dr. Terawan Agus Putranto

dr. Terawan Agus Putranto
Sumber: Katadata
Profesi Menteri Kesehatan
Tempat lahir Sitisewu, Yogyakarta
Tgl Lahir 05-08-1964

Tidak banyak informasi mendalam mengenai dr. Terawan selain praktik “cuci otak” beliau yang sempat menimbulkan polemik tahun lalu karena munculnya surat sanksi untuk dr. Terawan yang diterbitkan oleh IDI (Ikatan Dokter Indonesia).

Dokter yang juga anggota TNI (Tentara Nasional Indonesia) ini bernama lengkap Letjen TNI (Purn.) Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad(K). Lahir di Sitisewu, Yogyakarta, 5 Agustus 1964, ia banyak menghabiskan masa mudanya di Yogyakarta.

Lulus dari SMPN 2 Yogyakarta tahun 1980, ia melanjutkan sekolah ke SMA Bopkri 1 Yogyakarta. Menurut penuturan gurunya semasa SMA, ia dikenal sebagai siswa yang rajin, pandai, dan religius. Ia selalu mengaitkan urusan kehidupan dengan kepasrahan, selalu yakin bahwa rencana Tuhan itu selalu yang terbaik.

Setamat SMA, suami Ester Dahlia yang sudah sejak kecil bercita-cita jadi dokter ini memilih Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai tempatnya menimba ilmu kedokteran. Tujuh tahun masa pendidikan dokter dihabiskannya di sana hingga lulus di tahun 1990. Prestasinya cukup baik, terbukti ia berhasil menjadi dokter saat usianya masih 26 tahun.

Lulus sebagai seorang dokter, dr. Terawan bergabung dengan TNI Angkatan Darat melalui jalur Korps Kesehatan Militer. Selama bergabung dengan TNI AD, ia pernah ditugaskan di beberapa daerah, seperti Bali, Lombok, dan Jakarta.

Ayahnya hanya pensiunan PNS biasa, sementara ia waktu itu bercita-cita menjadi dokter spesialis, maka ia kemudian memilih melanjutkan pendidikan dokter spesialis dengan beasiswa ikatan dinas. Ia mengambil spesialis Radiologi di Universitas Airlangga, Surabaya dan selesai pada tahun 2004.

Lima tahun kemudian, tepatnya di tahun 2009, ia masuk dalam jajaran tim dokter kepresidenan RI di masa pemerintahan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Di samping itu, ia terus memperdalam ilmu kedokterannya dengan mengambil studi program doktoral (S3) di Universitas Hasanuddin Makassar.

 

Penemuan Metode “Cuci Otak”

Metode brainwash atau cuci otak ini mulanya berasal dari disertasi dr. Terawan yang bertajuk “Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis”.

Dalam studi tersebut, ia menemukan metode yang diberi nama ‘Brain Flushing’ yang sempat menimbulkan perdebatan di kalangan akademisi dan ilmuwan kedokteran karena latar belakangnya sebagai seorang radiolog.

Seharusnya topik tersebut diteliti oleh seorang dokter ahli saraf yang lebih berwenang untuk menangani kasus pada pasien stroke yang menjadi perhatian dalam penelitian ini.

Stroke terjadi karena penyumbatan darah di area otak yang biasanya disebabkan oleh lemak. Hal ini mengakibatkan aliran darah jadi macet dan saraf tubuh tidak bisa bekerja dengan baik.

Akibatnya, penderita tidak bisa menggerakkan tangan, kaki, bibir, atau anggota tubuh lain. Ini yang menjadi alasan utama cuci otak dibutuhkan.

Terawan menerapkan metode radiologi intervensi dengan memodifikasi Digital Subtraction Angiogram (DSA), sebuah teknik melancarkan pembuluh darah otak yang telah ada sejak tahun ’90-an. Modifikasi bertujuan untuk mengurangi paparan radiasi.

Menukil dari wawancaranya dengan VIVA, jumlah radiasi di ruang tindakan yang mengenai pasien dapat diredam hingga 1/40 dari jumlah radiasi biasa yang dilakukan di luar negeri. Caranya hanya memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah melalui pangkal paha.

Dalam terapi cuci otak, Terawan menggunakan obat heparin untuk menghancurkan plak itu. Cairan heparin berpengaruh terhadap pembuluh darah sebagai antikoagulan (anti pembekuan darah), agen anti-inflamasi, dan anti-oksidan. Heparin dimasukkan lewat kateter yang dipasang di pangkal paha pasien, ke sumber kerusakan pembuluh darah penyebab stroke di otak.

Untuk menguji metodenya, ia meneliti 75 pasien strok iskemik yang berobat di RSPAD Gatot Subroto dan didominasi oleh laki-laki dengan rentang usia 41-60 tahun. Diasumsikan bahwa 73,3 persen pasien ada di usia produktif, sehingga penyakit stroke ini mengganggu kegiatan sosial dan ekonomi mereka.

Hasil dari penelitian cuci otak ini menunjukkan, cuci otak memberikan peningkatan aliran darah yang signifikan, sekitar 41,20 persen.

Sebelum menemukan metode ini, ia telah melakukan berbagai tindakan medis untuk pengobatan stroke akut sejak 2003. Beberapa cara yang pernah dilakukannya adalah transcranial LED  atau pemasangan balon di jaringan otak.

Hasilnya, pemasangan balon meningkatkan aliran darah sebesar 20 persen dalam jangka waktu 73 hari. Ia menggunakan metode ini ditunjang oleh pemberian terapi sebanyak 146 seri untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Alternatif lain, dia juga menggunakan metode pemberian obat penurun kolesterol (statin). Namun obat ini tidak mempengaruhi aliran darah seketika pasca-iskemia. Responsnya baru kelihatan setelah lima hari.

 

Polemik “Cuci Otak”

Terawan sendiri sudah mempraktikkan terapi ini sejak 2004 di RSPAD Gatot Subroto dan mulai diminati banyak pihak sejak 2010. Dilansir dari VIVA, konon metodenya sudah meringankan dan menyembuhkan 40 ribu penderita stroke. Bahkan metode itu telah dipatenkan di Jerman dengan nama Terawan Theory.

RS Awal Bros Bekasi sendiri pernah mempublikasikan sebuah video yang diunggah di YouTube pada 13 Juli 2015 berisi penjelasan terapi ‘cuci otak’ yang dipraktikkan di sana. Menurut klaimnya, dalam waktu kurang dari 30 menit, kelumpuhan akibat stroke dapat disembuhkan dengan metode ini. Sebelumnya, Metro TV pernah mempromosikan metode ini pada tahun 2012.

Namun penelitian ini dibantah oleh Fritz Sumantri Usman, dokter spesialis saraf. Bersama beberapa kolega, dr. Fritz menulis riset bantahan sebab ada tiga poin yang menjadi titik lemah riset tersebut.

Pertama, mengenai kesesuaian daftar pustaka dengan topik penelitian. Mengutip tinjauan Fritz, dkk. berdasarkan hasil wawancara CNNIndonesia.com, salah satu sumber pustaka yang digunakan dr. Terawan adalah riset milik Guggenmos yang berjudul ‘Restoration of Function After Brain Damage Using a Neural Prosthesis’, yang mana menurut Fritz tidak nyambung dengan riset Terawan.

Selanjutnya, Terawan salah pilih sampel, tidak menggunakan indikator jelas untuk perbaikan pasca metode cuci otak atau DSA, dan menarik biaya dari pasien yang dianggap menjadi subjek penelitiannya. Tapi Terawan mengklaim metode terapi cuci otaknya ini sudah teruji ilmiah, melalui disertasi yang dibuat untuk meraih gelar doktor dari Universitas Hasanuddin.

Prof. Dr. dr. Moh. Hasan Machfoed, Sp.S(K), Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, menganggap promosi itu terlalu dilebih-lebihkan karena klaim metode ini seharusnya diuji melalui metode ilmiah yang ketat, termasuk “harus memperoleh pengakuan publikasi ilmiah bertaraf internasional.

Promosi yang masif dan dianggap berlebihan ini yang menjadi masalah utama yang menyebabkan dr. Terawan mendapat sanksi dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia.

Meski dibombardir IDI, dr. Terawan tidak bergeming. Sejak kasus ini diusut pada 2015, ia sama sekali tidak memenuhi panggilan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran IDI. IDI sendiri akhirnya melakukan pemecatan kepada bapak satu anak itu selama 12 bulan sejak 28 Februari 2018-25 Februari 2019 dengan mencabut izin praktiknya sebagai dokter dalam sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran.

Sewaktu masalah ini menimbulkan polemik, banyak tokoh penting di tanah air yang berbondong-bondong memberikan testimoni mengenai metode ini untuk membela dr. Terawan. Sebut saja Menkopolhukam (Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan) Mahfud MD, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, dan Aburizal Bakrie yang merasa sangat terbantu akan metode ini sehingga bisa beraktivitas normal seperti sedia kala.  

 

Karier Melejit

dr. Terawan sendiri merasa tidak pernah ada yang salah dengan metode cuci otak temuannya tersebut sehingga memilih untuk bungkam. Baginya, sebagai seorang dokter, sudah panggilan jiwa untuk menolong pasien yang membutuhkan pengobatannya. Karier dan namanya di mata publik sendiri semakin melejit walaupun pernah dipecat oleh IDI.

Tahun 2015, atas prestasi dan pengalamannya ia diangkat sebagai Ketua RSPAD Gatot Subroto dengan pangkat Mayor Jenderal (Mayjen) dan tetap ada di dalam jajaran tim dokter kepresidenan. Ia sendiri sempat merawat mendiang Ani Yudhoyono sebelum dirawat di Singapura.

Inovasi ‘cuci otak’ ini membuatnya diganjar beberapa penghargaan, seperti Hendropriyono Strategic Consulting (HSC) dan dua rekor MURI sekaligus; penemu terapi cuci otak dan penerapan program Digital Substraction Angiogram (DSA) terbanyak dengan pasien yang mencapai puluhan ribu.

Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (Leprid) memberi Ketuda Dokter Militer Dunia ini penghargaan Lifetime Achievement Award atas penemuannya. Karena prestasi dan pengalamannya dalam manajemen kesehatan ini yang membuatnya ditunjuk oleh Presiden sebagai Menteri Kesehatan untuk Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024.

Alasan penunjukan dr. Terawan ini adalah berdasarkan pengalamannya memimpin RSPAD Gatot Subroto selama empat tahun belakangan, juga sebagai dokter yang sudah cukup lama makan asam garam di dunia kesehatan. Sebelum ditunjuk sebagai Menkes, ia diberi kenaikan jabatan militer khusus oleh Presiden sebagai Letnan Jenderal (Letjen) sehingga ia pensiun dari TNI dengan jabatan tersebut.

Terlahir dari keluarga biasa, bukan berarti kita tidak bisa mengubah nasib menjadi lebih baik. Akan ada banyak jalan, meski untuk mencapai cita-cita tersebut kita harus bersusah payah terlebih dahulu. Siapa sangka, dr. Terawan yang tadinya hanya anak pensiunan PNS biasa, berkat ketekunannya, kini bisa jadi Menteri Kesehatan. Semoga menginspirasi!

 

           

           



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi