Alberthiene Endah

Alberthiene Endah
Sumber: Beritagar
Profesi Penulis
Tempat lahir Bandung
Tgl Lahir 16-09-1970

Perempuan bernama lengkap Rr. Alberthiene Endah Kusumawardhani ini sempat menghabiskan masa kecilnya di Depok, lalu di Bandung, hingga akhirnya menetap di Jakarta. Hidupnya sederhana. Orang tuanya mendidiknya untuk hidup mandiri dan tidak manja. AE, sapaan akrab Alberthiene, bahkan sejak dulu telah merencanakan perjalanan hidupnya.   

Ia gemar membaca sejak kecil. Buku Lima Sekawan karya Enid Blyton menjadi favoritnya. Dari situ, ia mulai bercita-cita menjadi penulis dan mencoba untuk menulis. Ia melihat ada profesi yang sesuai dengan minatnya, jurnalis.

Selepas lulus SMA, ibunya mengancam jika ia tidak diterima di universitas negeri, ia tidak kuliah. Beruntungnya ia berhasil diterima di jurusan Sastra Belanda, Universitas Indonesia.

Meski bukan murni jurusan menulis, Sastra Belanda tidak membuatnya terlalu salah jurusan. Minatnya untuk menulis semakin berkembang. Ia bertemu banyak dosen yang juga berprofesi sebagai penulis.

Lulus dari bangku perkuliahan di tahun 1993, ia bekerja sebagai jurnalis di majalah Hidup selama setahun. Kemudian ia pindah ke majalah gaya hidup wanita Femina. Disini kariernya sebagai jurnalis majalah berlangsung sangat lama hingga sepuluh tahun.

Di majalah Femina, hobi menulisnya benar-benar bisa tersalurkan. Disana ia berkesempatan mewawancarai orang-orang terkenal. Tidak hanya terkenal di tingkat nasional, melainkan juga tokoh-tokoh internasional seperti Jennifer Lopez dan Xanana Gusmao pernah diwawancarainya untuk rubrik majalah. Mimpinya sejak kecil untuk bertemu orang-orang terkenal juga banyak terwujud melalui ini.

 

Perjalanan Awal

Dari pekerjaannya, ia bertemu dengan penyanyi Krisdayanti untuk wawancara dalam rubrik majalah Femina. Rupanya Krisdayanti terkesima dengan artikel wawancara yang ditulisnya di majalah. Hingga kemudian, Krisdayanti meminta AE untuk menuliskan biografinya.

Modal nekat karena belum pernah menulis buku biografi sebelumnya, ia menerima tawaran KD tersebut. Buku yang diberi judul Seribu Satu KD (2003) itu akhirnya berhasil terbit dan meledak di pasaran, hingga berulang kali naik cetak.

Ia berhasil membuat konsep buku biografi yang berbeda. Foto lebih banyak daripada tulisan dan tampilan layout bukunya mirip majalah fesyen, sehingga pembaca tidak bosan.

Tapi di sisi lain, pembaca juga mendapat banyak informasi tentang lika-liku perjalanan hidup KD hingga resepnya menjaga kecantikannya. Bahkan publik sempat heboh karena pengakuan KD di dalam buku tersebut yang pernah melakukan operasi plastik.

Fotografer ternama tanah air digaetnya untuk mengisi buku tersebut, di antaranya Jay Subiakto, Darwis Triadi, dan Davy Linggar. Tanpa modal apa-apa, ia berhasil mewujudkan buku tersebut berkat produk-produk yang dibintangi KD saat itu. Sejak saat itu, tawaran serupa mulai berdatangan.

Seiring berjalannya waktu, ia mulai merasa ruang geraknya untuk menulis mulai terlalu sempit. Ia memiliki ide dan bahan tulisan yang amat banyak, tapi tidak semuanya dapat ditulis karena keterbatasan ruang tersebut.

Sejak itu, ia mulai berpikir untuk fokus menulis buku. Ia sempat bimbang antara tetap bekerja di Femina atau keluar untuk mewujudkan mimpinya.

Setelah melalui berbagai pertimbangan selama beberapa waktu, ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari Femina. Ia sempat merasa khawatir bagaimana ia dapat bertahan hidup dengan pekerjaan tidak tetap. Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain.

Kurang dari sebulan setelah ia keluar dari Femina, tawaran untuk menulis biografi dari Raam Punjabi datang. Ia juga bekerja sebagai jurnalis lepas dan dewan editor majalah Prodo. Sejak saat itu, ia mulai mantap untuk melangkahkan kaki ke episode hidup berikutnya, sebagai penulis buku.

Selain tetap menerima tawaran sebagai penulis biografi, ia juga mulai menulis novel. Novelnya sendiri cukup sering laris manis di pasaran. Debut novelnya adalah Jangan Beri Aku Narkoba (2004) yang membuahkan penghargaan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) atas upayanya memberantas penggunaan narkoba, dan penghargaan dari Adikarya Awards 2005 untuk kategori novel remaja. Novel ini kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul Detik Terakhir (2005).

 

Menulis untuk Hidup

Hampir setiap tahunnya AE menulis biografi dan novel. Ia termasuk penulis yang produktif dan cukup cepat dalam menghasilkan karya. Ia bisa menulis hingga tiga buku dalam waktu bersamaan.

Hal tersebut dilakukannya ketika ia bosan dengan salah satu buku yang sedang digarapnya, ia akan berpindah ke buku lain yang berbeda sebagai selingan. Selain sebagai refreshing, itu juga bisa membantunya untuk lebih banyak menghasilkan buku dalam satu waktu.

Kegiatan sehari-harinya sendiri lebih banyak dihabiskan untuk menulis dan merawat anjing-anjingnya di rumah atau pun di shelter anjing yang ada di Jakarta. Dengan jadwal hidup yang teratur itulah yang mampu menunjang produktivitas pekerjaannya. Jiwa raganya pun bisa sehat dan seimbang.

Menulis biografi berarti menulis kisah nyata orang lain yang tidak butuh inspirasi penuh seperti menggarap karya fiksi. Tapi pengalamannya menulis puluhan buku biografi, membuatnya belajar tentang hidup dan pencapaian.

Menulis sosok orang lain membuatnya sadar bahwa setiap orang yang sukses juga punya masalah tapi mereka bisa melewati itu semua dengan perjuangan yang setimpal.

Dalam wawancaranya dengan CNN Indonesia, ia menyimpulkan bahwa bila seseorang berhasil mendapatkan apa pun dalam hidup ini tapi tidak merasakan ketentraman hati, berarti dia gagal.

Semangat melewati setiap episode hidup ini bisa membuat seseorang merasa mampu, cukup, dan tentram. Alberthiene sendiri banyak belajar tentang semangat hidup dari tokoh-tokoh yang dituliskan biografinya. Semangat yang berbeda-beda ini mampu mengantarkan tokohnya ke titik kesuksesan.

Setiap drama kehidupan menghasilkan cerita yang berbeda pada setiap orang. Dalam menulis biografi, istri Dio Hilaul ini menerapkan tiga poin penting agar tulisannya mampu menguasai hati pembacanya dan tidak membosankan.

Pertama, penulis harus peka menangkap getaran hati si tokoh. Tahu sedihnya dan tahu bahagianya. Kedua, penulis harus memiliki kemampuan sutradara yang memainkan alur cerita. Ketiga, penulis harus melakukan wawancara mumpuni dengan menggali cerita dan kejujuran sebanyak-banyaknya. Jika berhasil menerapkan tiga hal ini, niscaya biografi memiliki keistimewaan tersendiri.

Dalam setiap kegiatannya menuliskan buku biografi, voice recorder (alat perekam suara) sudah menjadi temannya sehari-hari. Tapi ia tidak hanya ingin mengandalkan rekaman semata. Baginya, sebagai penulis harus bekerja dengan pikiran dan hati.

Alat perekam tidak hanya sekedar merekam kata-kata yang terucap dari bibir narasumber, melainkan juga bunyi seperti tarikan napas. Emosi seseorang saat sedang bertutur bisa dideteksi dari tarikan napasnya dan intonasi suaranya.

Pikiran membuat penulis memahami arah cerita si tokoh dan harus cepat tanggap untuk menggiring tokoh bercerita hal-hal mendalam yang sangat emosional dalam hidupnya. Hati digunakan untuk merasakan dan mengukur level emosi apa yang diceritakan si tokoh. Semua ini harus bekerja secara bersamaan dalam satu waktu.

 

Penulis yang juga pencinta anjing ini termasuk penulis biografi yang sangat selektif untuk menerima tawaran. Sejak namanya mulai melambung di jagat genre biografi tokoh Indonesia, banyak tawaran yang berdatangan kepadanya untuk minta dituliskan biografinya. Ada beberapa pihak yang merasa bahwa hidupnya jauh lebih sulit daripada tokoh A yang pernah dituliskannya, misalnya.

Padahal, buku biografi sendiri harus berupa kisah nyata. Terlebih publik senang membaca kisah nyata yang membuat buku biografi cukup primadona yang penjualannya bisa mengalahkan buku fiksi.

Kebiasaannya menulis biografi membuatnya tidak hanya mewawancarai tokohnya, tapi juga ikut dalam kesehariannya agar dapat menggali lebih dalam informasi dan menjiwai tulisannya.

Seperti yang dilakukannya ketika mewawancarai Jokowi dengan ikut blusukan dan rutin wawancara setiap minggu, ikut roadshow konser Krisdayanti ketika sedang dalam proses pembuatan biografinya, juga berkunjung ke tempat asal ibunda Jusuf Kalla ketika menulis novel Athirah.

Namun, pengalamannya menulis biografi yang paling berkesan adalah ketika menulis biografi penyanyi legendaris Chrisye yang notabene seorang introvert. Di situ ia menyadari bahwa penulis biografi sebenarnya bisa menjadi psikiater bagi tokohnya.

Saat itu, Chrisye adalah narasumber dalam posisi tersulit. Di satu sisi ia introvert yang cenderung tidak mudah terbuka dengan orang lain. Tapi di sisi lain, ia datang kepada Alberthiene dalam kondisi drop karena mengidap kanker paru-paru stadium empat plus. Selain itu, dokter sudah memvonis bahwa hidupnya tersisa enam bulan lagi hingga Desember 2006.

Ia mulai melakukan pendekatan wajar dengan mengajak Chrisye untuk bercerita mengingat masa lalunya. Ternyata cara ini berhasil. Chrisye tidak hanya banyak bercerita tapi menjadi jauh lebih bersemangat, bahkan sanggup menggelar konser terakhirnya.

AE pun mengerjakan biografi Chrisye berpacu dengan waktu karena Chrisye ingin bisa melihat buku biografinya jadi sebelum ia meninggal. Hal itu yang membuatnya cukup emosional dalam proses pengerjaannya. Dan AE berhasil menyelesaikan buku tersebut sebelum Chrisye dipanggil menghadap Sang Pencipta pada Maret 2007.

 

Tidak sedikit karya-karya Alberthiene yang menarik pihak produser untuk memfilmkannya. Salah satunya adalah Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar (2011) yang bukunya laris manis hingga dicetak berulang kali, kemudian difilmkan yang diperankan oleh Chelsea Islan dan Dion Wiyoko. Filmnya sendiri pada masa itu termasuk dalam film box office Indonesia karena ditonton oleh ratusan ribu orang dalam waktu kurang dari sepekan.

Novel Athirah sendiri yang mengangkat kisah perjuangan ibu Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI, juga banyak memperoleh kesuksesan. Selain novelnya laris, filmnya yang dibintangi oleh Cut Mini Theo, Christofer Nelwan, Jajang C. Noor, dan Tika Bravani ini menyabet enam piala citra di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2016 untuk kategori film terbaik, sutradara terbaik, pemeran utama wanita terbaik, penulis skenario adaptasi terbaik, penata busana terbaik, dan perancang artistik terbaik.

Film ini juga ditayangkan di beberapa festival film Internasional dengan judul “Emma” yang berarti ibu, yakni Vancouver International Film Fesival, Busan Internatinal Film Festival, dan Tokyo International Film Festival.

Lebih dari satu dekade malang melintang di dunia tulis-menulis, membuatnya dapat memetik hikmah terindah dalam setiap karyanya. Bagi AE, hikmah terindah sekaligus pencapaian besar seorang penulis biografi adalah apabila isi bukunya berhasil menggugah perasaan orang lain untuk melihat kebaikan, serta mampu memunculkan inspirasi untuk semangat menjalani hidup.

 

 

 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi