Chairul Tanjung

Chairul Tanjung
Sumber: Nasional Kompas
Profesi Pengusaha, Founder CT Corp dan Trans Media
Tempat lahir Jakarta
Tgl Lahir 16-06-1962

Bulan Februari lalu, Trans Media bikin geger media Indonesia, khususnya ELF (Ever Lasting Friends), sebutan untuk fandom (Fans Kingdom) grup idola asal Korea Selatan Super Junior, karena proyek kolaborasi penyanyi Rossa x Super Junior.

Proyek kolaborasi kedua musisi beda negara ini menandai seriusnya kerja sama Trans Media dan SM Entertainment yang telah diteken tahun lalu untuk mengembangkan produksi konten hiburan, periklanan, bisnis lifestyle, dan bisnis digital.

Kerjasama perusahaan media kedua negara ini rencananya akan mempromosikan artis-artis SM Entertainment ke Indonesia dan membuat I-Pop (Indonesian Pop) bisa sesukses K-Pop.

Bagaimana Transmedia yang didirikan oleh Chairul Tanjung ini bisa tetap berjaya dan semakin berkembang ditengah gencarnya persaingan industri media?

 

Masa Kecil

16 Juni 1962 silam di Jakarta, pasangan Abdul Ghafar Tanjung dan Halimah menyambut kelahiran Chairul Tanjung ke dunia.

Abdul Ghafar, yang berasal dari Sibolga, Sumatera Utara, pada saat itu berprofesi sebagai seorang wartawan Orde Lama yang menerbitkan surat kabar beroplah kecil. Sementara Halimah, yang berasal dari Cibadak, Jawa Barat, adalah seorang ibu rumah tangga.

Chairul tumbuh besar bersama enam saudara lainnya. Saat Orde Baru dimulai, usaha ayahnya ditutup secara paksa karena berseberangan politik dengan penguasa rezim saat itu. Hal ini akhirnya memaksa kedua orang tuanya menjual rumah dan pindah ke kamar losmen yang sempit.

Meskipun kondisi ekonomi menghimpit keluarganya, kedua orang tuanya selalu mengusahakan anak-anak mereka untuk meraih pendidikan tinggi. Semangat belajar Chairul pun terus membara. Dari SD Van Lith Jakarta, ia melanjutkan pendidikannya ke SMP Van Lith Jakarta. Kemudian ia bersekolah di SMA Negeri 1 Jakarta.

Baginya, pendidikan itu yang nantinya dapat membantunya keluar dari kesulitan ekonomi. Setamat SMA di tahun 1981, ia diterima kuliah di jurusan Pendidikan Dokter Gigi Universitas Indonesia.

 

Lika-Liku Perjalanan Chairul Muda

Disebabkan lahir dari keluarga kurang mampu, mau tidak mau ia harus mulai cari uang sendiri. Mulai sejak SD berjualan es mambo dan kacang.

Sewaktu SMP, ia membantu mengurus study tour ke Yogyakarta, seperti mencari bus dan lain-lain. Tapi sayangnya, ia tetap tidak bisa ikut study tour karena pendapatan yang didapatnya masih tidak mencukupi.

Ibunya menjual kain halus demi Chairul bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Saat itu, ia memilih Teknik Perencanaan Sipil ITB (Institut Teknologi Bandung) sebagai pilihan pertama, Pendidikan Dokter Gigi UI (Universitas Indonesia), dan Farmasi UI sebagai pilihan terakhir. Akhirnya diterima di pendidikan dokter gigi UI dengan biaya kuliah per tahun Rp 45.000

Mengetahui sang ibu sampai menjual kain halus demi biaya kuliahnya, sejak saat itu, ia bertekad untuk tidak lagi meminta uang kepada orang tuanya. karena tekad tersebut, dari sana otak bisnisnya mulai jalan.

Sembari berkuliah, ia mulai mencoba peruntungan di dunia bisnis. Demi memenuhi kebutuhan kuliah, ia berdagang buku kuliah stensilan, kaos, dan foto kopi di kampus. Ia sendiri pernah mendirikan toko peralatan kedokteran dan laboratorium di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Sayangnya usahanya ini bangkrut.

Saat SMP, ia pun pernah ikut bermain teater di sekolah bersama Prita, pendiri STIKOM London School Public Relation. Setelah itu, ia akhirnya ketagihan untuk mengikuti beberapa pentas teater hingga duduk di bangku kuliah.

Bahkan ia pernah bermain teater bersama W.S. Rendra di Universitas Trisakti saat bergabung dengan kelompok teater “Gotra Aditira”.

Walaupun sibuk berjualan sambil kuliah, ia tetap aktif mengikuti organisasi kampus dan masih bisa meraih prestasi sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional 1984-1985. Kuliah sarjananya berhasil dirampungkan pada tahun 1987.

 

Banting Setir Menjadi Pengusaha

Bersama tiga rekannya, ia mendirikan PT Pariarti Shindutama di tahun 1987. Meminjam modal Rp 150 juta dari Bank Exim, perusahaan ini memproduksi sepatu anak-anak untuk diekspor.

Beruntungnya, perusahaan tersebut langsung mendapat pesanan 160.000 pasang sepatu dari Italia. Namun karena perbedaan visi tentang ekspansi usaha, ia memilih berpisah dan mendirikan usaha sendiri.

Ia pun membangun PT Para Inti Holdindo atau Para Corp di tahun 1987. Bisnisnya bermula dari pembuatan sepatu untuk ekspor dan genteng untuk industri perumahan di dalam negeri.

Sambil berbisnis, Chairul juga menempuh pendidikan master di bidang Administrasi Bisnis di PPM Manajemen untuk memperkaya ilmu dan pengetahuannya di bidang bisnis. Ia berhasil lulus di tahun 1993.

Kemahirannya membangun jaringan sebagai pengusaha yang telah diasahnya sejak duduk di bangku sekolah dan kuliah, membuat bisnisnya semakin berkembang. Perusahaannya diarahkan ke konglomerasi sejak 1995 dengan memposisikan bisnisnya di tiga bisnis inti, yakni keuangan, properti, dan multimedia.

Perusahaan konglomerasi Para Group ini memiliki Para Inti Holdindo sebagai father holding company yang membawahi beberapa sub-holding, yakni Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi), dan Para Inti Propertindo (properti).

Di bidang keuangan, langkah awal yang dilakukannya adalah dengan mengambil alih Bank Karman pada tahun 1996 yang kini berganti nama menjadi Bank Mega. Kondisinya saat itu tidak begitu menguntungkan, tapi dengan keyakinan penuh ia memperbaiki dan mengembangkan Bank Mega.

Bank Karman di Surabaya Sebelum Berubah Nama Menjadi Bank Mega (Sumber: bankmega.com)

Di tahun 1998, saat terjadi krisis moneter di Indonesia, banyak pengusaha memindahkan investasi mereka ke Singapura. Tapi tidak dengan Chairul Tanjung yang bertahan dengan mengelola Bank Mega secara maksimal.

Ditengah lesunya perekonomian, Bank Mega mampu tumbuh tanpa bantuan pemerintah, bahkan mampu memberikan pinjaman ke Bank BCA yang hampir kolaps sebanyak Rp 1,3 triliun. Hal ini membuktikan keuletan kerjanya dalam mengelola Bank Mega.

Setelah krismon berlalu, Bank Mega melakukan penawaran saham perdananya pada tanggal 28 Maret 2001 seharga Rp 1.125 per lembarnya.

Kemudian, Para Group mengembangkan perusahaan di bidang keuangan lainnya, antara lain Asuransi Umum Mega dan Asuransi Jiwa Mega Life untuk asuransi, Para Multi Finance dan Mega Finance untuk pembiayaan, Mega Capital Indonesia untuk sekuritas pasar modal, serta Bank Mega Syariah untuk sektor perbankan syariah.

Bank Mega sendiri hingga saat ini 100% kepemilikannya masih dipegang oleh warga negara Indonesia (WNI), di tengah mayoritas bisnis sektor keuangan lebih banyak dimonopoli oleh pihak asing.

Menara Bank Mega yang Menjadi Kantor Pusat di Jakarta Barat (Sumber: qerja.com)

Di bidang properti dan investasi, perusahaan tersebut membawahi Para Bandung Propertindo, Para Bali Propertindo, Batam Indah Investindo, dan Mega Indah Propertindo. Selain itu, Para Gorup juga membangun Bandung Supermall di tahun 1999 sebagai central business district.

Di bidang investasi, melalui anak perusahaannya, Trans Corp, membeli sebagian besar saham Carrefour Indonesia di tahun 2006. Bekas supermarket Carrefour di Indonesia pun berubah nama menjadi Transmart, serta beberapa pusat perbelanjaan bekas Carrefour ini ditambah fasilitas Trans Studio Mini.

 

Merambah Bisnis Media

Suami dari Anita Ratnasari ini berinisiatif untuk melebarkan lini bisnis perusahaannya dengan membuka perusahaan di bidang media televisi. Dibawahi Trans Corp, Chairul mendirikan Trans TV sebagai salah satu televisi swasta nasional di Indonesia.

Trans TV sendiri telah memperoleh izin siaran pada tanggal 1 Agustus 1998, namun baru resmi mengudara pada 15 Desember 2001.

Lalu di tahun 2006, Trans Corp mengakuisisi TV7 milik kelompok Kompas Gramedia yang kemudian namanya berubah menjadi Trans7.

Setelah proses akuisisi, di tahun 2013 ia memisahkan perusahaannya yang berada di bidang media dengan mendirikan Trans Media pada tahun 2013.

Saat perhelatan Piala Dunia 2018 lalu, Trans Media melalui Trans TV, Trans7, serta Trans Vision memegang hak penyiaran piala dunia di Indonesia.

Trans Media ini sendiri didirikan sebagai penghubung antara Trans TV dan Trans7. Dari sana, merek media elektronik terus berkembang seperti detik Network, CNN Indonesia, Cartoon Network Indonesia, dan CNBC Indonesia. Tak mau ketinggalan dengan pesaingnya, Trans Media juga bermain di bisnis jaringan televisi berlangganan Transvision.

Proyek Kolaborasi Rossa x Super Junior Sebagai Proyek Awal Kerja Sama Antara Trans Media dan SM Entertainment (Sumber: Kapanlagi)

Untuk memperbesar dan memajukan bisnisnya di bidang media, Trans Media sendiri tidak mau tanggung-tanggung. Chairul Tanjung berani menggandeng SM Entertainment, salah satu agensi terbesar grup idola Kpop di Korea Selatan yang berhasil memopulerkan grup idola TVXQ, Super Junior, Girls' Generation, EXO, NCT, Red Velvet, untuk bekerja sama dalam memajukan industri media hiburan Indonesia hingga bisa seperti industri Kpop di Korea Selatan.

Pada pertengahan bulan Desember 2018 lalu, tepat di usianya yang ke-17 tahun, Transmedia mengadakan hajatan besar-besaran selama tiga hari berturut-turut berupa festival musik gratis untuk masyarakat umum. Deretan musisi ternama dalam negeri diundang untuk memeriahkan panggung tersebut.

Ditambah, Transmedia juga mengundang penyanyi internasional asal negeri ginseng, Super Junior D&E dan Hyoyeon Girls’ Generation, setelah resmi bekerja sama dengan SM Entertainment.

 

Perkembangan Pesat Trans Corp

Trans Corp tidak ingin berhenti menjadi sebatas perusahaan yang bergerak di industri media saja. Melalui anak usaha Trans Fashion, ia memegang beberapa lini merek desainer busana terkenal seperti Prada, Miu Miu, Hugo Boss, Jimmy Choo, Salvatore Feragamo, Tod’s, dan Aigner.

Kedai es krim asal negeri Paman Sam, Baskin Robbins, juga termasuk dalam cakupan usahan Trans F&B, disamping kafe The Coffee Bean & Tea Leaf dan restoran cepat saji Wendy’s.

Proyek Trans Media yang cukup fenomenal adalah pembangunan taman bermain di dalam ruangan terbesar di Indonesia, Trans Studio, yang pertama didirikan di Bandung. Taman bermain ini juga dilengkapi pusat perbelanjaan dan hotel untuk memanjakan pengunjungnya. Selain di Bandung, Trans Studio juga berada di Makassar dan direncanakan akan dibangun di Cibubur.

Trans Studio Bandung yang Dilengkapi Hotel dan Pusat Perbelanjaan (Sumber: TripAdvisor.com)

Tahun 2012 silam, Chairul sendiri pernah memborong saham Garuda Indonesia sebanyak 55% dibawah perusahaan Trans Airways. Hingga saat ini, kegiatan operasional Trans Airways masih sebatas mengoperasikan persawat pribadi milik CT.

Penulis Tjahja Gunawan Diredja pernah menerbitkan buku biografi Chairul Tanjung Si Anak Singkong pada tahun 2012 yang membuat sosok CT semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

Keberhasilan CT menjadi salah satu pengusaha sukses di Indonesia menginspirasi Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, untuk mengangkatnya menjadi Menteri Koordinator Perekonomian menggantikan Hatta Rajasa sejak 19 Mei 2004-20 Oktober 2004.

Peraih penghargaan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Award 2015 ini diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu kewirausahaan oleh Universitas Airlangga (Unair) Surabaya pada tahun 2015 silam.

Dalam berbagai wawancara di media, orang terkaya nomor 7 di Indonesia versi majalah Forbes 2018 ini seringkali berujar bahwa ia menjadi pengusaha sebetulnya karena terpaksa oleh keadaan keluarganya yang tidak mampu, bukan karena ia seorang berbakat untuk menjadi pengusaha.

Namun dari keterpaksaan tersebut, ia melakoninya secara sungguh-sungguh sehingga bisa mendapatkan hasil yang memuaskan.

Baginya, orang sukses tapi tidak mau bekerja keras terus menerus, akan bisa kalah dengan orang yang senantiasa bekerja keras, karena Tuhan tidak akan memberikan rezeki kepada orang yang tidak berusaha untuk bekerja keras. Selain itu, harus kerja keras harus diimbangi kerja cerdas supaya efisien dan efektif.       

 

           

                       

Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Chairul_Tanjung

https://www.cermati.com/artikel/mengenal-chairul-tanjung-si-anak-singkong-yang-sukses-jadi-bos-ct-corp

https://www.wartaekonomi.co.id/read216538/pacu-ekonomi-kreatif-chairul-tanjung-berkiblat-ke-korea.html

https://www.forbes.com/profile/chairul-tanjung/#3d357ef04f2b

https://www.maxmanroe.com/chairul-tanjung.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Trans_Media

https://kumparan.com/@kumparannews/chairul-tanjung-anak-singkong-tekad-kingkong

https://olahraga.kompas.com/read/2012/07/02/04382755/chairul.tanjung.si.anak.singkong

https://emerhub.com/id/bisnis/chairul-tanjung-dibalik-kesuksesan-trans-tv/

https://www.solotrust.com/read/16400/SM-Entertainment-Sepakati-Kerjasama-dengan-Trans-Media

https://www.bankmega.com/ct_corp.php

https://www.solotrust.com/read/16400/SM-Entertainment-Sepakati-Kerjasama-dengan-Trans-Media

https://id.wikipedia.org/wiki/Trans_TV

https://id.wikipedia.org/wiki/Transvision

http://erinzulfa23.blogspot.com/2016/03/fakta-fakta-tentang-perusahaan-transcorp.html

https://www.youtube.com/watch?v=VTvCQNImwbg

https://www.goodreads.com/book/show/15733451-chairul-tanjung-si-anak-singkong



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi