Eka Tjipta Widjaja

Eka Tjipta Widjaja
Sumber Gambar: Mata Indonesia
Profesi Pendiri Sinar Mas Group, Filantropis
Tempat lahir Tiongkok
Tgl Lahir 27-02-1921
Tgl Meninggal 26-01-2019

Minyak goreng Filma atau buku tulis Sinar Dunia bukanlah merek baru di Indonesia. Siapa sangka, jika merek ini dibuat oleh satu grup perusahaan Sinar Mas yang didirikan oleh Eka Tjipta Widjaja.

Sebagai salah seorang konglomerat terbesar di Indonesia yang sudah melalui beberapa zaman, Eka Tjipta Widjaja cukup disegani di dunia bisnis Indonesia. Sabtu silam (26/1), ia mengejutkan banyak pihak atas berita dukanya.

 

Masa Kecil

Oei Ek Tjhong adalah nama asli Eka Tjipta Widjaja. Ia lahir di Quanzhou, Provinsi Fujian (Hokkian), Tiongkok pada 27 Februari 1921. Lahir dari keluarga miskin, membuat kedua orang tuanya memutuskan untuk mengadu nasib ke negeri lain. Ayahnya lebih dulu tiba di Makassar dan membuka toko kecil.

Di usianya yang masih sembilan tahun, Eka kecil menyusul sang ayah bersama ibunya ke Makasaar. Mereka berlayar selama tujuh hari tujuh malam. Karena miskin, mereka hanya bisa tidur di bawah kelas dek kapal yang merupakan tempat terburuk di kapal.

Selain itu, mereka juga tidak mampu memasak makanan enak. Mereka hanya berbekal uang 5 dollar yang tidak bisa dibelanjakan karena untuk berlayar ke Indonesia mereka masih berhutang pada rentenir sebesar 150 dollar.

Sesampainya di Makassar, ia membantu ayahnya berdagang agar bisa segera mendapatkan 150 dollar untuk membayar utang ke rentenir. Dua tahun kemudian, toko ayahnya maju dan utang pun bisa terbayar.

Eka minta untuk masuk sekolah walaupun menolak untuk duduk di kelas satu. Tamat sekolah dasar, Eka masih ingin bersekolah. Tapi masalah ekonomi kembali menjadi ganjalan sehingga ia harus mengubur dalam-dalam impiannya tersebut.

 

Perjalanan Entrepreneurial

Di usia 17 tahun tahun 1938, ia mulai berjualan biskuit dan kembang gula secara door-to-door keliling kota Makassar dengan sepeda. Dalam waktu dua bulan, ia mulai mendapat laba sebesar Rp 20 yang cukup besar di masa itu.

Harga beras pada waktu itu masih 3-4 sen per kilogram. Eka pun membeli becak untuk mengangkut barangnya untuk mengembangkan usahanya.

Bisnis biskuit dan kembang gulanya tidak bertahan lama saat pendudukan tentara Jepang di Indonesia, termasuk di Makassar. Bisnisnya hancur total karena regulasi pajak yang besar yang diterapkan oleh pemerintah Jepang. Ia pun akhirnya menganggur karena tidak ada barang impor/ekspor yang bisa dijual.

Total laba Rp 200 yang dikumpulkan bertahun-tahun habis tak bersisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah-tengah keputusasaannya, ia mencoba bersepda keliling Makassar hingga tiba di Paotere, kawasan di pinggiran Makassar yang kini menjadi salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Jawa. Disitu dia melihat ratusan tentara Jepang yang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan tentara Belanda.

Yang menarik perhatiannya bukanlah kegiatan tentara Jepang dan Belanda, tapi tumpukan terigu, semen, dan gula yang masih dalam keadaan baik. Otak bisnisnya segera berputar cepat.

Ia segera mengayuh sepeda bututnya kembali ke rumah dan menyiapkan untuk membuka tenda di dekat lokasi tentara Jepang dan Belanda tersebut. Dia berencana untuk menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada disana.

Esok harinya, sebelum matahari terbit, Eka sudah tiba di Paotere. Ia membawa kopi, gula, kaleng bekas minyak tanah berisi air, oven kecil yang telah diisi arang untuk membuat air panas, cangkir, sendok, dan sebagainya. Alat-alat itu ia pinjam dari ibunya.

Tak hanya itu saja. Enam ekor ayam milik ayahnya juga dipinjamnya untuk dipotong dan dimasak ayam putih gosok garam. Ia juga meminjam sebotol whiskey, sebotol brandy, dan sebotol anggur dari teman-temannya.

Pukul tujuh pagi, ia sudah siap jualan. Sesuai perkiraannya, 30 orang Jepang dan Belanda mulai berdatangan. Namun hingga pukul sembilan pagi, tidak ada satu pun pengunjung yang mendatangi lapaknya. Dia berpikir cepat dan memutuskan untuk mendekati komandan pasukan Jepang.

Mula-mula, Eka mentraktir komandan Jepang makan dan minum di tenda. Komandan Jepang ini mengomentari makanan dan minuman jualannya dan bilang koto yang berarti enak dalam bahasa Jepang, setelah mencicip seperempat ayam komplet dengan kecap cuka dan bawang putih serta dua teguk whisky.

Setelah itu, semua anak buah dan tawanan tentara Belanda dibolehkan makan dan minum di tendanya. Tentunya ia tak lupa untuk minta izin mengangkat semua barang yang sudah dibuang oleh tentara Jepang.

Eka mengerahkan anak-anak satu kampung untuk mengangkut barang-barang tersebut dan membayar masing-masing 5-10 sen. Semua barang diangkut dengan becak ke rumahnya. Barang-barang yang diangkutnya tersebut memenuhi rumah, halaman, serta setengah halaman milik tetangganya.

Ia mulai bekerja keras memilah apa yang bisa dipakai dan dijual. Terigu yang masih baik dipisahkan. Sementara yang sudah keras ditumbuk dan dirawat hingga bisa dipakai lagi. Ia juga belajar menjahit karung.

Pada saat itu dalam keadaan perang, pasokan bahan bangunan dan barang keperluan sembako sangat kurang. Semen, terigu, arak China, dan barang-barang lain yang diperolehnya dari puing-puing buangan tentara Jepang menjadi sangat berharga.

Dia mulai menjual terigu yang semula hanya Rp 50 per karung, dinaikkan menjadi Rp 60, hingga akhirnya mencapai Rp 150. Ia menjual semen seharga Rp 20 per karung, lalu dinaikkan menjadi Rp 40.

Saat itu, ada seorang kontraktor yang hendak memborong semen miliknya untuk membuat makam orang kaya. Ia menolak tawaran tersebut. Baginya, untuk apa ia menjual semen ke kontraktor?

Lebih baik ia yang menjadi kontraktor untuk membuat makam orang kaya. Ia kemudian membayar tukang dengan upah Rp 15 per hari, ditambah 20% saham kosong untuk mengadakan kontrak pembuatan enam makam mewah.

Ia mulai mematok harga Rp 3.500 per makam, hingga yang terakhir membayar Rp 6.000. Setelah stok semen dan besi beton habis, ia berhenti menjadi kontraktor kuburan.

Usai berhenti menjadi kontraktor kuburan, di tahun 1950 ia mulai berpindah haluan bisnis ke kopra, daging buah kelapa yang dikeringkan untuk bahan baku pembuatan minyak kelapa. Ia berlayar berhari-hari ke Selayar di selatan Sulawesi Selatan dan ke berbagai sentra kopra lain untuk memperoleh kopra murah.

Ia sempat mengail laba besar dari bisnis kopra. Tapi ia kemudian nyaris bangkrut dan rugi besar karena Jepang memberlakukan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai oleh Mitsubishi yang membeli dengan harga Rp 1,80 per kaleng. Padahal saat itu harga di pasaran Rp 6 per kaleng.

Tidak ingin menyerah, Eka kembali mencari peluang bisnis lain dengan mencoba berdagang gula, teng-teng (makanan khas Makassar terbuat dari gula merah dan kacang tanah), wijen, dan kembang gula.

Ketika usahanya mulai bersinar, ujian datang lagi. Harga gula jatuh dan ia kembali rugi besar. Modal usahanya pun habis bahkan masih ada utang. Ia harus menjual mobil jip, dua sedan, serta menjual perhiasan keluarga, termasuk cincin kawin untuk melunasi utang dagang.

Jatuh bangun berwirausaha tidak membuatnya kapok untuk terus menerus mencoba berdagang. Dia kembali berusaha lagi. Dari usaha leveransir (menyediakan bahan-bahan keperluan berupa bahan makanan, bangunan, dsb.) dan barang kebutuhan lainnya. Usahanya juga masih naik turun.

Di tahun 1950-an, barang dagangannya, terutama kopra, habis dijarah oleh oknum-oknum Permesta (Perdjoeangan Rakjat Semesta). Modalnya habis lagi. Tapi ia bangkit lagi untuk mencoba berdagang lagi.

1957, Eka pindah ke Surabaya dan menajdi pemasok kebutuhan TNI di Indonesia timur. Tapi pada masa itu Indonesia menerapkan Program Benteng: pengusaha Melayu banyak diberi kemudahan, sementara keturunan Tionghoa seperti Eka tidak. Jadi, ia harus bekerja lebih keras lagi.

 

Memulai Sinar Mas Group

Ia pindah ke ibu kota di tahun 1966 dan mendirikan CV Sinar Mas yang bergerak di ekspor barang dan impor tekstil.

Tahun 1968 di era Orde Baru, Eka membangun bisnis kopranya kembali dengan mendirikan pabrik di Sulawesi Utara yang diberi nama Bitung Manado Oli, Ltd. Minyak goreng miliknya mulai merajai pasar dengan merek Bimoli. Tidak salah jika ia pernah dijuluki Raja Minyak Goreng Indonesia.

Baginya, di rezim Soeharto inilah ia mendapat angin segar untuk berbisnis karena usahanya bisa stabil dan tidak jatuh-jatuh seperti zaman-zaman sebelumnya.

Tahun 1983, ia beraliansi dengan Liem Sioe Liong untuk memperkuat Bimoli bersama-sama. Tapi kongsi tersebut tidak berlangsung lama. Eka memutuskan untuk angkat kaki di tahun 1990 dan meluncurkan minyak goreng merek baru bernama Filma. Tak lama, Sinar Mas juga meluncurkan minyak goreng Kunci Mas.

Minyak goreng buatan Sinar Mas Group (Sumber Gambar: CNBC Indonesia)

Tahun 1972, ia mendirikan pabrik kimia soda di Mojokerto. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia yang memproduksi buku tulis merek Sinar Dunia inilah yang menjadi pabrik kertas pertama Sinar Mas Group.

Produk kertas produksi Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (Sumber Gambar: The Blog of Life)

Perusahaan ini sendiri sudah resmi menjadi perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan melepaskan 9,30 juta sahamnya ke publik.

Selain Tjiwi Kimia, ada perusahaan PT Indah Kiat Pulp and Paper yang juga sudah menjadi perusahaan publik. Kedua perusahaan kertas ini beroperasi di bawah naungan Asia Pulp and Paper (APP) yang memiliki total kapasitas produksi mencapai 19 juta ton setiap tahunnya dengan penjualan di 120 negara.

Produk tisu yang diproduksi oleh PT Indah Kiat Pulp and Paper (Sumber Gambar: Profesor Untung)

Asia Pulp and Paper ini sendiri dikabarkan akan membangun pabrik di India dengan tambahan kapasitas produksi sebanyak 5 juta ton per tahunnya.

Di samping mendirikan Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, di tahun 1972 Sinar Mas juga memulai diversifikasi bisnis dengan membangun bisnis properti di bawah naungan PT Duta Pertiwi. Ini merupakan momentum yang tepat karena di akhir tahun 1980-an, pertumbuhan properti di Indonesia cukup menjanjikan.

Duta Pertiwi memulai proyek properti pertamanya di tahun 1989 dengan dibangunnya ITC (International Trade Center) Mangga Dua di Jakarta. Kawasan hunian pertama yang dibangun adalah perumahan Bumi Serpong Damai (BSD) yang menjadi salah satu perumahan prestisius di Serpong, Tangerang.

Duta Pertiwi di tahun 1994 melantai di Bursa Efek Indonesia dan mulai melebarkan operasi bisnisnya di berbagai tempat. Tak hanya di Jakarta.

Bisnis properti milik Sinar Mas ini mulai bergerak ke kota-kota lain seperti Surabaya, Balikpapan, Batam, dan Samarinda. Bahkan sudah meluas ke China, Malaysia, dan Singapura. Perusahaan ini juga memiliki portofolio properti di London, Inggris.

Di tahun 1982, Sinar Mas mulai melirik untuk terjun ke bisnis jasa keuangan. Hal ini ditandai dengan didirikannya PT Internas Artha Leasing Company yang kemudian berganti nama menjadi PT Internas Arta Finance Company.

Ia juga membeli Bank International Indonesia (BII) yang berhasil berkembang menjadi salah satu bank swasta terbesar di Indonesia. Namun di tahun 2001, Sinar Mas harus melepas BII untuk membayar utang perusahaan karena jatuhnya harga kelapa sawit serta pulp and paper di pasar internasional.

Tahun 2015, BII resmi dibeli oleh Maybank asal Malaysia dan berubah nama menjadi Bank Maybank Indonesia. Sinar Mas pun sudah tidak lagi memiliki saham di BII pasca penjualan perusahaan secara menyeluruh.

Saat ini, Sinar Mas Multiartha sudah melantai di bursa efek dan menyediakan berbagai jasa keuangan dengan beberapa anak perusahaan seperti multifinance, asuransi, pasar modal, jasa administrasi saham, sekuritas, dan fintech (financial technology).

Tahun 1986, Sinar Mas memulai usaha agribisnis melalui Sinar Mas Forestry dengan membeli perkebunan kelapa sawit seluas 10.000 hektar di Riau beserta mesin dan pabrik berkapasitas produksi 60.000 ton. Ia juga membeli perkebunan dan pabrik teh seluas 10.000 hektar dan berkapasitas 20.000 ton.

PT Dian Swastatika Sentosa awalnya didirikan Eka pada tahun 1996 untuk memfasilitasi listrik ke pabrik APP (Asia Pulp and Paper). Namun akhirnya bekembang menjadi perusahaan energi tenaga listrik, pertambangan batu bara, pupuk dan bahan kimia, dan penyedia layanan internet dengan merek My Republic.

Pernah menjual BII tidak membuat Sinar Mas kapok untuk berbisnis di perbankan. Tahun 2005 Sinar Mas Group membeli Bank Shinta yang menjadi cikal bakal Bank Sinarmas.

Perkembangan telekomunikasi di Indonesia yang cukup pesat membuat Sinar Mas tergiur untuk turut mengambil bagian. PT Smart Telecom didirikan di tahun 2006 atas hasil merger dengan salah satu provider telekomunikasi Fren yang bermain di sektor jaringan CDMA.

Walaupun teknologi jaringan CDMA tidak panjang umur, Sinar Mas tidak ingin serta merta menyerah menutup bisnisnya.

Smartfren berubah haluan di jaringan 4G LTE Advanced untuk menjangkau pelanggan lebih luas dan bersaing dengan perusahaan-perusaahaan telekomunikasi yang dulunya sudah bermain di jaringan GSM seperti Telkomsel, XL Axiata, Tri Indonesia, Indosat Ooredoo, dsb.

 

Regenerasi

Eka sudah tidak lagi berada di garda depan untuk menjalankan ratusan perusahaannya. Anak dan cucunya yang menjalankan roda bisnis Sinar Mas Group. Setiap anak mengelola satu lini bisnis. Bisnis yang dipegang sang anak, otomatis menurun ke cucu.

Sinar Mas Group mengelompokkan ratusan perusahaannya ke dalam enam pilar utama bisnis, yaitu pulp and paper, jasa keuangan, pengembang dan real estate, agribisnis dan makanan, telekomunikasi, serta energi dan infrastruktur.

Enam pilar bisnisnya ini juga diaplikasikan ke dalam enam nilai bisnisnya, yakni integritas, pengembangan berkelanjutan, inovasi, komitment, sikap positif, dan loyalitas.

 Anak tertua Eka, Teguh Ganda Widjaja, saat ini mengelola lini bisnis pulp and paper. Franky O. Widjaja kebagian lini bisnis agribisnis dan makanan. Sementara itu, Muktar Widjaja memegang bisnis pengembang dan real estate. Indra Widjaja mengendalikan bisnis jasa keuangan.

Cucu-cucu Eka Tjipta pun juga sudah terlibat untuk menjalankan bisnis keluarga ini bersama orang tua mereka. Bisa dibilang, Sinar Mas Group saat ini sudah dipegang oleh generasi III.

Hanya lini bisnis energi dan infrastruktur dipegang oleh Fuganto Widjaja yang merupakan generasi III dan anak dari Indra Widjaja.

Menjalankan bisnis keluarga bersamaan oleh dua generasi bukanlah tanpa hambatan. Hambatan yang muncul biasanya dipengaruhi oleh faktor latar belakang pendidikan dan komunikasi. Gaya kepemimpinan generasi III yang berlatar pendidikan luar negeri tentu berbeda dengan generasi II.

Untuk mengatasi hal itu, mengutip wawancara Gandi Sulistiyanto dari Kontan, klan Eka sudah sepakat bila keputusan sudah diputuskan oleh anak tertua, maka yang lain harus mengikuti meskipun dalam diskusi ada perbedaan pendapat.

 

Eka Tjipta Foundation

Sebagai imigran Tiongkok yang berhasil mengadu nasib di tanah air dan keluar dari kubangan kemiskinan, tidak membuat Eka menjadi seorang pribadi yang tinggi hati. Ia menyadari betul bahwa untuk menjadi pengusaha sukses seseorang harus mampu berhemat dan mengendalikan uang.

Baginya, kesuksesan perusahaannya tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Untuk itu di tahun 2006 ia mendirikan Eka Tjipta Foundation (ETF), organisasi nirlaba yang bertujuan untuk meningkatkan pendidikan dan konservasi lingkungan di Indonesia, untuk berbagi dengan sesama.

Lulusan SD yang mendapatkan gelar kehormatan Doctor Honoris Causa (Dr. HC) dari Pittsburg State University, Amerika Serikat, ini melalui ETF menyalurkan beasiswa Tjipta Sarjana Bangun Desa (TSBD) berupa beasiswa pendidikan sarjana dan fellowship untuk penelitian dan pendidikan master serta doktoral setiap tahun.

Selain itu, ada pula program Tjipta Pemuda Bangun Bangsa (TPBB) yang khusus memberikan beasiswa kepada siswa berprestasi di tingkat nasional dan internasional untuk berkuliah di 10 universitas ternama Indonesia dan 15 perguruan tinggi terbaik dunia.

Atas kontribusinya di bidang filantropi, Forbes Asia memasukkan namanya ke dalam daftar “48 Heroes of Philanthropy” 2010. Masih di tahun yang sama, Museum Rekor Indonesia (MURI) juga menganugerahkan rekor untuk kategori “Pemberi Beasiswa S1 Terbanyak untuk kurun waktu tertentu” (2007/2008-2008/2009) kepada 2.018 mahasiswa berprestasi.

 

Kematian

Eka Tjipta dikenal sebagai konglomerat yang namanya sudah berulang kali tercatat dalam daftar orang-orang terkaya di Indonesia. Tahun lalu, kekayaannya dari Sinar Mas Group mencatatkan namanya di posisi nomor 2 dalam “150 Richest Indonesians” versi Globe Asia.

Presiden Soeharto pernah menganugerahkan penghargaan Satyalancana Pembangunan di tahun 1995 atas kontribusinya dalam memajukan industri di Indonesia.

Legiun Veteran Republik Indonesia juga pernah menganugerahkan penghargaan kepada Eka atas jasa-jasanya sebagai veteran di era pendudukan tentara Belanda dan Jepang.

Crazy Rich Indonesian ini tutup usia pada Sabtu, 26 Januari 2019 silam pukul 19:43 pada usia 97 tahun di kediamannya. Jenazahnya disemayamkan di Rumah Duka RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, dan akan dikebumikan di makam keluarga yang berada di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada hari Sabtu, 02 Februari 2019 mendatang.

 

Sumber:

https://bebas.kompas.id/baca/utama/2019/01/27/inilah-cerita-eka-tjipta-tentang-eka-tjipta/

https://id.wikipedia.org/wiki/Eka_Tjipta_Widjaja

https://id.wikipedia.org/wiki/Kopra

http://www.sinarmasland.com/history#1989

https://asiapulppaper.com/about-app

https://industri.kontan.co.id/news/sinar-mas-jatuh-tujuh-kali-bangkit-delapan-kali?page=2

https://www.smma.co.id/index.php/id/bisnis/informasi-anak-perusahaan

https://tirto.id/karena-bimoli-eka-tjipta-jadi-raja-minyak-goreng-indonesia-cAzE

https://id.wikipedia.org/wiki/Legiun_Veteran_Republik_Indonesia

http://www.sinarmas.com/Sinar%20mas%20Business%20profile.pdf

https://www.cnbcindonesia.com/market/20190127113733-17-52536/ini-gurita-bisnis-eka-tjipta-widjaja-yang-tercatat-di-bei

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4402269/sejarah-eka-tjipta-widjaja-bangun-kerajaan-bisnis-sinar-mas

https://nasional.kontan.co.id/news/eka-tjipta-widjaja-berawal-dari-berjualan-permen-dan-biskuit-keliling

https://www.msn.com/id-id/berita/nasional/pendiri-sinarmas-group-meninggal-dunia-orang-terkaya-kedua-di-indonesia-yang-hanya-tamatan-sd/ar-BBSMiiR

http://biografi.handy.co.id/pengusaha/biografi-eka-tjipta-widjaja



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi