Joey Alexander

Joey Alexander
Sumber: Downbeat Magazine
Profesi Musisi Jazz
Tempat lahir Bali
Tgl Lahir 25-06-2003

Masyarakat Indonesia tentu tidak asing dengan nama Joey Alexander. Namanya melambung di kalangan publik tatkala namanya masuk ke dalam daftar nominasi Grammy Awards 2016, penghargaan musik bergengsi dan tertinggi bagi para musisi dunia.

Ia merupakan orang Indonesia pertama yang namanya mampu menembus daftar nominasi pemenang, serta nomine termuda sepanjang sejarah Grammy Awards dimana usianya masih 12 tahun waktu itu.

Sejak ia masih di dalam kandungan, kedua orang tua Joey, Denny Silla dan Farah Leonora Urbach, telah rutin memperdengarkan musik jazz kepada sang jabang bayi karena kebetulan keduanya penggemar musik jazz, khususnya karya Louis Armstrong.

Joey sendiri tidak asing dengan musik klasik karena kerap mendengarkan album klasik koleksi ayahnya. Di usia enam tahun, ayahnya memberinya hadiah keyboard listrik kecil yang menjadi permulaannya berkenalan dengan piano sekaligus membuatnya tertarik untuk mendalami piano dan mengesampingkan kursus vokal yang diikutinya. Ia belajar alat musik tersebut dari sang ayah yang kebetulan bisa bermain piano dan gitar.

Selain belajar bersama ayah, ia juga belajar piano klasik di sekolah musik. Beberapa kali ia berganti guru karena dirasa kurang cocok. Hobinya mendengarkan koleksi jazz milik ayahnya, seperti “Well, You Needn’t” milik Theolonious Monk membuatnya berganti haluan untuk mempelajari musik jazz.

Karena tidak ada kursus jazz formal di kampung halamannya di Bali, ayahnya pun rutin mengantarnya untuk bermain dalam jam session bersama musisi jazz di Bali. Ia juga mendengarkan dan berlatih melalui rekaman jazz milik ayahnya secara mandiri.

Melihat anaknya memiliki bakat istimewa, kedua orang tuanya pun memutuskan untuk pindah ke Jakarta untuk mengembangkan bakat Joey agar bisa bermain dengan musisi jazz terkenal Indonesia. Mereka meninggalkan bisnis travel yang selama ini digeluti di Bali demi menemani Joey untuk meniti karier.

Dalam sehari ia bisa berlatih piano berjam-jam. Untuk urusan sekolah, ia memilih homeschooling agar pendidikan dan karier di dunia musik bisa berjalan beriringan.

Setelah pindah ke Jakarta, kesempatan bertemu musisi besar semakin terbuka lebar. Ia sendiri dibimbing selama dua tahun oleh Indra Lesmana sejak kedua orang tuanya membawanya untuk bermain bersama Indra di Redwhite Jazz Lounge. Kemampuannya pun semakin terasah.

Ia juga sering jamming session bersama beberapa musisi terkenal seperti Barry Likumahuwa, Dira Sugandi, serta mengunggah beberapa video permainan pianonya ke YouTube.

Joey mendapatkan kesempatan untuk bermain di hadapan Herbie Hancock, musisi jazz favortinya, saat pianis dunia tersebut berkunjung ke Indonesia bersama UNESCO di tahun 2011.

Baginya ini adalah salah satu momen krusial karena pianis ternama sekelas Hancock sendiri begitu meyakini kemampuan dan bakat Joey dalam bermusik. Sejak saat itu, ia ingin mendedikasikan diri untuk jazz.

Saat usianya masih sembilan tahun, ia meraih Grand Prix dalam Master-Jam Fest 2013 di Ukraina. Sekembalinya dari sana, tawaran dan undangan untuk bermain di festival Jazz di Jakarta mulai berdatangan.

iCanStudioLive pernah mengunggah video permainan “Sons of the Future” Joey di YouTube di akhir tahun 2013. Tak disangka jika video ini menarik minat kalangan pencinta musik jazz dari berbagai negara.

Ellen DeGeneres, host acara TV The Ellen DeGeneres Show, tertarik untuk mengundang penggemar Bill Evans ini ke acaranya. Namun karena tinggal di Indonesia, akhirnya mereka mewawancarai Joey dari jarak jauh.

Wynton Marsalis, direktur seni Jazz di Lincoln Center, mendengar tentang bakat istimewa Joey setelah disarankan seorang teman untuk menonton videonya di Youtube yang membawakan karya Coltrane, Monk, dan Chick Corea. Ia memuji di akun Facebooknya dan mengundang Joey ke malam gala pada Mei 2014.

Hari itu adalah debut perdana Joey di negeri paman Sam. Ia menuai pujian dari banyak pihak untuk penampilannya, khususnya versi solo “Round Midnight” karya Monk. Beberapa media lokal seperti The New York Times, majalah Down Beat memberitakan kelihaian Joey memainkan tuts piano seperti pianis berpengalaman puluhan tahun.

Jeanne Moutoussamy Ashe mengundang Joey untuk tampil di gala Arthur Ashe Learning Center, di mana ia juga tampil di hadapan mantan presiden Amerika Serikat Bill Clinton. Tak hanya itu saja. Ia bermain di A Great Night in Harlem, pertunjukan untuk menghormati Herbie Hancock, di Apollo Theater.

Penampilannya di University of the District of Columbia meledak di dunia maya yang menyedot perhatian 500.000 pasang mata di Facebook. Ia bermain dalam konser dengan siswa dari Juilliard School. Konser tersebut menarik perhatian media NBC News yang membuatnya diberi visa O-1 dari pemerintah Amerika Serikat. Visa ini diberikan khusus kepada individu dengan kemampuan luar biasa.

Setelah memperoleh visa O-1, ia juga bekerja sama dengan label musik Motema untuk menelurkan album jazz. Sejak saat itu, Joey sekeluarga hijrah ke New York yang lebih mendukung perkembangan bakat dan kariernya di musik jazz.

Setelah mengguncang negeri Paman Sam, tokoh inspiratif dalam Anugerah Penyiaran Ramah Anak 2018 ini juga tampil memukau dalam Copenhagen Jazz Festival dan International Java Jazz Festival 2014 di Jakarta.

Album perdana Joey, My Favorite Things, diluncurkan pada 12 Mei 2015 saat ia berusia 11 tahun. Di album perdananya, ia mengaransemen semua lagu di dalam album tersebut dan memasukkan komposisinya sendiri. Sepanjang 2015, ia tampil di beberapa acara, termasuk Montreal International Jazz Festival dan Newport Jazz Festival.

The Jazz at Lincoln Center tertarik untuk menyertakan keponakan penyanyi Indonesia Nafa Urbach dalam kegiatan pendidikan musik jazz mereka untuk mengajak generasi muda mendengarkan musik jazz.

Puncak karier Joey sendiri adalah saat menjadi nomine Grammy Awards 2016 di kategori Best Jazz Instrumental Album untuk album My Favorite Things dan Best Improvised Jazz Solo untuk lagu Giant Steps. Ia sendiri tampil di panggung utama Grammy Awards dan mendapat standing ovation dari berbagai penyanyi terkenal dunia, seperti Taylor Swift dan Bruno Mars.

Meski belum berhasil membawa pulang piala Grammy Awards, menjadi nomine di ajang bergengsi dunia merupakan prestasi tersendiri bagi Joey. Kemampuannya disejajarkan dengan musisi jazz yang telah berpengalaman puluhan tahun diatasnya. Namanya juga masuk ke dalam daftar 30 Under 30 Forbes Asia 2016 sebagai salah satu pemuda inspiratif di dunia entertainment.

September 2016, ia merilis album kedua bertajuk Countdown yang kembali masuk dalam nominasi Grammy Awards 2017. Album ini dikerjakan bersama Dan Chmielinski, Ulysses Owens, dan diaransemen oleh basis Larry Grenadier dan pemain saksofon Chris Potter.

Sepanjang 2017, ia tampil dalam New Orleans Jazz dan Heritage Festival, serta mengeluarkan album ketiga Joey. Monk. Live! yang merupakan kumpulan tujuh lagu karya Thelonious Monk.

Album keempatnya bertajuk Eclipse yang dirilis pada tahun 2018. Ia juga menjadi salah satu penampil pada Opening Ceremony Asian Games 2018 lalu.

Selayaknya anak seusianya, peraih Best Jazz Instrumental Artist di Anugerah Musik Indonesia 2018 ini juga bermain video games, menonton film, mengikuti klub renang dan tenis, dan bermain dengan anak-anak seusianya. Di balik ketenarannya, orang tuanya selalu mengajarkan untuk bersyukur dan menghormati orang lain, agar tetap rendah hati dan introspeksi diri.

 

 

Sumber:

https://en.wikipedia.org/wiki/Joey_Alexander

https://id.wikipedia.org/wiki/Joey_Alexander

https://kinibisa.com/inspirasi/detail/musisi/joey-alexander-masa-depan-jazz-indonesia

https://www.gulalives.co/joey-alexander/

https://hot.detik.com/music/d-3090579/mengenal-lebih-dekat-joey-alexander

https://www.sandiegouniontribune.com/entertainment/music/sd-et-music-joey-alexander-20180421-story.html

https://www.youtube.com/results?search_query=joey+alexander+with+najwa

https://www.medcom.id/hiburan/indis/wkB8QdaN-menyelisik-keseharian-joey-alexander-di-luar-musik

https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/02/160214_majalah_joey_alexander_grammy

http://joeyalexandermusic.com/about/

https://www.instagram.com/joeyalexandermusic/



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi