A.T. Mahmud

A.T. Mahmud
Sumber: Merahputih
Profesi Pencipta Lagu Anak-anak
Tempat lahir Palembang
Tgl Lahir 03-02-1930
Tgl Meninggal 06-07-2010

Sebuah Nama

Lahir di Kampung 5 Ulu Kedukan Anyar, Palembang, 3 Februari 1930, A.T. Mahmud memiliki nama kecil Abdullah yang biasa dipanggil Dola, atau malah lebih sering dipanggil Totong. Ibunya bernama Masayu Aisyah dan ayahnya bernama Masagus Mahmud. Ia adalah anak kelima dari sepuluh bersaudara.

Nama Totong sendiri muncul secara kebetulan. Konon menurut cerita ibunya, ketika ia masih bayi ada tetangganya yang merupakan keluarga Sunda sering menggendong dan menimangnya sambil berucap, “... tong! ... otong!” Ibunya mendengarnya seperti bunyi “Totong”. Sejak saat itu entah kenapa ibunya memanggilnya “Totong”. Nama ini kemudian menjadi panggilan A.T. Mahmud di lingkungan keluarga dan kerabatnya.

Pada surat ijazah yang dimilikinya dari sekolah Jepang di tahun 1945, namanya tertulis “Masagus Abdu’llah Mahmoed” yang merupakan pemberian orang tuanya ketika ia lahir. Kemudian di ijazahnya setingkat SMP, namanya tertulis “Totong Machmud”. Kemduian nama ini berubah menjadi “Abdullah Totong Mahmud” atau disingkat A.T. Mahmud seperti yang kita kenal hingga saat ini.

 

Masa Kecil

Lahir di masa pendudukan Belanda di Indonesia, Mahmud sempat bersekolah di Sekolah Rakyat (setingkat SD) ketika masih tinggal di Sembilan Ilir. Setahun kemudian, ia pindah ke Hollandsch-Indlandsche School (HIS) 24 Ilir. Di HIS ini ia pertama kalinya mengenal musik dan belajar membaca notasi angka.

Cara guru yang mengajarkan notasi angka ini sangat menarik dan berbeda daripada metode pengajaran musik pada umumnya. Gurunya memperkenalkan urutan nada do rendah hingga do tinggi dengan kata-kata “do-dol-ga-rut-e-nak-ni-an”. Lalu urutan nada dinyanyikan kebalikannya, dari nada tinggi turun ke nada rendah masih dengan kata-kata “e-nak-ni-an-do-dol-ga-rut”.

Setelah para murid menguasai tinggi urutan nada lewat latihan kata-kata itu, baik naik atau turun, barulah gurunya mengganti kata-kata dengan notasi musik pada umumnya yang dipakai dalam pelajaran musik. Barulah kemudian dilanjutkan latihan membaca notasi angka, seperti menyanyikan bermacam jarak nada (interval), bentuk, dan nilai not. Setelah itu, murid-murid baru diberi lagu nyanyian untuk dipelajari secara lengkap.

Tahun 1942, Belanda harus menyerah kepada Jepang. Dalam keadaan itu, Mahmud pindah ke Muaraenim dan masuk ke sekolah eks HIS yang berganti nama menjadi Kanzen Syogakko. Di sini ia mulai bermain sandiwara dan kembali melanjutkan belajar musik. Ia pernah memainkan sandiwara cerita legenda asal Sumatera Barat, berjudul Sabai Nan Aluih dan berperan sebagai Mangkutak Alam.

Di kota ini ia berkenalan dengan seorang anggota orkes musik Ming yang populer di Muaraenim, Ishak Mahmuddin. Ishak sendiri jago bermain saksofon, gitar, dan beberapa alat musik lain. Ishak yang mengajari Mahmud bermain gitar. Selain itu, Ishak yang pandai mengarang lagu juga menularkan ilmunya tersebut kepada Mahmud.

Kemampuan Mahmud di bidang musik terus meningkat hingga ia diajak bergabung dengan Orkes Ming untuk bermain gitar, ukulele, atau bas.

Masa revolusi sepanjang tahun 1945-1949 membuat Mahmud tidak bisa bersekolah karena kondisi yang kurang kondusif. Ia pun mendaftar menjadi anggota Tentara Pelajar. Selama itu hidupnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lain, juga keluar masuk hutan. Ia termasuk salah seorang yang beruntung karena masih tetap selamat, sementara banyak rekannya yang meninggal.

Mahmud keluar dari Tentara Pelajar setelah Belanda mengakui kedaulatan RI. Dia memilih untuk kembali ke sekolah dan berhasil lulus SMP di tahun 1950. Tapi karena ketiadaan biaya, ia tidak bisa melanjutkan sekolahnya.  Pamannya, Masagus Alwi, mengajaknya bekerja di bank milik Belanda yang masih beroperasi. Ajakan itu diterima. Selama bekerja, ia bisa melihat langsung hiruk pikuk keramaian lalu lintas, jalanan, dan para siswa yang membawa buku ke sekolah. Ia ingin kembali ke sekolah

Kebetulan di Palembang sedang dibuka Sekolah Guru bagian A (SGA) yang memberi tunjangan belajar bagi siswa selama tiga tahun, asalkan setelah tamat bersedia ditempatkan di mana saja sebagai guru. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk kembali ke sekolah.

 

Menjadi Guru

Lulus SGA, Mahmud ditempatkan di Tanjung Pinang, Riau sebagai guru SGB di sana. Di kota ini berkenalan dengan Mulyani Sumarman, guru bahasa Inggris SMP Negeri, yang kelak menjadi istrinya. Hubungannya semakin erat. Di tahun ketiganya di Tanjung Pinang, ia ingin pindah ke ibu kota untuk kuliah di B.I. jurusan bahasa Inggris dan berumah tangga.

Ia mengajukan permohonan pindah dan dikabulkan. Mulyani akan menyusul nantinya. Setiba di Jakarta, ia diangkat menjadi guru di SGB V Kebayoran Baru. Lalu ia mendaftar di B.I. jurusan bahasa Inggris.

Tepat pada 2 Februari 1958, ia meminang Mulyani dan memboyong istrinya ke Jakarta. Mulyani ditempatkan mengajar di SMP 11 Kebayoran Baru dan juga mendaftar di B.I. jurusan bahasa Inggris. Jadilah mereka berdua dapat pergi dan pulang dari mengajar atau kuliah bersama-sama. Mahmud dikaruniai tiga orang anak dari pernikahannya dengan Mulyani, seorang laki-laki, dua orang perempuan.

Tamat kuliah di tahun 1959, ia dipindahkan mengajar di SGA Jalan Setiabudi yang mendidik calon guru Sekolah Dasar (SD). Tak lama setelah ditugaskan, ia kuliah di University of Sydney, Australia, untuk memperolah sertifikat mata kuliah The Teaching of English as A Foreign Language yang dibiayai Colombo Plan.

Pulang dari Negeri Kangguru di tahun 1963, ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Jakarta. Masih di tahun yang sama, ia dipindah tugaskan ke Sekolah Guru Taman Kanak-kanak (SGT) di Jalan Halimun, Jakarta Selatan.

Di SGTK ia menemukan tempat untuk mengembangkan bakat musiknya dengan menciptakan lagu anak-anak. Demi menekuni musik ia rela meninggalkan bangku kuliahnya di FKIP.

SGTK tempat Mahmud mengajar memiliki suasana yang mendorong dan mendukungnya untuk serius di dunia musik. Kebetulan siswa SGTK ketika melakuakn latihan praktik mengjar, memerlukan lagu anak-anak dengan tema tertentu menurut tugasnya. Di masa itu, mencari lagu anak-anak yang sesuai cukup sulit.

Siswa yang memerlukan lagu baru biasanya datang kepadanya meminta dibuatkan lagu. Ia pun mencoba. Lagu yang sudah dibuat diajarkan pada anak-anak TK saat praktik mengajar. Ternyata lagu itu disukai dan itu membuat bapak tiga anak ini semakin getol mengarang lagu anak-anak.

 

Melesat dengan Lagu Anak

Beberapa lagu ciptaan A.T. Mahmud populer di kalangan anak-anak. Contohnya saja lagu Pelangi yang rupanya terinspirasi dari perilaku anaknya yang bernama Rika. Berawal dari menjemput anaknya sepulang sekolah setelah gerimis, anaknya berteriak, “Pelangi!” sambil menunjuk langit.

“Perhatian Rika tiba-tiba pada pelangi di tengah keramaian lalu lintas, mengiringi pikiran dan perasaan saya. Mengapa di tertarik pada pelangi? Di mana dia pernah melihat pelangi? Apa yang ingin dikatakannya? Mungkin pelangi pernah dilihat atau dikenalnya pada pelajaran menggambar ketika guru menyuruh menggambar pelangi di sehelai kertas. Sekarang, Rika melihat pelangi di langit yang luas. Begitu besar bentuknya begitu jelas warnanya,” tulis Mahmud dalam memoarnya yang berjudul A.T. Mahmud Meniti Pelangi (2003).

Dari peristiwa itu kemudian lahir lagu Pelangi yang sudah diperdengarkan dan dinyanyikan jutaan anak-anak Indonesia. Lewat lagu itu, A.T. Mahmud berhasil mengenalkan fenomena alam secara sederhana sekaligus kepercayaan terhadap Tuhan sejak dini.

Lain waktu, ia dan keluarganya sedang bersantai di ruang tamu di malam hari, Rika mondar-mandir antara ruang tamu dan beranda rumah. Tiba-tiba Rika menggandeng tangan bapaknya dan diajak keluar, lalu melihat ke langit. Bulan tengah purnama rupanya. “Pak, ambilkan bulan,” pintanya.

Ia terdiam dan agak kaget dengan permintaan nyeleneh sang anak. Tapi itu yang kemudian mendorongnya untuk membuat lagu yang kita kenal berjudul Ambilkan Bulan, Bu. Kalimat pertama diulang dua kali di bait pertama dan kedua lagu, menunjukkan ciri khas anak-anak yang jika meminta sesuatu tidak cukup sekali.

Lagu itu sendiri semula berjudul Ambilkan Bulan, Pak karena sang anak meminta diambilkan bulan kepadanya. Tapi ia merasa ada bunyi yang tidak serasi ketika dinyanyikan. Akhirnya ia mengganti dengan ‘... bulan, Bu’ agar lebih enak didengar. Ditambah umumnya anak-anak lebih dekat dengan ibunya.

Sewaktu masih tinggal di Kebayoran Baru, ia kerap mengajak anaknya bermain di Taman Puring yang menyediakan sejumlah wahana permainan anak seperti ayunan, jungkat jungkit, perosotan, dan lapangan luas.

Roike, anak tertua Mahmud yang saat itu masih berusia lima tahun senang sekali bermain ayunan. Ia menjaga anaknya agar tidak sampai jatuh ketika bermain. Perasaan sang anak dan pesan agar berhati-hati itu dituangkan ke dalam lagu Main Ayunan.

Pria yang juga pernah menulis buku untuk pelajaran musik ini juga pernah terinspirasi dari kawan kecilnya yang merupakan anak Emil Salim, Menteri Lingkungan Hidup di era Orde Baru, untuk lagu O Amelia. Bocah bernama Amelia digambarkannya sebagai gadis periang, lincah, dan ingin tahu banyak hal.

Lagu ciptaan A.T. Mahmud pun terus bertambah dan tersebar di TK dan SD terdekat hingga melebar ke sekolah-sekolah lain. Bahkan Radio Republik Indonesia (RRI) memintanya membantu mengisi suara anak-anak pada sore hari dengan memperkenalkan lagu lama maupun baru. Kesempatan ini digunakannya untuk memperkenalkan lagu bikinannya ke publik.

Tahun 1968, TVRI menyelenggarakan acara bertajuk ‘Ayo Menyanyi’ yang mengambil lagu-lagu bersumber dari Ibu Sud, Pak Dal, Pak Sud, Kusbini, C. Tuwuh, dan lain-lain. Acara ini berbentuk pelajaran untuk menyanyikan lagu baru. Setahun kemudian, acara bertajuk ‘Lagu Pilihanku’ mengudara yang bersifat lomba menyanyi lagu anak. Kehadiran acara ini menarik minat perusahaan rekaman untuk merekam lagu anak-anak pada piringan hitam.

Lagu anak-anak memang “biasa” saja karena menggambarkan dunia anak-anak yang masih biasa saja dan tidak serumit dunia orang dewasa. Rasa ingin tahu anak-anak yang tinggi itu yang banyak menginspirasi A.T. Mahmud dalam menciptakan lagu-lagunya.

Dikutip Karsono dalam “Proses Kreatif A.T. Mahmud dalam Penciptaan Lagu Anak-anak” (Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian & Penciptaan Seni Vol. 7 No. 1, Juli 2011) menurut pencipta lagu Anak Gembala ini ada tiga hal yang menjadi sumber ide penciptaan lagunya: perilaku anak-anak, pengalaman masa kecil, dan pesan pendirikan yang ingin disampaikan pada anak-anak.

Hampir sepuluh tahun A.T. Mahmud telah menghadap Sang Pencipta. Tepat 6 Juli 2010 lalu ia menghembuskan napas terakhirnya. Tapi namanya tetap dikenang ketika semua orang bernostalgia dengan masa kecil mereka. Berkat A.T. Mahmud, kita semua bisa menikmati masa kanak-kanak dengan lagu yang sesuai dengan usia.



Berikan komentar anda
Anda harus Masuk untuk memberikan komentar
belum ada komentar
×
logo-kenangan Download aplikasi