Ayu Kartika Dewi

Ayu Kartika Dewi
Sumber: Liputan6.com
Profesi Staf Khusus Presiden, Co-founder SabangMerauke
Tempat lahir Banjarmasin
Tgl Lahir 27-03-1983

Hidup Nomaden

Perawakannya mungil dan wajahnya terlihat awet muda untuk orang seusianya. Siapa sangka jika Ayu Kartika Dewi ini sebenarnya kelahiran 1983 silam. Lahir dari ayah yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ibunya yang fokus mengurus rumah tangga, membuatnya biasa hidup berpindah-pindah karena tuntutan dinas pekerjaan sang ayah.

Hidup berpindah-pindah ini membuatnya sekolah di kota berbeda, yakni SMPN 1 Balikpapan dan SMAN 5 Surabaya. Tapi karena inilah ia juga jadi mudah menghadapi perbedaan di lingkungan sekitar.

Selain biasa hidup berpindah, kedua orang tuanya sangat menjunjung tinggi pendidikan meskipun tidak kaya raya. Mereka selalu mengusahakan untuk memfasilitasi pendidikan Ayu dengan rutin membelikan buku dan mengirimnya les bahasa Inggris agar dirinya fasih berbahasa Inggris.

Memasuki dunia perguruan tinggi, ia memilih kuliah jurusan manajemen pemasaran di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Prestasinya terutama di bidang akademis kian moncer selama masih menjadi mahasiswa. Ini dibuktikan lewat tugas akhirnya yang terpilih untuk mendapatkan Student Grant dari Asian Development Bank.

Disamping itu ia pernah meraih penghargaan sebagai presenter terbaik Student Grant seluruh Indonesia, Mahasiswa Berprestasi Peringkat Pertama FE (Fakultas Ekonomi) Unair selama dua tahun berturut-turut, dan peringkat keempat se-Unair di tahun 2003. Ayu sendiri juga aktif di organisasi kemahasiswaan.

Prestasinya ini mengantarkannya pada beberapa beasiswa selama kuliah seperti beasiswa dari stasiun televisi swasta SCTV dan pertukaran pelajaran yang diadakan oleh SIF ASEAN Fellowship.

Lulus kuliah, ia bekerja di P&G (Procter & Gamble), perusahaan multinasional di bidang FMCG (Fast Moving Consumer Goods) selama lima tahun di Jakarta dan Singapura. Di tengah kariernya yang tengah menanjak di dunia korporat dan ia sendiri beberapa kali dianugerahi penghargaan karyawan terbaik, ia justru memilih untuk resign demi keluar dari zona nyaman.

Keluar dari P&G, ia justru memilih untuk bergabung bersama Gerakan Indonesia Mengajar yang diprakarsai Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Ayu masuk dalam angkatan pertama Indonesia Mengajar dan saat itu ia ditugaskan mengajar di sebuah sekolah dasar di lereng gunung di Maluku Utara yang terkena dampak kerusuhan Ambon-Poso 1999.

Sejak kerusuhan yang menyebabkan ribuan nyawa melayang itu, banyak desa yang dipisah antara desa Islam dan desa Kristen. Hal itu dilakukan bertujuan untuk mengurangi gesekan dan sentimen agama. Tapi akibatnya, banyak anak yang tumbuh di lingkungan homogen yang tidak pernah mengenal orang yang berbeda agama.

Di suatu sore, ada isu bahwa kerusuhan serupa akan muncul lagi di Ambon. Murid-murih Ayu berlarian panik menemuinya di depan rumah dengan meneriakkan, “Ibu, awas Ibu, kerusuhan sudah dekat!” “Hati-hati Ibu, banyak orang Kristen jahat! Nanti mereka bisa bakar-bakar kita pe rumah.”

Disamping mengajar, ia mengadakan sejumlah aktivitas bersama Indonesia Mengajar seperti Kompetisi Sains Nasional dan menginisiasi sejumlah aktivitas ekstrakurikuler seperti, dokter cilik, pustakawan cilik, dan guru cilik.

 

SabangMerauke

Selama hampir dua tahun berkecimpung di dunia relawan pendidikan di Indonesia Mengajar, teriakan anak-anak didiknya tentang isu kerusuhan itu rupanya membekas di benak Ayu. Ia gelisah melihat anak-anak yang sejak kecil sudah menyimpan prasangka buruk terhadap golongan tertentu. Ketika kembali ke Jakarta, ia berdiskusi dengan teman-temannya yang memiliki kegelisahan yang sama dengannya.

Hingga akhirnya mereka memutuskan membentuk SabangMerauke yang merupakan akronim dari Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali. Gerakan dan organisasi ini dibentuk pada hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2012 lalu.

Keinginan Ayu dan kawan-kawan membentuk gerakan ini adalah sebagai bentuk aksi nyata agar Indonesia lebih damai dalam bertoleransi, tidak hanya sekedar tahu teori dari pelajaran PPKn di sekolah. Selain itu, agar lebih banyak anak Indonesia yang mengenal dan berinteraksi nyata dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda dengan diri mereka demi menghilangkan banyak stereotip dan prasangka yang ada.

Ide gerakan ini istimewa. Tapi tetap saja Ayu harus menghadapai tantangan terbesar di awal-awal pendiriannya. Menggalang dukungan, baik keikutsertaan dalam program sebagai peserta maupun dukungan finansial, menjadi batu sandungan pertama yang dihadapi Ayu dalam gerakan SabangMerauke ini.

Tapi berkat kegigihan dan kerja keras dalam meyakinkan anak-anak SMP untuk menjadi peserta dan menggunakan koneksi untuk menggalang dana beasiswa, pelan tapi pasti gerakan yang mengusung misi “Toleransi tidak bisa hanya sekedar diajarkan, tetapi harus dialami.” ini bisa mulai berjalan.

Program petukaran pelajar antar daerah ini menyasar pada anak-anak usia SMP yang berkisar antara 13-14 tahun. Selama 21 hari, 15 orang peserta terpilih dari berbagai daerah di Indonesia ini akan datang ke Jakarta dan tinggal dengan keluarga asuh. Lalu ada kakak pendamping yang akan mendampingi mereka selama kegiatan. Semisal, peserta dan kakak pendamping beragama Islam, lalu nanti akan dipasangkan dengan keluarga angkat non muslim.

Program ini bertujuan agar anak-anak yang menjadi peserta sekembalinya mereka ke kampung halaman, mampu menjadi duta toleransi, bercita-cita tinggi, dan melakukan sesuatu untuk negeri.

Disamping pengurus tetap, Gerakan SabangMerauke memiliki ratusan relawan yang terdiri dari mahasiswa atau siswa sekolah yang ikut dalam program ini setiap tahunnya. Untuk menjaga keberlanjutan program, SabangMerauke melakukan beberapa cara, mulai dari regenerasi pengurus, crowdfunding (urunan uang), dan crowdsourcing (urunan bantuan non uang) untuk mengatasi keterbatasan sumber daya yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan.

Gerakan SabangMerauke sendiri berhasil memenangkan National Idea Competition 2013 sebagai juara kedua dan mendapat penghargaan Best Rising Star Youth Movement 2013.

 

Pernah Gagal

Kesibukannya di dunia pendidikan membuat wanita berhijab ini memutuskan untuk kembali ke kampus. Dengan sederet prestasinya yang cukup mentereng untuk merebut hati para juri beasiswa ternyata ia sendiri masih menghadapi kegagalan melamar beasiswa.

Dikutip dari HaiBunda, Ayu sendiri baru berhasil mendapatkan beasiswa Fulbright dan Keller setelah 10 kali mencoba dan gagal. Tapi dia sendiri tidak kapok dan cepat menyerah. Ia memilih untuk terus mencoba sambil memperbaiki kesalahan.

Di awal masa perkuliahannya, ia sendiri harus belajar lebih keras dua kali lipat dari mahasiswa lainnya karena faktor bahasa. Di samping itu, sempat terjadi penembakan terhadap mahasiswa muslim di dekat kampusnya yang membuatnya sempat takut menjadi korban berikutnya.

Kejadian tidak mengenakkan lainnya ketika ia mengikuti program pertukaran pelajar di Inggris, visanya dipermasalahkan dan membuatnya harus kembali ke AS, meski ia baru sebulan di sana. Kamar apartemennya di AS sendiri telah diisi orang lain. Akhirnya ia harus menumpang di apartemen temannya dan tidur di sofa selama dua bulan.

Ketika itu pula hubungan dengan suaminya di Indonesia tidak bisa diselamatkan. Saat itu adalah masa-masa terendahnya dalam hidup karena ia merasa gagal dalam seluruh aspek hidup.

Tentu wajar ketika merasa gagal kita jadi down. Tapi lebih baik akui saja kegagalan itu dan ambil pelajaran yang bisa dipetik sebagai hikmahnya. Agar tidak putus asa dan terlalu larut dalam kegagalan, salah satu yang dilakukan Ayu waktu itu adalah mendaftar apa saja yang bisa disyukuri dari kejadian hari itu. Sehingga kita bisa lebih legowo menerima kegagalan.

Selain itu, jika memang sedang lelah ya lebih baik memilih istirahat. Tidak ada salahnya untuk meminta bantuan, terbuka, dan jujur kepada orang lain jika memang sedang tidak bisa agar orang lain juga bisa memahami kondisi kita.

Sepulangnya dari menimba ilmu MBA di Duke University, ia menjadi staf khusus Mantan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok selama dua tahun dan sempat menjadi staf di Unit Kerja Presiden (UKP4). Kini, ia dipercaya oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi staf khusus kepresidenan milenial di bidang toleransi. Selain menjadi staf kepresidenan, ia juga menjadi Managing Director Indika Foundation.  

Perempuan yang pernah mendapatkan beasiswa Australia Awards ini pernah memenangkan penghargaan dari Bubu Award 2013 untuk situs layanan publik, Wardah’s Indonesia 10 Inspirational Women in Education 2017, MNC TV’s Heroes for Indonesia 2017, dan Future Leaders Connect 2017.

Terlahir memiliki privilege tidak dimiliki oleh semua orang. Ayu Kartika Dewi membuktikan meskipun ia bukan terlahir dari keluarga kaya raya, ia bisa memanfaatkan segala privilege yang datang padanya untuk berkarya bagi nusa dan bangsa.                                         

           

           



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi