Dr. (HC) Ir. Soekarno

Dr. (HC) Ir. Soekarno
Source: Wikipedia
Profesi Presiden RI ke-1
Tempat lahir Surabaya
Tgl Lahir 06-06-1901
Tgl Meninggal 21-06-1970

Ada yang masih belum tahu siapa bapak prokalamator Indonesia? Kalau belum tahu, berarti perlu kenalan dulu dengan salah satu pejuang kemerdekaan RI sekaligus bapak proklamator kita, Ir. Soekarno.

 

Masa Kecil

Soekarno dilahirkan di Surabaya, 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Kedua orang tuanya bertemu ketika sang ayah yang merupakan seorang guru ditempatkan di Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja, Bali.

Ibunya adalah seorang keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu. Sementara ayahnya sendiri beragama Islam.

Sebelum Soekarno lahir, kedua orang tuanya memiliki seorang putri bernama Sukarmini. Soekarno, yang dilahirkan dengan nama Kusno Sosrodihardjo, menghabiskan masa kecilnya bersama kakeknya, Raden Hardjokromo, di Tulung Agung, Jawa Timur.

Ia mengenyam pendidikan untuk pertama kalinya di Tulung Agung lalu pindah ke Mojokerto, mengikuti orang tuanya yang ditugaskan disana. Di Mojokerto, ia bersekolah di Eerste Inlandse School, sekolah tempat ayahnya mengajar.

Pada Juni 1911, dia dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hogere Burger School (HBS).

Namanya yang semula Kusno diubah menjadi Soekarno oleh ayahnya karena ia sering sakit di usianya yang ke-11 tahun.

Nama tersebut diambil dari seorang panglima perang dalam kisah Bharata Yudha yaitu Karna. Nama “Karna” menjadi “Karno” karena dalam pelafalan bahasa Jawa huruf “a” berubah menjadi “o”. 

Penambahan awalan “Su” berarti “baik”. Sebutan akrabnya sendiri adalah Bung Karno.

Di dunia Barat, nama Soekarno kadang ditulis Achmed Soekarno. Ini terjadi ketika Soekarno pertama kali bertandang ke Amerika Serikat, sejumlah wartawan bertanya, “Siapa nama kecil Soekarno?” karena mereka tidak mengerti kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia yang hanya menggunakan satu nama saja atau tidak memiliki nama keluarga.

Nama Achmed itu disebutkan didapatkan oleh Soekarno ketika menunaikan ibadah haji. Namun dalam beberapa versi lain, disebutkan pemberian nama Achmed di depan nama Soekarno, dilakukan oleh para diplomat muslim asal Indonesia yang sedang melakukan misi luar negeri dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan negara Indonesia oleh negara-negara Arab.

 

Masa Muda

Tahun 1915, Soekarno menyelesaikan pendidikan di ELS dan melanjutkan ke HBS di Surabaya atas bantuan seorang teman ayahnya, H.O.S. Tjokroaminoto. Bahkan Tjokroaminoto memberi tempat tinggal bagi Soekarno di kediamannya.

Selama bersekolah di Surabaya, ia banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu, seperti Alimin, Musso, Darsono, H. Agus Salim, dan Abdul Muis.

Dari sana, Soekarno lalu aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Dharmo yang dibentuk sebagai organisasi dari Budi Utomo.

Nama organisasi tersebut kemudian berganti menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada tahun 1918. Disamping itu, ia aktif menulis di harian Oetoesan Hindia yang dikepalai oleh Tjokroaminoto.

Setamatnya HBS Soerabaja di bulan Juli 1921, bersama Djoko Asmo rekan seangkatan di HBS, ia melanjutkan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) di Bandung mengambil jurusan teknik sipil.

Setelah dua bulan sempat meninggalkan bangku kuliah, dia mendaftar kembali di tahun 1922 dan berhasil selesai di tahun 1926.

Ia dinyatakan lulus ujian insinyur pada tanggal 25 Mei 1926 dan diwisuda bersama 18 insinyur lainnya pada Dies Natalis ke-6 TH Bandung yang jatuh pada tanggal 3 Juli 1926.

Selama di Bandung, ia tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto.

Disana ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu adalah pemimpin organisasi National Indische Partij.

Setamat dari ITB, Soekarno mendirikan biro insinyur bersama Ir. Anwari yang banyak mengerjakan rancang bangun bangunan. Kemudian bersama Ir. Rooseno, ia merancang dan membangun rumah-rumah dan jenis bangunan lainnya.

 

Pergerakan Politik

Di tahun 1915 ia pertama kali berorganisasi dengan menjadi anggota Jong Java cabang Surabaya. Baginya, sifat organisasi tersebut masih Jawa-sentris dan hanya memikirkan budaya saja adalah tantangan tersendiri.

Dalam rapat pleno tahunan Jong Java, ia menggemparkan sidang dengan berpidato menggunakan bahasa Jawa ngoko (kasar). Sebulan kemudian, ia mencetuskan perdebatan dengan menganjurkan surat kabar Jong Java diterbitkan dalam bahasa Melayu.

Di tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemeene Studie Club (ASC) di Bandung yang terinspirasi dari Indonesische Studie Club oleh Dr. Sutomo.

Organisasi ini yang di kemudian hari menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1927. Tujuan dari pembentukan PNI adalah agar Indonesia bisa merdeka dan terlepas dari jajahan Belanda.

Aktivitas politik Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada tanggal 29 Desember 1929 di Yogyakarta. Ia selanjutnya dijebloskan ke Penjara Banceuy, Bandung. Di tahun 1930 ia dipindahkan ke Sukamiskin.

Selama di penjara Sukamiskin, kebutuhan hidupnya hidupnya dipenuhi oleh sang istri, Inggit Ganarsih, yang dinikahi Soekarno pada tahun 1923. Sebelumnya, ia telah menceraikan Siti Oetari secara baik-baik ketika masih di Bandung.

Inggit juga dibantu oleh kakak Soekarno, Sukarmini, untuk membawakan makanan kepada Soekarno di penjara itu. Hal itu yang di kemudian hari membuat pengawasan penjara diperketat.

Menurut biografi Soekarno dari beberapa sumber, dia dikenal Belanda sebagai seorang tahanan yang mampu menghasut orang lain agar berpikir untuk merdeka. Sehingga ia dianggap cukup berbahaya bagi pemerintah Belanda.

Ia kemudian diisolasi dengan tahanan elit agar tidak bisa mendapatkan informasi penting yang berasal dari luar penjara. Tahanan elit ini sebagian besar adalah warga Belanda yang memiliki kasus seperti penggelapan dana, korupsi, dan juga penyelewengan.

Topik yang didengarnya sama sekali tidak penting seperti soal makanan dalam penjara atau cuaca. Selama berbulan-bulan di Sukamiskin, Soekarno pun putus komunikasi dengan teman-teman seperjuangannya. Tapi bukan hal yang sulit baginya untuk mendapatkan informasi dari luar.

Akhirnya Soekarno menemukan ide baru, dimana ia menggunakan telur sebagai media untuk berkomunikasi dengan istrinya.

Ketika temannya mengalami musibah atau mendapat kabar buruk, maka telur yang dibawa istrinya adalah telur asin. Itupun ia hanya dapat mengira-ngira karena tidak mengetahui secara pasti apa yang terjadi di luar sana.

Untuk berbicara dengan Inggit, ia diawasi secara ketat dan barang bawaaan yang dibawa oleh istrinya dari luar penjara selalu diperiksa secara teliti.

Kemudian Soekarno dan Inggit menemukan cara yang dianggap termudah dalam berkomunikasi agar tidak diketahui dan dicurigai Belanda, yakni dengan masih dengan media telur dimana cara yang digunakan sedikit berbeda. Yaitu dengan menusuk jarum ke telur.

Jika satu tusukan pada telur berarti kabar baik, jika tusukan sebanyak dua kali pada telur artinya seorang teman Soekarno tertangkap, namun jika ada tiga tusukan berarti aktivis kemerdekaan yang ditangkap cukup besar.

Selama berada di penjara, badannya mengurus dan kulitnya menghitam selama di penjara, yang membuat orang tuanya tidak tega dan tidak mau menjenguknya.

Di pengadilan Landraad Bandung pada tanggal 18 Desember 1930, ia membacakan pledoi fenomenanya yang berjudul Indonesia Menggugat. Pledoi ini terdiri dari imperialisme, kapitalisme, praktik imperialisme di Indonesia, pergerakan rakyat Indonesia, PNI dan program perjuangannya, serta cita-cita Indonesia merdeka.

Usai keluar dari penjara di bulan Desember 1931, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) di tahun 1931 karena tidak memiliki partai lagi. Tak lama, ia didaulat sebagai pimpinan Partindo.

Tapi ia kemudian kembali ditangkap oleh Belanda pada bulan Agustus 1933, dan kini diasingkan ke Pulau Ende, Flores.

Eksistensi Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangat perjuangannya tetap membara seperti yang tersirat dalam setiap suratnya kepada Guru Persatuan Islam, Ahmad Hasan.

Di tahun 1938, ia dipindahkan Belanda ke Provinsi Bengkulu bersama Inggit Garnasih dan dua anak angkatnya, Ratna Djuami dan Kartini, serta seorang pembantu bernama Riwu.

Pengasingan Soekarno ke Bengkulu ini mempertemukannya dengan Hassan Din dan Siti Chadijah, kedua orang tua Fatmawati. Mereka juga adalah aktivis pergerakan nasional sama seperti Soekarno. Tujuan mereka mendatangi Soekarno adalah mengajak Soekarno untuk mengajar di sekolah Muhammadiyah Bengkulu.

Namun ternyata dari pertemuan itu Soekarno jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Fatmawati. Cintanya pun baru berbalas empat tahun kemudian yang berakhir di pelaminan pada 1 Juni 1943, setelah Soekarno dibebaskan pada masa penjajahan Jepang.

 

Masa Pendudukan Jepang

Ketika Jepang baru menduduki Indonesia, pemerintah Jepang sempat tidak memerhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia. Hal ini terlihat pada Gerakan 3A dengan tokoh sentralnya Shimizu dan Mr. Syamsuddin yang kurang begitu populer.

Namun pada akhirnya, pemerintah Jepang memerhatikan dan memanfaatkan tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dll. dalam setiap organisasi dan lembaga untuk menarik hati penduduk Indonesia.

Sebut saja beberapa organisasi bentukan Jepang seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (Putera), BPUPKI, dan PPKI yang menempatkan beberapa tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur terlihat begitu aktif.

Tokoh-tokoh nasional ini akhirnya bekerja sama dengan pemerintah Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, walaupun ada yang melakukan gerakan bawah tanah seperti Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.

Bersama BPUPKI, ia aktif mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, diantaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945, dan dasar-dasar pemerintahan Indonesia, termasuk merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan.

Tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito.

Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh Indonesia tersebut yang berarti dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri.

Agustus 1945, dia diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat, Vietnam, yang menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan rakyat Indonesia sendiri.

Namun keterlibatan Soekarno dalam badan organisasi bentukan Jepang membuatnya dituduh oleh Belanda bekerja sama dengan Jepang, antara lain dalam kasus romusha.

Selama mempersiapkan diri menjelang proklamasi kemerdekaan RI, terjadi perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda.

Golongan tua menginginkan untuk mempersiapkan kemerdekaan secara matang, sementara golongan muda menghendaki agar kemerdekaan Indonesia diproklamasikan secepatnya.

Setelah sidang BPUPKI, panitia kecil yang terdiri dari delapan orang membentuk Panitia Sembilan yang menghasilkan Piagam Jakarta dan PPKI.

Sepulangnya dari Vietnam, terjadi peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945, dimana Soekarno dan M. Hatta dibujuk para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air (PETA) Rengasdengklok.

Para pemuda antara lain Soekarni, Wikana, Singgih, dan Chairul Saleh, menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, karena sedang terjadi kekosongan kekuasaan di Indonesia.

Hal ini disebabkan setelah peristiwa pengeboman dua kota Jepang Hiroshima dan Nagasaki oleh Sekutu pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Jepang telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.

Tapi tokoh dari golongan tua menolak dengan alasan harus menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang. Selain itu, alasan lain yang berkembang adalah Soekarno menetapkan momen tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan bulan Ramadan, yang diyakini bulan turunnya Al-Quran.

 

Masa Kemerdekaan

Setelah memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, keesokan harinya Soekarno dan M. Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Pada tanggal 19 September 1945, dengan kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah peristiwa Lapangan Ikada tempat 200.000 rakyat Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang yang masih bersenjata lengkap.

Letjen. Sir Phillip Christison, yang memimpin AFNEI ke Indonesia, mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno.

Krisis di Surabaya yang berusaha diselesaikan Soekarno juga tidak begitu berhasil karena provokasi yang dilancarkan pasukan NICA (Belanda) yang membonceng Sekutu (di bawah Inggris).

Akhirnya meledaklah peristiwa 10 November 1945 di Surabaya dan gugurnya Brigadir jenderal A.W.S. Mallaby.

Presiden Soekarno sempat memindahkan ibukota RI dari Jakarta ke Yogyakarta karena banyak provokasi di Jakarta pada saat itu. Selama revolusi kemerdekaan, sistem pemerintahan berubah menjadi semi presidensiil dengan Soekarno sebagai kepala engara dan Sutan Syahrir sebagai perdana menteri/kepala pemerintahan.

Saat peristiwa Madiun 1948 dan Agresi Militer Belanda II, Soekarno, M. Hatta, dan sejumlah pejabat tinggi negara ditahan Belanda. Akhirnya keluar Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan ketua Sjafruddin Prawiranegara.

Setelah pengakuan kedaulatan, Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan M. Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan presiden RI diserahkan kepada Mr. Assaat, yang dikenal sebagai RI Jawa-Yogya.

Karena tuntutan rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali menjadi Republik Indonesia dan Soekarno menjadi Presiden RI.

Presiden Soekarno terkenal dengan kontribusinya yang memberikan banyak gagasan di dunia internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa Asia-Afrika yang masih banyak belum merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri, menyebab Soekarno berinisiatif mengadakan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955.

Konferensi Asia Afrika sendiri menghasilkan Dasasila bandung dan membuahkan Gerakan Non Blok. Berkat jasanya itu, banyak negara Asia Afrika yang memperoleh kemerdekaannya, meskipun masih banyak pula yang mengalami konflik berkepanjangan.

Soekarno pernah mengalami tujuh kali percobaan pembunuhan diantaranya Granat Cikini (1957), penembakan Istana Prersiden (1960), pencegaran Rajamandala (1960), Granat Makassar (1962), penembakan Idul Adha (1962), penembakan mortir Kahar Muzakar (1960), granat Cimanggis (1964), serta pembunuhan karakter melalui agitasi dan propaganda via produksi film porno yang diperankan oleh pemeran yang mirip Soekarno (1950-1960).

Indonesia sendiri pernah terjepit dalam masa embargo negara adi kuasa, dimana Amerika Serikat selaku negara adi kuasa blok barat mengembargo ekonomi dan suntikan dana, serta Rusia selaku negara adi kuasa blok timur mengembargo militer.

Selain itu, dengan negara tetangga, Indonesia pernah konfrontasi dengan Malaysia yang dianggap Soekarno adalah negara boneka Inggris, juga Singapura yang memisahkan diri sebagai negara baru pada 9 Agustus 1965.

 

Masa Keterpurukan

Situasi politik Indonesia kembali dalam ancaman setelah enam jenderal dibunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September atau G30S pada tahun 1965. Pelaku peristiwa ini masih menjadi kontroversi walaupun PKI dituduh terlibat di dalamnya.

Massa dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) melakukan aksi unjuk rasa dan menyampaikan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat) yang salah satu isinya meminta PKI dibubarkan.

Soekarno menolah membubarkan PKI karena bertentangan dengan pandangan Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme). Sikap inilah yang kemudian melemahkan posisinya dalam politik.

Pada bulan Maret 1966, dikeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang ditandatangani oleh Soekarno. Surat tersebut berisi perintah kepada Letjen Soeharto untuk mengambil tindakan yang perlu guna menjaga keamanan pemerintahan dan keselamatan pribadi presiden.

Surat tersebut digunakan oleh Soeharto untuk membubarkan PKI dan menyatakannya sebagai organsasi terlarang.

Soekarno kemudian berpidato untuk mempertanggung jawabkan mengenai sikapnya terhadap peristiwa G30S pada Sidang Umum ke-IV MPRS. Akhirnya pada 20 Februari 1967, Soekarno menyerahkan kekuasaan di Istana Merdeka dan secara de facto Soeharto menjadi kepala negara dan kepala pemerintahan Indonesia.

 

Sakit Hingga Meninggal

Kesehatan Soekarno mulai menurun sejak Agustus 1965. Sebelumnya ia divonis gangguan ginjal dan pernah menjalani perawatan di Wina, Austria pada tahun 1961-1964.

Setelah meninggalkan kekuasaan presiden, ia menjadi tahanan politik di Wisma Yaso sebelum menghembuskan napas terakhir pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.

Wisma Yaso ini sendiri dimiliki oleh istri ke-5 Soekarno, Ratna Sari Dewi, yang merupakan orang Jepang. Kesehatan Soekarno menjadi semakin memburuk karena ia tidak diperkenankan untuk bertemu

Jenazah Soekarno dimakamkan di Blitar pada tanggal 23 Juni 1970 disebelah makan ibundanya berdasarkan Keppres RI No. 44 tahun 1970, meski Soekarno pernah meminta dirinya dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor.

           

Peninggalan Soekarno

Sebagai sosok yang bersejarah, pada tahun 2001, Kantor Filateli Jakarta menerbitkan prangko edisi “100 Tahun Bung Karno” sebanyak empat buah yang dirancang oleh Heri Purnomo.

Divisi Filateli PT. Pos Indonesia juga menerbitkan lima macam kemasan prangko, album koleksi prangko, empat jenis kartu pos, dua macam poster Bung Karno, serta tiga desain kaus Bung Karno.

Pemerintah Kuba pernah menerbitkan prangko Soekarno dan Presiden Kuba Fidel Castro pada tanggal 19 Juni 2008, bersamaan dengan ulang tahun Fidel Castro ke-80 dan peringatan kunjungan Soekarno ke Kuba.

Nama Soekarno diabadikan sebagai nama gelanggang olahraga di tahun 1958. Gelanggang Olahraga Bung Karno didirikan untuk keperluan penyelenggaraan Asian Games IV (1962) di Jakarta.

Gelora Bung Karno sempat berganti nama menjadi Gelora Senayan pada masa Orde Baru. Ketika Abdurrahman Wahid menjabat sebagai presiden, ia mengembalikan nama Gelora Senayan sesuai nama awalnya yaitu Gelora Bung Karno.

Yayasan Pendidikan Soekarno didirikan setelah kematiannya untuk mendirikan universitas. Yayasan yang dipimpin oleh Rachmawati Soekarnoputri berhasil mendirikan Universitas Bung Karno yang diresmikan pada tahun 1999.

Yayasan Bung Karno didirikan oleh delapan putra-putri Soekarno untuk mengumpulkan dan melestarikan benda seni maupun non seni milik Soekarno yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Di tahun 2003, Yayasan Bung Karno membuka stan di Arena Pekan Raya Jakarta yang menampilkan video pidato Soekarno “Indonesia Menggugat” dan foto-foto semasa Soekarno menjadi presiden RI. Ada pula cenderamata Soekarno seperti kaus, jam emas, koin emas, CD berisi pidato Soekarno, dan kartu pos Soekarno.

Soekarno semasa hidupnya juga mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari 26 universitas di dalam dan luar negeri.

Meski sudah meninggal 35 tahun, Soekarno mendapatkan penghargaan dari Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki berupa penghargaan bintang kelas satu The Order of the Supreme Companions of OR Tambo.

Penghargaan ini diberikan karena ia dinilai telah mengembangka solidaritas internasional demi melawan penindasan oleh negara maju, serta telah menjadi inspirasi bagi rakyat Afrika Selatan dalam melawan penjajah dan membebaskan diri dari apartheid.

Penghargaan lainnya adalah Bintang Mahaputera Adipurna (1959), Lenin Peace Prize (1960), Philippine Legion of Honor (1951).

Soekarno sendiri sosoknya telah menginspirasi banyak orang baik dari dalam maupun luar negeri. Ia merupakan sosok negarawan yang telah menjadi panutan banyak orang.

Sehingga tidak heran jika banyak buku yang menuliskan biografi tentang dirinya, termasuk Cindy Adams yang terkenal telah menulis biografi Soekarno dan menjadi rujukan.

 

 

Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno

https://www.biografiku.com/biografi-soekarno-profil-proklamator-dan-presiden-pertama-indonesia/

http://jabar.tribunnews.com/2017/07/27/kisah-bung-karno-menulis-pledoi-indonesia-menggugat-di-penjara-banceuy

https://www.akupaham.com/biografi-soekarno/



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi