Dato' Sri Tahir

Dato' Sri Tahir
Sumber: wartaekonomi.co.id
Profesi Pengusaha, Filantropis
Tempat lahir Surabaya
Tgl Lahir 26-03-1952

Tahir atau yang dikenal juga dengan Dato’ Sri Tahir terlahir dengan nama Ang Tjoen Ming. Ia bukan lahir dari keluarga kaya raya. Ayahnya dulu juragan becak dan ibunya menjaga toko sederhana. Beberapa kejadian tidak menyenangkan pernah dialaminya semasa kecil.

Ayahnya menyewakan 20 becak ke orang Madura. Tapi jika tidak ditagih, tidak bayar, jadi ayahnya selalu menunggu untuk minta setoran. Orang yang menyewa becak dari ayahnya marah karena terus ditagih. Orang tersebuh bahkan pernah melempari batu dan mengenai kepala ibunya sampai bocor.

Ia juga sering mendengar obrolan kedua orang tuanya saat kecil secara tidak sengaja jika ayah ibunya sering dihina, diremehkan, dan ditekan orang lain. Keluarganya sendiri masih mengontrak rumah hingga ia beranjak dewasa untuk tempat tinggalnya sekeluarga.

Pengalaman pahitnya itu membuat Tahir benci dengan orang kaya. Lantas, dendam untuk membuktikan kepada semua orang bahwa ia bisa menjadi sukses di kemudian hari terus dibawanya hingga ia dewasa.

Meski hidup tidak berlebihan, kedua orang tuanya banyak menanamkan pelajaran hidup terus diterapkannya hingga sekarang. Ia mengaku selalu diajarkan kebaikan kepada sesama dan taat kepada ajaran Tuhan.

Ibunya sendiri melatih Tahir untuk bekerja keras dalam hal apapun. Hingga saat ini, ibunya yang berusia hampir 89 tahun masih aktif bekerja di salah satu kantor cabang Bank Mayapada.

Selepas lulus dari SMA Kristen Petra Kalianyar (sekarang SMA Kristen Petra 3) Surabaya, ia merealisasikan mimpinya untuk menjadi dokter dengan kuliah di Taiwan. Tapi ia tidak betah dan tidak cocok dengan sistem pendidikan di sana. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia harus pulang ke Indonesia setelah mendapat sepucuk surat yang memberitakan ayahnya sedang sakit.

Usai pulang, kondisinya ayahnya mulai membaik tapi dia enggan meneruskan kuliah di Taiwan. Ia malah mencoba peruntungan dengan tinggal dan berdagang di Singapura. Pada saat itu ia mendapat modal dari ibunya yang sudah mulai mapan usahanya sebesar Rp 700 ribu.

Tinggal di losmen seorang diri di negeri asing untuk berdagang berhasil menempa dirinya untuk lebih tangguh menghadapi hidup. Meskipun tidak pandai bicara bahasa Inggris dan hanya hafal beberapa kata untuk berdanang seperti how much dan discount, ia tidak ingin serta merta menyerah.

Di tengah usahanya untuk berdagang, ia berhasil mendapat beasiswa untuk kuliah di sekolah bisnis di Nanyang Technological University. Sambil kuliah, setiap bulan ia membawa satu hingga dua koper untuk diisi barang yang dibeli di Singapura dan dijual lagi di Surabaya. Selain membeli pakaian wanita untuk mengisi koper, ia juga membeli sepeda dari sana. Hasil jualannya digunakan untuk menyambung biaya hidup dan sekolahnya.

 

Jatuh Bangun Berbisnis

Lulus dari Nanyang, pria kelahiran 1952 silam ini mulai membangun bisnis leasing yang menjual sekaligus memberikan kredit mobil Suzuki. Nama Mayapada pertama kali digunakan untuk bisnis tersebut.

Sayangnya bisnis otomotifnya ini bangkrut karena kebijakan Indomobil Group yang tidak membuka keagenan untuk pihak ketiga. Karena bisnis ini ia sempat terlilit utang lebih dari US$ 10 juta. Selama enam bulan ia tidak mau bertemu orang karena sedang pusing membayar utang. Menjual harta benda pun utangnya belum bisa lunas.

Tapi nasihat mertuanya, Mochtar Riady, yang cukup membangkitkan semangatnya dari kejatuhan berbisnis: “Gagal dalam bisnis itu hal biasa”. Semangat ini yang membuatnya yakin untuk bisa bangkit dan kembali gigih dalam merintis bisnis barunya kemudian hari.

Selain itu, ia mendapat fakta baru karena musibah itu jika tidak semua orang baik ketika keadaan kita berbeda, termasuk keluarga. Bisnis mobilnya jatuh, ia sendiri banyak mengambil pelajaran agar tidak mengulang kesalahan yang sama di kemudian hari. Inilah yang menurutnya harus dipelajari oleh anak muda dalam hal apapun, tidak hanya dalam berbsinis.

Menjadi menantu dari salah satu taipan di tanah air tidak membuat Tahir mudah mendapat kekayaan. Tetap saja kekayaan yang saat ini diperolehnya adalah hasil keringat dan air mata perjuangannya selama bertahun-tahun. Sejak awal menikah, ia sudah diwanti-wanti oleh mertuanya bahwa menantu tidak boleh bekerja di Lippo Group. Tidak ada keistimewaan meskipun ia mantu konglomerat.

Mochtar Riady menawarinya pinjaman dana untuk melunasi utangnya tersebut. Selain itu ia ditawari untuk mengelola bisnis garmen keluarga Riady. Perlahan, bisnis garmen di bawah bendera Mayapada Group ini semakin berkembang dan menambah jam terbang Tahir dalam berbisnis. Disamping itu, ia juga masih mengoleksi kegagalan lain seperti gagal sebagai supplier barang pecah belah merek Duralex dan bisnis importir.

Tahun 1989, ia mengajukan izin kepada Bank Indonesia (BI) untuk mendirikan Bank Mayapada. Dengan bantuan berbagai pihak, setahun kemudian, Bank Mayapada resmi berdiri. Ketika itu bisnis garmennya perlahan mulai meredup tapi bisnis perbankannya mulai naik daun.

Sebelum Krisis Moneter menghantam perekonomian dalam negeri, Bank Mayapada sempat melantai di bursa efek dan menjadi perusahaan terbuka.

Bahkan di tengah krisis, bisnisnya masih tetap berdiri tegak karena saat itu ia fokus menyasar pada kredit untuk sektor bisnis kelas menengah bawah yang dinilai unbankable dan tidak gegabah untuk mengais pendanaan dari pinjaman luar negeri yang kursnya justru melonjak tajam. Justru Lippo Bank milik mertuanya malah kolaps dan harus diakuisisi oleh Bank Niaga.

Perlahan tapi pasti, kini Bank Mayapada sudah masuk bank BUKU III dimana modal intinya masih di bawah Rp 30 triliun. Setingkat lagi, Bank Mayapada bisa masuk ke bank BUKU IV yang sejajar dengan bank papan atas seperti BCA, BRI, BNI, dan Bank Mandiri.

Karena kredibilitas dan kinerjanya, Infobank pernah menganugerahi penghargaan sebagai bank umum terbaik nomor dua selain bank milik negara (2011-2012) kepada Bank Mayapada.

Sukses bisnis perbankan, bapak empat anak ini masuk ke bisnis pembiayaan konsumen PT Topas Multi Finance pada tahun 2002. Fokus bisnis ini adalah pada pembiayaan kendaraan seperti mobil, truk, dan sepeda motor. Sejumlah penghargaan pernah didapat seperti Customer Choice versi majalah Warta Ekonomi 2016.

Di luar bisnis keuangan, ada pula bisnis media, properti, kesehatan dan Duty Free Shopping yang sudah dijajal oleh Tahir. Inilah yang membuat pundi-pundi kekayaan Tahir lewat Mayapada Group semakin bertambah.

Bisnis media di bawah naungan Mayapada Group adalah Forbes Indonesia, Elle Indonesia, surat kabar Tionghoa Guo Ji Ri Bao, dan layanan televisi parabola berbayar Topaz TV. Ada pula Mal Bali Galeria, Mayapada Office Tower di Jakarta, Singapura, dan Surabaya, Fairmont Sanur Beach Bali, dan Regent Bali Hotel and Residence yang menjadi bisnis propertinya.

Semasa mudanya, ia tidak bisa mewujudkan cita-citanya untuk menjadi dokter yang dapat membantu orang lain karena keterbatasan biaya. Untuk itu, ia membangun layanan kesehatan berupa Mayapada Hospital dan Your Clinic.

Mayapada Hospital yang pertama dibangun di Tangerang tahun 2008 setelah mengakuisisi Honoris Hospital. Bekerja sama dengan National Healthcare Group (NHG) Singapura, rumah sakit ini menyediakan fasilitas berkualitas tinggi dengan biaya yang terjangkau sehingga pasien tidak perlu berobat ke luar negeri. Cabang yang kedua dibangun di Jakarta di tahun 2013 dan kabarnya akan dibangun lagi di beberapa kota besar lain. Selain Mayapada Hospital, ada pula Your Clinic yang misinya untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dengan keluarga di Indonesia.

 

Berbagi Tidak Akan Menghabiskan Harta

Selain dikenal sukses membangun kerajaan bisnisnya dan bergaya hidup sederhana, Tahir yang diberi gelar kehormatan Dato’ Sri dari Sultan Pahang itu juga dikenal sebagai sosok filantropis yang royal menyumbangkan sejumlah uang untuk bantuan kemanusiaan atau gerakan sosial.

Lewat yayasan Tahir Foundation yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan, ia pernah menggelontorkan dana sebesar US$ 30 miliar ke Global Fund untuk aksi amal memerangi penyakit TBC, malaria, dan HIV di Indonesia.

Ia sendiri pernah membuat publik internasional tercengang saat menjalin kemitraan dengan Bill Gates, pendiri Microsoft dan yayasan Bill & Melinda Gates Foundation, dengan menyumbang senilai US$ 20 juta.

Di samping menyumbang untuk masalah kesehatan, Tahir Foundation pernah memberikan bantuan beasiswa bagi mahasiswa tidak mampu di 10 perguruan tinggi di seluruh Indonesia pada tahun 2014.

Ia juga pernah menyumbang 10.000 laptop untuk siswa/I lima bintang kelas teratas dari keluarga tidak mampu, serta beasiswa bagi mahasiswa asal Asia Pasifik yang berkuliah di Peking University dan Haas School of Business.

Istrinya, Rosy Riady juga seorang sociopreneur yang berwirausaha berorientasi sosial dengan membuka outlet barang bekas H2H, Helping 2nd Hand. Hasil penjualan barang di outlet tersebut didedikasikan langsung bagi pemenuhan SPP siswa berasal dari keluarga kurang mampu.

Atas prestasi dan kiprahnya di dunia bisnis dan filantropi, Tahir pernah mendapat penghargaan Entrepreneur of the Year 2011 dari Ernst & Young dan penghargaan di bidang pendidikan oleh Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew (2011). Ia diberi gelar doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) di tahun 2016 dan ditetapkan menjadi anggota Majelis Wali Amanat UGM tahun 2017.

Pernah terkurung dengan rasa minder di masa lalu tidak membuat semangat Tahir untuk mengubah nasib jadi melempem. Justru pengalaman tidak enak itu yang mencambuknya untuk terus semangat dan berusaha menjadi orang yang sukses.

Setelah menjadi orang sukses, ia sendiri tidak lupa untuk berbagi membantu sesama karena memberikan harta untuk membantu memudahkan hidup orang lain tidak akan membuat cepat miskin dan hartamu habis. Justru dengan berbagi membuat hidup dilumuri dengan kebaikan. Semoga menginspirasi!       

           



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi