Achmad Zaky

Achmad Zaky
Sumber Gambar: Islampos
Profesi CEO dan Founder Bukalapak
Tempat lahir Sragen, Jawa Tengah
Tgl Lahir 24-08-1986

Kata “Cincay” sempat populer di kalangan warganet dan anak-anak muda berkat iklan Bukalapak dengan bintang iklan seorang wanita paruh baya menyanyikan lagu “Nego Cincay Bukalapak” dengan logat China.

Iklan tersebut dengan cepat menaikkan pamor Bukalapak sebagai salah satu e-commerce terbesar di Indonesia selain Tokopedia.

Pendiri sekaligus CEO Bukalapak, Achmad Zaky, memulai Bukalapak melalui perjuangan yang tidak mudah. Ada lika-liku perjalanan dirinya yang bisa mengantarkannya pada Tanda Kehormatan Satyalancana Wirakarya pada tahun 2016 dari Presiden Joko Widodo.

 

Masa Kecil

Achmad Zaky dilahirkan dari pasangan suami istri yang berprofesi sebagai guru SMP di sudut kampung di pinggir Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, 24 Agustus 1986 silam.

Kedua orang tuanya bukanlah datang dari keluarga kaya raya. Tapi mereka senantiasa memikirkan pendidikan dan masa depan Zaky agar kelak ia bisa menjadi seorang yang sukses.

Zaky kecil mulai mengenal dunia teknologi sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Di tahun 1997, salah seorang pamannya membelikan sebuah komputer dan buku-buku yang berkaitan dengan pemrograman komputer.

Ia pun tumbuh besar bersama komputer dan buku-buku tersebut. Hal tersebut juga yang mengawali ketertarikannya untuk terus menekuni dunia pemrograman.

Ketika duduk di bangku SMA, ia memilih untuk pindah ke Solo dan menempuh pendidikan di SMAN 1 Solo. Disana ia mendapat kesempatan untuk mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) di bidang komputer mewakili sekolahnya. Ternyata ia mampu memenangi ajang tersebut hingga tingkat nasional.

Prestasinya di OSN berhasil mengantarkannya untuk melanjutkan studi di jurusan Teknik Informatika di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2004. Tapi berhasil masuk ITB lantas masalah tak selesai sampai disitu.

 

Kehidupan Mahasiswa

Sebagai mahasiswa dari daerah, Zaky sempat minder karena melihat banyak mahasiswa ITB yang pintar, proaktif dalam berpendapat di forum perkuliahan atau kegiatan non akademis, serta bisa berbahasa Indonesia.

Sementara dirinya seperti orang Jawa pada umumnya yang malu-malu dan masih terbawa logat medhok bahasa Jawa bila berbicara bahasa Indonesia.

Tapi rasa minder di dirinya tidak membuatnya terus terbawa arus. Ia sadar bahwa ia harus berbenah diri agar bisa menjadi seorang Zaky yang lebih baik.

Ia pun berteman dengan orang-orang yang jauh lebih pintar di kampus untuk menjalin relasi dan belajar mata kuliah yang dirasa masih tidak terlalu dipahaminya.

Dalam kuliah umumnya di ITB tahun 2017, ia berkisah bahwa ia memiliki teman dekat yang selalu mendapatkan nilai A di seluruh mata kuliah selama berkuliah 4 tahun di ITB.

Ia sering belajar kepadanya menjelang ujian hingga larut malam, sehingga ketika teman-teman Zaky lain bertanya tentang soal ujian kepada Zaky, ia bisa mengajari dan menjadi lebih pintar. Sosok tersebut adalah Fajrin Rasyid yang sekarang menjadi salah satu co-founder dan CFO (Chief Finance Officer) Bukalapak.

Berkat kerja keras belajarnya, Zaky sendiri pernah meraih IP 4,00 pada semester pertama perkuliahannya. Selain aktif di akademis, ia menggagas lahirnya cabang ShARE Global Student Think Tank di ITB dan Entrepreneur Club yang berganti nama menjadi Technoentrepreneur Club ITB. Ia juga aktif di Amateur Radio Club (ARC) ITB.

Tak hanya itu. Dia juga mengeksplor banyak organisasi kemahasiswaan di ITB. Dari KM ITB ia belajar untuk berpikir kritis dan kadang sering demo. Himpunan mengajarinya arti kekompakan dalam sebuah tim. Di Menwa (Resimen Mahasiswa) ia belajar kedisplinan dan ketahanan fisik dan mentalnya.

Selain aktif berorganisasi, Zaky juga suka mengasah ilmunya di perlombaan bidang software hingga memiliki tabungan yang cukup lumayan bagi kantong mahasiswa dari hadiah-hadiah lomba tersebut.

Salah satunya ia pernah menyabet juara II pada perlombaan Wireless Innovation Contest yang diadakan oleh Indosat di tahun 2007. Ia pernah mendapat Merit Award dalam kompetisi INAICTA (Indonesia ICT Awards) 2008.

Ketika mendirikan unit kegiatan mahasiswa (UKM) Technoentrepreneurship ITB, ia dan teman-temannya berpikir bahwa sudah seharusnya mahasiswa ITB mampu membuka lapangan kerja. Langkah konkritnya untuk merealisasikan hal tersebut adalah dengan membuat warung mie ayam sebagai eksperimen bisnis.

Seluruh mahasiswa menggunakan uang pribadi masing-masing untuk membuat proyek bisnis tersebut. Tapi ternyata gagal.

Disini Zaky untuk pertama kalinya gagal sekaligus kehilangan uang besar untuk ukuran waktu itu. Ia sangat sedih dan cukup trauma karena uang tabungan dari hasil lomba ludes untuk modal warung mie ayam.

Tapi beberapa waktu kemudian, dia malah merasa bersyukur karena kegagalan itu membuatnya lebih matang untuk menyiapkan eksplorasi lainnya.

Suatu hari saat dirinya masih menjadi mahasiswa tingkat III, ia tiba-tiba mendapat tawaran sebuah proyek dari stasiun televisi nasional untuk membuat software perhitungan cepat atau quick count pemilu. Stasiun televisi tersebut mengaku jika Zaky direferensikan oleh seorang temannya.

Tanpa pikir panjang, ia pun langsung mengambil tawaran tersebut karena referensi pembuatan programnya sangat banyak di Google. Pikirnya saat itu adalah sebuah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Nilai proyeknya sebesar 1,5 juta rupiah dan dikerjakan dengan tenggang waktu tujuh hari.

Siang malam ia membuat software tersebut. Ternyata di hari H, software buatannya dipakai dan bisa ditonton oleh jutaan pasang mata masyarakat Indonesia. Rasa bangga menggelayutinya karena produknya bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Tapi tidak lama perasaannya menjadi gusar setelah mengetahui nilai proyek tersebut ternyata Rp 200 juta.

Selanjutnya, stasiun TV nasional kembali memercayakan dirinya untuk beberapa proyek software yang bernilai belasan hingga puluhan juta rupiah. Dari sini kecintaannya pada dunia software semakin membesar.

Dibalik cintanya pada dunia software, ia memiliki kelemahan tidak bisa berbahasa Inggris karena sewaktu SD ia tidak mendapat pelajaran bahasa Inggris. Lalu di SMP dan SMA, baginya bahasa Inggris hanyalah pelajaran yang membosankan.

Jadilah nilai TOEFL-nya menjelang kelulusan hanya 430, sementara syarat kelulusan di ITB harus memiliki nilai TOEFL minimal 500. Hal ini menjadikan ia berada di urutan ketiga terbawah.

Kemudian, seorang temannya menuturkan bahwa ada beasiswa studi ke Oregon State University dari pemerintah Amerika Serikat selama dua bulan bagi yang tidak bisa berbahasa Inggris. Ia cukup kaget karena umumnya beasiswa mensyaratkan kemampuan bahasa Inggris yang cukup mumpuni.

Segera ia mendaftar beasiswa tersebut dan untungnya ia diterima. Orang tuanya sampai tidak percaya karena melihat kemampuan bahasa Inggrisnya yang bisa dibilang belepotan. Disana, ia pun banyak belajar bahasa Inggris langsung dengan penutur asli dan perlahan bisa meningkat kemampuannya.

Pengalaman-pengalaman berharga selama di kampus tersebut yang kebanyakan hanya bermodal keberanian dan kekuatan menjaring relasi, ia bisa melangkah maju untuk memulai hal-hal yang lebih besar, seperti memulai Bukalapak.

 

Awal Mula Bukalapak

Lulus dari ITB, Zaky mencoba memasukkan lamaran kerja ke beberapa perusahaan ternama. Sayangnya ia tidak segera mendapat panggilan wawancara. Kedua orang tuanya pun mulai bertanya ia ingin bekerja menjadi apa bila tidak kunjung mendapatkan kerjaan.

Ditengah mengisi kesibukannya, ia pun mencoba banting setir dengan mendirikan perusahaan jasa konsultasi IT dalam pengembangan website, aplikasi, strategi optimalisasi pemasaran digital, dan sebagainya bernama Suitmedia. Perusahaannya membuat website yang menjadi proyek internal.

Dari pengalamannya membangun sistem IT di beberapa perusahaan besar, ia mulai berpikir untuk membuat sesuatu yang lebih bermanfaat bagi banyak orang. Dari beberapa model bisnis internet di Indonesia, e-commerce yang masih memiliki celah untuk dimasuki.

Setelah lulus sarjana, Zaky menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman. Disana ia mengamati banyak tetangga di kampung yang memiliki usaha kecil tapi pendapatannya masih sama saja seperti belasan tahun sebelumnya. Padahal inflasi terus merangkak naik.

Ia pun semakin terinspirasi untuk membuat sebuah software yang bisa membuka kesempatan bagi usaha-usaha kecil seperti tetangganya agar bisa berkembang lebih besar lagi.

Untuk mengerjakan misi besar, ia menyadari bahwa ia tidak bisa mengerjakan seorang diri. Ia pun memutuskan untuk mencari seorang partner. Salah seorang kawan yang satu kos dengannya di Bandung, Nugroho Herucahyono yang kini menjadi CTO Bukalapak, juga ternyata gemar membuat software di dalam kamar kosnya.

Saat Zaky mengutarakan idenya untuk membuat Bukalapak, Nugroho ini pun  sangat tertarik dan paling bersemangat membuat suatu software yang bisa bermanfaat bagi orang banyak. Akhirnya mereka sering berdiskusi untuk memulai mewujudkan impian tersebut.

Selama dua bulan mereka membuat software tersebut hingga diluncurkan ke publik pada 10 Januari 2010. Bisnis ini hanya bermodalkan Rp 90 ribu untuk membeli domain website.

Ada banyak nama yang sempat terpikirkan untuk menamai website ini. Tapi dari beberapa nama yang ada, Zaky dan kawan-kawan merasa nama Bukalapak lebih mudah diingat, diucap, dan sejalan dengan tujuan perusahaan untuk memudahkan penjual membuka lapak di website milik mereka.

Ketika situs Bukalapak telah diluncurkan, ternyata tidak ada orang yang mengunjungi situs tersebut. Rasanya sedih, marah, tapi ketika mengingat tujuan besar mendirikan Bukalapak, mereka berdua mulai bersemangat lagi.

Agar banyak orang yang bergabung dengan Bukalapak, Zaky mulai menyisir lapak-lapak yang ada di pinggir jalan atau pusat perbelanjaan dan online seperti di media sosial untuk bergabung.

Banyak orang yang tidak tertarik. Tapi ada juga yang tertarik. Dengan tekun mereka berdua mengulang aktivitas pemasaran tersebut, hingga tepat setelah satu tahun berdiri, Bukalapak telah memiliki 10.000 UKM.

Tujuan Bukalapak perlahan mulai terwujud. Tapi ada masalah besar yang melanda. Bisnis internet pada waktu itu belum matang dan pasarnya masih kecil. Bukalapak yang beroperasi selama setahun menggunakan uang pribadi para co-foundernya mulai ngos-ngosan karena kehabisan dana.

Zaky mulai bergerak mencari investor untuk memperpanjang masa hidup Bukalapak. Tapi tidak juga langsung berjalan mulus karena dengan banyak yang menertawakan model bisnis ini.

Apalagi dengan proposal pengajuan dananya sebesar Rp 100 juta, makin banyak yang menolak karena bisnis ini tidak terlihat wujud barangnya, sehingga dianggap tidak berguna bila berinvestasi disana.

Di tahun 2011, ia sendiri membantu sang istri, Diajeng Lestari, mendirikan startup HijUp.com sembari mengembangkan Bukalapak. Bisnis milik sang istri yang khusus menjual perlengkapan fesyen bagi muslimah yang modis dan trendi sendiri saat ini berhasil menjadi e-commerce fesyen muslimah pertama di dunia.

Tak hanya dari investor. Orang tua dan calon mertuanya sendiri sudah mulai terus menerus menghatuinya dengan pertanyaan “Kerja dimana kamu?”. Partner Zaky sendiri sempat putus asa dan berpikir untuk menyudahi proyek ini.

Tapi sekali lagi, ia kembali menyemangati diri pada tujuan akhir dan 10.000 UKM yang sudah percaya untuk bergabung dengan Bukalapak.

 

Kemajuan Bersama Bukalapak

Akhirnya, Batavia Incubator asal Jepang, menjadi investor pertama yang menanamkan uangnya untuk mengembangkan Bukalapak. Di tahun 2012, Bukalapak kembali menerima investasi tambahan dari GREE Ventures. Bisnis internet di Indonesia pun menjadi lebih menarik dan pertumbuhan Bukalapak cukup pesat.

Kemudian, Aucfan, IREP, 500 Startups, dan GREE Ventures bersama-sama berinvestasi di Bukalapak di tahun 2014, berbarengan dengan peluncuran aplikasi mobile versi Android.           

Lalu di tahun 2015, EMTEK ikut bergabung dalam jajaran investor Bukalapak dan menjadi pemegang saham terbesar disana sebesar 49%. Inilah yang menjadikan Bukalapak masuk ke dalam jajaran perusahaan startup unicorn nomor empat di Indonesia setelah Gojek, Tokopedia, dan Traveloka.

Hingga akhir tahun 2018 lalu, Bukalapak telah berhasil menggandeng lebih dari 4 juta UKM di Indonesia dan ditargetkan akan terus bertambah setiap tahunnya.

Bukalapak sendiri telah membuka pusat R&D (Research and Development) pertamanya di Bandung yang fokus pada pengembangan produk dan inovasi aplikasi Bukalapak pada akhir Desember 2018.

Selain itu, pertama kalinya Bukalapak meluncurkan BukaBike, penyewaan sepeda berbasis QR Code yang dilengkapi teknologi smart lock, GPS, dan solar panel, di kawasan kampus ITB secara gratis. 

Ayah dari Laiqa Anzani ini selain pernah menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya 2016 dari Presiden Joko Widodo atas peran aktifnya memajukan perekonomian UKM melalui online marketplace, juga menjadi salah satu Endeavor Entrepreneur.

Ia pernah masuk  ke dalam daftar 10 pengusaha muda di bawah 30 tahun paling berpengaruh di Asia Tenggara karena nilai transaksi Bukalapak di tahun 2014 telah menembus sekitar 1 triliun rupiah.

Prestasi lainnya adalah The Loyalty and Engagement Awards 2016 kategori The Best Use of Consumer Insight/Data Analytics dan The Best Use of Mobile, serta Penghargaan Achmad Bakrie 2018 kategori Teknologi dan Kewirausahaan.

Bagi Achmad Zaky, bertahan di masa-masa sulit memang tidak pernah mudah. Tapi mencari tujuan hidup mampu menguatkan seorang individu di masa-masa sulit. Tujuan hidup yang dicari inilah yang nantinya akan memberikan makna dalam hidup kita.

 

 

Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Bukalapak

https://inet.detik.com/klinik-start-up/d-3617471/tiga-hal-yang-mengubah-hidup-pendiri-bukalapak

https://finance.detik.com/sosok/d-4138460/cerita-bos-bukalapak-awal-bangun-bisnis-banyak-yang-tertawakan

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4138358/tiga-kunci-sukses-ala-bos-bukalapak

https://www.finansialku.com/kisah-sukses-achmad-zaky-pendiri-bukalapak-com/

https://id.wikipedia.org/wiki/Achmad_Zaky

https://komunitas.bukalapak.com/s/p03rnu/ceo_bukalapak_kesuksesan_bukan_milik_mereka_yang_kuliah_dan_pacaran_saja_kamu_harus_mencoba_semua

https://cerdasin.com/blog/kerennya-achmad-zaky-pendiri-bukalapak/

https://tirto.id/melihat-perjalanan-4-startup-unicorn-asal-indonesia-cAdQ

https://dailysocial.id/post/bukalapak-bandung-bukabike-r-and-d

 



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi