Christine Hakim

Christine Hakim
Sumber: Kompas.com
Profesi Aktris, Produser, Aktivis
Tempat lahir Kuala Tangkal, Jambi
Tgl Lahir 25-12-1956

Nama aslinya Herlina Christine Natalia Hakim. Ia lahir tepat saat umat Kristiani sedang merayakan Natal di tahun 1956 silam. Nama Natalia merupakan pemberian sang dokter berkewarganegaraan Jerman yang membantu persalinan ibunya, Nurhadiati Hakim. Orang tuanya memilih nama Christine untuk memperingati momen kelahirannya.

Nama saudaranya yang lain selalu berawalan dengan huruf “H” sehingga mereka menambahkan Herlina untuk nama depannya. Sementara Hakim merupakan nama keluarga dari ayahnya.

H. Syarif Hakim Tahar yang merupakan ayahnya, berasal dari Yogyakarta dan berdarah Meulaboh, Aceh. Ibunya blasteran Lebanon-Jawa. Nenek dari pihak ibunya perpaduan Mesir-Suriah tapi berkewarganegaraan Arab Saudi. Sementara itu kakek dari pihak ibunya berasal dari Madiun.

Lahir di Kuala Tangkal, Jambi, Chris—sapaan akrab Christine—merupakan sosok yang pemalu, pendiam, tomboy, keras kepala, cengeng, dan cenderung introver. Ia lebih senang membaca buku di dalam kamar. Menurut ibunya dalam wawancara dengan Beritagar.id, sifat pemalu mungkin disebabkan oleh putrinya lahir di kampung terpencil.

Menginjak remaja, keluarga besarnya pindah ke Jakarta. Christine yang tadinya pemalu perlahan bertransformasi menjadi remaja gaul seperti remaja umumnya. Hobinya main ice skating.

Duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama), ia sempat tampil bersama Young Gipsy, kelompok musik yang berbasis di Menteng yang terkenal sebagai pemukiman elit di sudut selatan Jakarta. Chris pernah belajar piano klasik menjadi pemain keyboard. Mereka beberapa kali tampil, salah satunya di Mini Disco, yang menjadi salah satu arena clubbing populer di kalangan anak gaul Jakarta di era ’70-an.

Selain tampil dengan Young Gipsy, ia sempat berduet dengan mendiang Broery Marantika dan menghasilkan beberapa album rekaman. Tapi ia emoh melanjutkan karier di dunia musik karena ketidaksukaannya pada dunia rekaman.

Tinggi badannya yang mencapai 166 cm membuat posturnya dianggap cukup ideal sebagai model yang membuat seorang pemilik butik tertarik. Mulai 1972 ia resmi masuk dunia model. Wajahnya mulai terpampang di berbagai majalah remaja masa itu.

 

Menjajaki Dunia Film

Di tempat lain, ada Teguh Karya, pemimpin sanggar Teater Populer yang baru debut karier sebagai sutradara film, sedang mencari tokoh utama perempuan untuk film Cinta Pertama (1973).

Film itu baru saja ditinggal Widyawati yang awalnya menjadi incaran untuk memerankan tokoh Ade, tokoh utama yang kemudian diperankan oleh Christine, karena keburu terikat kontrak sebuah produksi film lain. Sebelumnya Widyawati menginginkan agar pemeran utama pria yang mendampinginya diperankan oleh sang suami, mendiang Sophan Sophiaan.

Teguh merasa kurang sreg dengan permintaan tersebut. Ia menganggap Slamet Rahardjo dianggap lebih pas untuk memerankan tokoh utama pria. Kemudian dia sibuk mencari beberapa pemain lain dan bertekad mencari wajah baru. Beberapa nama sempat masuk, tapi berujung mundur.

Di tengah frustasi, datang Maria Umboh, putri sutradara Wim Umboh, memperlihatkan majalah yang memuat foto-foto Christine. Teguh langsung terkesiap.

Berbekal alamat pemberian Maria, ia dan Hadi Poernomo (penata artistik sekaligus casting director) berangkat menuju rumah Christine. Sesampainya di sana, ternyata sang incaran sedang liburan ke Bandung. Alhasil Teguh hanya bisa melihat album foto Christine.

Sang ibu menelepon putrinya yang berujung penolakan tawaran tersebut. Bukan pertama kali Christine menolak main film. Sebelumnya ia juga menolak tawaran Asrul Sani yang memintanya untuk membintangi Salah Asuhan (1972).

Penolakannya bukan tanpa alasan. Cita-cita awalnya ingin menjadi arsitek atau psikolog. Sejak duduk di bangku sekolah, ia lebih tertarik pada pelajaran eksak karena mengajarkan struktur berpikir yang tidak linear.

Memecahkan rumus juga dirasa lebih menarik baginya. Selain itu, profesi ibunya sebagai kontraktor dan kakek dari pihak ibunya sebagai arsitek menginspirasinya untuk mengikuti jejak mereka.

Meskipun menolak tawaran main film, ia nurut saja ketika diantarkan mengunjungi Teater Populer di kawasan Tanah Abang. Tiba di sana, ia merasakan atmosfer yang santai dan penuh keakraban.

Sepanjang pertemuan pertama dengan Teguh, tidak ada pembicaraan soal main film. Tiba-tiba ketika ke kantor produser, ia memperkenalkan Christine sebagai calon pemain. Christine hanya cengengesan tapi juga manut ketika diminta mengukur kostum untuk keperluan syuting. Akhirnya ia main film tanpa kontrak formal.

Tangan kanan produser menganggap perawakan Chris kurang sintal. “Dada terlalu tipis,” ucap penasihat sang produser kepada Teguh yang termuat dalam majalah Aktuil (No. 145, terbitan Juni 1974).

Teguh tidak hilang akal. Ia menjawab, “Ah, itu gampang. Bisa dipermak.” Padahal kenyataannya tidak demikian. Christine tetap tampil apa adanya. Hanya suaranya saja diisi oleh Titi Qadarsih saat proses editing.

Siapa sangka, perempuan yang nol pengalaman akting itu malah mendapat Piala Citra untuk kategori “Pemeranan Wanita Terbaik dengan Pujian” (sekarang Pemeran Utama Wanita Terbaik) di Festival Film Indonesia 1974.

Tapi sukses membawa pulang piala bergengsi di dunia perfilman tidak serta merta bikin Christine semakin ketagihan menggeluti dunia akting, meski telah memerankan tiga film setelah Cinta Pertama; Atheis (1974), Ranjang Pengantin (1974), dan Bandung Lautan Api (1974). Ia sempat ingin berhenti dan mewujudkan cita-citanya sebagai arsitek atau psikolog.

Benih-benih cinta pada dunia film mulai tumbuh saat Chris membintangi Kawin Lari yang rilis dua tahun setelah film perdananya. Pengalaman itu memberinya pemahaman yang lebih besar tentang seni peran. Menurutnya, dunia film bagaikan universitas dimana ia bisa melihat kehidupan dari perspektif berbeda dalam mempelajari karakternya.

Di film Sesuatu yang Indah (1977) yang disutradarai Wim Umboh, untuk pertama kalinya ia menggunakan suaranya sendiri. Di film-film sebelumnya, suaranya diisi oleh Titi Qadarsih karena suaranya dianggap terlalu berat.  Film ini yang mengantarkannya pada Piala Citra kedua.

Pada November 1983, ia menampilkan 14 film Indonesia dalam Festival des 3 Continents atau Festival Tiga Benua yang mana ia berperan dalam setengah dari film-film tersebut. Dua tahun kemudian, ia menjadi pengamat di Festival Film Cannes, menjalin hubungan kerja dengan Pierre Risient, yang kemudian membantunya membawa filmnya ke Cannes.

Film Tjoet Nja’ Dhien bisa dibilang sebagai salah satu filmnya yang sukses di dalam dan luar negeri. Perannya sebagai Cut Nyak Dhien, pemimpin gerilya Aceh yang melawan Belanda, mengantarkannya pada Piala Citra sebagai Aktris Utama Terbaik 1988. Film ini dinobatkan sebagai Best International Film pada Festival Film Cannes 1989 dan ditayangkan pada Le Semaine de Critique. Pada Academy Awards ke-62, film ini menjadi perwakilan Indonesia untuk Film Berbahasa Asing Terbaik.

Christine sempat ingin menyerah dari dunia film karena kelelahan pasca produksi Tjoet Nja’ Dhien yang memakan waktu tiga tahun. Tapi niatnya gagal karena ia kembali membintangi film.

 

Debut Sebagai Produser

Ditengah lesunya industri film, Christine debut sebagai seorang produser. Menggandeng Garin Nugroho, ia memproduksi film Daun di Atas Bantal (1998). Produksi film ini sempat ada kesalahan yang membutuhkan perombakan semua remakan. Tapi itu tidak menghalangi untuk terus maju dalam memproduksi film dan maju dalam presentasi Un Certain Regard di Cannes pada 1998.

Film keduanya sebagai produser, Pasir Berbisik, berjalan lebih lancar dan ia merangkap sebagai pemeran utama. Film ini diputar di Festival Film Asia Deauville. Tahun berikutnya, ia ditunjuk sebagai juri Festival Film Cannes 2002 bersama Michelle Yeoh, Sharon Stone, dan David Lynch. Tahun 2005, ia menerima penghargaan khusus pada upacara pembukaan Festival Film Asia Deauville ke-7.

Tahun 2003, ia mulai bekerja bersama RCTI dan Metro TV untuk acara televisi Untukmu Guru. Selain itu, ia mulai menjadi seorang aktivis yang fokus di dunia pendidikan. Setelah gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004, ia melakukan perjalanan kemanusiaan ke Aceh dan mendirikan Christine Hakim Foundation yang mempromosikan pendidikan publik tentang autisme.

Istri Jeroen Lezer ini kemudian ditunjuk menjadi good will ambassador UNESCO yang digunakannya untuk mempromosikan pendidikan, mendorong reformasi pendidikan di Indonesia, dan mempromosikan program bantuan bencana di Asia Tenggara.

Sepanjang kariernya di dunia perfilman, Eat Pray Love adalah film perdananya yang membuka jalannya untuk pengalaman karier Hollywood. Ia sempat beradu peran dengan Julia Roberts dengan memerankan tokoh Wayan, seorang penjual jamu asal Bali. Di tahun yang sama, ia menerima penghargaan FIAPF untuk pencapaiannya yang luar biasa di dunia perfilman.

Di tahun 2016, peraih Piala Citra terbanyak ini menerima penghargaan pencapaian seumur hidup dari Festival Film Indonesia atas kontribusinya bagi perfilman Indonesia selama lebih dari empat dekade. Hingga tahun 2019 ini, tercatat ia telah memerankan 44 film, dengan Perempuan Tanah Jahanam sebagai debut perdananya di genre horor.

Lebih dari separuh hidupnya dihabiskan di dunia seni peran membuatnya menyadari bahwa akting lebih dari sekedar profesi semata, tapi juga ikhtiar menjalani takdir Tuhan. Inilah yang membuatnya selalu berkomitmen untuk totalitas berakting dalam setiap filmnya.

Memerankan puluhan karakter yang berbeda-beda menjadi pilihan jihadnya untuk mengajak penontonnya pada kebaikan. Tidak heran jika ia dikenal sebagai aktris senior yang rendah hati dan selalu tampil sepenuh hati, jiwa, dan raga.

Senioritas bukan berarti berhenti belajar karena merasa sudah kaya pengalaman. Bagi Christine Hakim, justru akting membuatnya selalu belajar hal dan pengalaman baru dari berbagai perspektif yang belum tentu bisa didapat di industri lain.

             



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi