Anggun C. Sasmi

Anggun C. Sasmi
Sumber gambar: Arah.com
Profesi Penyanyi, Pencipta Lagu
Tempat lahir Jakarta
Tgl Lahir 29-04-1974

Bagi yang rutin mengikuti acara The Voice Indonesia 2018, tentu tidak asing lagi dengan salah satu jurinya yang berambut hitam panjang dan berkulit cokelat sawo matang. Dialah Anggun C. Sasmi

Anggun sendiri sudah dikenal sejak lama sebagai penyanyi sejak merilis singel berjudul “Mimpi” di tahun 1989. Namanya pun semakin melambung di era ’90-an dengan lagu hitsnya, “Snow on the Sahara”

 

Masa Kanak-Kanak

Anggun lahir di Jakarta, 29 April 1974 sebagai anak pertama dari pasangan Darto Singo dan Dien Herdina. Ayahnya merupakan seorang penulis asal Kroya, Jawa Tengah. Sementara sang ibu adalah seorang rumah tangga yang masih berdarah keraton Yogyakarta.

Ia melalui masa kecil yang tidak biasa. Di kala anak seusianya belajar menyanyikan lagu anak-anak, ayahnya justru memperdengarkannya lagu barat milik band asal negeri Ratu Elizabeth, The Beatles, karena warna suara musiknya dianggap mirip dengan suara miliknya sekaligus untuk belajar berbahasa Inggris.

Sejak usia tujuh tahun, ia telah berlatih beragam teknik vokal dengan penuh dislipin oleh sang ayah. Tak hanya itu saja. Ia juga dibekali dengan kemampuan bermain piano.

Bisa dibilang ia tumbuh di dalam keluarga yang cinta seni sehingga. Di usia sembilan tahun, ia mulai menciptakan lagunya sendiri dan merekam album anak-anak.

Dimanajeri oleh sang ibu, Anggun mulai tampil dari panggung ke panggung. Meski hanya mendapat imbalan nasi bungkus, tapi hal tersebut mampu mengasah kepercayaan dirinya untuk bernyanyi di hadapan banyak orang.

 

Perjalanan Karier di Indonesia

Tahun 1986, karier musiknya dimulai secara serius dengan meluncurkan album bergenre rock pertamanya yang berjudul ‘Dunia Aku Punya’. Album tersebut diproduseri gitaris legendaris Indonesia, Ian Antono. Tapi sayangnya, album ini belum berhasil mengangkat nama Anggun di pentas musik Indonesia.

Single ‘Mimpi’ dirilis di akhir tahun 1989 dan itu berhasil melambungkan nama Anggun di kancah permusikan Indonesia. Majalah Rolling Stone sendiri bahkan menobatkan lagu ‘Mimpi’ sebagai salah satu dari “150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa”.

Single lainnya juga tak kalah tenar seperti ‘Tua Tua Keladi’ dan ‘Takut’. Anggun berhasil meraih penghargaan sebagai “Artis Indonesia Terpopuler 1990-1991”. Sukses dengan kedua single tersebut, ia kembali meluncurkan album bertajuk ‘Anak Putih Abu Abu’ (1991) dan ‘Nocturno’ (1992).

       

Cover Single 'Tua Tua Keladi' dan 'Takut' Anggun Tahun '90an (Sumber gambar: Wikipedia dan Angkasa Download)

Di usianya yang masih remaja, ia berhasil meraih popularitas sebagai penyanyi rock paling sukses di tahun ’90-an. Albumnya laris manis bak kacang goreng dan lagu-lagunya merajai tangga lagu di Indonesia.

Selain sibuk membangun karier sebagai penyanyi, selayaknya manusia pada umumnya yang merasakan cinta, ia juga memiliki kisah cintanya sendiri.

Kisah percintaannya dimulai ketika bertemu dengan Michael Georgea, insinyur berkebangsaan Prancis, saat ia tur konser di Banjarmasin. Tak lama, mereka memutuskan untuk menikah dan Michael diangkat menjadi manajernya.

Di usianya yang belum genap 20 tahun, ia berhasil mendirikan perusahaan rekaman bernama Bali Cipta Records. Tak tanggung-tanggung. Dia juga terjun langsung sebagai produser rekaman sehingga membuatnya lebih bebas menggarap albumnya sendiri.

Album ‘Anggun C. Sasmi… Lah!!!’ (1993) dirilis sebagai album terakhirnya di Indonesia. Singel dari album ini, ‘Kembalilah Kasih (Kita Harus Bicara)’, kembali menuai kesuksesan dan videonya menembus MTV Hong Kong.

Dari sana, ia mulai berambisi untuk melebarkan sayap kariernya ke kancah internasional dan memimpikan sebagai penyanyi bertaraf internasional.

 

Memulai Karier Internasionalnya

Anggun merasa di usianya yang masih muda dan sudah menggenggam kesuksesan sebagai penyanyi di dalam negeri tidaklah cukup. Sudah seharusnya ia mengeksplor dan menantang dirinya lebih jauh lagi untuk menjemput kesuksesan yang lebih besar.

Dalam wawancaranya dengan majalah Billboard di Amerika Serikat, ia menuturkan bahwa di tahun 90-an, informasi yang datang untuk memulai karier internasional tidak begitu banyak karena internet belum sebesar sekarang.

Selain itu, ia menyadari bahwa produser asing tidak akan datang ke Indonesia untuk mencari bakat saat di negara mereka sendiri sudah ada begitu banyak bakat dan potensi. Jika ingin tahu, maka ia sendiri yang harus kesana.

Langkah pertama yang diambilnya adalah dengan menjual perusahaan rekamannya dan menetap di Eropa untuk mewujudkan impiannya tersebut. Bersama suaminya, ia menetap di London, Inggris, untuk memulai karier dari nol selama setahun.

Naik turun bus dilakoninya setiap hari untuk mengirim demo rekaman ke berbagai studio di Inggris. Ia bahkan pergi ke klub-klub untuk memperkenalkan dirinya sebagai penyanyi.

Biaya hidup di London yang memang terkenal tinggi membuat uang hasil penjualan perusahaan rekamannya habis sedikit demi sedikit. Ia juga harus menelan pil pahit karena semua demo rekamannya ditolak.

Di masa itu, musik barat bisa dibilang eranya kelompok vokal seperti Spice Girls, Take That. Produser memang memuji suara dan penampilannya tetapi selalu bertanya dimana temannya.

Sulitnya mendapat izin tinggal membuatnya berpikir ulang untuk bertahan lebih lama di London. Ia pun sempat berpikir untuk pindah ke Belanda karena di sana ada komunitas orang Indonesia dan berharap perusahaan rekaman di sana akan memberikan respon positif.

Tapi takdir justru berkata lain. Saat ia melancong ke Paris, ia bertemu dengan Erick Benzi, seorang produser berkebangsaan Prancis yang pernah menggarap album Celine Dion, Jean-Jacques Goldman, dan Johny Hallyday. Benzi tertarik dengan kemampuan vokalnya dan menawarkannya untuk rekaman album.

Sejak itu, ia akhirnya hijrah ke Paris dan mempelajari bahasa Prancis, serta budaya, dan cara kerja di Prancis secara otodidak untuk mempersiapkan album internasionalnya. Tekanan dan putus asa pun kerap menghampirinya. Tapi ia melihatnya sebagai tantangan untuk belajar.

Atas bantuan Benzi, ia direkrut oleh Columbia Records di Prancis dan dikontrak oleh Sony Music International untuk album yang akan diedarkan secara internasional.

 

Kesuksesan Snow on the Sahara

‘Au Nom de la Lune’ dirilis sebagai album bahasa Prancis pertamanya di tahun 1997. Perubahan total jalur musik Anggun menjadi yang paling menonjol, dari aliran musik rock menjadi musik pop etnik dengan paduan bunyi-bunyian instrumen tradisional Indonesia. Baginya ini menjadi langkahnya untuk memperkenalkan Indonesia melalui jalur musik.

Single pertamanya dalam album tersebut, ‘La Neige au Sahara’, meledak di pasaran dan menjadi lagu yang paling sering diputar di radio-radio Perancis di tahun tersebut.

Album tersebut sukses terjual lebih dari 150.000 kopi di Prancis dan Belgia. Ia berhasil menjadi nominator untuk “Pendatang Baru Terbaik” di Victoires de la Musique, penghargaan tertinggi bagi industri musik Prancis.

Cover Album Prancis Pertama Anggun, La Neige au Sahara (Sumber Gambar: Discogs)

Sukses di Prancis, ia mengguncang pasar musik internasional dengan meluncurkan album pertamanya versi bahasa Inggris yang diberi nama ‘Snow on the Sahara’ di 33 negara di Asia, Amerika, dan Eropa.

Di album internasional tersebut, ia mendaur ulang tembang lawas milik David Bowie yang berjudul “Life on Mars?”. Untuk pasar Asia Tenggara, ia memasukkan lagu bahasa Indonesia berjudul “Kembali”.

Snow on the Sahara berhasil meraih sukses dan menempati peringkat pertama di Prancis, Italia, Spanyol, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Di Inggris, lagu ini mencapai posisi lima besar di UK Club Chart. Lagu ini juga menembus Tokyo Hot 100 di Jepang.

Swatch, jam tangan mewah dunia asal Swiss, memakai lagu ini sebagai lagu promosinya. Album internasional Snow on the Sahara berhasil terjual lebih dari 1,5 juta keping di seluruh dunia dan mendapat penghargaan Diamond Export Award, sekaligus menjadi album penyanyi Asia dengan penjualan paling tinggi di luar Asia pada masa itu.

Snow on the Sahara juga menjajal pasar musik Amerika Serikat yang merupakan kiblat musik dunia. Untuk mempromosikan albumnya, ia melakukan tur selama sembilan bulan.

Anggun sendiri diundang oleh Sarah McLachlan, penyanyi asal Kanada, untuk tampil di Lilith Fair. Ia tampil sebagai artis pendukung dalam tur konser beberapa artis seperti The Corrs dan Toni Braxton.

Album Internasional Pertama Anggun, Snow on the Sahara (Sumber Gambar: Youtube)

Namanya muncul di berbagai media cetak di negeri Paman Sam seperti majalah Billboard dan Rolling Stone. Wajahnya juga menghiasi layar kaca Amerika dalam acara The Rosie O’Donnell Show dan New York Sessions at West 54th, dan wawancara eksklusif di CNN dalam program World Beat.

Single ini berhasil menembus tangga musik Billboard di posisi 16 dalam Billboard Hot Dance/Club Play, posisi 19 di Billboard Border Breakers Chart, posisi 22 di Billboard Adult Contempory Chart, serta posisi nomor 2 pada daftar single terfavorit jurnalis Billboard di tahun 1998.

Meski sedemikian fenomenalnya, sayangnya album ini belum berhasil menembus tangga album Billboard 200 dan terhitung gagal di Amerika. Album ini hanya sampai di peringkat 23 di Billboard Heat Seekers Chart dan terjual sekitar 200.000 keping di seluruh Amerika.

 

Lika-Liku Karier Internasional

Setelah sukses dengan Snow on the Sahara, sayangnya mahligai rumah tangga Anggun harus berakhir dengan Michael Georgea di tahun 1999.

Lalu di akhir tahun 2000, ia memutuskan untuk menerima kewarganegaraan Prancis akibat birokrasi di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) yang menyulitkan dirinya selama tur internasional untuk mempromosikan album internasionalnya.

Paspor Indonesia membatasi Anggun karena beberapa negara tidak menjalin kerja sama diplomatik dengan Indonesia. Meski demikian, di berbagai kesempatan wawancara, ia selalu menuturkan bahwa baginya yang ganti hanya warna buku paspornya, tetapi sejatinya dirinya tetap orang Indonesia.

Ia sendiri selalu memperkenalkan dirinya sebagai orang Indonesia pada setiap penampilannya di hadapan publik internasional.

Tahun 2000, Anggun kembali dengan album bahasa Prancis kedua yang bertajuk ‘Désirs contraires’ dengan single andalannya ‘Un geste d’amour’. Album ini memuat musik pop elektronik, elemen ambient, dan R&B. Namun album ini gagal mengulang kesuksesan album pertamanya dan hanya terjual 30.000 kopi di Prancis.

Versi internasional album keduanya diberi nama ‘Chrysalis’ dimana ia menulis sendiri semua lirik lagunya dalam bahasa Inggris. Single pertama dari album ini “Still Reminds Me” berhasil menjadi lagu populer di radio di kawasan Eropa dan Asia.

Lagu ini mencapai peringkat tiga di Italia dan masuk daftar sepuluh besar di jepang. Juga, single ini menduduki posisi lima besar dalam The Music & Media Europe Border Breakers Chart.

Album Chrysalis Sebagai Album Internasional Kedua Anggun (Sumber Gambar: Ferry Cipta)

Untuk pasar Asia Tenggara, Anggun kembali memasukkan single bahasa Indonesia berjudul ‘Yang Ku Tunggu’. Album ‘Chrysalis’ sendiri menjadi album multiplatinum dan berhasil meraih penghargaan gold di Italia setelah seminggu dikuncurkan.

Anggun tampil bersama Bryan Adams pada konser Natal tahun 2000 di Vatikan. Setelah itu, ia menggelar tur pertamanya keliling Eropa dan Asia. Konser pertamanya dimulai dari Le Batacian, Prancis dan berakhir di Kalian Theater, Singapura.

Proyek kolaborasi pun mulai berdatangan padanya dan cukup menuai kesuksesan, seperti lagu jazz ‘Summer in Paris’ bersama DJ Cam, lagu bercengkok Sunda ‘ Deep Blue Sea’ bersama Deep Forest, duet dengan penyanyi rock asal Italia, Piero Pelu untuk single ‘Amore Immaginato’.

Single duetnya dengan Piero berhasil mencapai posisi puncak Italian Airplay Chart selama dua bulan berturut-turut.

Masih di tahun yang sama, ia terlibat proyek dua film Skandinavia, Anja & Viktor (2001) dan Oper Hearts (2002). Ia merilis ‘Rain (Here Without You)’ untuk film Anja & Viktor, serta merilis album soundtrack untuk film Open Hearts.

Single ‘Open Your Heart’ dari album ini dinominasikan meraih penghargaan lagu terbaik pada Robert Awards 2003, anugerah tertinggi perfilman Denmark.

Pencapaian karier internasionalnya ini meraih sejumlah prestasi bergengsi, seperti penghargaan The Cosmopolitan Asia Women Award (2000), The Women Inspire Awards (2002), serta Diamond Awards dari pemerintah Prancis atas prestasinya sebagai salah satu penyanyi berbahasa Prancis tersukses di luar Prancis.

Setelah Sony Music bermerger dengan BMG Music, ia memutuskan untuk menghentikan kerja sama. Setelah itu, ia memutuskan untuk pindah ke Montreal, Kanada. Disana ia bertemu dengan Olivier Maury, seorang sarjana politik Kanada, dan memutuskan menikah di tahun 2004.

 

Luminiscence dan Konser Jakarta

Anggun kembali ke Paris dan menjalin kerja sama dengan Heben Music, label independen Prancis. Tahun 2005, ia meluncurkan album internasional ketiganya yang bertajuk ‘Luminescence’. Kali ini, versi bahasa Prancis dan bahasa Inggris dirilis dengan judul yang sama. Album ini beraliran genre pop, musik urban, dan rock.

Album 'étre une femme' atau ‘In Your Mind’ dinobatkan sebagai lagu terpopuler tahun 2004 oleh Radio France International. Single ‘Saviour’ pun terpilih sebagai soundtrack film Transporter 2. Di beberapa negara, single ‘Undress Me’ berhasil mencapai peringkat pertama tangga lagu seperti di Turki dan Lebanon.

Melalui album Luminescence, album melebarkan popularitasnya ke negara-negara Timur Tengah dan Eropa Timur yang sebelumnya belum dijangkaunya.

Album ini dirilis ulang pada tahun 2006 dengan tambahan tiga lagu baru, termasuk lagu duetnya dengan Julio Iglesias, vokalis legendaris asal Spanyol, dalam lagu ‘All for You’

Anggun kembali menerima penghargaan bergengsi dari pemerintah Prancis berupa “Chevalier des Arts et Lettres” atas prestasi dan kontribusinya pada budaya Prancis di seluruh dunia.

Ia ditunjuk sebagai juru bicara PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) untuk program Skim Mikrokredit untuk mengentaskan kemiskinan di seluruh dunia. Selain itu, ia dipercaya menjadi ambassador Audemars Piguet, merek jam tangan mewah dunia asal Swiss.

Anggun kembali ke Indonesia untuk menggelar konser terbesarnya yang dinamai Konser Untuk negeri di Jakarta Convention Center pada 25 Mei 2006. Konser tersebut berjalan sukses dan dihadiri oleh 5.000 penonton.

Kemudian ia menerima penghargaan khusus dari Anugerah Musik Indonesia sebagai “Artis Internasional Terbaik” karena keberhasilannya di luar negeri dan menaikkan pamor industri musik Indonesia di mata internasional.

Tahun 2006 ditutupnya dengan merilis album kompilasi terbasik ‘Best Of’ di Indonesia dan Malaysia. Album ini berisi tembang Anggun selama karier internasional, ditambah tiga lagu lawas hitsnya, ‘Mimpi, ‘Bayang-Bayang Ilusi’, dan ‘Takut’.

Album ini jugal dirilis di Italia dengan isi lagu yang berbeda dan menjadikan lagu ‘I’ll Be Alright’ single andalannya.

 

Kelahiran Anak Pertama

Pernikahannya dengan Olivier Maury hanya bertahan dua tahun dan kandas di tahun 2006. Tak lama, ia menjalin asmara dengan penulis Prancis, Cyril Montana.

Dari pernikahan ketiganya bersama Cyril ini, ia dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Kirana Cipta Montana Sasmi yang lahir pada 8 November 2007.

Awal tahun 2007, Anggun menulis dua lagu untuk Julian Cely, seorang penggemarnya dari Prancis yang merilis album pertamanya di Indonesia. Setelah itu kegiatannya lebih banyak terlibat dengan urusan lingkungan hidup.

Hal ini terlihat saat ia terlibat dalam film dokumenter BBC bertema lingkungan hidup berjudul Un Jour sur Terre atau Earth. Disini dia ditunjuk sebagai narator dan merilis single soundtrack film tersebut.

Oleh National Geographic Channel dan Kementrian Ekologi dan Pembangunan Berkelanjutan Prancis, ia didaulat sebagai “Marraine des Prix Micro-Environnement” (duta lingkungan hidup).

Anggun juga berhasil meraih penghargaan “Le Grand Couer de L’annee” atas kontribusinya pada sejumlah permasalahan sosial dan lingkungan hidup di Prancis.

Setelah melahirkan putri pertamanya, ia kembali mendapat undangan dari Vatikan untuk tampil pada konser Natal bersama Michael Bolton di Verona, Italia.

Ia juga menjadi penampil pada World Music Awards 2008 bersama DJ Laurent Wolf menyanyikan lagu ‘No Stress’.

 

Elevation (2008)

‘Elevation’ dirilis Anggun sebagai album internasional keempatnya pada akhir tahun 2008 dan mengusung aliran musik hip hop dan urban.

Ia menggandeng beberapa musisi untuk mengisi lagu-lagu di albumnya seperti Pras Michel, Sinik dan Big Ali, DJ Laurent Wolf, dsb. Single ‘Jadi Milikmu’ dipasarkan khusus untuk pasaran Indonesia.

Album ini sebelum dirilis resmi di Indonesia pada akhir tahun 2009, telah mendapat penghargaan double platinum yang menjadikannya album dengan penjualan tercepat sepanjang kariernya di Indonesia. Sayangnya, album ini justru album dengan penjualan terendah sepanjang karier internasionalnya.

Selain sibuk dengan album barunya, ia kembali menjadi duta produk komersial, yakni shampo Pantene dan susu Anlene. PBB juga kembali menunjuknya sebagai duta FAO (Food and Agriculture Organization) dalam misi pengentasan kelaparan di seluruh dunia.

Ia juga didaulat oleh Bill Clinton, mantan presiden Amerika Serikat, sebagai juru bicara Healthy Water Fundraising Program. Tak hanya itu. Ia ditunjuk sebagai salah satu juri Miss France 2009.

Mengawali tahun 2010, Anggun berduet dengan Michael Carreira, penyanyi asal Portugal, untuk lagu ‘Chama por Me’ (Call My Name) dan tampil dalam konser tunggalnya di Lisbon, Portugal. Bersama Schiller, musisi Jerman, ia juga punya lagu duet dan mempromosikan melalui tur konser keliling Jerman bersama.

 

Album Echoes (2011)

Tahun 2011 Anggun kembali menggarap album kelimanya yang berjudul ‘Echoes’ atau ‘Echos’ dalam versi bahasa Prancisnya. Album ini diproduserinya sendiri dan dikerjakan oleh perusahaan rekaman miliknya sendiri, April Earth.

Album ini cukup spesial bagi Anggun karena mengusung aliran jenis musik pop organik dengan lirik-lirik yang filosofis tentang kehidupan.

Di Indonesia, album ini memegang rekor sebagai album terlaris di toko kaset Indonesia di tahun 2011 dan meraih empat platinum. Konser keduanya di Jakarta pun kembali digelar untuk mempromosikan album ini.

Penampilan Anggun Saat Mewakili Prancis dalam Kontes Eurovision 2012 (Sumber gambar: id.wikipedia.org)

Televisi publik Prancis, France Télévisions, menunjuk Anggun sebagai wakil Prancis dalam kontes lagu Eurovision 2012, kompetisi musik terbesar di Eropa yang diikuti lebih dari 40 negara sejak 1956. Ia menulis lagu ‘Echo (You and I)’ untuk kontes ini dan melakukan kolaborasi dengan beberapa musisi dari negara-negara Eropa lain.

Ia menggelar tur Eropa untuk mempromosikan single tersebut. Hasil akhir kompetisi ini hanya menempatkan lagunya pada peringkat 22. Album dan single ini akhirnya dirilis pada Maret 2012 untuk pasar internasional.

 

Karier Lain Anggun

Tahun 2013, Anggun menjadi juri internasional pada musim perdana X-Factor Indonesia, dimana ia dikenal sebagai juri yang menetapkan standar tinggi dalam memilih para kontestannya. Keberhasilannya ini membuatnya direkrut oleh Simon Cowell sebagai juri Indonesia’s Got Talent 2014.

Ia juga menuai prestasi dengan berhasil menjadi penyanyi Asia yang meraih tiga nominasi dalam ajang World Music Awards 2013, World’s Best Female Artist, World’s Best Live Act, dan World’s Best Entertainer of the Year.

Penyanyi yang sering dijuluki “Diva Indonesia” oleh media dalam dan luar negeri ini kembali menjadi juri ajang X-Factor Around The World 2013 bersama Paula Abdul, Daniel Bedingfield, Louis Walsh, dan Ahmad Dhani.

Kemudian, ia kembali dipercaya menjadi juri Asia’s Got Talent 2015 bersama David Foster, Melanie Chrisholm, dan Vanness Wu. Di musim kedua, ia kembali duduk di bangku juri bersama David Foster dan Jay Park yang diadakan pada tahun 2017.

Album berbahasa Prancisnya yang berjudul ‘Tojours un Ailleurs’ diluncurkan pada tahun 2015 yang hanya dijual secara fisik di Belgia dan Prancis. Sementara di negara lain diluncurkan versi digital yang bisa diunduh di iTunes.

Anggun lagi-lagi dipercaya menjadi juri Miss France 2016 setelah sebelumnya menjadi juri pada tahun 2009, yang mengantarkan pemenang Miss France 2016, Iris Mittenaere, menjadi Miss Universe 2016.

Album terakhirnya hingga saat ini adalah ‘8’ yang dirilis hanya untuk versi internasional. Di album ini, single andalannya adalah ‘What We Remember’ yang berhasil menembus peringkat 8 pada tangga lagu Billboard Dance Club Songs di Amerika Serikat.

Album '8' yang DIrilis di AKhir Tahun 2017 Lalu (Sumber Gambar: Kompasiana)

Istri dari Christian Kretschmar ini pada tahun 2018 disibukkan oleh kegiatan di Indonesia dengan menjadi juri The Voice Indonesia 2018 serta menjadi penampil pada upacara pembukaan Asian Games 2018 dan HUT RCTI 29th.

 

Belajar dari Sosok Anggun

Dikenal sebagai penyanyi, Anggun termasuk salah seorang musisi yang selektif terhadap lagu-lagu yang akan mengisi setiap albumnya. Tak hanya itu. Penyanyi berambut hitam panjang dan kulit sawo matang ini juga tidak pernah ingin mencoba untuk menekuni profesi seni lain, seperti bermain film atau model. Bahkan untuk produk iklan ia cukup selektif memilih.

Ia sendiri lebih ingin dikenal sebagai wanita Indonesia yang punya identitas kecantikan tersendiri dengan tidak ikut arus tren untuk mencerahkan kulit.

Konsistensinya atas penampilan ciri khasnya tersebut mengantarkannya pada peringkat 6 dalam daftar “Wanita Terseksi di Asia’ menurut FHM dan peringkat 18 dalam daftar “100 Wanita Terseksi di Dunia’ versi majalah FHM Prancis tahun 2010.

Kesuksesan Anggun menerobos pasar musik internasional di luar Asia ini secara langsung atau tidak, telah membuka jalan bagi penyanyi-penyanyi Asia lain untuk menembus pasar internasional, terutama di Eropa dan Amerika, sebut saja seperti Coco Lee, Utada Hikaru, BoA, atau Tata Young.

Tak heran jika Madame Tussaud pun mengabadikan dirinya dalam sebuah patung lilin di musem Bangkok, Thailand, karena sosoknya yang memang inspiratif.

Belajar dari Anggun, untuk menjadi orang sukses tidak perlu menjadi orang lain, tapi harus menjadi diri sendiri dan rendah hati, serta terus menerus memiliki kemauan belajar untuk lebih maju.

 

 

Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Anggun_C._Sasmi

https://en.wikipedia.org/wiki/Anggun#Personal_life

https://nasional.kompas.com/read/2011/06/07/04324570/belajar-dari-anggun

http://kellandrea.blogspot.com/2011/08/mengenal-anggun-lebih-dekat.html

https://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/kisah-anggun-jadi-wanita-jawa-palsu-selama-berkarir-di-tanah-eropa-03793a.html

https://musik.kapanlagi.com/berita/anggun-ungkap-alasan-tak-rilis-album-versi-bahasa-indonesia-c0f372.html

https://hot.detik.com/celeb/d-3545365/tak-pernah-jadi-orang-lain-kunci-keberhasilan-anggun-c-sasmi

https://www.brilio.net/ngakak/15-pelesetan-duta-sampo-lain-ini-kocak-awas-cengar-cengir-sendiri-160819o.html

https://id.wikipedia.org/wiki/8_(album_Anggun)

 

 

 

           



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi