Dewi 'Dee' Lestari

Dewi 'Dee' Lestari
instagram.com/deelestari
Profesi Penulis, Penyanyi, Penulis Lagu
Tempat lahir Bandung
Tgl Lahir 20-01-1976

Masa Kecil

Dee lahir sebagai anak keempat dan lima bersaudara, dari pasangan Yohan Simangunsong dan mendiang Tiurlan br. Siagian. Ayahnya seorang anggota TNI yang belajar piano secara otodidak. Hal tersebut secara tidak langsung, membuatnya dan saudara-saudaranya telah akrab dengan musik dan darah seni mengalir pada mereka.

Tidak hanya Dee yang akhirnya berkecimpung di dunia seni. Tiga saudara perempuannya juga aktif di dunia seni. Kakak perempuannya, Key Mangunsong, adalah seorang sutradara dan penulis skenario, yang salah satunya karyanya adalah film Untuk Rena (2005) dan Rectoverso (2013).

Selain itu, kakak perempuan keduanya, Imelda Rosalin ada seorang pianis dan penyanyi jazz. Sementara adik bungsunya, Arina Ephipania, ada seorang penyanyi yang tergabung dalam grup band indie ‘Mocca’ asal Bandung.

Perempuan kelahiran 20 Januari 1976 silam ini menghabiskan masa remajanya dengan bersekolah di Bandung, mulai dari SDN Banjarsari III, SMPN 2, SMAN 2, hingga jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan.

 

Karier Musik

Ayahnya yang kerap bermain piano membuat Dee tidak asing lagi dengan musik. Di bangku sekolah dasar pun, ia aktif di kegiatan grup vokal, paduan suara, hingga band sekolah.

Ia tercatat pernah menjadi anggota grup vokal ‘Highlight Voices’ dan paduan suara ‘Glorify Lord Ensemble’ dibawah pimpinan Daud Saba di Bandung. Ia pernah dilatih oleh para pelatih vokal ternama, seperti Erry RAF, Yoseph, Deden AZ, dan Elfa Secioria.

Ketika remaja, keikutsertaannya di dunia tarik suara di sekolah tetap berlanjut. Timnya sering menjuarai berbagai ajang perlombaan vokal grup dan paduan suara. Saat masih duduk dibangku SMA di tahun 1993, ia mempelopori pentas seni From 2 With Love, yang menjadi cikal bakal tren “pensi” SMAN 2 Bandung hingga kini.

Lulus SMA, ia mengawali karier musik secara lebih profesional sebagai penyanyi latar Iwa K bersama Sita. Dua tahun menjadi penyanyi latar, membuatnya pernah bekerja sama dengan berbagai penyanyi dan grup musik papan atas Indonesia di masa itu. Sebut saja Java Jive, Emerald, Padhyangan Project, Project Pop, Harvey Maiholo, dan mendiang Chrisye.

Produser Warna Musik, Adi Adrian dan Adjie Soetama, di tahun 1994, berniat membentuk tro vokal perempuan. Sita yang sudah sering bernyanyi bersama Dee mengajaknya ikut serta. Sedangkan Rida direkomendasikan oleh penyanyi Andre Hehanussa. Akhirnya terbentuklah trio vokal bernama RSD (Rida, Sita, Dewi).

Demo lagu pertama mereka diciptakan oleh Andre Hehanussa dan Adjie Soetama yang berjudul Antara Kita. Album pertamanya yang berjudul Antara Kita dirilis di tahun 1995, yang dilanjutkan dengan album kedua, Bertiga (1997). RSD dibawah naungan Sony Music Indonesia meluncurkan album ketiga yang bertajuk Satu (1999) dengan single andalan, ‘Kepadamu’ dan ‘Tak Perlu Memiliki’.

Cover Album Kedua RSD 'Bertiga' (1997) (Sumber: indolawas)

Di era pertengahan ’90-an, RSD cukup populer di kalangan anak-anak muda generasi X yang saat itu masih berusia 20-an. Lagu-lagu percintaan bernuansa pop mereka cukup sering dinyanyikan oleh anak muda masa itu.

Di akhir tahun 2002, RSD meluncurkan album terakhir dan mengemas lagu-lagu terbaik mereka selama debut ke dalam album The Best of Rida Sita Dewi dengan tambahan dua lagu baru, yaitu ‘Ketika Kau Jauh’ dan ‘Terlambat Bertemu’.

Selain aktif sebagai penyanyi, Dee rupanya memiliki talenta lain dalam menulis lagu. Berbekal pelajaran piano klasik yang pernah dipelajarinya waktu kecil selama dua tahun dan electone selama tiga tahun, ia banyak menulis lagu dengan bantuan piano.

Ia telah menulis lagu sejak kelas 5 SD, namun setelah bergabung dalam grup vokal RSD ia mulai dikenal sebagai penulis lagu profesional. Lagu pertama yang ditulisnya dan berhasil masuk dapur rekaman adalah Satu Bintang di Langit Kelam (1995) yang menjadi salah satu single hits RSD. Lagu itu pernah dinyanyikan ulang oleh Chandra Satria.

Lagu berikutnya adalah Firasat (2003) yang dinyanyikan oleh Marcell Siahaan di album pertamanya. Lagu tersebut sukses di pasaran dan berhasil langsung melambungkan nama Marcell sebagai penyanyi.

Lagu itu juga membuat Marcell selalu diingat dengan lagu Firasat khasnya oleh masyarakat. Firasat dinyanyikan ulang oleh Raisa untuk OST film Rectoverso.

2006, Dee mengeluarkan album pertama berbahasa Inggris yang bertajuk Out of Shell dengan single andalan Simply. Album tersebut juga dikeluarkannya sebagai solois, tanpa embel-embel grup vokal RSD.

Berbarengan dengan novelnya, di tahun 2008 ia mengeluarkan album Rectoverso dengan single Malaikat Juga Tahu, Peluk (duet bersama Aqi ‘Alexa’), dan Aku Ada (duet bersama Arina Mocca). Saat Rectoverso diangkat ke layar lebar, Glenn Fredly menyanyikan ulang lagu Malaikat Juga Tahu.

Ia kembali terlibat dalam lagu soundtrack filmnya saat novel Perahu Kertas difilmkan. Dua single populer OST film tersebut, yakni Perahu Kertas dan Tahu Diri dipopulerkan oleh Maudy Ayunda. Di album yang sama, ia menulis Dua Manusia yang dinyanyikan oleh Dendy, Langit Amat Indah (Rida Sita Dewi), dan A New World (Nadya Fatira).

Terkadang Dee tidak sendirian memproduksi lirik-lirik lagunya. Ia beberapa kali pernah berkolaborasi dengan penulis lirik lain, antara lain Adjie Soetama, Kahitna, Yovie Widianto, dan Noah. Dia kembali menulis single untuk Raisa yang berjudul Kali Kedua pada tahun 2016.

 

Karier Menulis

Tak hanya dunia tarik suara yang diminati oleh Dee. Menulis rupanya menjadi hobi yang juga dilakoninya sejak kecil. Sejak usianya masih 9 tahun, ia sudah pernah berkhayal suatu saat nanti pergi ke toko buku dan menemukan buku yang ditulisnya sendiri terpajang di sana.

Ia lalu membeli buku tulis dan mengisi penuh dengan cerita karangannya, membayangkan bahwa itu buku pertamanya. Judul cerita tersebut adalah Rumahku Indah Sekali yang berkisah tentang seorang gadis kecil bernama Fluegel yang mendamba kuda poni.

Beranjak SMP, ia mulai mencoba menulis cerpen remaja. Baik dengan mengirim ke majalah atau beberapa kali mengikuti lomba, rupanya tidak berhasil. Ia sempat putus asa mencoba jalur media massa karena yang ditulisnya selalu kepanjangan atau kependekan dari kriteria yang diminta. Lantas, hobi menulisnya dijalani diam-diam dan hanya ditunjukkan ke orang-orang terdekat.

Dari honornya sebagai penyanyi, ia membeli laptop pertamanya. Perahu Kertas, Filosofi Kopi, Rico de Coro adalah beberapa contoh karyanya yang ditulis semasa di bangku kuliah dan baru diterbitkan lebih dari sepuluh tahun kemudian.

Tahun 1993, ia tergerak untuk kembali mengikuti lomba menulis artikel yang diadakan majalah Gadis. Karena masih tidak percaya diri, ia memakai nama adiknya. Tapi artikelnya justru berhasil menjadi pemenang lomba.

Beberapa tahun kemudian, kakak Dee, Key mangunsong, yang berkawan dengan Hilman Hariwijaya, penulis Lupus, menunjukkan cerpen Rico de Coro. Hilman kemudian mencoba memasukkan ke majalah remaja Mode. Ternyata cerpen itu mendapat sambutan hangat dari pembaca kala itu.

Masih aktif sebagai penyanyi, di tahun 2000 mantan istri Marcell Siahaan ini menulis naskah novel yang ia rasa layak menjadi buku pertamanya, yakni Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ).

Karena tidak yakin naskahnya bisa menembus penerbit mayor, dan ada tenggat waktu yang ingin dipenuhinya, yaitu menerbitkan buku di usianya yang ke-25, ia menerbitkan bukunya sendiri di bawah label Truedee Books.

Diluar dugaannya, buku tersebut malah laris manis dan memecahkan rekor buku terlaris dalam waktu singkat. 7.000 buku habis terjual dalam waktu 14 hari.

Terbitnya Supernova: KPBJ membuat namanya semakin dikenal luas sebagai penulis. Aktivitasnya pun lebih banyak fokus pada dunia tulis menulis. Episode kedua, Supernova: Akar (2002) dan Supernova: Petir (2004) dirilis berturut-turut dengan jarak dua tahun antar buku. Novel yang mengusung fiksi sains ini dianggap lain daripada lain oleh para pembacanya, sehingga selalu ditunggu-tunggu.

Supernova Series Karya Dee (Sumber: Wikipedia)

Beralih dari fiksi sains, ia menerbitkan antologi cerpen pertamanya, Filosofi Kopi yang merupakan kumpulan karyanya selama 10 tahun dari 1995-2005. Filosofi Kopi berhasil menjadi Karya Sastra Terbaik 2006 versi majalah Tempo dan masuk ke dalam 5 besar Khatulistiwa Literary Award.

Tidak ingin terkukung di dalam satu genre tulisan, ia menjajal kemampuannya menulis fiksi populer berjudul Perahu Kertas yang segmen pembacanya adalah remaja dewasa. Cerita ini telah dibuat pada tahun 1996, yang ditulis ulang dan diterbitkan pada tahun 2009.

Rectoverso merupakan buah karya Dee yang seperti menyatukan musik, visual, dan sastra. Sebelas cerpen didalamnya bertandem dengan sebelas lagu yang menjadi karya hibrida sastra-musik pertama di Indonesia.

Madre menjadi buku antologi kedua Dee yang berisi kompilasi karyanya sejak 2007-2011 berupa 13 cerpen dan puisi. Buku ini berhasil mendapat penghargaan Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan Kementrian Pendidikan & Kebudayaan Indonesia.

Setelah delapan tahun dinantikan oleh pembaca, episode Supernova kembali berlanjut di tahun 2012 dengan judul Supernova: Partikel. Buku ini terus berlanjut dengan judul Supernova: Gelombang (2014), dan Supernova: Inteligensi Embun Pagi (2016).

Ketiga buku ini laku keras di pasaran. Bahkan Partikel sendiri pernah menjadi trending topic dunia karena menghadirkan alien di toko-toko buku. Sementara itu, Gelombang meraih predikat Penulis Fiksi Favorit Pembaca dan Buku Fiksi Favorit Pembaca versi Anugerah Pembaca Indonesia 2015.

Buku terakhir yang dirilis Dee adalah Aroma Karsa (2018) yang mengangkat tema indera penciuman atau aroma dengan kisah mitologi Jawa yang kental. Aroma Karsa berhasil menjadi Book of the Year 2018 versi IKAPI Award.

Selama berkarier sebagai penulis, novel-novel yang ditulisnya selalu melewati tahap riset cerita terlebih dahulu agar penyampaian alur cerita bisa sedetail mungkin dan mudah dipahami pembaca. Hal tersebut juga yang menjadi kekuatan Dee dan juga alasan mengapa karyanya selalu dinanti oleh para pembacanya.

 

Dari Buku ke Film

Buku yang laris tentu bisa membuat produser film tertarik untuk mengangkat ke layar lebar. Tidak heran jika buku-buku istri Reza Gunawan yang laris manis bak kacang goreng ini, juga menarik perhatian rumah produksi untuk memfilmkannya.

Buku pertama yang diadaptasi ke film adalah Perahu Kertas yang dibintangi oleh Maudy Ayunda dan Adipati Dolken di tahun 2012. Dee terjun langsung dalam penulisan naskah skenarionya.

Filmnya dibagi menjadi dua bagian dan berhasil membawa pulang penghargaan soundtrack favorit untuk lagu Perahu Kertas di Piala Maya 2012 dan Penata Musik Terpuji di Festival Film Bandung 2013.

Rectoverso menjadi film kedua Dee yang mengangkat lima cerpen pilihan dari antologi Rectoverso dengan lima sutradara berbeda. Film ini diputar di Cannes Film Festival 2013 dan Frankfurt Book Fair 2014. Juga memboyong penghargaan Special Jury Award di Asean International Film Festival 2013, Pemeran Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Wanita Terbaik, dan Pasangan Terbaik di Indonesian Movie Awards 2013.

Menyusul pula buku Madre yang mendapat giliran untuk diangkat ke layar lebar. Film ini di tahun 2013 dibintangi oleh Vino G. Bastian, Laura Basuki, dan Didi Petet. Karena film ini, toko roti tua ‘Madre’ kembali dihidupkan di sebuah setting di Jalan Baraga, Bandung.

Supernova:KBJ di akhir tahun 2014 dirilis dalam bentuk film yang naskahnya ditulis oleh Donny Dhirgantoro dan disutradarai Rizal Mantovani. Film yang mengambil lokasi shooting Di Jakarta, Bali, dan Washington DC ini dibintangi oleh Herjunot Ali, Raline Shah, Paula Verhoeven, Hamish Daud, Fedi Nuril, dan Arifin Putra.

Film ini berhasil menembus empat nominasi dalam ajang FFI 2015 dan berhasil memenangkan kategori Efek Visual Terbaik.

April 2015, Filosofi Kopi menyusul jajaran film yang diadaptasi dari buku-buku Dee Lestari. Disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko dan menggandeng penulis naskah Jenny Jusuf, film ini berhasil memenangkan kategori Skenario Adaptasi Terbaik dan Penyunting Gambar Terbaik di FFI 2015.

Poster Promosi Film Filosofi Kopi (2015) yang Diadaptasi dari Novel Dee (Sumber: infojakarta.net)

Selain itu, kedai kopi imajinatif yang menjadi setting tempat cerita ini diluncurkan secara nyata di Jalan Melawai 6 Jakarta dan berujung pada dibuat sekuel kedua dari film tersebut.

Tak hanya itu. Filosofi Kopi juga berhasil menjadi perbincangan hangat dan meningkatkan ketertarikan anak muda untuk menjadi barista, karena kisahnya yang mengangkat tema kopi.

Itulah kisah Dee yang benar-benar totalitas dalam berkarya selama hampir tiga dekade. Baik menjadi penyanyi, penulis lagu, maupun penulis buku, ia merasa harus mengerjakan dengan sungguh-sungguh agar hasilnya memuaskan.

 

 

Sumber:

http://deelestari.com/biografi/

https://id.wikipedia.org/wiki/Dewi_Lestari

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20150808075559-220-70805/filosofi-kepopuleran-dalam-filosofi-kopi

https://www.gramedia.com/blog/fakta-penulis-dee-lestari-yang-wajib-kamu-tahu/

https://www.kompasiana.com/harislana/5ba8aad012ae944e6e735121/jejak-kebudayaan-jawa-dalam-novel-aroma-karsa-dee-lestari?page=all



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi