sydney Film Festival dan Pusan International Film Festival.

Film ini menghidupkan kembali karier Barry Prima, yang dikenal sebagai bintang laga film cult yang merupakan aktor favorit Joko kecil.

Sadar akan kemampuannya dalam dunia perfilman masih dangkal, setiap proyek-proyek film di awal kariernya dijadikannya sebagai ‘sekolah film’-nya di dunia nyata.

Selain itu, sejak awal ia sudah menentukan tujuan kariernya dengan jelas supaya tidak mudah melenceng apabila ada suatu hal terjadi ketika meniti karier.

Di tahun 2007, Joko kembali ke layar lebar bioskop dengan film Kala. Film yang ditulis dan disutradarainya sendiri disebut-sebut sebagai film noir pertama Indonesia yang mendapat pujian dari para kritikus internasional.

Poster film Kala (2007) yang dianggap sebagai film noir pertama di Indonesia

Sumber Gambar: jadiberita.com

Majalah film terkemuka asal Inggris, Sight & Sound, memilih film ini sebagai salah satu film terbaik di tahun 2007 dan menyebut Joko sebagai “salah satu sutradara tercerdas di Asia”.

Di kancah internasional, film ini berhasil terpilih di lebih dari 30 film festival internasional dan memborong beberapa penghargaan. Diantaranya adalah Jury Prize di New York Asian Film Festival. Film ini telah disandingkan dengan karya-karya Alex Proyas dan Kiyoshi Kurosawa.

The Hollywood Reporter menyebut film ini sebagai sebuah film noir cerdas yang mampu mengingatkan penonton pada film M karya Fritz Lang.

Joko pernah terlibat dalam beberapa film dimana ia menulis naskahnya untuk sutradara lain, seperti Jakarta Undercover (2007), Quickie Express (2007), dan Fiksi (2008). Film-film ini pun sukses secara komersial dan dinobatkan sebagai “Film Terbaik”.

Pintu Terlarang adalah film ketiga yang disutradarai dan ditulis sendiri oleh Joko di tahun 2009. Film bergenre thriller psikologis yang dibintangi oleh Fachri Albar dan Marsha Timothy ini lagi-lagi berhasil dipuji-puji oleh para kritikus.

Film ini seperti mendobrak batas perfilman, terutama perfilman Indonesia yang masih itu-itu saja pada waktu itu.

Menyuguhkan konsep cerita yang tidak biasa, film ini cukup berjaya untuk masuk dalam seleksi di beberapa festival internasional seperti International Film Festival Rotterdam, New York Asian Film Festival, dan Dead by Dawn.

Puchon International Fantastic Film Festival 2009 menganugerahi Pintu Terlarang dengan penghargaan tertinggi sebagai film terbaik.

Salah satu adegan dalam film Pintu Terlarang (2009) yang dibintangi oleh Fachri Albar dan Marsha Timothy

Sumber Gambar: jadiberita.com

Sutradara yang dikenal langganan memasukkan adegan wanita hamil ke dalam filmnya ini selalu merasa tidak puas untuk mengeksplor hal-hal baru terkait sinematografi.

Ia sendiri menyebut dirinya sebagai sutradara yang hanya akan membuat film sesuai keinginannya sendiri sebagai bentuk idealismenya.

Rio Dewanto digaet oleh Joko dalam film Modus Anomali (2012). Film ini cukup unik karena menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar filmnya meskipun para pemainnya orang Indonesia. Film ini kemudian memenangkan grant dari Network of Asian Fantastic Films di Puchon, Korea Selatan.

Pengabdi Setan (2017) yang diremake oleh Joko ini merupakan salah satu filmnya yang berhasil meraih sukses besar sepanjang kariernya sebagai sutradara.

'Ibu' yang menjadi tokoh sentral dalam adegan film Pengabdi Setan (2017) (Sumber:  layar.id)

Tidak hanya mendapat tanggapan positif dari penonton dalam negeri, film ini juga berhasil menduduki daftar film box office di beberapa negara seperti Hong Kong, Malaysia, Singapura, dan Meksiko.

Film yang pernah tayang sebelumnya di tahun 1986 silam ini dibuat ulang oleh Joko dengan versi film dan cerita yang lebih modern dari aslinya tanpa menghilangkan sisi horornya.

Pengabdi Setan bisa dibilang sebagai salah satu kebangkitan film horor Indonesia yang berkualitas, setelah sebelumnya penonton dijejali oleh film horor yang kurang bermutu.

Kesuksesan Joko yang mampu menyutradarai beraneka ragam genre film membuatnya terlibat kerjasama dengan HBO Asia untuk membuat serial televisi berjudul Halfworlds (2015) lalu dilanjutkan film serial Folklore berjudul A Mother’s Love (2018).

 

Menjadi Seorang Aktor 

Sebagai seorang sutradara dan penulis naskah yang selalu tertarik dengan karakter, bagi Joko menyelami karakter film itu sangatlah penting karena karakter yang nantinya akan selalu dikenang oleh penonton.

Dalam sebuah wawancara, penulis naskah film Stip dan Pensil (2018) ini pernah menuturkan bahwa kunci sukses film-filmnya adalah dengan mengonsep karakternya terlebih dahulu supaya mampu menghasilkan karakter yang kuat, baru mencari teknis yang tepat untuk mendukung karakter tersebut. Untuk itu ia pun tak ragu untuk menjajal dunia seni peran.

Beberapa kali menjadi penulis skenario film dan sutradara, membuat Joko tetap tertarik untuk menyelami dunia baru yang belum pernah dijajalnya di dunia film.

Untuk pertama kalinya ia menjajal menjadi aktor dengan film perdananya Babi Buta yang Ingin Terbang (2008).

Selanjutnya, ia ikut ambil peran dalam film Madame X (2010), Demi Ucok (2013), 3Sum (2013), Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014), Melancholy is a Movement (2015), Ave Maryam (2018).

Atas kegigihannya di dunia layar lebar, ia pun pernah diganjar beberapa penghargaan seperti Piala Citra untuk Penulis Skenario Terbaik (2008) dari film Fiksi, Piala Citra untuk Sutradara Terbaik (2015) dari film A Copy of My Mind, dan Piala Maya untuk Sutradara Terpilih (2017) dari film Pengabdi Setan.

Sukses bukan hanya milik orang-orang yang bersekolah formal, tapi milik orang-orang yang terus gigih untuk selalu belajar.

Seperti kutipan dari Joko Anwar “While you’re wasting your energy ‘hating’ someone better than you, they’re spending their energy learning to be even better” yang diterjemahkan berarti “Ketika kamu membuang energimu membenci seseorang yang lebih baik darimu, mereka bahkan sedang menghabiskan energi untuk belajar menjadi lebih baik lagi”.

 

 

Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Joko_Anwar

https://www.viva.co.id/siapa/read/596-joko-anwar

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20160624104010-234-140617/joko-anwar-film-domba-dan-vakum-sementara

https://www.bintang.com/celeb/read/2196972/wawancara-eksklusif-joko-anwar-saya-aktor-sekaligus-sutradara/page-1

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20170421180243-220-209327/joko-anwar-bikin-hantu-seram-pengabdi-setan-tanpa-komputer

http://www.pikiran-rakyat.com/hidup-gaya/2018/01/14/sepotong-perbincangan-dengan-joko-anwar-di-singapura-saya-masih-cemen

https://id.linkedin.com/in/jokoanwar

https://www.whiteboardjournal.com/interview/ideas/bercerita-lewat-karya-bersama-joko-anwar/

http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/04/05/sukses-besar-di-luar-negeri-ini-poster-film-pengabdi-setan-di-beberapa-negara-seram-yang-mana?page=2

http://filmindonesia.or.id/article/joko-anwar-lebih-tertarik-karakter-daripada-teknis#.W_-jA2gzbIW

 

 

 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi